Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Fasilitas Amanda


__ADS_3

Bab 24


"Penyesalan Zaidan"


Bi Darmi tersentak, mendengar pertanyaan Amanda.


"Kamar hukuman..??"Tanya Bi Darmi.


"Iya bu, yang berada di lantai 2, kamar nya hanya bisa di buka, dengan memakai sidik jari mas Zaidan.."Amanda mencoba menyakin kan bi Darmi.


Raut wajah bi Darmi, seketika berubah.


"Maaf nyonya, itu di luar wewenang saya.."Ucap bi Darmi, sambil menunduk hormat.


Amanda menghela napas.


"Baik lah bu, saya tidak akan memaksa.."


"Saya permisi dulu nyonya, jika butuh sesuatu, nyonya bisa langsung menghubungi saya.."Ucap bi Darmi, sambil menunduk.


"Iya bu, terimakasih.."Jawab Amanda.


"Mari nyonya.."Bi Darmi membungkukkan sedikit tubuh nya, dan melangkah pergi meninggalkan Amanda.


Amanda menarik napas, dan membuang nya berlahan. tatapan nya menyapu setiap sudut kamar.


"Kamar yang sangat luas dan mewah.."Gumam Amanda.


"Menyedihkan, di tinggal di malam pertama..!!"Amanda, menertawai diri nya sendiri.


"Seharus nya, ini menjadi malam teristimewa dan terindah.."


"Amanda, apa yang kamu pikirkan.?


Amanda menggeleng kan kepala nya, dan segera melepaskan semua pernak pernik, dan pakaian pengantin nya, dia memutuskan untuk berendam di bath up, menghilangkan penat di kepala nya.


Hampir dua jam, Amanda menghabiskan waktu di kamar mandi, dia benar-benar ingin memanjakan diri nya, dengan semua peralatan mandi yang sudah tersedia lengkap, dengan merk terkenal.


Setelah ritual mandi nya selesai, dengan tubuh terasa jauh lebih segar, Amanda keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan handuk kimono nya.


Dia menatap diri nya, di depan cermin full body.


"Pantas saja, wanita berduit itu bisa menjadi cantik, selain perawatan, di perlukan juga skin care yang mahal, ternyata ada harga, ada kualitas.."Amanda berkata pada diri nya sendiri sambil tertawa kecil.


Dia mengagumi wajah dan tubuh nya, yang terlihat sedikit berbeda, setelah memakai berbagai macam jenis perawatan yang sudah tersedia di kamar mandi.


Kemudian, Amanda membelai dan mencium rambut nya sendiri, terasa begitu halus, lembut dan wangi nya sangat segar.


Saat, Amanda sibuk mengagumi diri nya di cermin, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar nya.


Amanda, segera membuka pintu.


"Maaf nyonya, makan malam sudah siap.."Seorang pelayan, memberitahu Amanda.


"Terimakasih mba, sebentar lagi saya akan tutun.."Ucap Amanda sopan.


Sang pelayan, yang usia nya tidak jauh dari Amanda terperangah, dia tidak percaya dengan pendengaran nya. Baru kali ini, selama bekerja di sini, ada seseorang yang memperlakukan nya seperti manusia.


"Mba.."Ucap Amanda, sambil menyentuh lembut tangan sang pelayan.


"I...iya nyonya, kalau begitu saya permisi dulu.."Ucap pelayan itu sambil membungkuk kan badan nya.


Amanda mengangguk.


Sang pelayan, langsung melangkah pergi meninggalkan Amanda.

__ADS_1


Amanda tertegun, menatap punggung pelayan itu, dia segera melangkah ke walk in closet, menuju ke arah lemari besar. Dia terperanjat kaget, saat membuka pintu lemari.


Semua pakaian wanita, sudah tertata rapi. Amanda mengambil salah satu pakaian yang menjadi pilihan nya.


Amanda pun kembali terkejut, dengan pakaian yang di pegang, dia sangat paham, jika pakaian yang sedang di pegang nya, berbahan sangat halus, dan dia juga sangat tahu, berapa harga pakaian branded yang sedang di pegang nya.


Amanda menghela napas.


"Kenapa, begitu banyak pakaian branded di dalam lemari ini?"


Amanda, kembali mengecek isi dalam lemari, tampak pakaian dalam juga tersedia dan tertata rapi, dia mengambil dan mengamati beberapa, ternyata ukuran sangat pas dengan ukuran nya.


Amanda tertegun, tampak semua terlihat baru.


Mata nya juga tertuju, dengan berbagai macam tas dan sepatu bermerk branded.


"Apa maksud semua ini..??"Kenapa dia menyiap kan semua untuk ku..??"Apa dia mencintai ku..??"Tampak wajah Amanda tersenyum.


"Hai Amanda, sadar lah, jangan berharap dia mencintai mu, di malam pengantin nya saja, dia meninggal kan mu untuk menemani kekasih nya.."Amanda mencoba menyadarkan diri nya, untuk melihat realita.


Amanda memejamkan mata, dia segera memakai pakaian nya, kemudian beranjak ke meja rias, yang sudah di lengkapi dengan make up lengkap dan mahal.


Amanda pun mulai menyapu kan make up tipis ke wajah nya.


Setelah selesai, Amanda menatap wajah nya dan penampilan nya, dalam hitungan jam saja, dia melihat perubahan pada diri nya.


Senyum, yang baru saja merekah, tiba-tiba menghilang dari wajah nya.


"Untuk siapa, aku berdandan seperti ini..??"


