Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Pencarian Devina


__ADS_3

Bab 55


"Penyesalan Zaidan "


"Akhhhh.."


Devina merasakan kesakitan yang teramat sangat di perutnya, melebihi kesakitan camb*kan di punggungnya.


Perutnya terasa bagaikan di remas-remas, begitu menyakitkan dan menyiksa. Sampai akhirnya dia merasakan sesuatu yang hangat memaksa keluar dari rahimnya. Devinapun langsung tak sadarkan diri.


Senyum puas tersungging di bibir Dave, saat menyaksikan jika janin dari Zaidan sudah keluar dari rahim Devina. Tapi, tiba-tiba dia merasakan kesedihan yang teramat sangat saat melihat keadaan Devina yang mengenaskan.


Dave segera membuka pintu, dan langsung berteriak.


"Cepat tolong Devinaku..!! Dia bisa kehabisan darah.!!"Teriak Dave panik, dengan wajah penuh kekhawatiran.


Wanita berjas putih itu pun, langsung masuk ke dalam kamar di ikuti oleh satu asisten wanitanya, dan segera masuk mengecek keadaan Devina.


"Kamu keterlaluan Dave, untung dia masih hidup..!!"Dengus wanita berjas putih itu.


"Jangan berisik Anita, kamu di bayar untuk tugas-tugas seperti ini..!!'Bentak Dave frustasi.


"Tapi, ini membahayakan nyawanya, kamu bisa membunuhnya..!!"Jawab wanita berjas putih yang bernama Anita.


"Kenapa, kalian senang sekali menyiksa wanita-wanita yang kalian cintai..??"Tanya Anita dengan wajah kesal, sambil fokus melakukan pertolongan pada Devina.


Dave tidak menjawab, dia menarik frustasi rambutnya. Dokter Anita hanya menghela napas, dan menggelengkan kepalanya, saat sekilas menatap Dave dan kembali fokus mengobati Devina.


"Kenapa, aku harus terlibat dengan lelaki psikopat seperti mereka.??"Ucap Anita dalam hati, ada kepedihan di hatinya, saat dia harus menolong dan mengobati wanita-wanita yang menjadi korban dari Dave, Lion dan Baron.


Seandainya waktu bisa di putar, ingin sekali dokter Anita tidak berjumpa dengan mereka.


"Arya, seandainya kamu tahu apa yang terjadi kepada ku.."Ucap dokter Anita dalam hati, sambil menarik napas kasar. Dan tetap fokus pada tubuh Devina yang mengenaskan.


Hampir satu jam, dokter Anita memberikan pengobatan kepada Devina.


"Jika dalam waktu tiga jam dia tidak sadar, kamu harus membawanya ke rumah sakit. Kalau kamu menginginkannya tetap hidup.."Ucap dokter Anita, menatap tajam Dave.


Dave hanya menghela napas, dan mengusap kasar wajahnya.


"Dave, sebagai orang yang peduli dengan mu, aku tidak akan pernah bosan mengingatkanmu. Kamu butuh Psikiater Dave, jangan sampai terlambat apalagi menyesal.."Dokter Anita berkata, sambil menepuk pelan pundak Dave, dan melangkah keluar.


Dave tidak menjawab, dia melangkah mendekati Devina, menatap nanar dan mengelus wajah Devina yang pucat pasi.


"Maafkan aku sayang, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Zaidan..??" Dave bertanya dengan suara lirih, dan terdengar isak tangisnya.


********************


Sementara itu di kantor Radthya Angkasa, Zaidan baru saja selesai meeting. Dia pun teringat dengan Devina.


Zaidan langsung membuka ponselnya, dan tersenyum saat melihat pesan suara dari Devina. Seketika wajah Zaidan berubah menjadi cemas, saat mendengar rekaman suara itu. Dia pun segera menghubungi ponsel Devina, tapi tidak aktif.


Kekhawatiran Zaidan semakin bertambah, saat melihat banyak panggilan dan pesan masuk dari Ria.


Zaidan pun segera menghubungi Ria.


"Hallo Ri, apa Devina bersama loe..??" Zaidan langsung bertanya, saat panggilan terhubung.


"Justru gw nunggu Devina hampir tiga jam. Gw telpon hp nya ga aktif, gw telpon loe juga ga di angkat-angkat."

__ADS_1


"Gw dapat pesan suara, percakapan Devina dengan supir taxi."


Penjelasan Ria, membuat jantung Zaidan semakin berdegup kencang, dia yakin jika ada sesuatu yang terjadi kepada Devina.


"Gw juga dapat pesan suara, percakapan Devina dengan supir taxi."


"Kalau begitu, kita langsung lapor polisi saja, karena pesan suara di ponsel kita menjadi barang bukti."Saran Ria.


"Oke Ri, gw juga meminta anak buah gw buat mencari Devina. Dan gw juga meminta IT untuk mengecek keberadaan ponsel Devina."


"Kita bertemu di kantor polisi."


"Oke, gw sekarang langsung meluncur kesana.."


"Terimakasih Ri."


"Sama-sama Zaidan."


Zaidan menutup ponselnya, dan segera berlari keluar dari kantornya.


Dengan kecepatan tinggi, dia melajukan mobilnya, bahkan dia sampai menerobos lampu merah, sehingga membuat pengendara lain melemparkan umpatannya.


Sesampainya di kantor polisi, Zaidan langsung membuat laporan penculikan beserta buktinya. Tak lama Ria pun sampai di kantor polisi, dan memberikan bukti rekamannya juga.


