Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Jangan Menyiksa Diri mu


__ADS_3

Bab 34


"Penyesalan Zaidan"


Bunda menghela napas, menatap lekat sepasang mata Doni.


Bunda kembali mengangguk.


"Tapi bun.."


Doni tidak meneruskan perkataannya.


"Bunda tidak berhak, untuk menjelaskan tentang kehidupan pribadi Amanda, terutama masalah pernikahannya."Ucap bunda, dengan sorot mata sedih, seperti menyimpan sesuatu.


"Ya bun, Doni mengerti, semoga kebahagiaan selalu menyertai Amanda.."Ucap Doni, entah mengapa hatinya mengatakan, jika ada yang aneh dengan pernikahan Amanda dan Zaidan.


Karena, Doni sangat mengetahui kisah cinta seorang Zaidan. Antara percaya dan tidak, saat mengetahui jika Amanda adalah istri seorang Zaidan.


Saat, Doni sibuk dengan pikiran nya. Tiba-tiba, dia di kaget kan dengan kehadiran Amanda, yang sudah duduk di samping bunda.


"Amanda.."Panggil Doni, menatap nanar wajah Amanda.


"Dion, sudah tidur kak.."Ucap Amanda, sambil tersenyum.


"Maaf, jika Dion merepotkan mu Manda."Doni, terus menatap wajah Amanda.


"Dion, anak yang lucu, pintar dan penurut, jadi tidak merepotkan, kakak pasti tahu, jika adik kecil mu yang cengeng ini, sangat menyukai anak-anak.."Amanda menatap sepasang mata Doni, yang belasan tahun lalu selalu di kagumi nya.


"Sampai sekarang, mata mu tidak berubah kak, mata yang selalu memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk ku.."Batin Amanda.


"Amanda kecil ku, sudah bermetamorfosis menjadi Amanda yang sederhana dan dewasa.."Batin Doni.


Tanpa di sadari, netra mereka pun saling tatap.


Bunda pun menyadari itu.


"Doni, Amanda, bunda ke dalam dulu, mau menyiapkan makan siang.."Ucap bunda, sambil bangkit dari duduk nya.


Perkataan bunda, membuat mereka tersentak kaget.


Amanda pun segera memalingkan wajah nya, dan bangkit dari duduk nya.


"Lho, kamu mau kemana Manda..??"Tanya bunda, dengan tatapan heran.


"Pasti nya, bantuin bunda masak."Jawab Amanda, merasa heran dengan pertanyaan bunda.


"Tidak usah, sudah ada mba Narti yang membantu bunda, kamu di sini saja temani Doni, sudah belasan tahun kalian tidak bertemu.."Bunda menepuk pelan pundak Amanda, kemudian melangkah ke dalam panti, meninggal kan Amanda dan Doni.


Amanda, tersenyum kikuk, dan duduk kembali di kursi nya.


"Amanda..".


"Kak Anggara ."


Panggil mereka bersamaan.


Mereka pun, saling melempar senyum.


"Kamu duluan Amanda.."Doni terus menatap Amanda.


"Bagaimana, kabar kakak selama ini..??"Tanya Amanda.


"Seperti yang kamu lihat, kakak baik, bahkan kakak sudah punya Dion, yang memanggil kamu dengan sebutan mamah.."Doni kembali tersenyum, mrnggoda Amanda.


"Kalau mamah kandung nya Dion..??"Tanya Amanda hati-hati.


"Manda, aku akan menceritakan jujur tentang semua kehidupan pribadi ku, tapi aku juga ingin kamu menceritakan yang jujur, tentang kehidupan pribadi mu.."Wajah Doni, terlihat sangat serius, dengan menatap lekat bola mata anda.


"Kisah hidup ku, tidak ada yang spesial kak."Ucap Amanda lirih.


"Kalau begitu, kisah hidup ku juga, tidak ada yang spesial untuk di cerita kan."Balas Doni, sambil menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi, dengan kedua tangan menyilang di dada, dan masih menatap tajam Ananda.


Amanda memalingkan wajah nya, menghindari tatapan Doni.


"Zaidan Radthya dan Devina Deswita, baru menikah tiga hari yang lalu, mereka sedang melakukan perjalanan bulan madu ke Bali, dan tadi malam mereka baru sampai di Turki, bisa kamu menjelaskan ini kepada ku Amanda Maheswari..??"Zaidan berkata dengan suara penuh penekanan, menatap tajam Amanda.


Pertanyaan Doni, membuat Amanda terhenyak, dia hanya terdiam.


"Benarkah, Zaidan dan Devina sedang di Turki.?"Batin Amanda, kegelisahan tampak di wajah nya.


Doni menangkap kegelisahan itu. Dia pun menghela napas.


