
Bab 86
"Penyesalan Zaidan"
Amanda mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan semua ingatannya.
"Mamah" terdengar sebuah suara yang sangat di kenal Amanda.
Amanda menoleh ke asal suara, tampak Dion dan Raza yang sedang menatapnya sendu, dengan mata yang sembab. Terlihat juga Mira dan Dokter Arya di belakang mereka.
"Dion, Raza.." Panggil Amanda lirih, sambil berusaha duduk. Dengan sigap Dokter Arya membantunya untuk duduk.
"Pelan-pelan Amanda" ucap Dokter Arya lembut, di jawab anggukkan oleh Amanda.
"Terimakasih mas" ucap Amanda.
Dokter Arya menjawab dengan senyuman dan tatapan penuh arti, yang membuat wajah Amanda bersemu merah, karena malu dengan Dion, Raza dan Mira yang sedang menatap mereka.
"Amanda, syukurlah kamu sudah sadar Nak" ucap Mira, sambil tersenyum lega.
"Apa yang sudah terjadi Mah?" tanya Amanda bingung, karena terakhir dia merasakan rasa sakit yang hebat di kepalanya.
"Kami menemukan kamu pingsan Nak, dan telapak tanganmu terkena pecahan beling, sehingga mengeluarkan banyak darah" terlihat kesedihan yang mendalam di wajah Mira.
Amanda terdiam, dia menatap telapak tangannya yang sudah terbungkus perban.
"Amanda, kamu jangan khawatir, Tim Dokter sudah mengambil sampel darahmu, dan kami juga sudah melakukan CT scan" ucap Dokter Arya.
Amanda tidak menjawab, tatapannya nanar ke arah Dion dan Raza.
"Dion, Raza.." panggil Amanda kembali, sambil memeluk mereka. Tampak punggung Amanda yang berguncang.
"Tenanglah Amanda, semua akan baik-baik saja" ucap Dokter Arya sambil memegang lembut pundak Amanda. Sedangkan Mira sudah ikut menangis.
"Mamah jangan menangis, Raza dan kak Dion selalu berdo'a untuk kesembuhan Mamah" ucap Raza.
Amanda melepaskan pelukannya, menatap lekat Dion dan Raza.
"Maafkan Mamah ya sayang" ucap Amanda di sela isakannya.
"Kenapa Mamah harus minta maaf? seharusnya Dion yang minta maaf, karena tidak bisa menjaga Mamah, maafkan Dion yang tidak tahu jika Mamah sakit, dan membuat Mamah jadi terluka" Dion menghapus lembut air mata Amanda.
"Seharusnya ini adalah tugas Dion untuk menjaga Mamah dan Raza" ucap Dion lagi, membuat Amanda semakin tersedu.
"Raza juga minta maaf Mah" Raza ikut bicara, sambil menyentuh lengan Amanda.
"Kalian tidak salah, kalian anak-anak yang hebat. Takdir yang sedang menguji kita" ucap Amanda lirih.
Kembali Amanda membawa Raza dan Dion ke dalam pelukannya.
"Amanda, kamu harus melakukan perawatan di rumah sakit, karena masih ada rangkaian pengecekan yang harus kamu jalani. Dan untuk mengontrol kesehatanmu juga'' ucap Dokter Arya.
"Sementara ini, Dion dan Raza biarlah bersama Mamah dulu, sampai proses kesembuhanmu" ucap Dokter Arya lagi.
__ADS_1
"Apa aku tidak bisa melakukan pengobatan jalan saja, Mas?"
"Kami tidak mau kecolongan seperti tadi Amanda, seandainya tadi tidak ada yang mengetahui keadaanmu, sesuatu yang buruk pasti akan menimpamu" tegas Dokter Arya.
"Benar kata Arya, lebih baik kamu harus melakukan perawatan dulu Amanda, setidaknya sampai keadaanmu benar-benar membaik"
"Mamah tidak perlu khawatir, Dion akan menjaga Raza"
"Terimakasih sayang" Amanda membelai kepala Dion.
"Mamah juga tidak perlu khawatir, Raza banyak yang menjaga"
"Maafkan Mamah sayang" Amanda membawa Raza ke dalam pelukannya.
"Dion, Raza sebaiknya kalian pulang sekarang bersama Oma ya, rumah sakit tidak baik untuk kesehatan anak-anak, terutama untuk seusia Raza" ucap Dokter Arya mengusap lembut rambut Raza.
Amanda, Dion dan Raza saling tatap, Mira menatap Dokter Arya lekat, jauh di lubuk hatinya, dia dangat takut jika apa yang di pikirkannya tentang Dokter Arya adalah suatu kebenaran.
Mira menghela napas.
"Amanda, kami pulang dulu ya nak, Arya akan menjagamu sayang" Mira berkata, sambil memegang bahu Raza dan Dion.
"Iya mah, hati-hati di jalan, titip Dion dan Raza" dengan berat hati Amanda melepas Dion Raza.