Zaidan segera menghubungi kedua orang tua Devina. Dan tak lama, Baskoro dan Irma dengan tergopoh-gopoh menemui Zaidan.


"Nak Zaidan, apa yang terjadi..?? Kenapa Devina bisa menghilang.?"Tanya Irma dengan wajah panik. Air mata sudah membasahi pipinya.


"Mah, tenang dulu."Baskoro mengelus pundak Irma, mencoba menenangkannya.


"Maafkan Zaidan mah, pah.."Zaidan berkata, sambil menceritakan kronologi hilangnya Devina.


"Maafkan saya juga om, tante, kalau saja saya tidak mengajak Devina janjian mungkin tidak seperti ini kejadiannya.." Ria berkata, sambil menundukkan wajahnya.


"Sudahlah, jangan menyalahkan diri kalian. Kita pikirkan bagaimana cara menemukan Devina."Ucap Baskoro sambil menghela napas.


Zaidan segera mengambil ponselnya, saat terdengar panggilan masuk.


"Hallo."


"Kalian sudah menemukan titiknya."


"Oke, lacak dan pantau terus."


"Aku akan segera kesana."


Zaidan menutup ponselnya."


"Bagaimana Zaidan.?"Tanya Baskoro, menatap nanar Zaidan.


"Mereka sudah menemukan titik dimana Devina menghilang, aku akan segera kesana pah."Jawab Zaidan, dengan jantung berdegup kencang. Berharap Devina dan janinnya baik-baik saja, karena dia sangat tahu seperti apa sepak terjang pemilik rumah, tempat Devina berada sekarang.


"Baron, apa tujuannya menculik Devina.?? Aku tidak pernah ada urusan dengannya."Tanya Zaidan dalam hati.


"Papah ikut nak."Ucap Baskoro.


"Mamah juga ikut."Ucap Irma, dengan suara bergetar.


"Maaf pah, mah, lebih baik kalian menunggu saja, karena tempat Devima di culik sangat berbahaya. Biarkan kami dan para petugas polisi yang mengatasinya."Jawab Zaidan, menatap bergantian Baskoro dan Irma.

__ADS_1


"Baiklah nak, hati-hatilah, bawa Devina dan calon cucu kami dengan selamat."Baskoro berkata, dengan wajah sendu. Sementara Irma, semakin terisak di pelukan suaminya.


"Papah dan mamah tenang saja, Zaidan janji akan membawa pulang istri dan calon anakku pulang dengan selamat."Ucap Zaidan sambil mengangguk dan tersenyum.


"Ria, gw titip mereka."Ucap Zaidan lagi, sambil menepuk pelan pundak Ria.


"Jangan khawatir gw akan menjaga mereka, pergilah dan bawa sahabat dan calon keponakan gw dengan selamat."Jawab Ria sambil tersenyum.


Zaidan kembali tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah seribu dia pun segera melangkah pergi.


*************


Devina membuka matanya, rasa sakit di perut dan punggungnya sangat terasa, membuatnya meringis kesakitan.


"Sayang, kamu sudah sadar.??"Tanya Dave sambil mengelus lembut rambut Devina.


"Masih sakit sayang.?"Tanya Dave lagi, saat melihat wajah Devina yang terlihat meringis menahan sakit.


Devina yang teringat dengan kejadian yang baru saja menimpanya, berusaha bangkit dari tidurnya. Dan menepis kasar tangan Dave.


"Pelan-pelan sayang, nanti infusnya bisa terlepas."Ucap Dave, dengan wajah cemas. Sambil memegang lembut lengan Devina.


"Jangan sentuh aku, baj*ngan.!!"Bentak Devina kasar, dan menyingkirkan tangan Dave dari lengannya.


"Kenapa, kamu tidak membun*hku saja.!!"Bentak Devina lagi dengan wajah memerah. Dia pun teringat dengan janinnya. Segera dia meraba perutnya yang sudah rata kembali.


"Tidakkkkk.!!!"Teriak Devina histeris, dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.


"Sayang, tenangkan dirimu, aku akan menumbuhkan kembali janin di rahimmu, dan kita akan hidup bahagia sayang."Dave berkata, sambil memeluk Devina.


Seketika, tangisan Devina berhenti mendengar perkataan Dave. Dengan kasar dan sekuat tenaga, dia mendorong Dave dan..


Plakkk.....


Sebuah tamparan kencang mendarat di wajah Dave.


"Apa kamu bilang?? memberikan aku janin?? kamu pikir aku sudi memberikan tubuhku kembali kepadamu?? jangan mimpi Dave!! lebih baik aku mati, dari pada hidup bersamamu. Apa lagi mengandung benihmu kembali.!!"Ucap Devina, dengan wajah memerah penuh amarah, dan menatap nyalang Dave.


Perkataan Devina, bagaikan belati yang menghunjam jantung Dave. Dengan terbakar amarah dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Devina.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Zaidan sia*an itu juga tidak bisa memilikimu.!!"Ucap Dave, sambil kedua tangannya menyentuh leher Devina.


Devina memejamkan mata, pasrah dengan apa yang Dave lakukan, lebih baik dia mati, dari pada harus hidup bersama Dave kembali. Dan kehilangan Zaidan.


Saat Dave mulai berniat untuk mencek*k Devina, tiba-tiba pintu terbuka.


****************


Bagaimana nasib Devina selanjutnya??


Dapatkah Zaidan menyelamatkan Devina.


Bab selanjutnya akan author tulis, saat ada waktu senggang.


Sambil menunggu up, kalian bisa mampir ke novel author lainnya 🙏🙏



__ADS_1


__ADS_2