PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
41.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Satu kecupan mendarat dan itu membuat Yeri memalingkan wajahnya alhasil kecupan mesra Altez hanya mampu mendarat di rahang sang istri.


"Kok menghindar? Apa kamu tidak mau mendapatkan surga?" Celetuk Altez mencibir kelakuan istrinya.


"Buktikan dulu, kamu benar-benar berubah dari semuanya. Dari kebiasaanmu berselingkuh itu. Aku tidak mau menanggung banyak kerugian. Setidaknya nanti bila kamu tetap dengan kebiasaan burukmu lalu kita bercerai, walaupun aku second tapi tetap terjaga kualitasnya."


Altez memeluk erat Yeri dan meletakkan kepalanya diantara perpotongan leher Yeri. "Jangan pernah bermimpi untuk lepas dariku. Tidak akan, sampai matipun, aku akan tetap membuntutimu kamu tahu!"


Jeduar!!!


Suara petir menyambar di langit mendung dan hujan mulai turun. Seketika Yeri memejamkan matanya saat suara gemuruh petir kembali menggelegar bersahutan.


"Lihat, tuhan menyaksikan perkataanku barusan." Altez menatap serius Yeri.


"Tidak itu terlalu tinggi berekspektasi, petir tadi hanya kebetulan." Yeri menampik perkataan Altez.


Altez berbisik di telinga Yeri. "Aku Altezza Basman, suami dari Yania Iswari hari ini berjanji pada langit dan Bumi yang bersaksi bahwa apapun yang terjadi, baik atau buruk aku akan tetap bersama dengan istriku. Tidak ada yang bisa memisahkan kami selain kematian."


Seolah apa yang diucapkan oleh Altez adalah mantra suci, Petir kembali menyambar hingga gemuruhnya membuat kubus kaca dimana mereka berada bergetar.


Yeri yang ketakutan seketika menepuk punggung Altez yang masih menguncinya dalam dekapan. "Za..! hati hati kalau bicara." Tegurnya ketakutan.


"Sekarang kamu percaya jika ridho suami pada istrinya adalah restu dari Yang Maha Kuasa?"


"Ssstttt....! diamlah jangan bicara yang aneh aneh lagi."


Yeri masih merinding mengapa langit tiba-tiba menurunkan hujan dan mengirimkan petirnya?


"Aku ikut ya?" Ucap Altez yang rupanya masih ingat pada misi dan tujuannya untuk mengikuti kemanapun istrinya pergi.

__ADS_1


"Hemh....!" Yeri mendesah, agaknya memang ia tak punya pilihan lain kali ini selain mengalah. "Tidak jadi, aku sudah ketinggalan mereka." Ucapnya beralasan.


Aaltez memicingkan matanya curiga. "Sshhhh...!" ia mendesis "Aku curiga kamu bohong dan mencari alasan untuk menghindariku. Benar kan dugaanku?" Tebak Altez yang masih berada di atas tubuh Yeri dan menindihnya.


"Kamu malu dengan kejadian kemarin?" Altez menerka dan tepat pada sasaran.


"Si...siapa? Aku hanya tidak suka saja karena melakukannya tanpa kerelaan." Ucap Yeri menampik dugaan Altez.


"Masa ia tidak rela, tapi aku ingat kamu juga menikmatinya terlebih sewaktu kamu berada di atasku." Perkataan frontal Altez yang terlampau jujur membuat pipi Yeri memerah dan tanpa sadar ia mengulum senyumnya.


"Tuh kan, pipinya merah." Altez sengaja menggoda Yeri.


"Za ah! udah jangan bahas itu lagi kenapa?"


"Tidak apa-apa kan? sah sah saja, kita ini suami istri. Dan cuaca dingin ini sangat mendukung." Ucapnya dengan wajah mesumnya.


Dasar mesum!! Dia sengaja menggodaku. Argh...! kenapa aku tidak berfikir sejauh ini. Aku tidak bisa mnegabaikan peraturan agama terlebih untuk tidak melayaninya. Dan dia sekarang sepertinya mulai menggunakan dalil dan ayat untuk melemahkanku. Tahu dari mana dia tentang segala peraturan dan fiqih suami istri itu? Yeri mulai menyesali keputusannya untuk menjadikan pernikahan sebagi alat balas dendam.


"Diam...!" Kat Yeri sambil mencubit pinggang Altez.


"Ya ampun Yer! sampai merah begini. Sakit tau!"Altez mengerucutkan bibirnya. "Pasti besok biru, ah aku mau fisum ini ah. ini sudah merupakan bentuk KDRT" Ucapnya bercanda.


Yeri hanya bisa menatap jengah dan memejamkan matanya di atas ayunan besi miliknya yang berbentuk bangku panjang lengkap dengan Busa dan bantalnya.


