
Bab 75
"Penyesalan Zaidan"
"Raza sering tidur bersama Papah Doni, soalnya kalau tidur Papah Doni selalu memeluk hangat Raza, dan setiap mau tidur Papah selalu membacakan cerita." Jawab Raza dengan kepolosannya.
Zaidan terpaku mendengar pengakuan Raza. Dadanya terasa sesak, mengetahui jika buah hatinya begitu merasa nyaman dengan sosok lelaki lain.
"Papah juga bisa melakukan apa yang Papah Doni lakukan." Ucap Zaidan dengan suara yang bergetar, sambil membelai lembut wajah Raza.
Raza mengerutkan keningnya, menatap tajam Zaidan.
"Anak ini benar-benar darah dagingku." Ucap Zaidan dalam hati, menatap Raza, karena gaya dan tatapannya sangat serupa dengannya.
"Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan Papah Zaidan.?" Tanya Raza, yang terus menatap tajam ke arah Zaidan.
"Iya kamu boleh panggil papah Zaidan."Ucap Zaidan, yang tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya.
"Itu artinya Raza punya Papah dua.?"Pertanyaan polos Raza membuat Zaidan dan Amanda tersentak.
Seketika, wajah Amanda merona merah. Dia menjadi salah tingkah.
"Apa Mamah sama Papah Doni sudah menikah.?" Tanya Zaidan, kembali menunggu jawaban Raza, dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
"Menikah itu apa.??"Kembali Raza mengerutkan keningnya.
"Menikah itu.."
"Mas, sudah cukup.!!"
Bentak Amanda, yang memotong perkataan Zaidan.
"Raza sayang, kita harus segera pulang, kasihan Papah Doni dan kakak Dion yang sudah menunggu."Ajak Amanda, sambil mengulurkan tangannya untuk membawa Raza.
"Amanda, pembicaraan kita belum selesai."Zaidan berkata sambil menghalangi tangan Amanda meraih Raza.
"Mas, tolong jangan membuat keadaan menjadi sulit, kita sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.!"Tegas Amanda.
"Hanya kamu yang bahagia Amanda, bukan aku." Ucap Zaidan parau.
"Amanda, apa kamu tidak pernah mencintai aku.?" Zaidan meraih jemari Amanda.
"Jangan seperti ini mas, ayo Raza." Amanda menepis tangan Zaidan, dan langsung meraih tangan Raza. Secepat kilat Zaidan menahan lengan Amanda, menatap Amanda dengan mata berkaca-kaca.
"Amanda aku mohon."
"Mas, sekali lagi tolong jangan seperti ini." Terdengar suara Amanda yang mulai bergetar.
Zaidan menatap lekat Amanda, rasa bersalah dan menyesal kembali memenuhi hatinya.
__ADS_1
"Jika tak ada lagi kesempatan untukku, tetapi, tolong berikan kesempatanku untuk bersama Raza. Bagaimanapun dia putraku, tolong jangan pisahkan kami Manda." Pinta Zaidan dengan suara mengiba.
Deg...
Amanda terpaku, dia tidak percaya jika lelaki di hadapannya adalah seorang Radthya Zaidan.
"Di dalam darah Raza mengalir darah keluarga besar Radthya, apa kamu sudah melupakan almarhum kakek, Manda.?" Tanya Zaidan, tanpa melepaskan tatapannya pada wajah Amanda. Membuat netra mereka bertemu.
Sesaat mereka saling tatap, Amanda masih merasakan getaran yang di rasakannya beberapa tahun yang lalu, tetapi dia berusaha untuk menepis perasaannya.
Begitu juga dengan Zaidan, dia merasakan jika jantungnya berdegup kencang, ini pertama kali dia menatap wajah Amanda secara intens.
"Amanda."Panggil Zaidan lirih.
Amanda tersentak, dan memalingkan wajahnya.
"Amanda yang sekarang bukan Amanda yang dulu mas." Jawab Amanda dengan suara parau.
Zaidan menghela napas.
"Aku akan tetap menunggumu Amanda, sampai kamu kembali membuka hati untukku."Ucap Zaidan tegas. Membuat Amanda tersentak.
Amanda mencoba menetralkan gemuruh di dadanya, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Antara sedih dan bahagia bercampur jadi satu di hatinya. Namun, dia berusaha menahan semua perasaannya, karena sampai saat ini, dia belum yakin dengan apa yang di katakan Zaidan kepadanya.
"Aku mohon, jangan pisahkan aku dari Raza, aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu, dan waktu yang sudah terbuang." Zaidan menatap sendu Raza, kemudian berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Raza.
