Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Bab 64


"Penyesalan Zaidan"


Zaidan hanya diam membisu, menatap hamparan padang rumput di depannya. Matanya menatap lurus ke depan.


Udara segar menyelinap masuk ke hidungnya, dia menghirup oksigen yang tidak terkontaminasi itu dalam-dalam. Memberikan kesejukan di rongga dada dan hatinya yang selama ini, mengalami sesak dan kepedihan.


"Sepertinya, loe akan menetap di desa ini, dan meninggalkan semua fasilitas dan perusahaan keluarga Radthya."Suara bariton, membuyarkan lamunannya. Sesosok lelaki yang tidak asing, sudah duduk di sampingnya, ikut menatap hamparan rumput yang membentang luas di hadapan mereka.


Zaidan menoleh dan mendengus kesal, saat tahu siapa sesosok lelaki yang sedang berada di sampingnya.


"Ada perlu apa loe kesini.??"Tanya Zaidan ketus, dengan kembali menatap lurus ke depan.


"Apa tidak ada kata-kata yang lebih sopan, untuk menyambut kedatangan saudara laki-laki loe ini.??"Lelaki itu balik bertanya, dengan menyunggingkan seulas senyuman.


Zaidan tidak menjawab, dia hendak bangkit dari duduknya. Akan tetapi, tangan lelaki itu menahan lengan Zaidan.


"Kita harus bicara brother, jangan sampai kesalahpahaman membuat loe menyesal seumur hidup."Lelaki itu berkata, dengan tatapan berharap pengertian dari Zaidan.


"Gw sudah tidak mau membahas luka lama ini lagi.!! Gw kesini untuk menenangkan diri, kehadiran loe merusak mood gw.!!"Ucap Zaidan kesal, dia segera bangkit dari duduknya. Namun, ketika dia berbalik, sesosok wanita setengah baya, dengan sepasang mata teduh, sedang menatapnya sendu dengan sebuah senyum di bibirnya.


"Apa tujuan kalian kesini.??"Tanya Zaidan sinis, dengan menatap bergantian dua sosok yang sangat di bencinya.


"Zaidan, ada banyak rahasia yang belum kamu ketahui nak, berilah kesempatan mamah untuk menjelaskan semuanya."Ucap wanita setengah baya itu lirih.


"Sudah ku bilang, mamahku sudah meninggal karena ulah Lion biad*b itu.!!" Tampak wajah Zaidan mulai memerah, dia teringat kembali saat jasad kedua orangtuanya di semayamkan.


Wanita yang tak lain adalah Mira, tampak menunduk sedih, mencoba menahan air matanya.


"Zaidan, kenapa sie loe, selalu bersikap kasar dengan wanita yang sudah melahirkan loe.??" Lelaki itu menghampiri Mira, memeluknya dan mencoba menenangkannya.


"Akhhh.." Teriak Zaidan kesal, dan segera pergi meninggalkan mereka. Masuk ke rumah sederhana, yang berada di dekat mereka.


Sesosok laki-laki yang tak lain adalah dokter Arya, ingin mengejar Zaidan.


"Tak perlu di kejar nak, biarkan saja."Mira berkata, sambil menahan lengan dokter Arya.


"Nyonya Ariani bukan ibu kandungmu tuan Zaidan."Sebuah suara menghentikannya langkah Zaidan.


"Mbah Uri." Zaidan menatap ke arah wanita yang terlihat sudah sepuh.


"Duduklah nak." Mbah Uri menepuk kursi kayu yang berada di ruang tengah.


"Mbah memang sudah tua, tetapi ingatan mbah masih bagus nak." Mbah Uri berkata, sambil menatap lekat Zaidan.

__ADS_1


Zaidan menghela napas, usia mbah Uri di atas almarhum kakek Radthya Purnama, dia bekerja di keluarga besar Radthya saat usianya masih 12 tahun, bahkan dia ikut mengasuh almarhum sang kakek, yang saat itu berusia lima tahun.


Mbah Uri berhenti bekerja, saat Zaidan berusia enam tahun, dengan alasan ingin menikmati masa tua di kampung. Walaupun mbah Uri sudah berhenti bekerja, tapi almarhum sang kakek selalu mengajak Zaidan kecil sampai remaja, selalu menghabiskan waktu libur di kampung mbah Uri.


Zaidan sengaja menginap di kampung si mbah, untuk menenangkan diri. Kematian Devina dan Baskoro, Irma yang mengalami depresi berat, sehingga harus di rawat di rumah sakit jiwa. Belum lagi dia harus menerima kenyataan, jika sudah ada seseorang di samping Amanda.


Zaidan membuang napas kasar, mengusap wajahnya. Hampir seminggu dia berusaha menenangkan diri, sekaligus melupakan Amanda. Namun, semua terasa sangat berat. Semakin dia mencoba melupakannya, tetapi ingatannya semakin kuat, apalagi saat teringat kejadian terakhir kali di kamar penyiksaan.


"Nak Zaidan."


Panggilan si mbah membuyarkan lamunan Zaidan.


"I-iya mbah." Jawab Zaidan kaget, sambil memijit pelipisnya.


Mbah Uri tersenyum melihat Zaidan.


"Apa kamu siap, mendengar kenyataan sebenarnya nak.??"Tanya mbah Uri, dengan terus tersenyum menatap Zaidan.


"Sudah banyak kenyataan pahit dalam hidupku, ceritalah mbah."Zaidan berkata, sambil terus memijit pelipisnya. Menyiapkan hatinya untuk mendengarkan sebuah kenyataan yang sudah di ketahuinya, tetapi dia selalu mencoba untuk tidak mempercayai kenyataan itu.


