Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Duka Lara Irma


__ADS_3

Bab 63


"Penyesalan Zaidan"


"Papah."Teriak Irma.


Semua orang panik, tubuh Baskoro segera di larikan ke rumah sakit. Pak Handoko dan Zaidan melakukan negoisasi dan jaminan kepada polisi agar Irma bisa menemani suaminya di rumah sakit.


Amanda selalu berada di sisi Irma, dia terus memeluk tubuh wanita setengah baya itu. Karena Irma mengingatkan Amanda kepada sosok bunda.


Doni merasa khawatir dengan keadaan Amanda, apa lagi Amanda baru saja di ketahui sedang hamil muda.


"Manda, kamu yakin akan ikut ke rumah sakit.?"Bisik Doni, sambil memegang lengan Amanda.


"Jangan khawatir kak, aku kuat."Jawab Amanda.


Doni menghela napas, mereka pun segera menuju rumah sakit.


*************


Sesampainya di rumah sakit, Baskoro langsung di tangani.


Setelah beberapa saat, tampak seorang perawat keluar dari ruang pemeriksaan Baskoro.


"Dengan keluarga tuan Baskoro.?"Panggil perawat.


"Saya anaknya suster."Zaidan langsung menghampiri perawat itu.


"Silahkan untuk keluarga tuan Baskoro, dokter sudah menunggu di dalam."Ucap perawat mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Tentu saja dengan penjagaan ketat polisi.


Merekapun masuk ke dalam ruangan, dan...


"Pah..!!"Teriak Irma, langsung berlari menghampiri tubuh Baskoro yang sudah terbaring kaku.


"Pah, bangun pah.!!"Teriak Irma histeris.


"Apa yang terjadi dengan papah saya dok.??"Tanya Zaidan, walaupun dia tahu apa yang sudah terjadi dengan Baskoro.


"Mohon maaf tuan Zaidan, tuan Baskoro terkena serangan jantung, dan setelah di cek ternyata sudah lama tuan Baskoro mengalami masalah pada jantungnya."Jelas Dokter.


"Tidakkkk...Jangan tinggalkan mamah pah.!! Devina sudah meninggalkan mamah, sekarang papah juga meninggalkan mamah.!!"Irma menangis meraung-raung, sambil mengguncang kencang dan kasar tubuh Baskoro.


Amanda berusaha menenangkan Irma, dengan air mata yang ikut menetes, merasakan duka yang sedang di alami Irma. Tetapi, emosi Irma yang tidak terkendali, membuatnya berontak dari rangkulan Amanda.


Irma mendorong kuat tubuh Amanda, sehingga membuat tubuh Amanda terhuyung dan tak seimbang. Saat tubuh Amanda akan terjatuh, dengan sigap Doni segera meraih dan memeluk tubuh Amanda.


"Kamu tidak apa-apa Manda.??"Tanya Doni, dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Manda tidak apa-apa kak."Jawab Amanda tetap tersenyum. Walaupun tubuhnya agak terasa sakit, karena dorongan kuat Irma.


Zaidan yang syock dengan perkataan dokter, hanya mampu menatap nanar ke arah Amanda dan Doni. Tiba-tiba dia merasakan kekesalan di hatinya, apa lagi saat melihat tangan Doni yang terus memeluk Amanda.


"Lebih baik kita keluar dulu Amanda."Ajak Doni.

__ADS_1


"Tidak kak, aku mau menemani tante Irma, kasihan dia."Tolak Amanda, sambil melepaskan diri dari pelukan Doni, dan ingin melangkah kembali mendekati Irma.


"Amanda, emosi tante Irma sedang tidak stabil, dia bisa melukaimu."Doni berkata dengan lembut, berusaha memberikan pengertian kepada Amanda.


Amanda tidak mempedulikannya perkataan Doni, dia menepis kasar tangan Doni dari lengannya.


"Keluarlah Amanda, kehadiranmu tidak di butuhkan di sini..!!"Teriak Zaidan, dengan tatapan nyalang ke arah Amanda.


Amanda langsung diam membisu, mendengar teriakan Zaidan yang mengusirnya. Dia menatap Zaidan tak percaya. Air mata terlihat sudah beranak sungai di kedua matanya.


Amanda pun segera keluar dari ruangan, dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Doni menatap sekilas Zaidan dengan tatapan kesal, sebelum mengejar Amanda.


Zaidan menarik napas kasar.


"Maafkan aku Manda, aku tidak mau tante Irma menyakitimu, dan aku tidak mau melihat kemesraanmu bersama Doni."Ucap Zaidan dalam hati, sambil menatap nanar kepergian Amanda.


Pak Handoko mengetahui apa yang sedang ada dalam pikiran Zaidan.


"Sepertinya, Amanda sudah merebut tempat di hatimu tuan Zaidan."Pak Handoko berkata dalam hati, dengan sebuah senyum yang mengembang.


