PAWANG CEO PLAYBOY

PAWANG CEO PLAYBOY
47.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


Daam kamar yang sepi, seorang wanita menatap foto kebersamaanya dengan seorang pria yang terlihat begitu bahagia. Nella, ia sedang memandang fotonya bersama Altez.


"Al, sekarang kamu kan hancur bersamaku. Kita lihat sejauh mana kamu bisa mempertahankan pernikahan bodohmu itu. yeri, kita lihat bagaimana kamu akan menangis nanti." Nella bermonolog dengan segelas anggur di tangannya. Ia menggoyangkan gelasnya lalu meminumnya.


Nella tengah berbahagia sekarang. Dengan sederet gossip yang bermunculan di berbagai media sosial, hal itu membuat ayah Ardi kini mengamuk di kediaman sang putri.


Di kediaman Yeri.


"Altez, buna sama sekali tidak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini. Buna tidak bisa membiarkan anak buna terus bersamamu yang menyakitinya." Buna berbicara tanpa mau menatap wajah Altez. Ia duduk dengan angkuhnya sementara sang menantu bersimpuh di lantai memohon padanya.


"Bun, aku mohon, berikan aku waktu untuk membuktikan jika semua ini tidak benar." Altez memohon dengan sangat. Air matanya mengucur tanpa aba aba.


Yeri, yang melihat semua itu hanya bisa dam dan menundukkan kepalanya. Seharusnya hal seperti ini tidak begitu bisa membuatnya terluka dalam, mengingat ia yang belum memiliki perasaan. Namun, sepertinya benih itu memang mulai tumbuh dan membuat Yeri merasakan lara.


BRAK!!!


Ayah Ardi menggebrak meja dengan spontan saat mendengar ucapan Altez yang akan membuktikan jika yang ada di dalam perut Nella bukanlah anaknya. "Sudah cukup!! Altez aku tidak menyangka jika akan memiliki menantu b4jingan seperti kamu. Sudah kamu yang membuat dia hamil dan sekarang kamu juga menampiknya?" Ayah Ardi menatapnya penuh kebencian. "Cih! menjijikkan." Ia mencemooh perbuatan Altez.


Altez sudah tak mampu lagi berbicara kala Ayah mertuanya yang membentaknya. Sedari kecil tumbuh tanpa sosok ayah yang mendampingi, membuat Altez hilang nyali saat berhadapan dengan seseorang yang ia sebut Ayah.


"Stop!" Tiba tiba Yeri memekik sambil menutupi telinganya. Baginya semua ini sangat berisik dan membuatnya pusing. "Diam!! aku mohon kalian diamlah!" Yeri menangis meraung di sudut sofa.


"Semua ini salahku, seharusnya aku tidak menjadikan pernikahan sebagai mainan. Dan sekarang Tuhan sedang menghukumku atas masalah ini." Yeri berbicara dalam isakan tangisnya.


"Sayang, ini bukan salah kamu." Altez berusaha mndekat tapi juga dengan segera ayah Ardi menampik tangannya yang bergerak meraih tangan sang istri.


"Singkirkan tangan kantormu itu!" Geramnya dengan suara bariton yang meninggi.


"Ayah sudah, jaga emosimu." Buna menenangkan sang suami.


Keadaan sangat menegangkan dan diwarnai dengan tangisan yeri sebagai pelengkapnya.

__ADS_1


Sesakit inikah? disaat aku mulai serius pada satu hubungan, disaat itu juga ujian ku datang. Aku tahu aku tetap harus memperjuangkan rumah tangga ini demi Mama. Batin Altez menatap yeri yang tengah menangis sedih dan justru menyalahkan dirinya atas kejadian ini.


"Ayah Buna, kalian pulanglah. Aku ingin bicara berdua dengan Altez." Ucap Yeri dengan wajah sendu dan mata yang berkaca kaca.


"Tapi sayang, kami disini untuk membantumu menyelesaikan masalah ini." Ayah Ardi berbicara penuh penekanan. Ia tak mau terusir secara halus tanpa bisa menyelesaikan.


Yeri menatap lekat manik sang ayah lalu mengangguk perlahan seolah mengatakan, Aku baik baik saja ayah, aku bisa merampungkan ini."


Ayah Ardi balas mengangguk. Kini ia memahami jika putrinya sudah tumbuh dewasa.


