Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Bangunlah, Aku Akan Selalu Berada Di Samping mu


__ADS_3

Bab 46


"Penyesalan Zaidan "


Di sebuah cafe, tampak seorang laki-laki duduk dengan gelisah, sesekali dia melirik jam tangan branded yang berada di pegelengan tangannya.


Dia kembali menyentuh layar biru di ponselnya, lagi-lagi nomor yang di tuju tidak bisa di hubungi.


Laki-laki itu menarik napas kasar, terdengar dengusan kesal dari napasnya.


Saat dia akan melangkah pergi, tampak seorang wanita yang di tunggunya, melangkah masuk ke dalam Cafe.


Wanita itu hanya tersenyum, melihat kekesalan yang sangat tampak di wajah lelaki itu.


"Kenapa lama sekali.?"Tanya lelaki itu, saat sosok wanita itu berada di hadapannya, sambil kembali mendengus kesal.


"Aku ini, wanita yang bersuami, tidak semudah dan seenaknya saja untuk keluar rumah, apalagi saat suami ku berada di rumah."Terdengar jawaban manja, dengan santai dan sambil tersenyum, dia duduk di hadapan lelaki itu.


Lelaki itu kembali duduk di kursinya, dengan menatap tajam wanita di hadapannya, yang sudah membuat nya seperti orang bo**h yang menunggu.


"Kenapa, kamu selalu membuatku menunggu..??"Tanya laki-laki itu, dengan suara dingin.


"Kamu tahu posisi ku."Wanita itu berkata, dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Apa rencanamu sekarang.?"Tanya laki-laki itu kembali dengan suara dingin.


"Aku akan menunggu kehancuran mereka, setelah itu aku akan hidup bahagia bersamanya."Tampak sebuah senyuman licik, tersungging di bibir sensualnya.


"Oke, kita masih dengan rencana awal."Ucap lelaki itu kembali, dengan menyunggingkan sebuah senyum liciknya.


"Minumlah, aku sudah pesan coffe latte kesukaanmu."Ucap lelaki itu menyodorkan secangkir coffe latte, dan dia pun menyesap secangkir kopi hitam ke mulutnya.


"Kamu, selalu ingat dengan apa yang aku suka."Wanita itu tersenyum dengan gaya menggoda, segera menyesap coffe latte itu.


"Aku sangat merindukanmu, apa kita bisa menikmatinya sekarang."Lelaki itu berkata, dengan sebuah tatapan penuh hasr*t, tampak di mata lelaki itu.


Wanita itu membalas, dengan senyuman penuh arti.


Sambil meletakkan cangkirnya, wanita itu berkata dengan gaya menggoda.


"Kita akan melakukannya dengan cepat, kamu mengerti khan..?"Ucap wanita itu, sambil mengedipkan matanya.


Sebuah senyuman dan tatapan penuh hasr*t kembali tampak di wajah nya.


Berlahan, lelaki itu bangkit dari duduknya. Dan wanita itupun ikut bangkit dari duduknya, dan segera mengikuti langkah lelaki itu meninggalkan caffe.


******************


Di sebuah ruangan yang pengap dan gelap gulita, Zaidan merasakan dadanya begitu sesak, kakinya terasa lunglai tak bertenaga.


Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Zaidan meraba-raba ruangan gelap itu, hening seperti tidak ada sebuah kehidupan.


Sekuat tenaga Zaidan berusaha untuk berdiri dan bergerak, dengan bersusah payah, dia berusaha untuk berteriak meminta tolong.


Berlahan, Zaidan mulai bisa mengeluarkan suaranya, walaupun terdengar lirih.


"To..tolong.."Suara yang sangat lirih, keluar dari tenggorokan Zaidan.


Berkali-kali, Zaidan terus berusaha minta tolong, sambil bergerak walaupun berkali-kali terjatuh.


Tiba-tiba, sebuah tawa menggelegar di ruangan sunyi itu.


"Berteriaklah kau Radthya Zaidan, tidak ada yang bisa menolongmu di sini.."Sebuah suara terdengar jelas di telinga Zaidan.


Suara yang tak asing di telinga Zaidan.


Di ruangan yang begitu gelap, Zaidan berusaha menajamkan penglihatannya. Samar-samar, dia melihat dua sosok laki-laki dan wanita, yang menatap penuh benci dan dendam ke arahnya.

__ADS_1


Bug..


Bug..


Bug..


Berkali-kali, pukulan di layangkan ke wajah dan tubuh Zaidan. membuat tubuh Zaidan semakin tak berdaya.


Terdengar suara tawa, yang kembali menggema dari mereka. Berlahan tawa itu menghilang, dengan tubuh Zaidan yang sudah tidak berdaya, bahkan kesadaran yang sudah hampir hilang.


Di tengah ketidakberdayaannya, antara sadar dan tidak. Tiba-tiba sebuah tangan yang begitu lembut menyentuh dan mencoba membangunkannya.


Zaidan mengerjapkan mata, sebuah sosok yang tidak asing, kini berada sangat dekat dengannya.


"Bangunlah, jamgan menyerah, aku akan selalu berada di samping mu."Suara lembut, yang tak asing di dengar Zaidan.


Sosok itu membantu Zaidan untuk bangkit.


Ingin sekali Zaidan membuka suaranya, hanya untuk bertanya. Tapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.


Sosok lembut itu, membawa Zaidan keluar dari ruangan yang begitu gelap dan sunyi.


"Tangan ini, pelukan ini begitu hangat."Batin Zaidan.


