Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kecurigaan Amanda


__ADS_3

Bab 83


"Penyesalan Zaidan"


Amanda menatap lekat Dion.


"Dion tahu, jika Om Zaidan lah Ayah kandung Raza, tetapi, kita tidak mengetahui di mana dia berada"


"Raza sangat membutuhkan sosok Ayah, Dion yakin hanya Dokter Arya yang bisa menjadi Ayah untuk kami"


Amanda terpaku mendengar ucapan Dion, di saat hatinya berduka, dia masih memikirkan kebahagiaan Raza dan dirinya.


"Mungkin Mamah sekarang tidak ada rasa cinta dan sayang kepada Dokter Arya, tetapi di saat nanti kalian hidup bersama cinta itu pasti akan tumbuh dengan sendirinya"


Amanda menatap tidak percaya ke arah Dion, yang baru saja di katakan Dion itu adalah perkataan orang dewasa, sedangkan Dion baru berusia sebelas tahun.


"Seandainya Aisyah tidak menjadi korban kebakaran itu.." Dion tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya menundukkan wajahnya.


"Sayang" Amanda membawa Dion ke dalam pelukannya.


Air mata kembali membasahi wajah Amanda. Sedangkan, Dion berusaha untuk tidak kembali menangis


"Apa Mamah dan Papah punya musuh?" tanya Dion tiba-tiba, yang membuat Amanda terkejut.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti ini, Nak?" tanya Amanda, menatap lekat Dion.


Amanda mengerutkan keningnya, mencoba mencerna apa yang baru saja di tanyakan Dion. terlalu larut dalam duka membuatnya tidak berpikir sejauh itu.


Amanda mulai menyadari, jika ada sesuatu yang tidak beres dengan semua musibah yang sudah terjadi. Sepengetahuannya Doni tidak mempunyai musuh, walaupun dia termasuk salah satu pengusaha yang cukup sukses.


"Lalu mobil itu.." Amanda tiba-tiba menjadi panik, wajahya pucat seketika.


"Mamah kenapa ?" tanya Dion khawatir, sambil memegang tangan Amanda.


"Dion, Mamah sadar kalau kecelakaan yang menimpa Mamah dan Papah ada unsur kesengajaan" Amanda berkata, dengan dada yang sesak. Terlihat napasnya yang naik turun.


"Waktu itu keadaannya cepat sekali, karena tiba-tiba mobil kami seperti di hantam sangat kencang, tepat di sebelah kanan, dan sepertinya..." Amanda tidak sanggup meneruskan perkataannya.


Amanda menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak. Dia tidak bisa membayangkan, jika apa yang dia pikirkan adalah kenyataan yang sebenarnya.


"Apa benar, ada orang yang menginginkan kematian Papah?" tanya Dion dengan suara bergetar.


Amanda membuka tangannya, dia menatap dalam Dion. Air mata terus membasahi wajahnya.


"Sayang, maafkan Mamah Nak" Amanda membawa Dion ke dalam pelukannya.


"Kenapa mereka menginginkan kematian Papah?" tanya Dion dengan suara bergetar.


"Mamah berjanji, akan mencari bukti-bukti dan Pelaku yang telah membunuh Papah, Bunda, Aisyah dan anak-anak panti" Amanda berkata, dengan mata yang penuh duka dan amarah.


"Kalau benar kamu terlibat, aku bersumpah, akulah orang yang akan menjebloskanmu ke penjara!"

__ADS_1


***************


Sementara itu, di sebuah Apartemen mewah tampak dua insan manusia yang baru saja memadu kasih. Walaupun kelelahan, namun, tampak sekali kepuasan di wajah mereka.


"Apa kamu benar-benar jadi menikahinya?" tanya sang wanita, dengan kepala bersandar di dada pria itu.


"Tentu saja, karena dari awal pertemuan aku sudah jatuh cinta kepadanya, dan apa yang aku sukai tidak boleh menjadi milik orang lain!" jawab pria itu sambil tersenyum puas, tangannya terus membelai lembut rambut sang wanita.


"Kenapa tidak dari dulu kamu mengejarnya?" wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap lekat pria itu.


"Waktunya belum tepat, sekarang inilah waktu yang aku tunggu-tunggu untuk memilikinya" pria itu kembali tersenyum, dengan tangan yang terus membelai rambut sang wanita


"Kamu memang hebat, dan perhitunganmu selalu tepat honey"


.


Wanita itu mendekatkan wajahnya, di sambut hangat oleh pria itu. Pergumul*n panas pun kembali terjadi di antara mereka.


***************


Malam ini Amanda tidak bisa memejamkan mata. Dia memikirkan pembicaraannya dengan Dion tadi siang. Perlahan Amanda membuka ponselnya dan membuka profil wajah Zaidan.


