PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
58.


__ADS_3

...-----💕💕-----...


Kedekatan itu terjalin dengan sendirinya tanpa mereka sadari. Apa yang seharusnya menjadi musibah kini berubah menjadi berkah. Yeri dan Altez semakin bertambah erat dan dekat. Hanya saja, Yeri masih selalu menjaga jarak dengan suaminya sendiri.


Dari kejadian tadi Altez masih sering merasakan sedikit sesak saat bernafas. Itu normal terjadi pada mereka yang tenggelam. Paru-parunya kemasukan air dan itu juga kan menyebabkan ia sering terbatuk-batuk.


"Uhuk....!Uhuk...!" Altez yang terima nasib tidur di depan TV karena Joana yang juga masih tinggal di sana atas perintah ayah Ardi sampai kasus putrinya mendapat kejelasan, membuat Altez juga terpaksa tidur di matras tipis sendirian.


Telinga Yeri semalaman hanya mendengar suaminya yang terbatuk-batuk di depan TV. Terdengar juga bunyi kompor menyala lalu mati dalam sesaat. Yeri pun, rupanya tak bisa tidur sama sekali. Ia tengah menimbang tentang apa yang di lakukannya sebagai seorang istri ini benar atau salah.


Yeri yang termenung beberapa saat akhirnya di kagetkan dengan Altez yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok...!


Tok....!


Tok....!


"Yer," Altez memanggil dengan suara pelan.


Yeri berdiri di depan pintu dan menempelkan telinganya. Ia masih menahan diri untuk membuka dan bertemu dengan suaminya. Ia masih ragu-ragu untuk bersikap layaknya istri yang baik.


"Yer...!" Altez memanggilnya lagi.


Tak tahan dengan apa yang Altez lakukan, Yeri kemudian membukakan pintu. "Ada apa?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang datar.


"Bisa kerokin aku? Aku merasa tidak enak badan." Altez meminta tolong dengan wajah sendunya. Mata yang membulat dan wajah yang terlihat pucat.


"Kamu sakit?" Yeri bertanya dengan tangannya yang juga bergerak kemudian menempel di kening suaminya.


"Entahlah, agak sesak saja saat aku bernafas."


Kenapa aku sangat kasihan melihat dia seperti ini? Yeri terdiam menatap iba suaminya.


"Yasudah sini aku kerokin."


Altez seketika berbinar dan tersenyum senang. Sesederhana itu bahagianya sekarang? Hanya dengan istrinya yang mau mengerok punggungnya saja sudah membuatnya teramat sangat senang.


Yeri mengambil sendok dan juga minyak telon. Ia kemudian duduk di samping Altez yang sudah memasang posisi tengkurap. Altez kembali duduk saat melihat Yeri membawa sendok.


"Kenapa bawa sendok? kamu mau aku minum minyak telonnya?" Altez bertanya dengan bodohnya.

__ADS_1


Yeri tertawa kecil. "Wajah saja tampan, tapi bodohnya minta ampun." Ia kemudian menggeleng dan menunjuk salah satu tulisan yang tertera pada kemasan minyak telon itu. "Obat luar" Ia membaca dengan lugas tulisan tersebut.


"Hahahaha! ya abisnya kamu bawa sendok kupikir aku disuruh meminumnya." Altez bercicit setelah tertawa.


"Sudah cepat buka bajunya." Ujar Yeri.


"Buka baju? ah, sayang... kamu jadi agresif begini. Aku suka.." Altez menggoda Yeri dengan candaannya. Alisnya bergerak turun naik saat berbicara.


Yeri memutar bola matanya malas. Ia sebenarnya ingin tertawa tapi ia lebih memilih untuk memarahi Altez. "Banyak omong lagi ku getok kepapalmu!" Ia mengancam sambil melotot.


"Iya Nyonya Altez, iya...." Altez menurut. Tanpa ia sadari, entah itu dalam perdebatan atau dalam candaan, ia selalu patuh dan tunduk pada Yeri.


"Kenapa pakai sendok, memang tidak ada koin?" Altez bertanya ketika Yeri mulai meneteskan minyak telon di atas kulit punggungnya.


"Sudahlah pakai yang ada saja jangan berisik! Masih untung aku tidak memakai cangkul." Ketus Yeri.


Altez tertawa. "Kamu tau, apa yang membuatmu beda dari semu wanita yang pernah dekat denganku?"


"Aku tidak tertarik!" Ucap Yeri yang malas menjawab pertanyaan Altez. Tapi siapa sangka jika apa yang ia ucapkan juga merupakan jawaban dari pertanyaan suaminya.


