
Bab 11
"Penyesalan Zaidan"
Wina mengetahui ruang perawatan Zaidan, dari salah satu perawat.
Dengan alasan ingin ke kantin kepada Lion, Wina pun segera pergi mencari ruang perawatan Zaidan.
Kaki nya melangkah cepat mencari dan menuju kamar Zaidan di salah satu ruang VIP.
Saat sampai di depan ruang VIP, langkah Wina terhenti, dia bertemu dengan pak Handoko.
"P..pak Handoko."Panggil Wina gugup.
"Nyonya Wina, mau menjenguk tuan Zaidan..??"Tanya pak Handoko.
"Iya pak.."Wina berkata, sambil berusaha menutupi ke gugupan nya.
"Kalau begitu, biar kita masuk bersamaan nyonya, kebetulan saya juga ada keperluan dengan tuan Zaidan.."Ajak pak Handoko.
Wina pun mengangguk.
Mereka pun masuk, tampak Zaidan sedang menyandar kan tubuh nya, di sandaran sofa yang berada di dalam kamar perawatan nya, dengan lap top yang berada di pangkuan nya.
Sedang kan Adam, sedang berada di kamar mandi.
"Permisi tuan Zaidan.."Pak Handoko berkata, saat pintu terbuka.
Zaidan menyipit kan mata nya, menatap tajam wanita yang berdiri di samping pak Handoko.
"tatapan mu tidak pernah berubah Zaidan, membuat dawai di hati ku selalu bergetar.."Batin Wina, menatap lekat ke arah Zaidan.
Walaupun di kepala dan kaki nya masih di perban, tapi bagi Wina tidak pernah menghilang kan pesona seorang Radhtya Zaidan di mata nya.
"Zaidan."Panggil Wina lirih, sambil tersenyum dan melangkah ke sofa tempat Zaidan duduk.
Zaidan pun langsung menegak kan posisi duduk nya, sambil terus menatap tajam Wina.
"Sedang apa kamu di sini..??"Tanya Zaidan sinis, saat Wina sudah duduk di samping nya.
Zaidan pun, segera menggeser duduk nya.
Sedang kan pak Handoko, merasa tidak enak.
"Seperti nya, saya menunggu di luar dulu tuan, sampai urusan anda dan nyonya Wina selesai.."Pak Handoko berkata, hendak keluar dari kamar VIP Zaidan.
"Bapak di sini saja, sebentar lagi Adam keluar dari kamar mandi.."Cegah Zaidan.
"Baik lah, saya menunggu di sebelah sana .:"Jawab Handoko, melangkah ke arah kursi yang berada di dekat ranjang.
Zaidan hanya mengangguk.
"Zaidan, aku kesini hanya ingin melihat keadaan mu sayang.."Ucap Wina lembut, sambil meraih jemari tangan Zaidan.
__ADS_1
Zaidan buru-buru menepis tangan Wina.
"Sekarang kamu sudah melihat keadaan ku, pergi lah, sebelum tua bangka itu tahu keberadaan mu di sini..!!"Lagi-lagi Zaidan mengusir Wina.
Wina hanya tersenyum, menanggapi pengusiran Zaidan untuk ke dua kali nya.
"Kamu tidak pernah berubah sayang, sifat angkuh mu ini, yang tidak pernah bisa aku lupa kan.."Bisik Wina sangat pelan, sambil menyentuh lembut lengan Zaidan.
"Lepas kan tangan mu, jika kamu tidak mau aku berlaku kasar, dan membuat mu malu di hadapan mereka..!!"Zaidan berkata dengan penuh penekanan, bertepatan saat Adam keluar dari kamar mandi.
Adam terperanjat kaget, saat melihat kehadiran pak Handoko, yang sedang duduk di kursi samping ranjang, sambil sibuk memainkan kan ponsel nya.
Tampak wajah nya penuh tanya, saat melihat sesosok wanita cantik yang berada di sofa di samping Zaidan.
Wajah tegang Zaidan, sangat tampak sekali, sedang kan wajah wanita itu penuh kesedihan dan kekecewaan menatap Zaidan.
Tapi Adam tahu posisi nya yang hanya sebagai seorang perawat, dia pun mengambil duduk di kursi lain yang tersedia juga di kamar itu.
"Zaidan bagaimana keadaan mu, sekarang..??"Tanya Wina lagi, dengan suara masih terdengar tenang dan lembut.
"Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat.."Jawab Zaidan acuh, dengan suara datar dan dingin.
"Kaki mu..?"Wina bertanya, dan hendak memegang kaki Zaidan.
Zaidan lagi-lagi menepis tangan Wina, dan menjauhi kaki nya dari Wina.