"Kamu di mana sekarang?"


"Tidak mungkin, kamu menghilang begitu saja, hanya karena menyesal dengan apa yang sudah terjadi?"


"Aku tahu, seorang Radthya Zaidan bukanlah seorang pengecut! apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan Mas?"


Amanda memejamkan mata sesaat, tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang bagian kepalanya. Amanda segera mengambil obat penghilang nyeri yang di berikan Dokter Arya dan meminumnya. Dan rasa sakit itu perlahan menghilang.


"Apakah benar, karena benturan kuat saat kecelakaan itu?" Amanda kembali bertanya kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di kamarnya. Amanda segera membuka pintu kamarnya.


"Hay, jagoan-jagoan Mamah belum tidur?" tanya Amanda, saat melihat wajah Raza dan Dion di depan pintu kamarnya.


"Raza ingin tidur bersama Mamah"


"Dion juga Mah"


Amanda mengerutkan keningnya, menatap heran kedua jagoannya.


"Apa Mamah keberatan jika kami temani tidur?" tanya Raza dengan wajah cemberut.


"Oh tidak sayang, justru Mamah senang jika kalian mau menemani Mamah tidur. Ayo, masuk!"


Raza dan Dion segera masuk ke kamar Amanda. sambil menutup pintu Amanda masih penasaran kenapa mereka berdua ingin tidur bersamanya.


Mereka pun berbaring di tempat tidur, dengan posisi Raza berada di tengah.


"Raza, kenapa ingin tidur bersama Mamah?" tanya Amanda lembut, sambil membelai rambut Raza dan menatap lekat wajahnya.

__ADS_1


"Benar kata Mamah Mira, jika wajahmu dengan Papahmu tidak ada beda sama sekali" batin Amanda, yang membuatnya teringat kembali sosok Zaidan.


"Kata kak Dion, Mamah akan menikah dengan Om Dokter. Itu berarti Raza tidak akan bisa tidur bersama Mamah" ucap Raza polos, sambil berusaha memejamkan matanya.


Amanda tersentak, dia menatap tajam Dion. Seketika Dion langsung tidur membelakangi mereka, seolah-olah tidak mendengar apa yang baru saja di katakan Raza.


Amanda mendengus kesal.


"Sayang, tidak perlu berpikir macam-macam, tujuan utama hidup Mamah sekarang hanya kamu dan kak Dion" Amanda berkata, sambil mengusap lembut wajah Dion.


"Mah, Papah Zaidan sebenarnya kemana sie? kata Oma Mira, Papah Zaidan sedang tugas ke luar negeri, tetapi kenapa tidak bilang sama Raza?" tanya Raza, sambil membuka kembali kedua matanya.


Amanda menelan salivanya, mendapat pertanyaan dari Raza. Dia sendiri tidak mengetahui keberadaan Zaidan dan alasannya menghilang.


"Apa Raza merindukan Papah Zaidan?" tanya Amanda akhirnya.


"Raza merindukan Papah Zaidan dan Papah Doni"


Pernyataan Raza, membuat hati Amanda kembali sesak. Dia pun merindukan kedua sosok tersebut.


"Raza juga suka dengan Om Dokter, Mamah tidak perlu khawatir" ucapan Raza membuat Amanda terpaku.


Cup..


"Selamat tidur Mamah sayang"


Raza mencium pipi Amanda, dan langsung membelakanginya memeluk tubuh Dion. Sementara Dion hanya berpura-pura tidur, dan dia pun mengusap kasar air matanya.


Amanda hanya menghela napas. Dia tidak menyangka jika dalam hitungan waktu, dia harus kehilangan orang-orang yang di sayanginya.


Saat Amanda ingin memejamkan matanya, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.


{ Sayang, besok jangan buat sarapan. Karena, Mamah dan Arya akan membawa sarapan untuk kalian, kita sarapan bersama}.


{ Istirahat ya nak, salam sayang untuk cucu-cucu Mamah }.


*******************


Apakah Amanda sudah mencurigai, siapa sosok di balik musibah yang terjadi?


Apa benar, sakit kepala yang di rasakan Amanda karena benturan keras saat kecelakaan yang menimpanya?


Siapa wanita yang berada di dalam Apartemen mewah, bersama dengan pria yang pastinya kalian sudah tahu siapa pria itu ?


Keputusan apa yang akan di ambil Amanda ?


Kemana Zaidan sebenarnya ?


Maaf ya, sosok Zaidan menghilang dulu untuk beberapa bab🥰


Mohon maaf juga, kalau ada bab yang nyerempet, makanya up nya sesudah berbuka puasa🤭😁.

__ADS_1


Dukung karya terbaru Author di lomba " You are a writer season 9". Bercerita tentang dendam, kriminal dan cinta di jamin seru 👇



__ADS_2