
Bab 20
"Penyesalan Zaidan "
Zaidan merasakan kekesalan yang memuncak di dada nya.
Dia pun memanggil asisten nya,untuk segera mengeprint surat perjanjian nya, dan segera di serah kan kepada pak Handoko dan Amanda.
Sebuah senyuman licik, tampak di bibir nya.
Dia pun, meminta Adam untuk mengantar nya ke kamar perawatan Devina.
Saat sudah sampai di depan kamar Devina, tampak Dave yang sudah terlihat tidak memakai kursi roda, dengan perban dan luka-luka yang masih terlihat jelas, karena bogem mentah Zaidan.
Tampak juga Lion dan Wina, Zaidan menatap tajam ke arah mereka bergantian.
Wina yang biasa nya langsung menyapa Zaidan, hanya terdiam, dia memalingkan wajah nya, ketika sesaat netra mereka bertemu.
"Ternyata, peringai mu tidak berubah Lion.."Ucap Zaidan, dengan tatapan sinis.
"Itu bukan urusan mu Zaidan.."Geram Lion, dengan sorot mata penuh kebencian terhadap Zaidan.
Zaidan hanya menyeringai.
"Aku, tidak pernah mau ikut campur urusan kalian, aku hanya ingin kalian segera menanda tangani surat wasiat almarhum kakek, jika tidak aku akan menyeret kalian, kepada pihak berwajib.."Ancam Zaidan, dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu, sekarang boleh di atas angin, tapi suatu saat, kamu akan menyesal dengan semua perbuatan mu.."Geram Lion, dengan rahang wajah mengeras, dan sambil mengepal kedua tangan nya.
Zaidan tidak mempedulikan nya.
"Dan kamu Dave, jangan pernah lagi mengharap kan cinta dari Devina, sampai kapan pun hati nya tetap untuk ku.."Ucap Zaidan penuh intimidasi.
"Silah kan kau ambil Devina, karena dia hanya barang bekas untuk ku."Jawab Dave dengan senyum mengejek, tapi di lubuk hati nya tidak rela untuk melepas Devina.
Perkataan Dave, membuat Zaidan murka.
"Aku akan membuat mu menjadi gelandangan, dan menyesal seumur hidup.."Geram Zaidan.
"Segera tanda tangani surat wasiat itu, dan pergi jauh dari kota ini, jika kalian semua tidak mau membusuk di penjara.."Tegas Zaidan, dengan sorot mata membun*h.
"Zaidan..Zaidan, kamu hanya anak kemarin sore, hari ini kamu menang, tapi jangan harap hidup mu akan tenang, aku dan putra ku bersumpah akan menghancurkan hidup mu, dan membuat mu hidup di dalam sebuah penyesalan.."Ancam Lion, dengan tatapan tak kalah membun*h dari Zaidan.
"Ayo nak, kita tinggal kan anak sia**n ini, dan tenang saja, kamu bisa mendapatkan banyak wanita virg*n di luar sana.."Kembali senyum mengejek, terukir di bibir Lion.
Dengan di bantu perawat, Dave mengikuti langkah Lion.
Sebenar nya Dave merasa berat, melepaskan Devina, karena dengan susah payah dia bisa mendapatkan Devina, tapi sekarang dengan terpaksa menyerah kan kembali kepada Zaidan.
__ADS_1
Apa lagi keperaw*nan Devina, dia juga yang telah mendapatkan nya.
"Maaf kan aku yang meninggal kan mu dalam keadaan seperti ini, aku berjanji suatu saat aku akan datang kembali untuk merebut mu.!!"Dave berjanji dalam hati.
"Ingat Zaidan, aku telah merebut sesuatu dari Devina yang tidak akan dia lupakan seumur hidup nya, dan suatu saat nanti aku akan merebut kembali dia dari tangan mu...!!"Ucap Dave, saat berada di dekat Zaidan.
"Dan satu lagi, aku akan membuat perhitungan kepada mu, gara-gara kamu aku nyaris kehilangan wanita yang aku cintai, dan aku harus kehilangan calon bayi ku, kamu selalu merusak kebahagiaan ku Zaidan..!!"Ucap Dave lagi, sambil berlalu dari hadapan Zaidan.
Zaidan mencoba menahan luapan emosi nya, dia menatap nyalang punggung Lion dan Dave.
"Maaf kan suami dan anak ku Zai.."Tiba-tiba, sebuah suara lembut, hadir di telinga Zaidan.
Zaidan hanya mendengus kesal, dia tidak menoleh, karena dia sangat tahu itu suara siapa.
"Zai, aku do'a kan semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaan.."Suara lembut itu, terdengar lagi di telinga Zaidan.
"Wina..!!!!"Suara teriakan menggema, membuat terkejut semua orang, tampak wajah Lion merah padam, dan melotot ke arah Wina.
Dengan wajah pucat dan ketakutan, Wina pun bergegas meninggalkan Zaidan.
"Kalau sudah tidak kuat bersama nya, tinggal kan, aku yang akan membantu pengobatan adik mu.."Ucap Zaidan, saat Wina melangkah pergi.