Terserah! batinnya kesal.


"Eh, malah ditinggal tidur." Altez yang diacuhkan menatap sebal Yeri yang mencoba untuk memejamkan mata dan beringsut membelakanginya.


Dengan segala inisiatif dan instingnya sebagai buaya, Altez memutuskan untuk menyusul sang istri . Ikut berbaring dan menghimpitnya lalu memeluknya dari belakang.


"Berani peluk lama, besok pengacaraku akan mengurus perjanjian kita tentang saham itu." Ancaman Yeri meluncur.


Altez tak mengindahkannya lagi. "Iya ambil saja semuanya, aku kan sudah berjanji untuk terus bersamamu sampai mati, Jadi apa bedanya memberikan semuanya untuk ibu dari anak anakku sekarang atau nanti?"


Wah, Altez benar-benar sudah ingin berubah. Semuanya. Tapi, sebenarnya ada hal yang membelakangi ini semua.

__ADS_1


...Flashback on. ...


Disaat Altez babak belur dihajar suami Vivi. Mama alda datang dan berlutut dihadapan suami Vivi. Wanita paruh baya yang selama sisa hidupnya ia habiskan untuk masa depan sang anak itu menggadaikan harga dirinya di kaki orang lain yang rumah tangganya telah di hancurkan oleh putra sulungnya.


"Aku, memohon padamu untuk tidak membesarkan kasus ini." Ucap Mama Alda yang menangis dan berlutut dihadapan suami vivi.


sementara itu Altez tergeletak tak berdaya, ia meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya. Pertarungan itu tak imbang sama sekali dimana postur tubuh dan juga skill bela diri yang berbeda jauh mendasari tumbangnya Altez dalam pertarungan itu.


Suami Vivi, Dia menaruh iba pada wanita tua yang berlutut di kakinya demi menyelesaikan maslah sang anak. tak pernah is melihat ketulusan seorang Ibu seperti ini sebab ia sudah tidak memiliki ibu sedari ia dilahirkan ke dunia ini.


"Aku memaafkan kesalahanmu ini karena aku kasihan pada Ibumu. Tapi aku tidak akan bisa memberikn maaf untuk yang kedua kalinya jika hal ini sampai terjadi. Dan untuk kamu Vivi, aku menjatuhkan talak 3 untukmu. Mulai detik ini kamu sudah bukan istriku lagi." Kata Suami Vivi yang kemudian pergi meninggalkan kamar hotel dimana Vivi yang belum sempat mengenakan pakaian mengejar suaminya dengan balutan selimut.


"Mas...! mas...! Aku tidak ingin bercerai!" Ucapnya yang berteriak seperti orang gila dan mengejar sampai ke lorong kamar hotel.


Altez berusaha untuk bangun dan duduk di sofa. Ia menyandarkan tubuhnya dan hanya bisa merasakan remuk sekujur tubuh. Disaat itu, Mama Alda tanpa bangkit dari posisinya yang masih berlutut, dengan wajah yang basah akan air mata yang tak sanggup lagi ia bendung, ia berucap.


"Altezza Basman, anak Mama. Mama mohon padamu Nak, tolong hentikan kebiasaan burukmu ini. Kehancuran kita bermula dari kejadian yang sama seperti ini. Mama mohon hentikan nak, apa perlu Mama bersujud di kakimu agar kamu bisa berubah dan memikirkan semua ini?"Kata Mama Alda yang kemudian mulai membungkukkan tubuhnya hingga ia nyaris bersujud dan mencium kaki ank yang kurang ajar itu.


"Ma...! hentikan Ma!" Altez segera turun dari sofa dan segera memeluk tubuh sang Mama yang bergetar menangis sedih.


"Maafkan Eza Ma, Eza janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Eza janji sama Mama. Eza akan jadi anak yang baik Ma." Ucap Altez yang menangis sedih memeluk tubuh sang Mama.


"Sudah Nyonya, ingat kondisi anda." Kata Bilhan yang kemudian mengurai pelukan ibu dan anak itu setelah melihat perubahan mimik wajah sang Nyonya.


Altez tercenung mendengar perkataan Bilhan yang dengan serta mert membawa Mama Alda menjauh darinya dengan memapahnya berjalan meninggalkan kekacauan.


"Mama kenapa Bil? ada apa dengan Mama?" Altez meraung bertanya tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


...Flasback Off. ...


"Yer, aku lapar apa tidak ada makanan disini?" Tanyanya ketika perutnya berbunyi.


"Ayo pulang saja, hujannya semakin deras dan akan lama redanya." Yeri seketika bangun tanpa melihat Altez dan pergi begitu saja menuruni tangga. Altez hanya bisa mengekor dibelakangnya.


Ini ujian bagiku untuk memperbaiki diri. Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2