
Bab 89
"Penyesalan Zaidan"
Zaidan, Amanda dan Mira tertegun mendengar ungkapan Dokter Arya.
"Kehidupanmu sempurna sekali Zay, kamu di kelilingi kasih sayang dan harta berlimpah dan mendapatkan wanita yang tulus mencintaimu" lanjut Dokter Arya lagi, menatap nanar Zaidan.
"Sejak lama aku menyukai Devina, saat aku menyiapkan diri untuk menyatakan perasaanku, dia menolakku mentah-mentah, bahkan dia sempat menghinaku" ucap Dokter Arya dengan suara bergetar.
"Hatiku sakit dan kecewa, apa lagi saat aku mengetahui jika kalian menjalin kasih" Dokter Arya menjeda perkataannya, dia kembali menarik napasnya kasar.
"Saat itu, Dave juga menginginkan Devina, dan itu adalah awal perkenalan dan kedekatanku dengannya" sambung Dokter Arya.
Pernyataan Dokter Arya membuat mereka kembali terkejut, terutama Zaidan.
"Maksud loe? selama ini loe bekerjasama dengan Dave?" tanya Zaidan dengan wajah gusar.
Dokter Arya menundukkan wajahnya sambil mengangguk.
"****!" teriak Zaidan, dan berniat melayangkan bogem mentahnya ke wajah Dokter Arya. Namun, dengan sigap dua orang petugas kepolisian mencegah dan mencoba menenangkannya. Sedangkan Mira sudah menangis di pelukan Amanda.
"Maafkan aku Zay, aku yang sudah membantu memuluskan rencana Dave untuk mendapatkan Devina, karena aku tidak rela jika kamu menemukan kebahagiaanmu. Aku lebih mengikhlaskan dia dengan Dave dari pada denganmu, aku ingin kamu menderita Zay."
Zaidan menahan gemuruh amarah di dadanya, terlihat napasnya naik turun karena menahan emosinya.
"Hatiku kembali cemburu, saat Mamah sangat menginginkanmu dan saat kamu kembali lagi bersama Devina, bahkan menikahinya"
"Amanda..." Dokter Arya menatap nanar Amanda.
"Awal pertemuan kita, aku merasakan dirimu begitu berbeda, awalnya aku ingin menjadikanmu alat balas dendam terhadap Zaidan, namun..." Dokter Arya kembali menjeda ucapannya.
"Dengan berjalannya waktu, ternyata aku sudah jatuh cinta kepadamu" ucap Dokter Arya menatap lekat Amanda.
Kembali Zaidan dan Amanda tercekat. Sedangkan Mira masih terus terisak.
"Semakin hari perasaan cinta itu begitu dalam, walaupun aku mengetahui jika ada benih Zaidan di rahimmu" Dokter Arya berkata dengan suara bergetar.
Mereka kembali tercekat, tidak menyangka jika Dokter Arya sudah mengetahui kehamilan Amanda.
"Jadi selama ini loe sudah tahu, kalau Amanda mengandung anak gw?!" Tanya Zaidan, emosinya seakan mau meledak, dia tidak percaya jika seseorang yang di hadapannya adalah abangnya sendiri.
"Sekali lagi maafkan gw Zay, gw hanya ingin membuat loe menderita" tampak Dokter Arya yang mulai terisak.
"Akh.." teriak Zaidan, berniat menyerang Dokter Arya, namun, gerakannya tertahan dengan pegangan beberapa polisi.
"Apa salah gw sama loe bang? seharusnya gw yang iri sama loe, karena loe mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Mamah, loe bisa bersamanya menikmati masa kecil lo!" teriak Zaidan.
"Loe pikir gw bahagia hidup bergelimang harta, hah! karena harta gw harus kehilangan Papah, Kakek, Devina dan sekarang gw hampir kehilangan Amanda dan Raza!"
__ADS_1
"Kalau gw boleh memilih, gw lebih suka hidup penuh kesederhanaan, tetapi gw bisa merasakan kebahagiaan dengan orang-orang yang gw sayangi" teriak Zaidan lagi, sambil mengacak rambutnya frustasi.
Terlihat Mira yang semakin tersedu di pelukan Amanda. Sedangkan Amanda menatap nanar Zaidan, ingin sekali dia turun dari tempat tidur dan memeluk Zaidan, tetapi dia merasa jika ada tembok penghalang yang tinggi di antara mereka.
"Lalu, kejahatan apa lagi yang sudah loe lakuin Dokter Arya Pradana?" tanya Zaidan dengan tersenyum sinis.
Dokter Arya terdiam, kemudian mengusap air matanya dan menatap nanar Zaidan.
Dokter muda, ganteng, memiliki segalanya dengan segudang frestasi. Ternyata tidak lebih dari seekor Musang!" ejek Zaidan, menatap penuh kebencian.
"Loe mengaku sendiri di hadapan Amanda? atau gw yang akan mengatakannya langsung!" ancam Zaidan.
Amanda tersentak, dan mengerutkan keningnya, perlahan, dia melepaskan pelukannya di tubuh Mira, dia pun turun dari ranjangnya dengan membawa tiang infus.