"Iya itu, kamu tidak tertarik padaku. Memang aku kurang tampan ya? Kamu itu, selalu galak sama aku. Tapi kenapa aku malah selalu kangen dan gemas sama kamu?"


"Entah!" Sahut Yeri dengan cueknya. Ia menggidikkan kedua bahunya dan mencibirkan mulutnya.


"Hhh...! ya mau gimana? namanya juga di kerok! kalau mau yang enak ya dielus!" Ujarnya kesal. "Rewel lagi kamu kerokan sendiri sambil kayang sana!" Ketusnya.


"Hahahah, sayang! kamu kira aku bintang iklan celana orange itu?" Altez tertawa terbahak-bahak mengingat sebuah iklan yang menampilkan lelaki bercelana orange tengah melengkungkan tubuhnya dan mengerik punggungnya dengan kaki.


"Hahahha! ya siapa tau kan kamu bisa begitu." Yeri menyahut sambil terbahak-bahak.


Keduanya semakin dekat dan bahkan kini bisa tertawa bersama setelah melewati maslah dan juga nyaris merenggut nyawa keduanya.


"Makasih sudah menolongku." Kata Yeri tiba-tiba.


Altez terdiam dari tawanya. "Tidak apa-apa. Sudha kewajiban suami melindungi istri dan anaknya. Yer, apa tidak sebaiknya kamu memeriksanya?"


"Tidak Altez, ini belum ada satu bulan dari kejadian itu dan aku....." Yeri tiba-tiba menghitung sesuatu dengan menekuk ruas-ruas jari jemarinya.


Altez ikut terdiam dan mendudukkan tubuhnya. "Ada apa?" Ia tertegun melihat Yeri.


"Tidak... tidak! aku belum siap hamil." Yeri menggeleng lalu berlari dan melihat kalender di dinding kamarnya. Ia melipat kedua tangannya dan jari-jarinya terlihat gelisah dengan mengetuk-ngetuk dagunya.

__ADS_1


Altez ikut berdiri dan menatap kalender yang memiliki banyak coretan, tentunya ia sama sekali tak paham makna dari coretan tersebut. "Ada apa sayang?" Altez bertanya.


"Uhuk...!"


"Uhuk....!"


"Uhuk...!"


Altez terbatuk lagi.


Yeri menatap nanar Altez. "Bagaimana jika aku hamil?"


Altez langsung memeluknya erat. "Bagus lah, aku akan sangat senang." Ucapnya.


"Tapi aku belum siap Za."


"Tapi aku sudah sayang, keluarga kita juga sudah saling menginginkannya. Apalagi?"


"Apalagi, apalagi! Bagaimana urusanmu dengan Nella? Aku tegaskan di sini, satu hal yang harus kamu pahami. Kita melakukannya tanpa rasa cinta."


"Dengan cinta sayang, akunya. Tidak masalah kalau kamu tidak." Altez cuek. "Apapun perasaanmu padaku, jika kamu sudah mengandung anakku, kupastikan benci itu akan jadi cinta. Kita akan bersama membesarkannya."


"Yang kamu rasakan itu bukan cinta! tapi sekedar na*su saja." Yeri menampik pernyataan Altez.


Altez tertawa. "That's right my love 😘, aku memang selalu bernaf*u saat melihatmu. Tapi sah-sah saja kan? aku suamimu." Ucapnya yang kemudian berlutut. ia mensejajarkan tingginya dengan perut rata Yeri.


"Hai anak papi, kamu baik-baik ya di sana. Nanti, saat kamu ada, mami pasti akan mencintai kita berdua." Tangan Altez mengusap perut rata Yeri.


Yeri hanya terdiam dan membeku di tempatnya. Setiap usapan lembut itu membuatnya terharu. "Apaan sih Za? belum pasti juga." Yeri menundukkan wajahnya malu.


"Tidak mungkin sekali buat langsung jadi." Ucapnya dengan nada bicara lirih.


"Apanya yang tidak mungkin, selalu ada kemungkinan sayang." Kata Altez yang kembali mengusap lalu menempelkan kupingnya di perut rata sang istri.


"Perutmu coba dikasih minyak telon." Kata Altez dengan tiba-tiba. Sungguh acak dan tidak tertebak apa mau dari buaya rawa ini.


Yeri yang lelah berdiri kemudian duduk di tepi ranjang dan tetap diikuti oleh Altez yang berjalan dengan lututnya. "Ya pakai saja." Kata Altez.


"Bilang dulu kenapa?" Yeri memaksa.


Altez terkekeh geli. "Aku suka baunya. Seperti bau bayi, kamu pakai ya?"

__ADS_1


Imajinasi yang aneh! Batin Yeri mengolok olok suaminya.


__ADS_2