Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kembali Ke Kamar Penyiksaan


__ADS_3

Bab 38


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Saat mereka masuk, tampak dokter Arya, sedang mengobati luka Zaidan.


Zaidan menatap tajam Amanda dan Doni, begitu juga Devina, yang menatap tidak suka ke arah mereka.


"Istri yang tidak tahu malu, bisa-bisa nya berduaan dengan lelaki lain, di depan dan di rumah suami nya sendiri.."Devina berkata, dengan senyum sinis nya.


Dokter Arya, melirik ke arah Amanda dan Doni.


"Aku dan Dion, pamit pulang Manda.."Doni berkata, sambil menghela napas.


"Tapi, luka-luka mu harus di obati kak.."Cegah Amanda.


"Ini hanya luka biasa buat laki-laki Manda, tidak perlu khawatir, akan pulih segera.."Jawab Doni, sambil melirik Zaidan.


Zaidan menatap muak ke arah Doni.


"Maafkan aku kak.."Ucap Amanda lirih.


"Kamu tidak punya salah apa-apa, tidak ada yang perlu di maafkan.."Doni berkata, dengan senyum hangat menatap Amanda.


"Ayo Dion, Salim dulu sama mamah.."Ucap Doni lagi, sambil memegang pundak Dion.


"Tapi, Dion masih ingin bersama mamah.."Rajuk Dion, menatap penuh harap ke arah Amanda.


Amanda tersenyum, seperti biasa dia akan berjongkok untuk mensejajarkan tubuh nya dengan Dion.


"Dion anak pintar, sekarang kamu ada tugas mengantar papah ke dokter, apa kamu tidak kasihan melihat wajah papah..??"Tanya Amanda tersenyum, sambil menatap bergantian Dion dan Doni.


"Oh iya, Dion khan sudah janji untuk menjaga papah dan mamah.."Dion berkata, sambil menepuk jidat nya.


Sikap lucu Dion, sungguh membuat gemas. Amanda, Doni dan dokter Arya pun tertawa kecil melihat tingkah Dion.


Zaidan hanya menatap dingin dengan wajah datar, walaupun jauh di dalam hatinya sedang tersenyum, mendengar celoteh Dion. Ada rasa iri di hati nya.


Sedangkan Devina, tatapan tidak suka nya sangat jelas terlihat.


"Dion, pulang dulu ya mah.."Dion mencium punggung tangan Amanda, dan mencium kedua pipi Amanda.


"Iya sayang, hati-hati ya.."Jawab Amanda, sambil mencium kedua pipi chubby Dion.


Dion pun tersenyum bahagia, kemudian membalikkan tubuh nya menghadap Zaidan dan Devina. Kemudian melangkah mendekati mereka.


"Om, tante, Dion pamit dulu, maafkan papah yang sudah memukul om.."Dion berkata, sambil mencium punggung tangan Zaidan, Devina dan dokter Arya.


Zaidan dan Devina tidak menjawab, tapi jauh di lubuk hati Zaidan, ada kehangatan yang menjalar di relung hatinya, saat Dion mencium punggung tangan nya.


"Anak pintar, hati-hati di jalan.."Ucap dokter Arya, sambil mengelus lembut kepala Dion.

__ADS_1


"Siap, om dokter.."Ucap Dion, lagi-lagi dengan sikap menggemaskan.


Dokter Arya pun tertawa kecil, tetapi, saat melirik Zaidan yang menatap tajam ke arah nya, langsung merubah ekspresi nya.


"Kami pulang Manda.."Pamit Doni, sambil merangkul Dion.


"Iya kak, hati-hati.."Jawab Amanda, sambil mengelus lembut kepala Dion.


Doni mengangguk dan tersenyum ke arah Amanda dan dokter Arya. Dia tidak menoleh sedkit ke arah Zaidan dan Devina.


"Mau kemana kamu..??!!"Tanya Zaidan dengan suara tinggi, menatap tajam Amanda, ketika ingin mengantar Doni dan Dion ke depan.


Seketika Amanda menghentikan langkah nya. Doni memberi isyarat, jika Amanda tidak perlu mengantar nya.


Amanda tersenyum dan mengangguk, Doni dan Dion segera pergi meninggalkan kediaman Radhtya.


Baru saja, dokter Arya selesai mengobati, Zaidan pun langsung bangkit menghampiri Amanda, dan menarik kasar tangan Amanda menuju lift.


Dokter Arya dan Devina hanya tertegun, dan saling melempar pandang.


Devina menghembuskan napas nya kasar, tampak dokter Arya mendekati Devina, dan langsung membawa Devina ke dalam pelukan nya.


Zaidan mencengkram lengan Amanda dengan sangat kuat.


"Mas, ini sakit.."Protes Amanda, sambil berusaha melepaskan cengkeraman Zaidan dari lengan nya.