"Dion pamit dulu, Mamah semangat ya"
"Terimakasih sayang" Amanda memeluk erat Dion.
"Sayang" Amanda membawa Raza juga ke dalam pelukannya.
Amanda memeluk erat kedua jagoannya, entah kenapa dia merasa sangat berat melepaskan mereka. Seolah-olah mereka akan berpisah, buliran bening kembali membasahi pipinya.
Mira juga ikut terisak, tiba-tiba dia teringat Zaidan, dia tidak mengetahui di mana Zaidan sekarang.
"Zay, datanglah, kasihan Raza dan Amanda. Kamu jangan jadi pengecut Nak." Ucap Mira di dalam hati, sambil menyeka air matanya.
Setelah puas berpelukan dan menangis, Dion, Raza dan Mira pun meninggalkan rumah sakit. Perasaan tidak enak menghinggapinya hati Amanda. Tinggallah kini Dokter Arya dan Amanda di ruangan itu.
"Amanda" panggil Dokter Arya, sambil duduk di kursi tepat berhadapan dengan Amanda, dan hampir tidak ada jarak diantara mereka, sambil menggenggam jemari Amanda.
Amanda tercekat , dia langsung melepas kasar genggamannya dari tangan Dokter Arya, dan beringsut mundur, Namun, dengan cepat tangan Dokter Arya langsung memegang kedua kaki Amanda. yang membuatnya Amanda hampir berteriak.
"Amanda, apa wajah aku sangat menakutkan untukmu sehingga kamu menjauh? tanya Dokter Arya, dengan suara parau.
"M-maaf Dokter Arya, bukan itu maksudku" jawab Amanda sambil menundukkan wajahnya.
"Amanda, kita akan menikah secepatnya"
Amanda kembali tercekat, dia mengangkat wajahnya dan menatap Dokter Arya.
"Ini demi keselamatan dan kebaikan kalian, tolong pikirkan itu, aku tahu jika perasaanmu hanya untuk Zaidan, tetapi, aku mohon kepadamu, tolong bukalah sedikit pintu hatimu untukku" ucap Dokter Arya, dengan tatapan penuh pengharapan.
"Mas, aku baru saja tersadar dari pingsan. Aku pikir ini bukan saat yang tepat untuk kita bicarakan! sergah Amanda.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menunggu lama Amanda, karena sepertinya Zaidan terlalu banyak musuh, jika sampai mengetahui keberadaan Raza, ini sangat membahayakan nyawanya!"
Perkataan Dokter Arya kembali membuat Amanda tercekat. Akan tetapi, kali ini sangat mengejutkan.
"Apa maksudmu Mas Arya?" tanya Amanda, dengan suara bergetar.
"Amanda, kamu pasti sangat mengetahui sepak terjang Zaidan di bidang bisnis, sebagai pengusaha sukses dan pembisnis sudah pasti banyak yang tidak menyukainya, bahkan bisa saja menyimpan dendam kepadanya.
Deg..
Kekhawatiran dan ketakutan terlihat jelas di wajah Amanda. Tiba-tiba dia merasakan kepalanya sangat berat, dan rasa sakit pun sudah kembali menghinggap di kepalanya.
Amanda merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya, Dokter Arya menatap lekat Amanda. Ada rasa sedih dan kasihan melihat keadaan Amanda. Akan tetapi, rasa bencinya kepada Zaidan mengalahkan rasa sayangnya.
Perlahan, Dokter Arya mengambil sebuah tablet berwarna putih dan segelas air.
"Minumlah Amanda, biar rasa sakitmu reda" Dokter Arya berkata, sambil memberikan tablet ke mulut Amanda.
Dia pun langsung meminum obat yang di sodorkan Dokter Arya.
"Istiratlah, rasa sakit itu perlahan pasti hilang"
Amanda tidak menjawab, dia menurut saat Dokter Arya membaringkan tubuhnya, dengan lembut Dokter Arya mencium kening Amanda dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Mata Amanda semakin redup, rasa sakit pun perlahan menghilang, Amanda merasa tubuhnya sangat nyaman, ada desiran aneh yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya.
Sebuah senyum kemenangan menghiasi bibir Dokter Arya, dia pun melangkah menuju pintu dan langsung menguncinya.
Dia mendekati tubuh Amanda yang sudah terlelap dalam tidur nyenyaknya.
"Maafkan aku Amanda, aku terpaksa melakukan semua ini kepadamu, karena aku ingin menghancurkan Zaida sial*n itu!" Geram Dokter Arya.
"Lihatlah kehancuranmu Zaidan, wanita yang kamu cintai, akan menjadi milikku seutuhnya"
*****************
Apa yang akan di lakukan Dokter Arya kepada Amanda?
Obat apa yang di berikan Dokter Arya kepada Amanda?
Kenapa Dokter Arya begitu dendam dengan Zaidan?
Bagaimana nasib Amanda selanjutnya?
Maaf baru bisa up🙏
Yuk kepoin novel lainnya👇
__ADS_1