Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Panggilan Mamah


__ADS_3

Bab 31


"Penyesalan Zaidan"


Dengan senyum bahagia, tangan kanan dan kiri Dion menggandeng tangan Amanda dan Doni.


Sepanjang perjalanan, Dion bernyanyi riang, sesekali dia bermanja ke lengan Doni, kadang ke lengan Amanda.


Amanda tersenyum, melihat tingkah Dion, sesekali dia mengusap kepala dan pipi Dion.


Doni menatap Amanda, tapi Amanda mencoba untuk tidak menghiraukan nya, walau pun jantung nya terasa semakin berdegup kencang.


Sampai tiba lah mereka di warung bubur ayam.


"Pah, seperti biasa, Dion tidak pakai kacang dan kecap ya.."Dion berkata, sambil nyengir, memperlihat kan barisan gigi nya yang rapi.


"Siap bos.."Jawab Doni, dengan gaya hormat, membuat Dion tertawa.


Sedangkan Amanda, sempat tertegun melihat kedekatan ayah dan anak ini.


Dia menatap dalam Doni dan Dion.


"Wajah mereka tidak terlalu mirip, seperti nya gen mamah nya yang lebih mendominasi wajah Dion.."Amanda, berkata dalam hati.


"Tante, di tanya papah.."Dion, memegang lengan Amanda.


Amanda tersentak kaget. Dia terlihat gugup, apa lagi saat tatapan Doni, yang terlihat sedang menatap nya.


"Mata itu.."Batin Amanda.


"Bisa, kita pesan sekarang bubur nya nona atau nyonya Amanda.??"Tanya Doni, yang merasa ragu dengan panggilan Amanda.


"Panggil Amanda saja, pak Doni."Amanda merasa, Doni tidak perlu mengetahui status nya sebagai istri Zaidan.


"Baik lah, Amanda, tapi saya merasa tidak terlalu tua, jika di panggil dengan sebutan bapak, apa lagi saya bukan atasan kamu.."Doni berkata, sambil tertawa kecil.


"Tawa itu..??"Kenapa, aku tidak merasa asing dengan semua yang berhubungan dengan lelaki ini..?"Apa aku pernah mengenal nya..??"Tanya Amanda, dalam hati.


"Mah, Dion sudah lapar.."Rengek Dion, sambil menggoyangkan lengan Amanda.


"Hah.."Ucap Amanda tertegun, dengan panggilan Dion.


"Dion, kenapa kamu memanggil tante Amanda dengan sebutan mamah..??"Tanya Doni, merasa tidak enak dengan Amanda.


"Dion, boleh ya, panggil tante dengan sebutan mamah.."Dion, meminta dengan suara lirih, terlihat kesedihan dan kerinduan dari bola mata nya.


Amanda, merasakan hati nya bergetar dan nyaman, saat Dion memanggil nya dengan sebutan mamah.


"Tentu boleh dong, Dion sayang.."Amanda berkata sambil mengacak pelan rambut Dion, dan mengelus lembut pipi chubby nya.


"Asyik, Dion punya mamah.."Dion bersorak gembira, sambil memeluk dan mencium pipi Amanda.


Sesuatu kehangatan dan kenyamanan, kembali di rasakan Amanda.


"Apa seperti ini, rasa nya mempunyai anak..??"Batin Amanda, sambil membalas pelukan Dion.


Doni tersenyum haru, tiba-tiba mata nya seperti berembun, untuk menghindari embun itu menjadi sebuah cairan, Doni pun segera menghampiri penjual bubur, dan langsung memesan tiga mangkok, tanpa bertanya lagi kepada Amanda.


Doni sengaja mendekati mereka, bersama si abang penjual bubur, karena dia tidak mau terlihat sedih.


"Wah, bubur nya sudah datang, ayo mah kita makan, papah duduk di samping Dion.."Dion terlihat begitu bahagia, sambil menunjukkan kursi di samping nya.

__ADS_1


"Siap sayang.."Doni berkata, sambil mengusap rambut Dion.


"Dion, bisa makan sendiri..??"Tanya Amanda.


"Bisa dong mah, Dion sudah biasa.."Jawab Dion, dengan wajah sombong.


"Anak pintar.."Amanda berkata, sambil kembali mengacak pelan rambut Dion.


Mereka pun makan bersama, dengan celoteh dan senda gurau dari Dion.


Beberapa menit kemudian.


"Kenyang.."Ucap Dion sambil mengelus perut nya.


"Kalau, sudah selesai makan, bilang apa ayo.."Tanya Amanda, sambil tersenyum.


"Oh iya lupa, Alhamdulillah.."Ucap Dion sambil mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan.


"Biasa nya papah, selalu mengingatkan Dion, pasti karena ada mamah nie, jadi papah tidak mau mengingat Dion lagi.."Ucap Dion, yang membuat Amanda dan Doni salah tingkah.


"Maaf Dion, papah lupa.."Jawab Doni, dengan perasaan tidak enak.


"Tidak apa-apa pak, m..maksud saya mas Doni.."Seketika Amanda merasakan wajah nya memanas.


"Ish..ada apa sie, dengan diri ku..??"Tanya Amanda dalam hati, dia merasa aneh dengan diri nya sendiri.


"Dion, boleh tahu rumah mamah.??"Pertanyaan Dion, membuat Amanda bingung.