"Amanda" dengan kasar Zaidan melepaskan tangan Polisi dari lengannya, dan langsung menghampiri Amanda.
Zaidan langsung memeluk pinggang Amanda, yang membuat Amanda terkejut, wajah mereka sangat dekat tanpa jarak. Bahkan mereka bisa merasakan nafas masing-masing.
"Aryaaa, apa yang kamu lakukan Nak?" teriakan Mira mengejutkan mereka semua, terutama Zaidan dan Amanda.
Dokter Arya berhasil merampas pistol salah satu polisi, karena mereka semua dalam keadaan lengah.
"Semua diam!" teriak Dokter Arya dengan pistol di tangannya, dengan cepat dia menarik tubuh Mira dan menodongkan pistol itu tepat di kepalanya.
"Jika ada yang bergerak, aku akan segera menarik pelatuk pistol ini!" ancam Dokter Arya.
"Loe gila bang, mau melukai Mamah loe sendiri? tanya Zaidan, dengan menatap benci dan tidak percaya.
"Tolong Dok, kasihan Mamah" Amanda memohon dengan suara pilu.
"Gw mau melepasnya, asal kamu Amanda yang menggantikan posisinya" seringai Dokter Arya.
"Loe..."
"Oke, aku bersedia"
Amanda memotong perkataan Zaidan.
"Amanda, jangan gegabah!" pinta Zaidan, yang di barengi dengan suara tawa Dokter Arya.
"Ternyata loe lebih menyayangi wanita lain di bandingkan wanita yang sudah melahirkan loe"
"Cukup Dok! tolong jangan hina mas Zaidan lagi" ucap Amanda lirih.
Wajah Dokter Arya langsung memerah menahan rasa cemburunya.
"Turuti semua perintahku!"
"Cepat buka infus itu dari tangannya!" perintah Dokter Arya kepada petugas kepolisian.
__ADS_1
Salah satu petugas segera menghampiri Amanda, dan membuka infusnya, Amanda meringis kesakitan, tampak darah keluar dari punggung tangannya dari bekas infus yang di pasang.
Zaidan segera mengambil plester yang berada di laci meja pasien, dan segera menutup punggung tangan Amanda yang mengeluarkan darah, dan netra mereka kembali bertemu. Tentu saja, membuat kemarahan dan kecemburuan di hati Dokter Arya semakin memuncak, sehingga membuatnya lengah, dan...
Dor..
Dor..
Suara tembakan menggema, mengagetkan semua orang yang berada di rumah sakit, dua tembakan tepat bersarang di mata kaki Dokter Arya, sehingga membuatnya tersungkur tak berdaya dan mengerang kesakitan.
Polisi segera meringkus Dokter Arya dan segera membawanya pergi.
"Zaidan, aku bersumpah akan membunuhmu seperti aku membunuh Doni!" teriak Dokter Arya di sela-sela erangannya.
"Apa yang di katakan Dokter Arya barusan, apakah itu benar Mas?" tanya Amanda tak percaya, buliran bening sudah mengalir deras di pipinya.
"Amanda, tenangkan dirimu Nak, maafkan anak Mamah Arya" Mira menangis tersedu-sedu, berusaha memeluk Amanda, namun, Amanda menghindar.
"Apa salah Kak Doni, sampai dia tega membunuhnya?" Amanda menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, punggungnya tampak terguncang.
"Amanda maafkan aku, ini salahku, karena kalian adalah korban dari kebencian dan dendam mereka kepadaku, akulah tujuan mereka sebenarnya" ucap Zaidan lirih.
"Seharusnya, aku tidak menerima surat wasiat itu, atau aku tidak pernah bertemu dengan Almarhum Kakek Radthya, mungkin ini semua tidak akan terjadi, dan jalan hidupku tidak akan serumit dan menyedihkan seperti ini" terdengar suara Amanda yang bergetar.
Zaidan terpaku mendengar perkataan Amanda.
"Kamu benar Amanda, aku hanya memberikan neraka untukmu, tetapi aku memohon, berikan aku kesempatan untuk memberikan surga untukmu"
Amanda tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya dari tatapan Zaidan.
"Tuan, Nyonya maaf, kami sudah mendapatkan bukti-bukti siapa saja yang terlibat atas kasus kebakaran yang terjadi di panti, dan kecelakaan yang menimpa Nyonya Amanda dan Almarhum Tuan Doni"
******************
Siapakah yang sudah terlibat dalam insiden kebakaran dan kecelakaan itu?
Apa yang akan di lakukan Dokter Arya, setelah kedua kakinya tertembak?
Bagaimana kelanjutan hubungan Zaidan dan Amanda? apakah mereka akan bersatu atau sebaliknya?
Bagaimana menurut spekulasi atau pendapat kalian?
Jangan lupa tulis di kolam komentar, karena komen dari kalian terkadang jadi inspirasi untuk karya-karya Author🥰🤗🙏
Mampir di karya Author lainnya, yang ceritanya bertele-tele, tetapi banyak menyimpan teka teki😁👇
__ADS_1