"Amanda, jangan pernah menyiksa diri sendiri, dengan sesuatu yang menyakitkan.."Ucap Doni dengan suara lembut.


Dia pun mencondongkan tubuhnya, sehingga jarak mereka menjadi dekat.


"Kamu tidak pantas di perlakukan seperti ini Manda, kamu berhak menentukan kebahagiaan dan masa depan mu.."Ucap Doni lagi, sambil menggenggam jemari Amanda.

__ADS_1


Amanda yang sedang memikirkan Zaidan, kembali tersentak karena sentuhan tangan Doni di jemari nya.


"Amanda sadar lah, dia sudah bahagia dengan istri pilihan nya, mereka pun sedang melewati hari-hari indah, dan kebersamaan mereka pasti sangat panjang, apa kamu mau terus menyiksa diri mu seperti ini..??"Tanya Doni, mata nya terus menatap Amanda.


Amanda tidak mampu menjawab, dia menatap wajah Doni yang sangat dekat dengan nya.


Buliran bening sudah tampak bermuara di bola mata nya.


"Menangis lah Manda, jika kamu ingin menangis.."Doni menyentuh lembut wajah Amanda.


Tapi, tiba-tiba Amanda seperti tersadar. Dia langsung menepis kasar tangan Doni yang berada di wajah nya, dan melepaskan tangan Doni yang sedang menggenggam jemari nya.


Amanda menjauh kan tubuh nya dari Doni, sehingga kini ada jarak di antara mereka. Doni terkejut dengan sikap Amanda.


"Maaf kak, aku wanita yang bersuami.."Ucap Amanda lirih.


Doni tersenyum sinis, mendengar pernyataan Amanda.


"Amanda sadar, suami mu sedang menikmati bulan madu dengan istri baru nya, istri yang sangat di cintai nya.."Doni menggelengkan kepala nya, tidak mengerti dengan cara berpikir Amanda.


Doni mengerutkan kening nya, kemudian menatap Amanda dengan penuh intimidasi.


"Apa, dia sudah menyentuh mu..??"Tanya Doni dengan dada berdebar, dia sangat mengharapkan kata-kata tidak terucap dari bibir Amanda.


Plakk...


Sebuah tamparan mendarat di wajah Doni.


Tamparan yang membuat Doni tercekat, dia langsung memegang pipi nya, dan menatap Amanda tidak percaya.


"Kak Anggara, tidak berhak dan tidak sopan bertanya seperti itu kepada ku..!!"Amanda langsung berdiri, dan berkata dengan suara agak meninggi.


"Ini urusan pribadi ku, belasan tahun kita baru bertemu, tapi kakak sudah mau mengatur hidup ku, bahkan kakak tidak pantas mencampuri urusan rumah tangga ku..!!"Ucap Amanda lagi, dengan wajah yang sudah memerah.


Sekuat mungkin, Amanda menahan buliran bening itu, agar tidak jatuh mengalir di wajah nya.


Doni pun ikut mandiri.


"Amanda, 15 tahun memang waktu yang sangat lama untuk kita bertemu lagi, dan aku tidak punya hak sama sekali dengan urusan pribadi mu, tapi aku adalah kakak mu, aku sangat menyayangimu, aku tidak mau kamu tersiksa.."Doni berkata, dengan suara lembut.


Deg..


"Kakak..??"Dia hanya menganggap ku adik."Amanda berkata dalam hati, sambil menundukkan wajah nya, sehingga buliran bening pun langsung mengalir di wajah nya.


"Manda, kami semua sangat menyayangi mu, terutama bunda, beliau pasti sangat sedih, jika melihat mu tersiksa.."Doni memegang lembut pundak Amanda, dengan kedua tangan nya.


Doni langsung membawa Amanda ke dalam pelukan nya. Pelukan yang di rindukan Amanda setelah 15 tahun berlalu.


"Menangis lah, jika kamu ingin menangis.."Bisik Doni lembut, sambil membelai rambut Amanda.


Beberapa saat, Amanda menumpahkan tangis nya di pelukan Doni.


Sampai akhir nya Amanda tersadar, dia langsung mendorong tubuh Doni kasar, dan melepaskan pelukan nya.


Amanda langsung menyambar tas nya, dan berlari pergi meninggalkan Doni yang terpaku menatap Amanda.


"Amandaaa.."Panggil Doni, dan segera mengejar Amanda.


Amanda tidak menghiraukan nya, dia terus berlari.


Amanda bernapas lega, karena semua anak-anak panti sedang berada di dalam panti, menyiapkan diri mereka untuk shalat dzuhur dan makan bersama. Sehingga tidak ada yang melihat keadaan Amanda yang kacau.