"Maafkan papah sayang, papah bolehkan bertemu Raza lagi.?"Tanya Zaidan, mengusap lembut rambut Raza.
Zaidan mengangguk, sambil tersenyum.
"Benar kata kak Dion, jika masalah orang dewasa itu sangat rumit." Raza berkata, sambil menggelengkan kepalanya. Membuat Amanda dan Zaidan saling melempar pandang.
"Anak cerdas." Ucap Zaidan sambil tertawa kecil, mengacak pelan puncak kepala Raza, dan langsung membawa tubuh Raza ke dalam pelukannya.
Wajah Zaidan begitu bahagia, dia merasakan hatinya yang selama ini kosong dan hampa, terasa begitu hangat, Raza bagaikan magnet kebahagiaannya, walaupun Amanda belum bisa menerima kehadirannya kembali.
***************
Sore hari di kediaman Doni.
Amanda duduk termenung, sambil menatap Raza, Doni dan Dion yang sedang asyik berenang, sambil bersenda gurau.
"Manda."Sebuah panggilan dan sentuhan lembut di pundak Amanda, membuyarkan lamunannya.
"K..kak Doni."
"Melamun lagi.?"Tanya Doni, dengan senyum menggoda, sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan duduk di sebelah Amanda.
Amanda tersenyum dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberikan kesempatan kedua untuknya.?" Tanya Doni sambil meminum jus orangenya.
Amanda menoleh ke arah Doni, dan menatapnya lekat, di balas sebuah lirikan oleh Doni.
Doni tersenyum dan meletakkan jus orangenya.
"Amanda, aku sangat nengenalmu, dan aku tahu apa yang kamu rasakan."Doni memutar tubuhnya menghadap Amanda, menatap lekat wajah yang sudah bertahta selama puluhan tahun di hatinya.
Seandainya dulu, hatinya tidak terlalu lemah dan menghilangkan rasa empatinya, mungkin dia tidak menikah dengan wanita yang sudah memberinya seorang Dion. Bahkan dia akan kembali ke Panti, untuk mengejar cinta Amanda.
Doni menghela napas, mengusap kasar wajahnya. Walaupun dia menikahi mamahnya Dion karena kasihan, namun, dia sangat menyayangi Dion, terlebih saat Dion harus di tinggal sang mamah karena penyakit kronis yang di deritanya.
"Tekatku sudah bulat kak, aku akan fokus dengan Raza, dan akan berusaha untuk menjadi wanita karir yang sukses, tanpa bayang-bayang dari kak Doni, atau bantuan dari siapapun." Jawab Amanda, kembali menatap Raza dan Dion yang masih menikmati suasana sore sambil berenang.
Doni kembali menghela napas.
"Sepertinya, dia sudah jatuh cinta kepadamu Amanda." Ucap Doni dengan suara parau, ada luka dan kesedihan di sana.
Amanda tersenyum miring.
"Cintanya hanya untuk almarhumah kak Devina, mungkin jika dia masih hidup.."Amanda tidak meneruskan ucapannya, ingatan masa lalu terlintas di matanya.
"Jangan berandai-andai, jika itu akan menjadi kenyataan yang menakutkan." Ucap Doni, menatap lekat wajah Amanda dari samping.
"Semua sudah takdir Manda, pertemuanmu dengan Zaidan, kisah cinta Zaidan bersama Devina, kehadiran Raza, sampai sekarang kalian di pertemukan lagi, dengan seorang anak yang bisa menyatukan kalian." Ucap Doni lagi.
Amanda memutar tubuhnya menghadap Doni, sehingga jarak mereka begitu dekat. Netra mereka kembali saling menatap.
"Aku tidak mau terlalu larut dengan perasaanku kak, aku ingin menjadi perempuan yang lebih berpikir secara logika, dari pada memakai hati."Amanda berkata, dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Senyum yang selalu membawa kebahagiaan dan kerinduan untuk Doni.
Doni tersenyum dengan kilatan bahagia di matanya.
"Aku akan selalu memberikan kebebasan untukmu memilih Manda." Doni terus menatap lekat Amanda.
"Terimakasih kak" Amanda langsung memeluk erat tubuh Doni.
"Iya bidadari kecilku." Jawab Doni lembut, sambil membelai rambut panjang Amanda.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata menatap nanar ke arah mereka.
**********
Siapakah dua pasang mata itu?
Siapakah yang akan Amanda pilih?
Jangan pernah lewatkan setiap babnya, karena akan muncul cerita yang tidak kalian duga🤭☺️.
Jangan lupa dukungan untuk novel terbaru Author "You Are A Writer Seosan 9"👇🤗
__ADS_1