Wina terdiam sesaat, mendengar perkataan Zaidan, sambil menahan air mata, setengah berlari dia langsung menghampiri Lion dan Aksa.
Zaidan, langsung meminta Adam untuk mengantar nya masuk ke ruang perawatan Devina.
Saat masuk, tampak kedua orang tua Devina, Baskoro dan Irma sedang duduk di sebuah sofa yang berada di dalam kamar perawatan itu.
"Apa kamu baik-baik saja nak.."Tanya Irma, dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja tante."Jawab Zaidan, sambil mencium punggung tangan Baskoro dan Irma.
"Duduk lah om, tante, ada yang ingin saya bicara kan.."Ucap Zaidan.
Baskoro pun mengangguk, Baskoro dan Irma pun duduk kembali di sofa.
"Saya sudah mengurus keberangkatan om, tante, dan Devina ke Singapura, saya juga sudah menyiapkan rumah sakit dan dokter yang terbaik untuk pengobatan Devina, sebuah tempat tinggal juga sudah saya siap kan untuk om dan tante."Jelas Zaidan, sambil menatap bergantian Baskoro dan Irma.
"Kami bertiga..??"Tanya Baskoro, sambil mengernyitkan dahi nya.
"Iya om, kalian akan berangkat besok, sedang kan saya nanti akan menyusul, karena ada banyak hal yang harus saya selesaikan dulu di sini.."Jelas Zaidan.
"Baik lah Zaidan, tapi om harap, kamu segera menyusul kami ke Singapura."Jawab Baskoro.
"Terimakasih atas kebaikan nak Zaidan untuk anak kami Devina, walaupun.."Irma tidak meneruskan ucapan nya, air mata kembali berlinang di wajah setengah baya nya yang terlihat lelah.
"Sudah lah tante, jangan di ingat lagi, saya sudah menganggap jika itu semua masa lalu kelam yang harus kita lupakan.."Ucap Zaidan.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai Devina, kami akan membangun masa depan yang bahagia bersama.."Ucap Zaidan lagi.
"Sekali lagi, terimakasih banyak nak Zaidan.."Jawab Irma, yang kini sudah mulai terisak.
Baskoro, langsung membawa tubuh irma ke dalam pelukan nya, dengan lembut mengelus punggung Irma.
"Tante dan om tenang saja, serah kan semua kepada saya.."Ucap Zaidan, dengan penuh keyakinan.
Dia tidak peduli dengan rencana pernikahan nya dengan Amanda, karena syarat-syarat yang di berikan menguntungkan nya dan di setujui oleh Amanda. Dan tentu nya tidak akan menyusahkan hubungan nya dengan Devina.
Tampak senyum licik, menghiasai bibir Zaidan saat mengingat wajah Amanda.
"Ternyata, almarhum kakek sangat menyayangi ku, memberikan warisan dan wasiat yang menguntungkan untuk ku, maaf kan ku kek, jika aku akan menyia-nyiakan wanita pilihan mu, karena cinta ku terlalu besar untuk Devina.."Ucap Zaidan dalam hati.
"Om dan tante juga tidak perlu mempersiapkan apa pun, hanya cukup membawa diri, karena sudah ada orang di sana yang akan mengurus keperluan kalian.."Zaidan berkata, dengan senyum penuh arti.
"Terimakasih sekali nak Zaidan.."Ucap Irma dengan suara parau, dengan tatapan nanar ke arah Zaidan.
"Jangan berterimakasih terus om dan tante, karena Devina sebentar lagi akan menjadi istri saya, dan dari dulu kalian sudah saya anggap sebagai orang tua saya, apa lagi sejak kematian kakek, saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi.."Ucap Zaidan, tampak kesedihan tergambar di wajah nya.
"Mulai saat ini, nak Zaidan jangan pernah merasa sendiri lagi, karena kami akan selalu berada di samping nak Zaidan.."Baskoro berkata, dengan tatapan haru nya.
"Terimakasih om, tante.."Jawab Zaidan, dengan hati yang bercampur aduk antara sedih dan bahagia.
Baskoro dan Irma, tersenyum dan mengangguk.
Sambil tersenyum, Zaidan membawa kursi roda nya menuju ranjang Devina, terlihat Devina yang masih nyenyak dalam tidur panjang nya.
Dia menatap wajah Devina penuh cinta kasih, dengan lembut dia mengusap pipi dan rambut Devina, kemudian berlahan dia mencium hangat pipi Devina.
"Kamu akan segera sadar dan sembuh sayang, kita akan hidup bersama meraih kebahagiaan yang sudah lama kita impikan.."
*************
Apa rencana Zaidan sebenar nya terhadap Amanda .??
Apakah Amanda mampu membangun rumah tangga bersama Zaidan .??
Apakah setelah Devina sadar, Zaidan akan menukahi nya..??
Bagaimana dengan rasa sakit hati Lion dan Dave terhadap Zaidan..??
Ikuti terus kisah seru yang baru mulai ini.
Masf kan author yang jarang up novel "Penyesalan Zaidan".
Berikan dukungan untuk novel author yang sudah kontrak👇
__ADS_1