Amanda sangat bersyukur, karena di dekat panti, terdapat ojek pangkalan, sehingga dengan mudah Amanda menghindari Doni.


Doni hanya menatap nanar, punggung Amanda yang menghilang bersama abang ojek.


"Seperti nya, aku terlalu cepat bertindak.."Gumam Doni, sambil membuang kasar napas nya.


Dengan frustasi dan langkah gontai, dia pun kembali ke panti.


************


Dengan menaiki motor, Amanda tidak membutuhkan waktu lama, untuk sampai di rumah newah Radthya.


Setelah membayar ongkos, dia pun segera masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar.


Dia menghindar, untuk bertemu dengan para pekerja di rumah itu, dengan keadaan nya yang terlihat kacau.


Sesampainya di kamar, Amanda langsung menjatuhkan diri nya di kasur, dan menangis sejadi-jadinya.


Dada nya terasa sangat sesak, mengingat semua hal yang sedang di jalani nya.


"Aku tahu, apa yang kak Anggara katakan, semua nya benar, tapi aku tidak bisa meninggalkan Zaidan.."Amanda kembali terisak.


Drrt..drrt ..


Tampak ponsel Amanda menyala, menandakan ada panggilan masuk.

__ADS_1


Amanda pun, mengusap kasar air mata nya, dan meraih ponsel nya.


"Bunda.."Ucap Amanda lirih.


Dia pun memejamkan mata nya, menarik napas dan membuang nya berlahan, mencoba menenangkan hati nya, agar suara nya tidak terdengar sedang menangis.


"Hallo, Assalamualaikum bunda.."Ucap Amanda, berusaha setenang mungkin.


"Waalaikumsalam, Manda apa kamu baik-baik saja .??"Terdengar kekhawatiran di suara bunda.


"Manda baik-baik saja bun, maaf tadi tidak pamit, karena.."Amanda tidak meneruskan kata-kata nya, dia bingung harus menjelaskan apa.


"Tidak perlu menjelaskan Manda, bunda mengerti."Jawab bunda.


"Terimakasih bunda.."Ucap Amanda, dengan buliran bening yang kembali mengalir.


"Ya sudah, bunda hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja."Ucap bunda lagi, di seberang sana.


Amanda, tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Dion, sudah bangun bunda .?"Tanya Amanda khawatir, karena Dion, di tinggal saat dia tertidur.


"Dion, masih tidur, kamu tidak perlu khawatir, nanti bunda yang memberitahu nya.."Ucap bunda, yang membuat Amanda bernapas lega.


"Terimakasih bunda.."


"Sama-sama sayang, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.."


Amanda menghela napas, saat telepon sudah tertutup.


Amanda kembali merebahkan diri, dan mencoba memejamkan mata nya, dan dia pun terlelap.


**********


Tok..tok..


"Nyonya Amanda..".


Sebuah ketukan dan panggilan, menyadarkan Amanda dari tidur nya.


Dia pun terperanjat kaget, apa lagi jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dia mengucek mata nya untuk memastikan nya kembali, ternyata benar waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.


Tok..tok.


"Nyonya Amanda."


Kembali ketukan pintu, dan panggilan mengagetkan Amanda.


Amanda pun, segera beranjak dari tempat tidur nya, menuju pintu kamar dan segera membuka nya.


"Bu Darmi.."Panggil Amanda dengan suara serak.


Bi Darmi terpaku sesaat menatap wajah Amanda.


"Maaf nyonya, mau mengingatkan jika waktu makan malam hampir tiba, dan seperti nya, nyonya sudah melewatkan waktu makan siang.."Ucap bi Darmi, dengan wajah penuh tanya menatap Amanda.


Amanda pun tersadar, jika dia belum makan dari siang.


"Terimakasih bu, saya mau mandi dulu.."Jawab Amanda.


"Baik nyonya.."Bi Darmi pun mengangguk hormat, sambil berlalu dari Amanda.


Amanda pun segera membersihkan diri, dia menatap wajah nya di cermin, terlihat bawah mata nya yang bengkak, karena terlalu banyak menangis.


Sambil menghela napas, Amanda membubuhkan sedikit foundation, untuk menyamarkan bengkak nya.


Setelah semua selesai, Amanda pun bersiap untuk turun makan malam.


Dengan langkah sedikit malas, Amanda menuruni lift menuju ruang makan.


Deg ..


Saat sampai di meja makan, dua pasang mata sedang menatap nya tajam, seperti sedang menguliti nya.


***************


"Siapa kah dua pasang mata itu..??"


Apa yang menyebabkan Amanda, tidak bisa meninggalkan Zaidan .??


Temui jawaban nya, dan tunggu up selanjutnya.


Jangan lupa tinggalkan jejak 😊🙏


__ADS_1


__ADS_2