
Bab 36
"Penyesalan Zaidan"
Suara gedoran pintu yang begitu keras, membangunkan Amanda dari alam mimpi nya.
Berlahan Amanda mengerjapkan mata nya, obat yang di minum nya semalam membuat nya terlelap begitu nyenyak. Dia memicingkan mata nya, menatap jam dinding yang berada di dinding kamar nya.
Amanda mengucek mata nya, menatap tak percaya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Ya ampun, kenapa aku bisa kesiangan seperti ini..??"Amanda terkejut, dan segera berlonjak dari tempat tidur nya, berniat langsung ke kamar mandi.
Tapi gedoran keras di pintu kamar nya kembali terdengar, membuat dia mengurungkan niat nya.
"Siapa sie, ketuk pintu sekeras itu..??"Gerutu Amanda, sambil berjalan malas ke arah pintu.
Amanda terperanjat kaget, saat pintu terbuka, tampak Devina sudah berdiri di depan pintu, dengan wajah masamnya, dan tatapan sinis ke arah Amanda.
"Bagaimana, kamu bisa mengambil hati Zaidan ku, jika kebiasaan buruk mu seperti ini.??."Tanya Devina, dengan wajah dan senyum terlihat merendahkan.
"Maaf, semalam aku minum obat sakit kepala, jadi aku terlambat bangun.."Jawab Amanda, dengan suara serak, dan wajah bantal nya.
Devina, mendorong kasar tubuh Amanda untuk masuk kembali ke dalam kamar nya.
Dan dengan kasar juga, Devina menarik tangan Amanda, untuk menghadap cermin.
"Coba kamu lihat wajah mu, tak ada menarik nya.."Hardik Devina, menatap wajah Amanda di cermin, dengan senyum smirk nya.
Amanda menghela napas.
"Sudah lah kak, aku tidak mau ribut di pagi hari ini. Apa pun penampilan ku, dan bagaimana pun perlakuan mas Zaidan, aku tidak pernah peduli, karena.."Jawab Amanda malas, dan terlihat ragu menerus kan kata-kata nya.
"Karena apa, hah..??!"Teriak Devina, sambil membalikkan tubuh Amanda dengan kasar, untuk menghadap nya.
"Wanita cantik, berpendidikan dan terhormat seperti kakak, tidak pantas berlaku dan bertingkah kasar seperti ini..!!"Amanda berkata, sambil menghempas kasar tangan Devina dari pundak nya.
"Kamu.!!"Terlihat tangan kanan Devina, yang akan melayang ke wajah Amanda.
"Apa, yang kalian lakukan.??"Suara bariton, tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Zay.."Ucap Devina gugup, sambil menurunkan kembali tangan nya.
Zaidan menatap tajam Devina, kemudian menatap Amanda dengan wajah memerah.
"Kamu, baru bangun tidur..??"Tanya Zaidan dingin, sambil memindai Amanda dari ujung rambut, sampai ujung kepala.
"M..maafkan aku mas, semalam aku minum obat sakit kepala, jadi aku terlambat bangun.."Jawab Amanda lirih, sambil menundukkan wajah nya.
Dia merasa risih, karena Zaidan melihat nya dalam keadaan berantakan seperti ini.
Bagaimana pun Zaidan adalah suami nya, dan nama nya juga sudah terpatri di hati Amanda. Walaupun Amanda sadar jika Zaidan bukan untuk nya.
__ADS_1
"Kamu, sakit..??"Tanya Zaidan, sambil memicingkan mata nya.
"Zay."Protes Devina, dengan wajah cemberut.
Zaidan menarik napas kasar.
"Rapikan diri mu, ada anak kecil yang memaksa ingin bertemu dengan mu.."Zaidan berkata, dengan suara dingin, dan langsung melangkah keluar dari kamar Amanda.
Devina pun mengikuti langkah Zaidan, sambil melirik Amanda dengan tatapan sinis dan jijik.
Amanda terhenyak dan tertegun.
"Ada anak kecil yang memaksa ingin bertemu dengan ku..??"Apakah yang di maksud Dion..??"Tanya Amanda dalam hati.
Dia bergegas ke kamar mandi, untuk bersih-bersih secara kilat.
Dengan kecepatan tinggi, Amanda pun sudah terlihat rapi.
"Tidak, seburuk tadi."Gumam Amanda sambil tersenyum, menatap pantulan diri nya di depan cermin.
Dia pun, segera melangkah kan kaki nya ke ruang tamu.
Saat sudah sampai di ruang tamu.
"Mamah.."Teriak bocah laki-laki yang tak lain adalah Dion, yang langsung berlari memeluk Amanda.
