
Bab 65
"Penyesalan Zaidan"
Suasana haru penuh kebahagiaan menyelimuti rumah mbah Uri.
Zaidan dan dokter Arya, duduk bersebelahan di teras rumah mba Uri, menatap kembali hamparan rumput yang memanjakan mata.
"Gw turut berdukacita atas kematian Devina, semua seperti mimpi."Dokter Arya berkata, sambil memejamkan matanya sesaat.
"Iya, semua seperti mimpi." Timpal Zaidan lirih.
"Gw ga menyangka, jika Kepergian Anita bersamaan dengan kepergian Devina."Dokter Arya berkata lagi, sambil tersenyum getir.
Zaidan terpaku sesaat. Dia menatap wajah dokter Arya dari samping.
"Apa Anita tidak tertolong.??"Tanya Zaidan, sambil terus menatap dokter Arya. Karena sibuk dengan masalahnya, dia sampai melupakan keadaan dokter Anita.
Dokter Arya menarik napas kasar.
"Dia sudah mengorbankan nyawanya buat g."Jawab dokter Arya, kembali senyum getir terukir di bibirnya.
Dadanya terasa sesak, ucapan cinta entah yang keberapa kali di ucapkan Anita, sampai saat dokter cantik itu menghembuskan napas terakhirnya.
"Dia sangat mencintai loe.."Zaidan berkata, sambil memegang pundak dokter Arya.
"Sampai hembusan napas terakhirnya, kata cinta itu keluar dari bibirnya."Jawab dokter Arya dengan suara mulai bergetar.
Zaidan merasakan kesedihan dan penyesalan yang di rasakan oleh kakak kandungnya ini.
"Kadang, seseorang itu sangat berarti di saat dia sudah tidak ada, dan pergi meninggalkan kita."Ucap Zaidan, sambil menepuk pelan pundak dokter Arya.
Dokter Arya menatap Zaidan sesaat.
"Kalau begitu jujurlah dengan perasaan loe, dan kejarlah dia, sebelum dia pergi menjauh atau menjadi milik orang lain."Dokter Arya menatap lekat Zaidan.
Zaidan mengerutkan keningnya.
"Gw ga paham dengan perkataan loe.??"Zaidan bertanya, dengan ekspresi tidak mengerti.
Dokter Arya tersenyum mendengar pertanyaan Zaidan.
"Kalau begitu, bertanyalah pada hati loe yang paling dalam."Ucap dokter Arya, sambil menyrntuh pelan dada Zaidan.
Zaidan terdiam sesaat, merenungi apa yang baru saja di ucapkan dokter Arya, saudara laki-laki sekaligus teman untuknya.
"Jujurlah, sebelum semua terlambat."Ucap dokter Arya lagi, kembali tersenyum.
Zaidan mengusap kasar wajahnya.
"Gw belum yakin dengan perasaan gw sendiri."Ucap Zaidan, sambil menghela napas.
"Dia pasti sangat membenci gw, setelah kejadian di kamar penyiksaan waktu itu."Zaidan memejamkan matanya sesaat.
__ADS_1
Zaidan kembali teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Rasa penyesalan kembali menyelimuti dirinya.
Dokter Arya sangat tahu, apa yang di rasakan oleh adiknya, walaupun mereka tidak merasakan besar bersama, tetapi, ikatan batin mereka sebagai saudara kandung tidak bisa di pungkiri.
"Dulu karena keegoisan, loe ninggalin kakek Radthya dan Devina, yang berakhir dengan penyesalan. Sampai loe harus kehilangan keduanya." Ucap dokter Arya, membuat Zaidan tersentak.
"Loe pasti paham maksud gw khan.??"Ucap dokter Arya, yang merasakan sesuatu yang berbeda di hatinya.
"Kesederhanaanmu adalah daya tarikmu, aku tidak bisa membohongi hatiku, jika ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama.!!" Ucap dokter Arya, sambil tersenyum tipis, mengingat awal dia bertemu dengan Amanda.
" Ish, mikir apa aku ini..!!"Ucap dokter Arya dalam hati, mencoba mengingkari perasaannya.
"Apa gw harus memperjuangkan Amanda.?"Tanya Zaidan lirih, sambil mendongakkan kepalanya, menatap birunya langit, di selimuti matahari yang memberikan cuaca cerah dan terang. Namun, suasana tetap dalam keadaan sejuk, karena berada di bawah kaki gunung, yang di penuhi dengan hamparan rumput dan sawah-sawah.
Perkataan Zaidan, membuyarkan pikiran dokter Arya tentang Amanda. Dia pun mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Kalau loe menganggap Amanda adalah kebahagiaan loe, kejar dan perjuangkanlah."Jawab dokter Arya, mencoba memberikan semangat. Walaupun, dia sendiri ingin mengejar cinta Amanda.
"Doni Anggara."Gumam Zaidan.
Dokter Arya mengerutkan keningnya, mendengar Zaidan menyebutkan nama Doni. Dia juga sadar, jika Doni menyukai Amanda melebihi dari seorang adik. Apalagi Dion anak Doni sangat menyukai Amanda, bahkan memanggilnya dengan sebutan mamah.
