Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kunjungan Ke Panti


__ADS_3

Bab 32


"Penyesalan Zaidan"


Amanda terdiam sesaat, mendapat pertanyaan dari Doni.


"Ini rumah milik keluarga besar Radthya, dan pewaris utama nya adalah Zaidan, apa dia sepupu mu..??"Tanya Doni, dengan wajah penuh selidik.


"A..aku.."Jawab Amanda.


"Nyonya Amanda.."Sebuah suara, mengagetkan Amanda dan Doni.


"Syukur lah nyonya sudah pulang, tadi tuan Zaidan telpon, menanyakan keberadaan nyonya.."Ucap bi Darmi dengan wajah cemas, saat sudah berada di hadapan mereka.


Doni, menatap tajam Amanda, jelas sekali sorot mata yang meminta penjelasan.


Amanda mengerut kan kening nya.


"Untuk apa dia menanyakan keberadaan ku..??"Tanya Amanda, dengan wajah keheranan, menatap bi Darmi.


"Saya kurang tahu nyonya, saya bilang jika nyonya sedang lari pagi, tuan juga menanyakan tentang keberadaan ponsel nyonya.."Jelas bi Darmi.


"Tuan bertanya juga, kenapa nyonya tidak membalas pesan nya.."Jelas bi Darmi lagi.


"Baik lah bu, nanti saya akan menghubungi tuan, terimakasih bu.."Ucap Amanda.


"Sama-sama nyonya, apa nyonya mau di siap kan sarapan..?-"Tawar bi Darmi, mencoba melihat ke arah Doni dan Dion.


"Sayang, kamu mau makan lagi tidak..??"Tanya Amanda, sambil membungkuk, menyentuh pundak Dion.


"Dion, sudah kenyang mah.."Jawab Dion, sambil tersenyum.


Bi Darmi terbengong, mendengar Dion memanggil mamah kepada Amanda, kemudian dia menatap Doni.


Doni membalas tatapan bi Darmi, sambil tersenyum.


"Baik lah, apa kalian mau mampir dulu.??"Tanya Amanda,.sambil menatap Doni.


"Lain kali saja, kamu ada acara, dan kami juga kebetulan ada rencana juga.."Jawab Doni, sambil merangkul pundak Dion.


"Mamah, nanti main ke rumah kami ya."Ucap Dion memegang tangan Amanda.


"Iya, mamah janji, nanti pasti main ke rumah Dion.."Amanda menoel lembut hidung Dion.


"Dion, sayang mamah.."Dion langsung memeluk Amanda.


Amanda tercekat, begitu juga Doni dan bi Darmi.


"Mamah juga, sayang banget sama kamu.."Amanda berjongkok, dan mengelus lembut punggung Dion.


"Sayang, nanti kita bisa kumpul lagi bersama mamah, sekarang kita pulang dulu ya.."Ucap Doni lembut, sambil melepaskan pelan tubuh Dion dari pelukan Amanda.


"Dion, pulang dulu ya mah.."


Cup..


Ciuman Dion, kembali mendarat di pipi Amanda.


Amanda tersenyum.


Cup..


"Hati-hati ya sayang.."


Amanda berkata, sambil mencium lembut juga pipi Dion.


Dion mengangguk.

__ADS_1


"Kami pulang dulu, kamu berhutang penjelasan kepada ku Amanda.."Ucap Doni, dengan kalimat penuh penekanan.


Amanda, hanya tersenyum kecut.


"Dah mamah.."


"Dah Dion.."


Amanda, segera membalikkan tubuh nya, saat punggung Doni dan Dion, sudah tak terlihat.


"Nyonya, maaf.."Perkataan bi Darmi, menghentikan langkah Amanda.


Kembali Amanda menghela napas.


"Aku tahu, apa yang ingin bu Darmi tanyakan.."Ucap Amanda, menatap bi Darmi, yang sedang menunduk.


"M..maaf kan saya nyonya.."Jawab bi Darmi.


"Jika ada seorang anak, yang mungkin merindukan sosok seorang ibu, dan saat dia bertemu dengan bu Darmi, kemudian dia merasakan kenyamanan.."Ucap Amanda, dengan suara yang tiba-tiba bergetar.


"Dan dia mempunyai satu permintaan yang sederhana, dia hanya ingin memsnggil bu Darmi dengan panggilan mamah, apa bu Darmi akan mengijinkan nya atau melarang nya.??"Tanya Amanda, dengan suara semakin bergetar.


"Maaf kan saya nyonya.."Bi Darmi berkata, sambil menunduk, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Amanda menarik napas kasar, mencoba menahan buliran hangat, yang siap meluncur di wajah nya.


"Dari kecil, tak ada sosok yang aku tahu selain bunda, sampai datang lah sosok mendiang kakek Radthya."Ucap Amanda, sambil menengadahkan wajah nya, berusaha keras menahan aliran air, yang seperti nya akan segera mengalir deras.


"Aku, mau siap-siap ke tempat bunda dulu bu.."Amanda berkata, dengan suara yang nyaris tak terdengar, karena menahan sesak di dada nya.


Tanpa menunggu jawaban bi Darmi, setengah berlari, Amanda masuk ke dalam rumah, segera menuju kamar nya.


Sesampainya di kamar, Amanda langsung menumpahkan segala kesedihan dan sesak di dada nya.


************


Berkali-kali, dia membolak-balik kan ponsel nya, menunggu seseorang membalas pesan nya.


"Kemana wanita itu..??"Apa tidak ada rasa sakit atau cemburu sedikit pun, mendengar suami nya pergi berbulan madu..??"Tampak wajah lelaki, yang tak lain adalah Zaidan itu memerah.