Teriakan Dion, yang memanggil Amanda mamah, mengejutkan mereka.
"Mamah, Dion kangen sama mamah.."Kenapa kemarin, saat Dion tidur, mamah pergi meninggalkan Dion..?"Rajuk Dion, sambil semakin mengeratkan pelukan nya.
Amanda pun berjongkok, mensejajarkan tinggi badan nya dengan Dion.
"Maaf kan mamah sayang, kemarin mamah ada urusan tiba-tiba, jadi harus pergi.."Jawab Amanda lembut, sambil menggenggam kedua jemari tangan Dion.
"Kenapa, tidak membangunkan Dion..??"Tanya Dion, dengan wajah sedih.
Amanda tersenyum, sambil memegang wajah Dion.
"Karena Dion tidur nya pulas banget, mamah jadi tidak tega buat bangunin Dion.."Jawab Amanda lagi, sambil mengelus lembut wajah Dion, yang terlihat murung.
"Dion, mimpi sedang di peluk mamah, tapi tiba-tiba mamah pergi ninggalin Dion, saat Dion bangun ternyata mamah sudah tidak ada di samping Dion, kata papah, mamah sudah pergi.."Ucap Dion, dengan wajah menunduk, dan mata berkaca-kaca.
"Hai, jagoan tidak boleh cengeng, coba kamu tatap mamah."Amanda mengangkat wajah Dion.
Dengan senyuman dan tatapan hangat, Amanda juga berkata..
"Mamah sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Dion, jadi Dion tidak perlu takut.."
"Benar mah..??"Tanya Dion, dengan kebahagiaan yang terlihat berbinar di wajah dan mata nya.
Amanda mengangguk dan tersenyum. Dion pun langsung memeluk Amanda.
__ADS_1
"Dion, sayang mamah.."
"Mamah juga sayang Dion.."Ucap Amanda, sambil mengelus lembut punggung Dion, dan mencium hangat puncak kepala Dion.
Terlihat kegusaran di wajah Zaidan, entah lah, Zaidan tidak menyukai tingkah Dion yang sangat manja dengan Amanda.
Devina tersenyum bahagia, karena peluang nya untuk menyingkirkan Amanda, sangat lah besar.
"Kamu lihat Amanda, aku akan membuat mu meninggalkan Zaidan ku dengan sendirinya.."Ucap Devina dalam hati, sambil menggenggam lembut jemari Zaidan.
Zaidan, berusaha tersenyum membalas tatapan Devina, perasaan nya seperti tidak rela dengan kedekatan Amanda dan Dion. Akan tetapi yang sebenarnya membuat nya tidak rela, adalah sosok Doni yang berada di antara Amanda dan Dion.
Zaidan menatap tajam Doni, begitu juga Doni. Mereka saling menatap, terlihat ketidaksukaan di antara kedua nya.
"Bisa, kita bicara hanya berdua saja tuan Doni.."Ucap Zaidan tiba-tiba, yang membuat mereka terkejut.
Amanda bersama Dion, yang sudah duduk di antara mereka, menatap aneh ke arah Zaidan.
"Baik, tuan Zaidan ."Jawab Doni, sambil mengangguk.
Tanpa menjawab dan berkata apa pun, Zaidan pun langsung bangkit dari duduk nya, dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Aku titip Dion dulu ya Manda.."Doni berkata, saat ingin melangkah menyusul Zaidan.
Amanda mengangguk, dengan ekspresi wajah yang masih kebingungan.
"Jangan pernah mimpi, untuk di cintai Zaidan ku.!!"Devina berkata, dengan penuh penekanan, saat hanya tinggal mereka berdua dan Dion di ruang tamu.
"Aku, tidak pernah mengharapkan mas Zaidan."Jawab Amanda, yang tampak mulai risih dengan ancaman Devina.
"Bagus, seperti nya kalian memang pantas untuk jadi ibu dan anak.."Devina kembali betkata dengan senyum mengejek nya, menatap Amanda dan Dion.
"Pasti tante, mamah dan papah akan segera menikah, dan Dion setiap hari bisa bertemu mamah.."Dion menjawab pertanyaan Devina, sambil kembali memeluk Amanda.
Devina mendengus kesal, sambil bangkit dari duduk nya, meninggalkan Amanda dan Dion.
Amanda tersenyum, sambil mengelus lembut rambut Dion.
Sementara itu, di sebuah taman..
"Lepas kan dia, kembali kan dia kepada ku..!!!"
************
Gantung ah, biar semakin kepo 😁😁.
Jangan lupa, kalau mampir minta dukungan nya. untuk vote, like dan komen
Jangan lupa hadiah nya 🥰🙏.
__ADS_1