"Kamu benar-benar wanita bersuami yang tidak tahu malu..!!"Bentak Zaidan, yang membuat pak Handoko dan Adam menoleh ke arah mereka.
"Zaidan, kenapa kamu selalu kasar kepada ku..??"Tanya Wina, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Karena sikap mu, yang membuat ku tidak bisa menghormati mu..!!"Zaidan berkata, dengan penuh penekanan.
"Cepat pergi lah, sebelum aku berkata dan berlaku lebih kasar..!!"Usir Zaidan, dengan wajah memerah.
"Baik lah, aku kesini hanya ingin mengetahui keadaan mu.."Wina berkata dengan wajah yang sendu.
"Sampai kapan pun perasaan ku tidak akan pernah berubah, dan kejadian malam itu aku tidak akan pernah melupakan nya,.."Wina berkata di telinga Zaidan, dengan buliran bening yang mulai mengalir di wajah nya.
Sambil mengusap kasar air mata nya, Wina pun segera bangkit dari duduk nya, dan melangkah pergi meninggal kan ruangan VIP Zaidan.
Sedang kan Zaidan hanya diam, dengan mata dan wajah menahan amarah, bahkan terlihat telapak tangan nya yang mengepal kencang, dan dengan rahang wajah yang mengeras.
Pak Handoko dan Adam hanya diam dan saling tatap.
"Maaf, tuan Zaidan apakah anda membutuh kan sesuatu..??"Tanya Adam hati-hati, saat Wina sudah benar-benar meninggal kan ruangan.
"Aku butuh air putih.."Jawab Zaidan, sambil menarik napas dalam-dalam, dan membuang nya kasar.
Adam mengangguk, dan bergegas menuju dispenser, kemudian membawa segelas air putih kepada Zaidan.
"Ini tuan.."Adam menyodor kan segelas air putih itu kepada Zaidan.
Zaidan menerima nya, dan langsung meneguk nya sampai tandas.
__ADS_1
"Ada lagi, yang tuan Zaidan butuh kan..??"Tanya Adam.
Zaidan tidak menjawab, hanya mengangkat tangan nya, tanda jika dia sudah merasa cukup.
Adam pun mengangguk.
"Pak Handoko, apa anda sudah bertemu dengan gadis itu.??"Tanya Zaidan, menatap pak Handoko, yang sudah duduk di hadapan nya.
Sedang kan, Adam terlihat berada di samping Zaidan sambil berdiri.
"Iya tuan, saya sudah bertemu dengan dia.."Jawab pak Handoko.
"Apa tuan, ingin melihat foto nya .??"Tawar pak Handoko.
"Tidak perlu.."Jawab Zaidan datar.
Pak Handoko menghela napas.
"Aku akan menandatangani semua syarat-syarat yang di minta almarhum kakek.."Ucap Zaidan lagi, sambil mengusap kasar wajah nya.
"Baik lah tuan,. setelah ini saya akan meminta tuan Lion, tuan Dave, dan nyonya Wina untuk menandatangani berkas-berkas nya.."Pak Handoko berkata, sambil mengeluar kan berkas-berkas dari tas nya.
Zaidan kembali menarik napas dalam-dalam, dan membuang nya kasar.
"Apa tuan, ingin membaca nya terlebih dahulu.??"Tawar pak Handoko.
"Tidak perlu.."Jawab Zaidan datar, sambil menggeleng kan kepala nya.
Zaidan pun membubuh kan tanda tangan nya, di setiap berkas-berkas yang memerlu kan tanda tangan nya.
Kemudian,Zaidan menghela napas, saat semua berkas-berkas sudah selesai di tanda tangani nya.
"Saya harap, ini keputusan yang tepat dan terbaik, yang tuan Zaidan ambil.."Ucap pak Handoko, mengambil berkas di tangan Zaidan.
"Saya tidak akan membiar kan, harta warisan peninggalan kakek jatuh ke tangan mereka.."Geram Zaidan.
Pak Handoko pun mengangguk, sedang kan Adam hanya menjadi pendengar, karena posisi nya hanya lah seorang perawat, jadi dia harus menutup mata dengan apa yang di lihat nya, dan menutup telinga dari apa yang di dengar nya.
**********
Bagaimana sebenar nya hubungan Zaidan dan Wina dahulu..??
Apakah dengan menandatangani surat wasiat sang kakek, Zaidan akan menikahi wanita yang tidak pernah di kenal nya..??
Bagaimana dengan Devina..???
Apakah Dave, Lion dan Wina akan menandatangani surat wasiat itu juga..??
Ikuti terus bab selanjut nya.
Jangan lupa karya author lain nya 👇👇
__ADS_1