"Sayang, sedang apa kamu di sini..?"Suara serak dan manja, terdengar sangat dekat di telinga Zaidan, dengan sepasang tangan melingkar di pinggang nya.


"Aku, sedang menghirup udara saja sayang."Zaidan berkata, sambil membalikkan tubuh nya. Sehingga tubuh mereka saling berhadapan dan nyaris tanpa jarak.


"Sayang, kapan kita bulan madu ke luar negri.."Tanya manja, wanita yang tak lain adalah Devina, sambil mera*a lembut dada bidang Zaidan, yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


"Kita, bisa pergi ke luar negri kapan saja sayang, tanpa menunggu bulan madu.."Ucap Zaidan lembut, sambil mengelus wajah Devina.


"Tapi, momen nya berbeda sayang.."Rajuk Devina.


Zaidan tertawa kecil, menatap gemas Devina.


"Kita menikmati Bali satu hari lagi ya.."Bisik Zaidan lembut.


"Tapi lusa, aku ingin kita ke Turki.."Pinta Devina manja, sambil menciu* lembut pipi Zaidan.


"Siap, istri cantik ku.."Zaidan berkata, sambil menggendong tubuh Devina ala bridal style.


Devina memekik sambil tertawa, mereka pun kembali menghabiskan malam panjang mereka sebagai pengantin baru.


***********


Amanda melangkah kan kaki nya, di sebuah bangunan tua, tapi terlihat bersih dan rapi, dan sangat terasa sebuah kehangatan, serta kenangan indah di sana.


Saat kaki nya, memasuki gerbang bangunan, beberapa anak-anak terlihat, berlari mendekati nya, dan berteriak memanggil nama nya.


"Kak Amanda.."Teriak mereka bersamaan dan langsung memeluk tubuh Amanda.

__ADS_1


Amanda pun membalas pelukan mereka, sambil mengelus dan mencium kepala mereka satu persatu.


"Apa, kabar kalian semua..??"Tanya Amanda, dengan tatapan hangat penuh sayang.


"Alhamdulillah, kami baik-baik semua.."Jawab salah satu anak perempuan.


"Syukur lah.."Jawab Amanda, dengan senyum bahagia.


"Kak, Amanda sehat kah..??"Tanya salah satu anak.


"Alhamdulillah, kakak sehat.."Jawab Amanda lembut.


"Kak, di perut nya sudah ada dedek bayi belum..??"Tanya salah satu anak perempuan yang masih berusia 7 tahun, sambil memegang perut Amanda.


"Nisa, yang sopan dong..!!"Bentak anak panti, yang berusia 12 tahun, yang bernama Nur.


"Nisa khan hanya bertanya, kak.."Jawab Nisa, sambil tertunduk sedih


"Hai, sudah jangan bertengkar, tidak baik.."Sergah Amanda, dengan suara lembut.


"Tapi Nisa, tidak sopan kak Amanda.."Jawab Nur, menatap kesal Nisa.


Amanda menggeleng kan kepala nya, mengusap lembut pundak Nur.


"Terimakasih, kamu sudah bisa membantu bunda, menjaga adik-adik mu di panti, di saat mereka melakukan kekeliruan, tegur lah secara halus, jika belum juga mengerti boleh dengan suara agak tinggi, tapi tidak dengan membentak.."Ucap Amanda, dengan suara selembut mungkin.


"Iya kak, maafkan Nur."Jawab Nur, sambil menunduk.


Amanda tersenyum, dan kembali mengelus lembut pundak Nur.


"Nisa sayang, di perut kakak belum ada dedek bayi nya, kamu shalat yang rajin, do'akan kak Manda biar cepat dapat dedek bayi.."Ucap Amanda lagi, sambil mengelus puncak kepala Nisa.


"Nisa sudah rajin shalat kak, dan selalu berdo'a untuk kak Amanda, bunda dan semua kakak-kakak dan adik-adik di panti.."Jawab Nisa, dengan senyum sumringah nya.


"Alhamdulillah, terimakasih anak soleha.."Amanda, mencium lembut pipi Nisa.


"Oh ya, ini oleh-oleh buat kalian, di bagi rata ya.."Amanda menyerah kan beberapa kantong plastik, yang berisi makanan dan minuman.


"Terimakasih kak Amanda.."Jawab mereka ramai-ramai, sambil menerima kantong plastik dari tangan mereka.


"Sama-sama sayang, oh iya, bunda di mana ya..??"Tanya Amanda.


"Bunda, sedang berada di taman belakang, ada tamu kak.."Jawab Nur.


"Oh iya, oke kakak nemuin bunda dulu ya ."Ucap Amanda sambil melangkah kan kaki ke taman belakang.


"Tumben bunda, ngajak tamu ngobrol di kamar, biasa nya di ruang tamu, atau di ruang kerja."Gumam Amanda, sambil melangkah.


Saat sudah sampai di taman, Amanda melihat bunda sedang mengobrol dengan seseorang laki-laki, tampak wajah bunda yang bahagia, bahkan suara tawa nya sampai terdengar di telinga Amanda.


Dan tampak, sesosok anak laki-laki berada di pangkuan bunda.


Tentu saja Amanda sangat penasaran, dengan sosok yang membuat bunda begitu bahagia, dengan langkah cepat Amanda, segera menghampiri mereka.


"Assalamualaikum, bunda.."


"Mamah ."


**********


Kalian, pasti bisa tebak dong, siapa yang sedang berbicara dengan bunda..??


Lalu, ada hubungan apa mereka dengan bunda dan panti..??


Temui jawaban nya di bab berikut nya...


Jangan lupa untuk beri vote, like dan komen nya.

__ADS_1



__ADS_2