
Bab 91
"Penyedap Zaidan"
Hari ini Amanda sudah di perbolehkan pulang, Zaidan tidak mempermasalahkan jika Amanda untuk tinggal di rumah Doni.
Zaidan menyewa perawat untuk mengawasi kesehatan Amanda.
"Kita akan menghadapi ini bersama-sama Amanda, aku berjanji akan selalu berada di sampingmu" ucap Zaidan, sambil menggenggam erat jemari Amanda.
"Lusa kita akan terbang ke Singapura, aku sudah menyiapkan semuanya" ucap Zaidan lagi, menatap dalam manik mata Amanda.
Amanda tersenyum.
"Mas, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Amanda, dengan suara lirih.
"Apa yang kamu minta sayang? jika aku mampu akan aku berikan"
"Aku yakin kamu mampu mas"
Amanda menatap lekat wajah Zaidan, seperti mimpi baginya bisa bersama lagi dengan Pria yang sangat di cintainya. Bahkan dia tidak menyangka jika ada cinta di mata Zaidan untuknya.
"Aku ingin kamu merawat, menjaga dan membesarkan Dion dan Raza sepenuh hatimu, terutama Dion. Walaupun, dia anak Kak Doni dan bukan darah daging kita, aku mohon sayangi dia seperti kamu menyayangi Raza"
Amanda menghela napas dan melanjutkan ucapannya.
"Hanya itu yang aku pinta darimu, saat aku sudah tidak bisa menjaga mereka lagi" Amanda menundukkan kepalanya, dengan mata yang sudah mulai beranak sungai.
Ketakutan mulai merasuki hati Zaidan, terlihat wajahnya yang gusar. Namun, dia berusaha tetap bersikap tenang.
"Hai, kamu bicara apa? sudah aku bilang kita akan menghadapi semua ini bersama-sama, dan kita akan segera terbang ke Singapura, untukmu mendapatkan pengobatan terbaik"
Zaidan mengangkat wajah Amanda, langsung menangkupnya dengan kedua tangannya.
"Jangan pernah berbicara seperti ini lagi! aku, Dion dan Raza, sangat membutuhkanmu untuk selalu berada di samping kami. Kita akan hidup bahagia bersama"
Mendengar perkataan Zaidan membuat buliran bening itu lolos dari mata Amanda.
"Maafkan aku, jika tidak bisa menjaga dan bersama kalian" Amanda mulai terisak, Zaidan langsung membawa Amanda ke dalam pelukannya.
Zaidan sudah tidak bisa menahan ketakutan di hatinya, sekuat mungkin dia menahan air mata yang akan menerobos dari sudut matanya.
"Pah, Mah" sebuah panggilan mengagetkan mereka.
Amanda segera melepaskan diri dari pelukan Zaidan, dan menghapus air matanya. Begitu juga Zaidan yang langsung menghapus air matanya. Tampak Dion, Raza dan Mira sudah berdiri di dekat mereka.
"Papah dan Mamah kenapa menangis?" tanya Raza yang langsung duduk di pangkuan Zaidan. Dan Zaidan langsung memeluk dan mencium puncak kepala Raza.
Dion dan Mira duduk di samping mereka, dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Lusa, kita akan berangkat ke Singapura, untuk mengobati penyakit Mamah" jawab Zaidan.
"Mamah sakit apa?" tanya Raza, memegang lengan Amanda, dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tampak dari wajah mungilnya.
"Mamah hanya sakit kepala saja, Nak" ucap Amanda, mengelus penuh kasih wajah Raza.
"Hmm, kalau hanya sakit kepala, kenapa harus sampai ke Singapura?" tanya Raza menatap bergantian Zaidan dan Amanda, yang membuat mereka menelan kasar saliva mereka.
"Alat untuk pengobatan Mamah hanya ada dan bisa di obati di Singapura" jelas Dion, yang melihat kegelisahan di wajah Zaidan dan Amanda.
"Apa di Negara kita, tidak ada alat yang canggih?" Raza bertanya lagi, dengan wajah yang terlihat belum puas dengan jawaban yang di dapatnya.
"Selain melakukan pengobatan, Mamah dan Papah juga mau berbulan madu" ucap Zaidan, yang akhirnya memberitahukan rencananya sebelum mereka berangkat ke Singapura.
Amanda, Dion dan Mira tercekat dengan pernyataan Zaidan, sedangkan Raza masih ingin mencari jawaban yang sebenarnya.
"Apa kamu dan Amanda akan menikah Zay?" tanya Mira.
"Iya Mah, sebenarnya ini surprise untuk kalian semua, terutama Amanda, tetapi biar anak Papah yang cerdas ini ga kepo terus, terpaksa dech di kasih tahu" jawab Zaidan sambil menciumi wajah Raza, yang membuat Raza tertawa kegelian, dan mereka semua ikut tertawa.
