
Bab 62
"Penyesalan Zaidan"
Semua menatap ke arah asal suara, tampak Lion yang berdiri dengan tatapan nyalang.
"Suamimu Baskoro, harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada putraku.!!"Lion berkata dengan wajah memerah, sambil melangkah mendekati mereka.
"Apa yang kamu katakan tuan Lion, tidak mungkin suamiku melakukan hal bod*h pada putramu Dave.!!"Teriak Irma tidak percaya.
"Silahkan, tanyakan kepada menantu kesayanganmu itu.!!"Jawab Lion, menatap sinis Zaidan.
"Zaidan, apa itu benar.?"Irma menatap lekat Zaidan, tampak ketakutan dan kecemasan di wajahnya.
"Tenang dulu mah, semua masalah ini pasti bisa kita selesaikan."Ucap Zaidan, meraih tangan Irma.
Jawaban Zaidan, bagaikan hantaman keras dalam hidup Irma. Baru saja dia kehilangan putri semata wayangnya, kini harus menghadapi kenyataan jika suami tercintanya, baru saja melakukan penganiayaan bahkan pembunuhan.
"Tuan Baskoro memang bersalah, karena sudah menyerang tuan Dave, sehingga dia koma. Tapi, bukan berarti jika tuan Dave lepas dari masalah hukum. Karena, dia lah penyebab kematian nyonya Devina."Tegas pak Handoko, menatap tajam Lion.
Amanda dan Doni hanya diam terpaku mendengar semuanya. Sedangkan Lion wajahnya semakin memerah mendengar pernyataan pak Handoko.
Irma yang syock dengan kabar suaminya, langsung tersadar jika Dave lah yang menyebabkan kematian putrinya.
"Aku berharap Dave akan segera mati menyusul Devina. Jika dia tidak mati, aku bersumpah aku akan membalas dendam akan kematian putriku.!!"Irma berkata, dengan kilatan amarah yang terlihat di matanya.
Tanpa di duga, Irma mengambil sebongkah batu yang cukup besar, tepat berada di sampingnya. Dengan gerakan cepat, dia langsung melempar kencang ke arah Lion. Tentu saja tindakan Irma membuat semua orang terkejut.
Dug..
Awhh..
Lion berteriak, karena serangan yang tiba-tiba itu tepat mengenai mata sebelah kanannya. Dia berteriak dan meringis kesakitan, dengan cepat Irma mendekati Lion dan menghajarnya secara membabi buta dengan sekuat tenaganya.
"Tuan Lion."Ucap dua orang anak buahnya, langsung menghampiri Lion dan melepas paksa dan kasar tubuh Irma. Saat salah satu anak buah Lion, ingin melayangkan pukulannya ke arah Irma, dengan sigap Zaidan menahan dan memukul balik.
Amanda segera memeluk tubuh Irma, yang terus meronta.
"Tante tolong sabar."Ucap Amanda lembut, sambil mempererat pelukannya, dan mengusap pelan punggung Irma.
Perkelahian tak bisa di hindari, Doni langsung membantu Zaidan yang sedang di serang dua anak buah Lion. Dengan mudah mereka langsung melumpuhkannya.
"Cepat, bawa tuan kalian pergi dari sini.!!"Ancam Zaidan.
Kedua anak buah Lion, sambil meringis kesakitan langsung menghampiri Lion yang masih menahan sakit, tampak telapak tangannya memegangi mata kanannya, terlihat ada rembesan dar*h yang keluar dari telapak tangan Lion.
"Ingat, aku tidak akan melepaskan kalian semua, dan kamu wanita tua akan membusuk di penjara.!!"Ancam Lion, sebelum melangkah pergi.
Irma yang sedang menangis di pelukan Amanda, ingin kembali lagi menyerang Lion. Namun, dengan lembut Amanda menahannya dan mampu menenangkan Irma.
Zaidan menatap lekat Amanda, tampak kekaguman di sorot matanya.
