
Bab 87
"Penyesalan Zaidan"
"Bruk"
Terdengar pintu yang di tendang dengan kencang.
Dokter Arya, yang berada di atas tubuh Amanda langsung terkejut.
"Bajing*n!"
"Kurang aj*r!"
Zaidan langsung menarik kasar tubuh Dokter Arya, dan...
Bug..
Bug....
Bogem mentah berkali-kali mendarat di wajah Dokter Arya. Bagaikan orang kesetanan, Zaidan memukuli Dokter Arya tanpa ampun.
"Apa salah Amanda sama loe, hah!" tanya Zaidan, dengan napas memburu penuh amarah, pukulan kembali mendarat di wajah Dokter Arya.
"Sudah Tuan Zaidan, nanti Dokter Arya bisa mati"
Beberapa Security dan pihak rumah sakit, mencoba menenangkan Zaidan. Namun, amarah sudah menguasai dirinya, sehingga tenaganya naik berkali-kali lipat.
"Zaidan, cukup Nak, maafkan abangmu Arya" suara lirih, dengan penuh permohonan menghentikan gerakan Zaidan.
Zaidan menatap nanar sosok wanita yang menatapnya penuh air mata.
"Atas nama abangmu Arya, Mamah mohon maaf Nak" tangis Mira, sambil berlutut di hadapan Zaidan.
Zaidan tersentak melihat Mira yang rela berlutut untuk seorang anak bajing*n seperti Dokter Arya.
"Mah, Zaidan mohon jangan seperti ini, jangan rendahkan diri Mamah untuk membela bajing*n ini" Zaidan mengangkat tubuh Mira untuk berdiri, kemudian memeluknya.
Zaidan tidak menyangka, tali persaudaraan yang baru bersatu setelah berpisah selama puluhan tahun, ternyata akan kembali putus, waktu lima tahun yang mereka lewati sabagai kakak beradik, tidak membuat Zaidan mengenal sifat dari abang kandungnya sendiri.
"Tuan Zaidan maaf, kami akan membawa Nyonya Amanda segera ke ruang ICU. Sepertinya di dalam tubuh Nyonya Amanda banyak terdapat obat yang mengandung zat yang berbahaya. Ini berdasarkan sampel darah yang kami ambil" jelas Dokter, yang di minta Zaidan untuk menangani kesehatan Amanda.
Zaidan dan Mira tercengang, mereka tidak percaya jika Dokter Arya sampai hati melakukan semua itu kepada Amanda.
"Tolong, segera berikan pertolongan dan lakukan pengobatannya semaksimal mungkin"
"Siap Tuan, kalau begitu kami akan segera membawa Nyonya"
Zaidan mengangguk.
Amanda segera di bawa ke ruang ICU. Baru saja Zaidan dan Mira ingin melangkah mengikuti para Perawat yang membawa tubuh Amanda, tiba-tiba beberapa petugas kepolisian mendekati mereka.
"Tuan Zaidan, Nyonya, sebelum Dokter Arya kami bawa ke tahanan, dia akan di berikan pengobatan atas luka-lukanya dulu" ucap salah satu petugas.
Zaidan mendengus kesal, dia menatap penuh amarah tubuh Dokter Arya yang tak sadarkan diri, dengan wajah yang penuh lebam.
"Terserah bapak-bapak saja, tapi jangan sampai dia lolos!" jawab Zaidan, penuh penekanan.
"Baik Tuan, kami pastikan Dokter Arya, akan di proses sesuai hukum"
Zaidan mengangguk, dan akan melangkah pergi, tetapi...
"Zay" panggil Mira lirih.
__ADS_1
"Apa Mamah boleh menemani Arya?" tanya Mira, dengan air mata yang kembali membasahi wajahnya.
Zaidan menghela napas. Dia sangat mengetahui bagaimana kedekatan Mira dengan Dokter Arya, karena dari Dokter Arya bayi mereka selalu bersama. Sedangkan, dia dari balita sudah di bawa Papahnya untuk tinggal bersama almarhum Kakeknya Radthya dan Mamah sambungnya. Bahkan, karena kesalahpahaman dia sangat membenci Mira.
"Maafkan Zay, sudah membuat dia babak belur"
"Mamah mengerti perasaanmu Nak, yang di lakukan Arya sangat keterlaluan"
"Pergilah, lihat keadaan Amanda. Raza dan Dion sekarang bersama Pak Handoko, ksmu tidak perlu khawatir"
"Syukurlah Mah, Zaidan sangat merindukan mereka"
Mira tersenyum, Zaidan memeluk Mira sebentar, dan bergegas menuju ruang ICU.
Sesampainya di ruang ICU, tampak Amanda yang terbaring lemah dan belum sadarkan diri.
Zaidan menatap nanar Amanda, dia tidak bisa membendung air matanya. Bahkan punggungnya sampai terguncang menahan isak tangisnya.
"Tuan Zaidan" sebuah panggilan, menyadarkan Zaidan.
Zaidan menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf tuan, ada yang harus kita bicarakan" ucap Dokter yang bernama Anwar, sambil melangkah menuju kursi yang berada di ruang ICU.
Zaidan segera menghapus air matanya, dan melangkah menuju kursi yang berhadapan dengan Dokter Anwar.