"Baik, Ayah akan pulang. tapi Joana tetap akan menginap di sini sampai masalahmu ini selesai."


"Ayah,"


"Tidak da penolakan, jika kamu menolak itu artinya kamu juga harus ikut pulang bersama kami." Ayah Ardi menghardik sang putri.


"Iya, baiklah." Yeri mengiyakan degan memeluk sang ayah.


Ayah ardi meninggalkan sang putri semata wayangnya tanpa keikhlasan. Ia bahkan sempat menengok dua kali sebelum benar benar pergi meninggalkan ruangan.


"Terimakasih sayang, kamu mau tetap tinggal." kata Altez dengan sesenggukan. Ia menangi pada kali ini. Tak pernah sekalipun seorang Altez menangis karena wanita. Tapi kali ini tangisannya terlihat muncul dari dasar hati.


"Iya." Jawaban Yeri teramat singkat terdengar sayup sayup disela tangisnya.


Joana pergi dan Altez segera memanfaatkan kesempatan itu. "Sayang, terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk bicara berdua denganmu." Ucapnya terdengar begitu tulus.


"Tidak usah besar kepala, ini adalah waktu terakhirmu untuk membuktikan kata katamu."


"Aku akan membuktikannya. Nella tidak mungkin sedang mengandung anakku." Altez berusaha meyakinkan sang istri jika yang ada di dalam rahim Nella bukanlah anaknya.


"Ya sudah, bawa sini buktinya." Singkat Yeri berbicara dengan menengadahkan tanannya seolah meminta bukti.


Altez langsung menghambur memeluknya dan itu membuat Yeri amat sangat terkejut. "Aku akan memberikanmu bukti secara langsung. Aku janji."


"Show me then." Ucap Yeri singkat.


"Iya sayang, iya." Kata Altez berjanji.

__ADS_1


Sebenarnya ini adalah kesempatan emas bagiku untuk membalaskan dendamku padanya. Kita lihat, siapa yang akan melambaikan bendera putih, Aku, kamu, atau Nella.


"Jangan banyak bicara, aku mau bukti bukan narasi." Kata Yeri tanpa mau melihat wajah sang suami yang berada di hadapannya.


Terimakasih, aku akan membuktikan jika aku tidak melakukan kesalahan dalam hal ini. Ku merasakan jika Nella hanya ingin menghancurkan aku.


"Awas! aku ma ke kamar mandi." Ketus Yeri yang memang benar ingin pergi ke kamar mandi.


"Aku antar ya?" Ucap Altez yang dengan segera ikut berdiri dan mengusap sisa air matanya.


Yeri menatapnya jengah dan menghela nafasnya berat. "Tidak usah!" Tolaknya malas.


Ia pergi ke kamar mandi dan siapa sangka jika suaminya setia berdiri di samping pintu untuk menunggunya bak anjing penjaga.


"Ngapain di sini?" Yeri bertanya dengan keningnya yang berkerut indah.


"Menunggu kamu, aku takut kamu terpeleset atau apa di kamar mandi." Jawab Altez yang kemudian kembali membuntuti sang istri.


"Khawatirkan saja pacarmu itu. Em... tidak, selingkuhanmu."


"Apa kamu cemburu?" Celetuk Altez yang membuat langkah kaki Yeri terhenti.


Joana kembali dengan membawakan dua bungkusan makanan. "Yer, ini segera makan!" kata Joana datar.


Joana membuka bungkusan di meja.


"Kenapa hanya dua, lalu kamu?" Tanya Altez yang percaya diri mengira jika Joana juga membelikan satu untuknya.


"Ini punyaku dan ini untuk Yeri. Kamu yang mana?" Ketus Joana berbicara dengan nada menyebalkan di telinga.


Altez menatapnya kesal. "Diskriminasi." Protesnya.


"Belilah sendiri, aku ada di sini untuk menemani temanku dan melayani atasanku. Tidak untuk kamu sebab kamu tidak membayarku." Joana berbicara tanpa ada rasa sungkan dan takut.


"Sayang, kita makan berdua ya?"


"Pergilah dan beli sendiri, makan berdua hanya akan membuatku kelaparan nanti malam" Yeri berbicara tanpa melihat Altez dan matanya sudah sibuk melihat bungkusan nasi di depannya. Ia nampak begitu lapar.

__ADS_1


oh...! gila! Apa mereka berdua sekongkol menyiksaku?


__ADS_2