"Kamu benar-benar wanita baik dan berhati mulia."Ucap Zaidan dalam hati, senyum tipis menghiasai bibirnya, saat matanya terus menatap Amanda.
Doni yang menyadari itu, menarik napas kasar. ketakutan kehilangan Amanda semakin di rasakannya.
"Manda, kita harus pulang sekarang."Doni berkata, sambil menghampiri Amanda, dan mengelus lembut rambut Amanda.
Amanda terperangah dengan sikap Doni, netranya langsung menatap Zaidan.
Zaidan segera membuang pandangannya, seolah-olah tidak peduli dengan sikap Doni kepada Amanda.
Berlahan Irma melepaskan tubuhnya dari pelukan Amanda.
"Zaidan, antarkan mamah untuk menemui papah."Ucap Irma dengan suara parau.
__ADS_1
Zaidan mengangguk, sambil meraih tangan Irma.
"Apa om Handoko, mau menemani kami.?"Tanya Zaidan tiba-tiba, yang membuat pak Handoko tidak percaya dengan pendengarannya.
Pertama kali seorang Radthya Zaidan meminta bantuannya, walaupun tidak secara langsung.
Pak Handoko melihat ke arah Amanda, seolah-olah meminta persetujuannya. Amanda tersenyum dan mengangguk.
"Saya dan team pengacara, akan membantu tuan Baskoro dan nyonya Irma dalam kasus ini."Ucap pak Handoko..
"Terimakasih pak."Jawab Irma sambil menunduk sedih, dia tidak menduga, di masa tua yang seharusnya di habiskan dengan ketenangan bersama suaminya, justru mereka harus berurusan dengan hukum.
Pak Handoko menjawab dengan sebuah anggukan.
"Hanya satu yang saya minta, tolong nyonya dan tuan Baskoro bisa mengendalikan emosi, karena jika di balas dengan kekerasan, bisa merugikan diri kalian sendiri."Ucap pak Handoko.
"Iya pak, saya minta maaf karena amarah, saya jadi bertindak bodoh."Jawab Irma lirih.
Zaidan, segera merangkul pundak Irma, mengelus lembut seolah-olah memberikan kekuatan.
"Tidak apa nyonya, saya mengerti."Jawab pak Handoko sambil tersenyum.
"Mas Zaidan, kamu benar-benar menganggap mereka seperti orang tuamu sendiri."Amanda berkata, sambil menatap kagum Zaidan.
Zaidan yang sadar dengan tatapan Amanda, dia pun melakukan hal yang sama. Sehingga netra mereka bertemu, dengan tatapan yang menyiratkan suatu perasaan yang tidak bisa mereka ungkapkan lewat kata-kata.
Doni kembali menghela napas kasar.
"Amanda, jika kamu ingin menemani Zaidan, silahkan."Bisik Doni, dengan hati yang terasa tertusuk sembilu.
Amanda terdiam, dia menatap Doni sesaat. Di balas sebuah senyuman tulus dari Doni.
Amanda kembali menatap Zaidan, begitu juga sebaiknya. Seolah-olah mereka berbicara melalui mata.
Zaidan mengangguk, dengan tatapan yang terus ke arah Amanda, Seakan meminta Amanda ikut bersamanya.
Tanpa sadar Amanda membalasnya dengan sebuah senyuman, begitu juga sebaliknya. Doni dan pak Handoko hanya saling melempar pandang. Sedangkan Irma, sebelum pergi dia mengelus dan mencium nisan Devina.
"Ikutlah bersama kak."Pinta Amanda penuh harap kepada Doni.
Doni mengerti, apa yang di maksud Amanda.
"Kamu tenang saja, aku yang akan menghubungi bunda."Jawab Doni, sambil meraih ponselnya. Dan mengirimkan pesan kepada bunda.
"Terimakasih kak."Amanda tersenyum bahagia.
Doni membalas dengan senyuman.