Sementara itu, Irma masih terus berteriak histeris. Dokter dan perawat berusaha menenangkannya. Kini, Irma bukan hanya berteriak tapi mengamuk saat tubuh jenazah Baskoro di tutup semua, dan di bawa keluar ruangan untuk di urus kepulangannya.


"Mah, tenanglah.."Ucap Zaidan, memeluk Irma.


"Aku harus membunuh mereka.!! Lion dan Dave harus mati..!!!"Teriak Irma di selingi dengan tangisan, dan tak lama dia pun tertawa.


"Kamu lihat Zaidan, anak dan suamiku sudah pergi, mereka meninggalkanku sendiri..!!"Teriak Irma sambil tertawa dan meremas kasar rambutnya.


"Maaf tuan Zaidan, sepertinya nyonya Irma harus segera di tangani oleh dokter spesialis kejiwaan."Ucap pak Handoko.


"Om, tolong bantu aku mengurus mamah Irma, karena aku akan mengurus pemakaman papah Baskoro.


Pak Handoko mengangguk. Dia pun meminta bantuan beberapa perawat untuk membawa Irma ke dokter spesialis kejiwaan.


Zaidan bergegas keluar, untuk mengurus kepulangan jenazah Baskoro. Saat sampai di luar, terlihat Amanda bersama Doni sedang berdiri menatapnya.


Zaidan menghela napas, dia pun melanjutkan langkahnya.


"Mas Zaidan."Sebuah panggilan menghentikan langkahnya.


"Aku hanya ingin mengucapkan turut berdukacita, yang sabar dan kuat."


Zaidan memejamkan matanya, dia tidak menoleh sedikitpun ke arah Amanda.


"Terimakasih, pulanglah."Jawab Zaidan, segera melangkah pergi.


Amanda tertunduk sedih, Doni segera merangkul dan mengelus lembut pundak Amanda.


Mereka terkejut, saat mendengarkan teriakan, tangisan di selingi dengan tawaan. Tampak Irma yang sedang meronta di bawa oleh beberapa perawat.


"Amanda."


Amanda mengusap air matanya, menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Tante Irma, kenapa om.??"Tanya Amanda lirih.


Pak Handoko menarik napas kasar.


"Om juga belum tahu, sepertinya nyonya Irma mengalami depresi. Kami akan memeriksakannya ke dokter spesialis kejiwaan."Jawab pak Handoko.


"Kasihan sekali tante Irma, sepertinya beliau sangat terpukul, karena harus kehilangan putri dan suami tercinta dalam waktu yang hampir bersamaan."Amanda berkata, sambil mengusap kembali air matanya.


"Amanda, lebih baik kita pulang sekarang, kamu butuh istirahat."Doni berkata, sambil mengelus lembut rambut Amanda.


"Tapi.."Amanda tidak meneruskan ucapannya, dia ingin sekali berada di sisi Zaidan, tapi apa keberadaannya di inginkan oleh Zaidan.


"Tuan Doni benar, sepertinya Kamu lelah nak."Ucap pak Handoko.


Dengan berat hati, Amanda pun mengangguk.


"Om tinggal ya, salam buat bunda."Ucap pak Handoko, sambil tersenyum.


"Hati-hati om."


Amanda terssnyum dan nengangguk.


"Tolong kamu jaga Amanda."Pak Handoko berkata, sambil menatap Doni.


"Tanpa om minta, saya akan selalu menjaga Amanda."Jawab Doni.


Pak Handoko terssnyum, dia menepuk pelan pundak Doni, dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Ayo Manda, kita pulang."Ajak Doni. sambil menggenggam tangan Amanda.


Amanda hanya pasrah mengikuti langkah Doni.


***********


Sepanjang perjalanan, dia hanya diam membisu, sesekali dia mengelus perutnya yang masih rata.


"Manda, kita mampir makan dulu ya, kasihan bayi di perutmu, dia membutuhkan nutrisi."Ucap Doni sambil tersenyum.


Amanda langsung tersadar, jika ada makhluk yang sedang berkembang di rahimnya. Yang harus di jaganya.


"Aku tidak boleh egois dengan perasaanku.!! Tenang anakku, mamah berjanji akan menjadi wanita kuat, yang mampu membesarkan dan menjagamu, walaupun tanpa seorang ayah." Amanda berkata dalam hati, dengan sebuah semangat. Sambil mengelus perutnya, sebuah senyum terukir di bibir tipisnya.


************


Apakah Amanda benar-benar tidak memberitahu kehamilannya kepada Zaidan.??


Apakah Amanda, akan memilih orang lain untuk menjadi ayah untuk bayinya ???


Jangan lewatkan kisah selanjutnya, yang semakin seru dan pastinya semakin menguras emosi🤗


Sambil menunggu author mendapat inspirasi dan menulis, kalian bisa mampir dulu ke novel author lainnya👇👇


__ADS_1



__ADS_2