"Tempat tinggal mu, pasti tidak jauh dari sini..??"Tanya Doni, dia menatap lekat wajah Amanda.


"Wanita sederhana, tapi kenapa aura nya di mata ku sangat berbeda, apakah ini yang di nama kan dengan cinta pada pandangan pertama.?."Tanya Doni dalam hati.


"Iya masih di komplek sini, tapi saya hanya menumpang di rumah saudara.."Jawab Amanda sekena nya.


"Dion, mamah tinggal dengan saudara, dan rumah nya sangat besar.."Jelas Amanda.


"Rumah kami juga sangat besar, tapi kami hanya tinggal berdua, hanya ada bi Marni, dan pak Hamid yang menemani kami.."Jawab Dion.


"Karena papah dan mamah, belum ada ikatan, jadi kita belum bisa membawa mamah untuk tinggal di rumah ."Dengan lembut, Doni memberikan penjelasan kepada Dion.


"Ikatan apa pah..??"Tanya Dion polos.


"Hmm.. pernikahan sayang.."Jawab Doni ragu.


"Kalau begitu, mamah dan papah harus segera menikah, biar mamah bisa tinggal bersama kita."Ucap Dion santai.


Mata Amanda, langsung membulat, dia tidak percaya dengan yang di ucapkan Dion.


Begitu juga dengan Doni.


"Maaf Amanda, jika perkataan Dion membuat mu tidak nyaman.."Doni menatap Amanda dengan wajah tidak enak, tapi jauh di lubuk hati nya, dia berharap Amanda bisa jadi mamah yang nyata untuk Dion.


"Aku baru pertama kali bertemu dengan nya, tapi kenapa, aku ingin dia menjadi istri ku..??"Tapi apakah Amanda masih single..??"Sekelumit pertanyaan, sedang bermain-main di kepala Doni.


"Tidak apa-apa mas.."Ucap Amanda lembut.


Dion, walaupun kita tidak tinggal satu rumah, tapi kita masih bisa bertemu.."Ucap Amanda lagi.


"Janji ya mah, jika kita masih bisa bertemu.."Dion berkata sambil memberikan jari kelingking nya ke arah Amanda.


Sambil tertawa, Amanda menautkan jari kelingking nya kepada kelingking Dion

__ADS_1


Ting..


Sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal, masuk ke dalam ponsel Amanda.


[ Hari ini, kami langsung pergi berbulan madu, mungkin sekitar seminggu ].


Amanda menarik napas, dan membuang nya kasar.


Dia lupa, belum menyimpan nama Zaidan di ponsel nya. Dia bingung mau di nama kan siapa Zaidan itu.


Amanda, malas sekali menyimpan nomor nya, dia juga tidak berniat untuk membalas pesan Zaidan.


"Pesan yang tidak perlu balasan.."Gumam Amanda dalam hati.


"Amanda, boleh saya meminta nomor ponsel kamu.??"Doni menatap lekat, dia merasa jika hati Amanda sedang tidak baik-baik saja, saat membaca pesan yang masuk ke ponsel nya.


"Boleh mas."Amanda pun, menyebutkan nomor nya.


"Oh iya mas Doni, Dion, seperti nya saya harus pulang.."Ucap Amanda, segera berdiri dari duduk nya.


"Apa besok, Dion bisa bertemu dengan mamah lagi..??"Tanya Dion dengan tatapan sedih, dan suara parau.


"Tentu saja dong sayang, tapi setelah mamah pulang mengajar ya.."Amanda membungkukkan sedikit badan nya, kemudian mencium lembut pipi Dion.


"Dion, sayang mamah.."Dion langsung memeluk Amanda.


"Iya, mamah juga sayang sama kamu, sekarang kita pulang ya, mamah mau ada acara.."Ucap Amanda lembut, sambil melepas kan pelukan Dion dan mengusap air mata nya.


Dion pun mengangguk.


"Biar kami antar ."Tawar Doni.


"Kalau tidak merepotkan.."Jawab Amanda, sambil mengangguk.


"Justru, saya sangat senang, jika bisa mengantarkan mamah nya Dion pulang.."Ucap Doni, dengan tersenyum, membuat Amanda tersipu malu.


"Ayo Dion.."Amanda, langsung meraih tangan Dion keluar dari warung bubur, dia menghindari tatapan dari Doni.


"Mengemaskan.."Gumam Doni.


Doni hanya tersenyum, sambil mengikuti langkah mereka dari belakang.


20 menit, mereka pun sampai di rumah megah dan mewah.


"Wah, rumah mamah besar sekali, lebih besar dari rumah aku dan papah.."Dion berkata, dengan ekspresi kagum.


"Rumah saudara mamah, bukan rumah mamah.."Amanda, kembali mengusap lembut rambut Dion yang hitam dan tebal.


"Amanda, Apa benar kamu tinggal di sini,.?"Tanya Doni sambil mengerutkan kening nya.


"I..iya, kenapa mas..??"Amanda balik bertanya.


"Apa hubungan mu, dengan Zaidan Radthya..??"


Deg


*************


Maaf ya, bab ini kita membahas tentang Doni dan Dion dulu.


Semua tokoh yang berperan di novel ini, semua mempunyai hubungan dengan isi cerita, dan judul yang author berikan.

__ADS_1


Sambil menunggu author kembali up, seperti biasa author mau promosi, novel dari teman author, yang cerita nya bisa menguras emosi dan air mata 👇👇



__ADS_2