"Saya baru saja menerima laporan tentang hasil sampel darah dan CT Scan tentang keadaan Nyonya Amanda"
Zaidan merasakan jantungnya berdegup, dia berharap tidak ada sesuatu yang membahayakan terhadap diri Amanda.
"Apa hasilnya Dok?" tanya Zaidan, sambil menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering dan ketakutan mulai di rasakannya.
"Sesuai dengan yang tadi saya katakan dan berdasarkan sampel darah, jika di dalam tubuh Amanda terdapat racun dan zat-zat berbahaya."
"Apa Dok?"
Penjelasan Dokter Anwar, benar-benar membuat Zaidan syock.
"Maaf Tuan, Nyonya Amanda juga di ketahui, baru saja meminum obat penenang dengan dosis tinggi"
Dokter kembali memberikan penjelasan, yang membuat Zaidan semakin syock dan frustasi.
"Sial*n, bajing*n Aryaaa!" teriak Zaidan, sambil meremas rambutnya sendiri.
"Tuan Zaidan, tolong tenangkan diri anda" Dokter Anwar menepuk pelan pundak Zaidan, mencoba menenangkannya.
"Apa hasil dari CT Scannya Dok?" Zaidan bertanya, menatap nanar map hijau yang berada di atas meja.
Dokter Anwar menarik napas kasar, meraih map hijau itu, lalu membukanya. Jantung Zaidan terasa berdegup kencang, dia tidak membayangkan, jika ada sesuatu lagi yang membahayakan kesehatan Amanda.
Dokter Anwar kembali menarik napas kasar.
"Maaf Tuan Zaidan, berdasarkan hasil dari CT Scan, jika terdapat tumor di kepala Nyonya Amanda yang tampaknya sudah ada sejak lama"
Deg...
"Maksud Dokter?" ketakutan semakin menjalar di hati Zaidan.
Lagi-lagi Dokter Anwar menarik napas kasar
"Karena tumor yang di derita Nyonya Amanda ini sudah bertahun-tahun lamanya, tumor yang tadinya jinak, sekarang sudah menjadi ganas. bahkan..."
Dokter Anwar menelan salivanya.
__ADS_1
"Apa Dok? tolong cepat katakan!" Zaidan bertanya tidak sabar, walaupun dia sudah mengetahui jawabannya.
"Karena tumor itu sudah menjadi tumor ganas, yang lebih kita kenal dengan kanker, dan kanker yang di derita Nyonya Amanda sudah berkembang dan menyebar. Di tambah dengan kondisi tubuh Nyonya Amanda yang sangat lemah karena obat-obatan yang di konsumsinya mengandung zat yang sangat berbahaya"
"Maksud Dokter, Amanda mengidap kanker otak?"
Dokter mengangguk lemah.
Lunglai sudah tubuh Zaidan, jarum jam terasa berhenti berputar. Dia benar-benar tidak percaya dengan kenyataan yang menimpa Amanda.
**********************
Sementara itu, di sebuah rumah minimalis, tampak Lion sedang menahan amarahnya.
"Dasar Dokter mani*k s*k! gara-gara kebodohannya, rencana kita jadi kacau senuanya!" Geram Lion penuh amarah.
"Lalu, apa rencana kita sekarang?" tanya Dave.
"Hanya ada satu jalan, kita habisi dia" jawab Baron.
"Aku tidak setuju!" teriak Wina. Membuat ketiga Pria itu menatapnya tajam.
"Bagaimanapun, Dokter Arya sudah memberikan pengobatan untuk adikku, walaupun, adikku akhirnya meninggal" ucap Wina lagi, dengan suara parau.
"Dia juga sudah memuaskan nafsu s*k mu!" ucap Lion sinis.
"Tubuhku milik siapa saja, bukankah itu yang kamu katakan? karena kebangkrutanmu, dengan tega kamu menjual tubuh istrimu sendiri!" sergah Wina.
"Kalau bukan karena dia, aku akan tetap jadi pelac*r sampai sekarang!" teriak Wina lagi.
"Dasar wanita sund*l, menyesal aku menikahimu!" gertak Lion dengan penuh emosi.
Wina tertawa, dengan menatap penuh ejekan ke arah Lion.
"Kamu pikir aku mau menjadi istri dari Pria tua sepertimu? kamu yang telah memperko*aku dan memaksaku untuk menikah denganmu!" Wina betkata tepat di wajah Lion, yang membuatnya naik pitam, sehingga tangannya melayang tepat di wajah Wina.
Plak..
"Sudah cukup! kenapa kalian malah bertengkar?" bentak Baron, menatap tajam Lion dan Wina.
Wina tidak menjawab, dia menatap penuh kebencian kepada Lion, sambil memegangi pipinya, dia pun langsung berlari menuju kamarnya. Sedangkan Lion, mendengus kesal.
"Dasar wanita matre" geram Lion.
"Tenang, aku mempunyai ide yang bagus" ucap Baron menepuk pundak Lion, sambil tersenyum licik
***************
Apakah kanker otak yang di derita Amanda bisa di sembuhkan?
Apakah Dokter Arya akan buka suara dan menjalani hukumannya?
Apa rencana licik yang sedang Baron siapkan?
Tinggal beberapa bab lagi, semoga Author punya banyak waktu untuk menulis😊.
Ramaikan novel Author yang sudah lawas😁🤭👇
Novel terbaru 👇
__ADS_1