Zaidan pun tersadar dengan kehadiran Dion.
"Hai Boy, apa kamu tidak bahagia jika aku menikahi Mamahmu?" tanya Zaidan, menatap Dion yang terdiam menatap mereka.
Zaidan berjanji akan berlaku adil dan akan memperlakukan Dion seperti anak kandungnya sendiri.
"Aku bahagia sekali Pah, bahkan sangat bahagia apa lagi jika Mamah dan Raza bahagia" jawab Dion, yang membuat mata Amanda dan Mira berkaca-kaca.
Dion segera beranjak dari duduknya dan menghambur ke dalam pelukan Zaidan. Seketika tangis Amanda dan Mira pecah. Begitu juga Zaidan dan Dion, mereka tidak bisa menahan haru dengan air mata penuh kebahagiaan.
****************
Pernikahan yang sudah di rencanakan dan di siapkan Zaidan beberapa waktu lalu, tepat hari ini di laksanakan.
Mereka semua tampil begitu memukau, terutama Amanda, baju pernikahan yang di pakainya begitu pas terbalut di tubuh rampingnya, hiasan make up dari tangan handal sang pengrias, membuat Amanda tampil bagaikan seorang putri dengan kecantikan yang luar biasa.
Prosesi pernikahan pun berjalan lancar dan penuh khidmat. Perasaan haru dan bahagia menghiasai wajah mereka yang berada di pesta pernikahan itu.
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang menatap mereka penuh kebencian. Dan di tengah-tengah pesta berlangsung, tampak, tiga orang berpakaian dinas kepolisian tiba-tiba datang yang membuat semua orang terkejut.
Tiga orang polisi itu segera mendekati Zaidan, dan salah satunya membisiki sesuatu ketelinga Zaidan, yang membuat Zaidan tersentak dan wajahnya langsung merah padam.
"Siapa yang telah membantu Arya kabur dari penjara, tidak mungkin dia bisa kabur sendiri?" tanya Zaidan di dalam hati, menahan gemuruh amarah di dadanya.
Amanda dan Mira menatap mereka penuh tanya. Akan tetapi belum hilang rasa penasaran mereka, tiba-tiba terdengar suara Dion berteriak.
"Pah, Mah...!" Teriak Dion.
"Ada apa Dion?" Zaidan langsung memegang pundak Dion.
__ADS_1
"Raza Pah..., Raza di culik" jawab Dion sambil menangis.
"Apaa?" teriak mereka bersamaan.
Amanda menggeleng tak percaya, air mata sudah membasahi wajahnya, rasa sakit langsung menyerang hebat.
"Akhh.." teriak Amanda sambil memegangi kepalanya.
"Amanda ."
"Mamah.."
Teriak mereka bersamaan dengan penuh kecemasan. Karena keadaan yang tidak kondusif, Polisi meminta para tamu undangan untuk meninggalkan acara.
Sakit kepala yang sangat hebat dan jiwa yang terguncang membuat Amanda tidak sadarkan diri.
"Pak Handoko, tolong jaga Amanda, Mamah dan Dion, saya akan pergi mencari Raza" ucap Zaidan, saat tubuh Amanda sudah di baringkan di ranjang pengantin mereka.
"Pergilah Tuan, selamatkan Raza, saya akan menjaga mereka" jawab pak Handoko.
"Terimakasih pak" ucap Zaidan di balas anggukan oleh Pak Handoko.
"Tuan Zaidan, saya mohon jangan gegabah karena ini bisa membahayakan nyawa Tuan dan anak Tuan" ucap salah satu petugas kepolisian, yang membuat langkah Zaidan terhenti.
"Saya tahu, apa yang harus saya lakukan untuk keselamatan putra saya pak. Datanglah ke Jalan XX, karena di sanalah markas mereka berada!" ucap Zaidan yang segera berlalu meninggalkan petugas polisi.
"Hubungi unit keamanan, kita akan segera menuju lokasi!" perintah salah satu petugas yang bertindak sebagai pemimpin mereka.
"Siap Pak, Laksanakan!"
Para petugas polisi pun segera mengikuti laju mobil Zaidan.
************
Apakah kompolotan Lion yang menculik Raza?
Siapa yang membantu Dokter Arya untuk kabur, padahal dua mata kakinya sudah mengalami penembakan?
Bagaimana dengan kanker otak yang menggerogoti kepala Amanda?
Menuju bab akhir yang seru🥰
Jangan lupa mampir ke Novel terbaru Aurhor👇
Karya tamat Author 👇👇
__ADS_1