"Senyummu, kebahagiaanmu adalah segalanya untukku Manda."Batin Doni, dengan nyeri yang terasa di hatinya.
Mereka pun segera meninggalkan area pemakaman.
Saat mereka sudah sampai di area parkir, pak Handoko menghampiri Doni.
"Berjuanglah anak muda, jika kamu benar-benar mencintainya."Pak Handoko berkata, sambil menepuk pelan pundak Doni.
Doni menatap pak Handoko sesaat. Di balas dengan sebuah senyuman, dan pak Handoko sambil melangkah menuju mobilnya.
Perkataan pak Handoko, seperti angin segar bagi Doni, harapan dan semangatnya untuk mendapatkan cinta Amanda bangkit kembali.
Dengan senyum dan binar kebahagiaan, dia pun segera masuk ke dalam mobilnya.
**************
Sesampainya di kantor polisi, Irma langsung memeluk tubuh Baskoro yang baru saja memasuki ruang tunggu.
__ADS_1
"Pah." Panggil Irma, air mata kembali membasahi wajahnya.
Baskoro pun memeluk tubuh istrinya, dengan air mata yang tampak keluar dari sudut matanya.
"Mah, pah, ayo kita duduk dulu."Ajak Zaidan, hatinya begitu pedih melihat mereka.
"Ceritakan kepada mamah, apa yang sebenarnya terjadi pah.??"Tanya Irma, menatap lekat Baskoro.
Baskoro menghela napas.
"Maafkan papah."Baskoro menceritakan semua yang terjadi. Irma semakin tersedu mendengarnya.
"Kenapa semua harus terjadi pah.??"Tanya Irma di sela isak tangisnya.
"Mamah sudah kehilangan Devina, mamah tidak mau jika harus kehilangan papah juga."
Perkataan Irma, bagaikan hujaman belati di dada Baskoro.
"Apa maksud mamah."Teriak Baskoro, sambil mencengkeram lengan Irma.
"Pah tenang."Zaidan langsung menghampiri Baskoro, sedangkan Irma terus menangis.
Amanda langsung mendekati Irma, memeluk dan mencoba menenangkannya.
"Zaidan, katakan kepada papah, di mana Devina sekarang.??!"Baskoro meraih pundak Zaidan.
"Devina.."
Belum sempat Zaidan meneruskan perkataannya.
"Maaf, apa benar anda, nyonya Irma Suryani."Tiba-tiba salah satu petugas kepolisian datang menghampiri mereka, sambil menatap ke arah mereka.
Irma yang sedang menangis menatap ke arah petugas.
Zaidan menatap pak Handoko. Dia mengerti maksud dari Zaidan.
"Maaf pak, bisa minta tolong waktu sebentar, karena ada sedikit masalah yang sedang di bahas dengan tuan Baskoro."Ucap pak Handoko.
Irma kembali menangis, dan menundukkan wajahnya. Dia sudah pasrah dengan nasibnya, sudah tidak ada lagi penyemangat dalam hidupnya. Dia ikhlas jika harus menghabisi masa tua di jereji besi karena tuntutan Lion.
"Kenapa istri saya pak, ada apa dengan istrinya.??"Tanya Baskoro, yang mulai merasakan sakit di kepala dan dadanya.
"Maaf tuan, kami harus menangkap nyonya Irma atas tindakan penganiayaannya terhadap tuan Lion."
"Apa..????!!"
Rasa nyeri semakin di rasakan Baskoro, sambil memegangi dadanya, dia pun ambruk tak sadarkan diri.
***************
Bagaimana nasib Baskoro dan Irma di masa tua mereka?
Apakah mereka harus melewati masa tua di dalam jeriji besi??
Bagaimana keadaan Dave dan mata Lion.?
Langkah apa yang akan Amanda ambil? Apakah dia berubah pikiran untuk kembali kepada Zaidan dan memberitahukan kehamilannya??
Jangan pernah lewatkan, kisah selanjutnya.
Tetap promo novel author 👇👇
__ADS_1