Zaidan mengetahui semuanya. Namun, rasa sakit dan kecewa membuatnya menutup mata dan telinga.


Mbah Uri menghela napas.


"Nyonya Mira itu benar ibu kandungmu nak, justru nyonya Ariani bersama ayahmu yang sudah mengambil paksa kamu dari tangan nyonya Mira."Mbah Uri berkata, sambil duduk di samping Zaidan.


Perkataan Zaidan, membuat kaget dokter Arya dan Mira yang sedang menguping pembicaraan mereka. Air mata langsung membasahi wajahnya, dia tidak menyangka jika putra yang sangat di rindukannya, ternyata sudah mengetahui jika dia adalah ibu kandungnya.


"Kenapa sikapmu sangat sinis, acuh dan dingin nak."Ucap Mira dalam hati. Dia merasakan sesak di dadanya.


Dokter Arya mengelus lembut punggung Mira.


"Aku juga punya alasan yang kuat, kenapa menyangkal kenyataan jika dia adalah mamahku."Ucap Zaidan lagi.


Mira yang sudah tidak tahan, langsung menghampiri mereka, walaupun dokter Arya sudah berusaha menahannya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Zaidan.??Apa kamu tidak merasakan betapa tersiksanya aku merindukanmu nak.?!!" Ucap Mira, yang membuat Zaidan dan mbah Uri terkejut.


Zaidan langsung bangkit dari duduknya, menatap nanar ke arah Mira.


"Apa aku tidak layak untuk menjadi mamahmu, nak.??"Ucap Mira lagi, sambil menangis lirih.


"Kamu wanita sempurna sebagai mamah, dari kecil aku menahan perasaan ini, karena.." Zaidan tidak meneruskan ucapannya.


"Karena apa nak.?? Katakan kepada mamah, Apa almarhum ayahmu melarangmu.??"Tanya Mira, menatap nanar Zaidan.

__ADS_1


Zaidan diam sesaat, dia teringat dengan apa yang di dengarnya puluhan tahun yang lalu, saat dia melihat banyak orang yang datang ke rumah kakeknya, dan tubuh almarhum papah dan mamah Ariani, terbujur kaku di ruang tengah.


"Kecelakaan yang terjadi dengan papah dan nyonya Ariani, semua adalah ulah Lion."Jawab Zaidan, yang membuat dokter Arya, Mira dan mbah Uri terkejut.


"A-apa kamu menganggap jika mamah ikut terlibat dalam kecelakaan itu.??"Tanya Mira, semakin terisak.


Zaidan menggelengkan kepalanya.


"Lion akan melaporkanmu dan menjadikanmu tersangka, jika kasus kecelakaan ini di selidiki."Jawab Zaidan lirih.


Mereka kembali terkejut dengan ucapan Zaidan.


"Aku sudah tahu jika kamu mamah kandungku, saat papah dan mamah Ariani sedang bertengkar."


Semua semakin terkejut.


"Semua aku simpan, dan kakek juga berpesan untuk aku bertahan, demi masa depanku dan mempertahankan harta warisan keluarga Raditya agar tidak jatuh ke tangan Lion dan Dave." Ucap Zaidan, matanya menerawang mengingat almarhum sang kakek.


"Aku tidak bisa bertahan dengan semuanya, apalagi kakek tidak menyukai hubunganku dengan Devina, karena kesal, akhirnya aku menerima beasiswa ke London. Membuktikan kepada kakek, jika aku bisa berhasil meraih gelar dan pendidikan tanpa bantuan dari harta kakek."Ucap Zaidan lagi, sambil menghela napas.


"Aku terlena dengan kehidupan di sana, sehingga tidak mempedulikan saat kakek memintaku untuk kembali, bahkan aku juga mengabaikan Devina, sehingga dia harus mengandung anak Dave sia*an itu.!!"Zaidan berkata dengan hati bercampur aduk, antara penyesalan dan kemarahan.


"Zaidan, sekarang di depanmu sudah ada seseorang yang sudah bertaruh nyawa melahirkanmu. Jangan sampai penyesalan itu datang kembali."Ucap mbah Uri, sambil memegang pundak Zaidan.


Zaidan diam sesaat, menatap Mira yang sedang menangis dalam pelukan dokter Arya.


"Boleh aku memelukmu dan memanggilmu mamah.??"Zaidan berkata, menatap Mira dengan penuh permohonan.


Mira pun menghentikan tangisnya, dia menatap Zaidan tak percaya, yang di balas dengan sebuah senyuman.


Dokter Arya tersenyum dan mengangguk, sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Mira, memberikan kesempatan Zaidan untuk memberikan pelukan, kepada wanita yang sudah melahirkan mereka.


"Z.. Zaidan anakku."Panggil Mira dengan suara bergetar, sambil merentangkan kedua tangannya.


"Mamah."Zaidan melangkah pasti mendekati Mira, dan langsung memeluknya.


Mereka berpelukan begitu erat, pelukan yang berpuluh tahun di nantikan mereka.


**************


Maaf ya baru up.


Bab ini menceritakan tentang masa lalu yang penuh rahasia, akan ada rahasia lainnya di bab berikutnya. Dan pastinya akan di warnai dengan perjalanan cinta Zaidan dan Amanda.


Sambil menunggu up bab selanjutnya, melimpir dulu dong ke novel aurhor lainnya👇

__ADS_1




__ADS_2