"Amanda sangat nyaman dengan Doni, apalagi Dion anaknya, sudah memanggilnya mamah."Ucap Zaidan lagi, dengan suara yang begitu lirih.
"Zaidan yang gw kenal adalah seorang yang ambisius, kenapa sekarang lembek seperti tempe.?"Ledek dokter Arya.
"Kenapa loe tidak berani berjuang.?"Dokter Arya bertanya, dengan nada penuh provokasi.
Zaidan langsung tersentak, dia menyadari jika selama ini dia kurang berjuang, dia tidak mau kehilangan lagi. Dia bertekad untuk jujur dengan perasaannya, dia pun segera dia bangkit dari duduknya.
"Menyatakan perasaan, dan memintanya kembali untuk menjadi istri gw."Ucap Zaidan tegas, dengan penuh keyakinan, sebuah senyum optimis tersungging di bibirnya.
Zaidan pun berlalu dari hadapan dokter Arya, yang terdiam sesaat menatap punggung Zaidan, namun, tetap berusaha tersenyum bahagia.
"Raihlah kebahagiaan loe Zay, suatu saat nanti mungkin gw akan mendapatkan wanita pilihan gw."Gumam Doni, sambil melangkah menyusul Zaidan ke dalam rumah mbah Uri.
Di dalam rumah, tampak Zaidan sedang berbicara dengan Mira dan mbah Uri. Mira tersenyum dan memeluk Zaidan dengan penuh kasih, begitu juga mbah Uri memberikan Zaidan pelukan hangat.
Zaidan mencium punggung tangan Mira dan mbah Uri, kemudian melangkah keluar, dan berhenti saat melewati dokter Arya.
"Semangat brother."Dokter Arya berkata, sambil menepuk pundak Zaidan.
"Thanks bang."Ucap Zaidan tersenyum. Membuat semua terpaku, kemudian tertawa bahagia.
"Mulai sekarang gw, panggil loe abang."
"Apapun panggilan loe, bersatunya kita sebagai saudara itu sudah lebih dari cukup."
Zaidan dan dokter Aryapun saling berpelukan.
Mira dan mbah Uri tersenyum bahagia, bahkan Mira meneteskan air matanya kembali. Semua yang di impikannya sebagai seorang ibu kini menjadi nyata.
"Pergilah, sebelum terlambat."Dokter Arya melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Zaidan mengangguk, kembali menoleh dan tersenyum ke arah Mira dan mbah Uri. Bergegas dia melangkah keluar menuju mobilnya, dan segera melaju membelah jalan raya.
*************
Sesampainya di halaman panti, Zaidan langsung turun dari mobilnya. Dengan langkah pasti, dia langsung menuju ke rumah panti, tetapi, suasana terlihat sepi tidak seperti biasanya.
Zaidan merasa aneh, biasanya panti selalu ramai, apalagi ini waktunya jam pulang sekolah dan sudah menuju sore, dan dia yakin jika Amanda sedang berada di panti juga.
"Apa anak-anak dan Amanda belum pulang ya.??"Zaidan mencoba menebak, sambil terus melangkah.
Namun, saat langkahnya tepat di depan panti, alangkah terkejut dia karena pintu panti dalam keadaan terkunci.
Zaidan mengerutkan keningnya.
"Kenapa pintunya terkunci, tapi gerbangnya tetap terbuka.??"Gumam Zaidan semakin penasaran, tiba-tiba hatinya merasa tidak enak.
"Amanda, dimana kamu.??"Tanya Zaidan, mulai khawatir.
"Maaf pak, mencari siapa ya.??"Tanya seorang laki-laki setengah baya, yang tiba-tiba sudah berada di samping Zaidan.
Zaidan tersentak.
"Mereka, kemana ya pak.??"Zaidan bertanya, sambil menunjuk ke pintu yang terkunci.
"Ooh, mereka semua sedang ke Bandara."Jawab lelaki setengah baya.
"Ke Bandara..??"Tanya Zaidan, dadanya semakin berdegup kencang.
Lelaki setengah baya itu mengangguk.
"Amanda.??"Zaidan menyebutkan nama Amanda.
"Justru mereka pergi untuk mengantarkan neng Amanda, pak Doni dan den Dion berangkat ke Kanada."Jelas lelaki setengah baya itu.
"Apa..??!"Teriak Zaidan, tak percaya.
"Jam berapa, mereka berangkat ke Kanada ??"Tanya Zaidan, dengan tatapan tajamnya.
Lelaki setengah baya itu terkejut, nyalinya langsung menciut dan wajahnya langsung pucat, mendengar teriakan Zaidan dan wajah penuh amarah.
"S..saya kurang tahu pak, kalau saya tidak salah dengar jam enam sore penerbangannya."Jawab lelaki setengah baya itu ketakutan.
Dengan wajah gusar, Zaidan melirik jam tangannya, yang menunjukkan jam 15.00. Dia bergegas meninggalkan lelaki setengah baya itu, segera masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melaju kencang membelah jalan raya.
**************
Dapatkah Zaidan mengejar Amanda dan mengungkapkan isi hatinya.??
Atau sebaliknya, mereka akan terpisah oleh jarak dan waktu.??
Ikuti terus perjalanan cinta mereka.
Dukung dan mampir di semua karya author 🤗.
__ADS_1