"Nikmati saja Amanda, ini adalah rezki mu sebagai seorang istri.."


Pikiran Amanda bercampur aduk, sedih, bahagia semua menjadi satu.


Di saat Amanda, sedang melamun, tiba-tiba..


Sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal, masuk ke ponsel nya.


{ Nikmati fasilitas yang ada, tapi ingat perjanjian yang sudah kita buat.}.


Amanda menghela napas.


"Mas Zaidan.."Gumam nya.


Dia pun, membalas pesan Zaidan.


{ Aku, tidak akan pernah mengingkari janji, yang sudah di sepakati }.


{ Bagus πŸ‘πŸ‘}. Balas Zaidan.


Amanda menarik napas, dan membuang nya berlahan.


"Aku akan mengikuti permainan mu.." Ucap Amanda.


"Hanya dua pilihan mu, menyadari kesalahan atau menyesal..."Amanda kembali berucap, dengan sebuah senyum mengembang di bibir nya.


Dengan langkah pasti, dia pun keluar dari kamar, menuju meja makan.


Sesampai di meja makan, tiga pelayan menyambut nya, salah satu nya adalah bi Darmi.


"Maaf nyonya, makanan nya apa mau kami hangat kan lagi.??"Tanya bi Darmi, penuh hormat.


"Tidak perlu bu, aku rasa semua makanan ini sangat lezat, tapi.."Amanda tidak meneruskan kata-kata nya, dia menatap bi Darmi dan dua pelayan itu bergantian, sambil mengerut kan kening nya.


Wajah bi Darmi, dan kedua pelayan tampak kebingungan.

__ADS_1


"Maaf, nyonya ada yang salah atau kurang..??"Tanya bi Darmi, dengan wajah yang tampak cemas.


"Tentu saja, kalian membuat kesalahan, karena membiarkan makanan sebanyak ini mubazir.."Jawab Amanda, dengan tatapan tajam yang penuh intimidasi.


"M.. maksud nyonya.??"Jawab bi Darmi, dengan wajah semakin bingung, kecemasan mulai tampak di wajah mereka.


"Apa kalian pikir, aku punya lambung dan usus yang besar, sehingga makanan sebanyak ini bisa aku habis kan sendiri..??"Amanda bertanya, sambil melipat tangan di dada nya.


"Jika semua makanan ini tidak habis, Apa kalian akan menghabis kan nya..??"Tanya Amanda kembali, sambil menggeleng kan kepala nya.


"Aku ini istri dari tuan kalian, yang arti nya nyonya kalian, dan perintah ku mutlak, tak boleh di bantah."Ucap Amanda, masih dengan tatapan tajam nya.


Mereka hanya diam, sambil menunduk, jangan kan menjawab, untuk mengangkat wajah saja, mereka tidak berani.


"Kenapa, kalian hanya diam saja..??"Tanya Amanda, dengan suara penuh penekanan.


"Maaf, nyonya.."Ucap bi Darmi, sambil terus menunduk, begitu juga dengan kedua pelayan lain nya, yang sudah menunduk dengan wajah ketakutan.


"Untuk apa minta maaf..??"Kalian tidak ada salah.!!"Tapi sikap kalian membuat aku ingin menangis."Ucap Amanda, dengan suara yang berubah menjadi parau.


Bi Darmi, dan kedua pelayan, memberanikan mengangkat wajah mereka, dan menatap Amanda.


Amanda, membalas menatap mereka dengan tatapan nanar.


"Tolong, jangan perlakukan aku seperti ini.."Suara Amanda, terdengar semakin lirih.


"Apa, nyonya baik-baik saja..??"Tanya bi Darmi khawatir.


"Kalian duduk lah di sini, temani aku makan.."Pinta Amanda, dengan tatapan sendu penuh harap.."


"T..tapi nyonya.."Ucap bi Darmi ragu.


"Aku tumbuh besar di panti asuhan, aku hanya lebih beruntung dari kalian, karena aku di nikahi oleh seorang pengusaha besar, tapi bukan berarti aku harus di perlakukan sebagai seorang ratu.."Ucap Amanda, rasa sedih dan sesak menyeruak di hati nya.


"Duduk lah, kalian bersama ku, temani aku makan.."Pinta Amanda, tatapan tajam nya berubah mrnjadi tatapan sendu.


Kedua pelayan, menatap bi Darmi.


Bi Darmi pun mengangguk, berlahan dia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Amanda, di ikuti dengan kedua pelayan yang duduk di samping bi Darmi.


"Nah, kalau begini khan enak, tidak akan terjadi kesenjangan sosial.."Ucap Amanda sumringah, dengan senyum bahagia.


Bi Darmi dan kedua pelayan ikut tersenyum.


"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar.."Amanda berkata dengan penuh semangat, sambil mengambil nasi beserta lauk nya.


Mereka juga ikut mengambil nasi dan lauk nya.


Suasana yang tadi kikuk pun, berlahan mencair, sikap Amanda yang ramah, mrmbuat suasana makan malam begitu hangat dan penuh canda tawa.


Di saat, mereka sedang asyik makan, tiba-tiba terdengar suara..


"Wanita miskin, dan yatim piatu, tidak pernah pantas untuk menjadi bagian dari keluarga besar Radthya, apa lagi sebagai nyonya Radthya..!!"


**********


Siapa kah, pemilik suara itu..??"


Apakah Zaidan akan tersadar atau justru menyesal.??"


Cerita nya masih panjang, ikuti terus setiap bab nya.


Alhamdulillah dua karya tamatπŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_1



__ADS_2