"Semakin kamu meronta, maka semakin sakit yang kamu rasakan..!!"Ucap Zaidan dingin, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Amanda.


Tampak, senyum smirk tersungging di bibir Zaidan, dia sangat tahu apa yang sedang di rasakan Amanda.


Setelah lift terbuka, Zaidan langsung menarik Amanda menuju kamar penyiksaan.


Amanda tersentak kaget, saat Zaidan sudah menempelkan sidik jari nya di pintu itu.


Tungkai kaki nya terasa lemas, tubuh nya bagaikan tak bertulang, wajah nya pucat pasi membayangkan penyiksaan yang akan di lakukan Zaidan.


Saat pintu terbuka, Zaidan segera membawa Amanda masuk dengan masih mencengkeram kuat lengan Amanda.


Setelah, menutup pintu dengan menggunakan sidik jari nya kembali, Zaidan langsung melempar tubuh Amanda ke atas ranjang.


Amanda segera beringsut mundur, tampak ketakutan yang tidak bisa di sembunyikan dari wajah nya.


"Amanda Maheswari, seorang wanita kuat dan pemberani, kini tampak seperti kelinci kecil yang takut untuk di mangsa.."Ucap Zaidan, sambil menyeringai.


Melihat Zaidan, hati Amanda semakin tidak karuan, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Zaidan lakukan pada diri nya.


Berlahan, Zaidan melepas kan kemeja dan celana panjang nya, tentu saja membuat Amanda tersentak kaget, wajah nya tampak semakin pucat ketakutan.


Amanda, sudah tidak bisa mrnahan buliran hangat yang mengalir dari sudut mata nya


"Mas, apa yang akan kamu lakukan..??"Tanya Amanda lirih, dengan wajah ketakutan dan semakin beringsut mundur.

__ADS_1


Zaidan tertawa mendengar pertanyaan Amanda.


"Kamu pikir, apa yang akan suami lakukan terhadap istri nya, hah..!!"Bentak Zaidan, dengan sorot mata yang menakutkan bagi Amanda.


"Tiga bulan lebih kita menikah, aku hanya memberikan nafkah lahir, tadi nya aku tidak berminat memberikan nafkah batin, karena aku sudah mendapatkan nya dari istri yang aku cintai.."Ucap Zaidan, yang mulai naik ke atas ranjang, mendekati Amanda.


"Tapi, saat melihat mu dengan gampang nya menjalin hubungan dengan lelaki lain, harga diri ku seperti terinjak-injak Amanda Maheswari..!!"Zaidan terus merangkak, mendekati Amanda yang semakin beringsut mundur sambil menggelengkan kepala nya.


"Aku mohon, jangan lakukan ini mas.."Amanda memohon dengan suara parau, dengan air mata yang semakin deras membasahi pipi nya.


"Kenapa..??"Aku suami mu,..!!"Aku punya hak atas tubuh mu, atau..??"


Zaidan tidak meneruskan ucapan nya. Dia memperhatikan tubuh Amanda yang sedang meringkuk ketakutan.


"Apa, kamu sudah menyerahkan tubuh mu kepada laki-laki itu .??"Tanya Zaidan dengan penuh penekanan, dan wajah memerah.


Amanda kembali tersentak kaget,dengan pertanyaan Zaidan. Dia mengangkat wajah nya dan menatap tajam Zaidan.


"Aku, bukan wanita serendah dan sehina itu mas.!!"Amanda berkata, dengan tatapan marah nya.


Zaidan tersenyum sinis mendengar ucapan Amanda.


"Kalau begitu, layani aku, buktikan jika kamu masih per*w*n."Zaidan menatap Amanda, dengan sorot mata tak percaya dan terlihat penuh amarah.


"Sebagai istri, aku akan ikhlas melayani mu mas, tapi tidak dengan cara seperti ini, apa lagi melakukan nya di kamar penyiksaan.."Ucap Amanda, dengan suara parau.


"Tapi, aku menginginkan nya sekarang, dan aku mau melakukan nya di sini..!!"Tegas Zaidan, yang semakin maju mendekati tubuh Amanda.


"Mas, aku mohon jangan lakukan ini.."Amanda memohon dengan suara yang semakin parau, air mata kembali deras membasahi wajah nya yang ketakutan.


Apalagi tidak ada celah lagi, untuk Amanda mundur.


Zaidan tidak menghiraukan nya, dia terus mendekati Amanda dengan seringai nya yang tampak semakin menakutkan, sampai membuat tubuh Amanda sampai menggigil ketakutan.


Dan...


"Tidak..."


*****************


Apa yang akan Amanda lakukan setelah kejadian itu..??


Meninggalkan Zaidan, atau justru tetap di samping Zaidan, dengan seorang Devina di sisi nya..??


Ada hubungan apa juga, antara Devina dan dokter Arya?


Ikuti kisah seru di setiap bab nya.


Jangan lupa dukungan nya, untuk mood booster author🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2