Sebuah kehangatan, ketenangan dan keberanian, tiba-tiba muncul di tubuh lemahnya, dan di hatinya yang sejak tadi terasa hampa.


Saat sudah berada di luar ruangan, cahaya bulan bersinar terang. Sehingga Zaidan bisa dengan jelas melihat keadaan sekitarnya.


Tangan lembut itu, masih melingkar hangat di pinggang Zaidan, bahkan tangan Zaidan masih melingkar di pundaknya.


Zaidan segera menoleh ke sosok itu, dan dia pun tersentak kaget, tidak percaya dengan sosok yang menolong dan memberikan semangat kembali dalam dirinya.


"Amanda..!!!"


Panggil Zaidan, sambil terbangun dari tidurnya. Tampak keringat membasahi dahinya.


"Kenapa, aku memimpinkannya.."Gumam Zaidan.


"Zay.."Sebuah panggilan lembut, menyadarkan Zaidan.


Tampak Devina yang tertidur pulas, sedang memeluk pinggang nya.


Zaidan tersenyum, dan mengelus lembut wajah Devina.


"Maafkan aku Vin, aku memimpikan wanita lain."Batin Zaidan, sambil mencium lembut kening Devina.


Dengan hati-hati, dia beranjak turun dari tempat tidur. Kemudian melangkah keluar dari kamar.


Tanpa di sadarinya, dia melangkah menuju kamar, yang pernah di tempati Amanda.


Saat sudah berada di dalam kamar, Zaidan hanya menatap nanar, melihat ke setiap sudut kamar. Semua yang di sediakannya untuk Amanda di kamar itu, masih begitu lengkap, tidak ada satupun yang kurang.


Zaidan menghela napas.


"Ternyata, kamu pergi hanya membawa diri Amanda."Rasa sedih dan kehilangan menyelimuti hati Zaidan.


Zaidan melangkah ke tempat tidur, duduk di tepi nya, dan mengelus lembut kasur empuk itu.


"Seharusnya, kita melewati malam-malam indah bersama Amanda."Ucap Zaidan lirih, tidak terasa matanya mulai menghangat.


"Ada apa dengan ku.?"Kejadian di kamar penyiksaan itu, membuat aku selalu di hantui bayang-bayang mu."


"Dimana, kamu sekarang Amanda.?"


"Apa kamu baik-baik saja..?"


Berbagai pertanyaan berputar di kepala Zaidan.

__ADS_1


Dia mengambil ponselnya, saat mendapatkan nama Amanda, dia berniat untuk menelpon atau mengirim pesan. Tapi, di urungkannya.


"Arya pasti membawa Amanda ke panti."


"Besok pagi, aku akan ke panti. Dan kita akan bertemu Amanda."


Sebuah senyum mengembang di bibir Zaidan. Dia pun membaringkan tubuhnya, merasakan seolah-olah Amanda sedang berada di sampingnya.


Tanpa di sadari Zaidan, ternyata Devina mengetahui apa yang di pikirkan dan di lakukan Zaidan.


"Aku, tidak akan membiarkan wanita itu mengisi seluruh relung hati mu Zay."Devina menggeram penuh amarah, dengan tangan yang mengusap kasar air matanya.


*****************


Pagi-pagi sekali, tanpa sarapan. Zaidan langsung berangkat, dan segera melajukan mobilnya menuju panti asuhan.


Dia tidak mau terlambat, takut jika Amanda sudah berangkat mengajar.


Zaidan sempat membeli beberapa makanan, untuk di berikan kepada bunda dan anak-anak panti.


Karena masih sangat pagi, jalanan begitu lancar. Sehingga, tidak membutuhkan waktu lama untuk Zaidan tiba di panti.


Zaidan segera memarkirkan mobilnya, kedatangannya di sambut dengan sorak gembira oleh anak-anak panti. Begitu juga dengan bunda yang menyambutnya dengan senyum hangat.


Zaidan, segera memberikan makanan kepada anak-anak panti.


"Assalamualaikum bunda, masih ingat dengan saya."Zaidan berkata sambil mencium punggung tangan bunda, dan memberikan makanan yang di belikannya khusus untuk bunda.


"Waalaikumsalam, tentu saja, kamu itu nak Zaidan suami dari Amanda."Jawab bunda lembut, dengan senyum hangatnya.


Zaidan terpaku, mendengar perkataan bunda.


"Apa, Amanda belum mengatakan apa-apa tentang pernikahan kami."Batin Zaidan.


"Kak Zaidan, kak Amandanya mana.??"Sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh salah satu anak panti, yang bernama Aisyah.


Zaidan langsung tersentak kaget, mendengar pertanyaan Aisyah.


Bunda menatap heran, melihat perubahan wajah Zaidan.


"Apa kalian sedang bertengkar.?"Tanya bunda lembut, dengan wajah penuh selidik.


"Apa, Amanda tidak pulang kesini bun.?"Zaidan balik bertanya.


Pertanyaan Zaidan membuat bunda kaget, dia menggeleng lemah dengan wajah khawatir.


***************


Siapa dua sosok yang berada di Cafe..??


Mampukah, Amanda menjadi penolong Zaidan..??"


Apa yang akan di lakukan Devina, untuk mempertahankan Zaidan.?"


Apakah, Amanda sudah bertahta di hati Zaidan.??


Dan dapatkah Zaidan, menemukan keberadaan Amanda..??


Ikuti kisah seru, yang penuh dengan kejutan.


Maafkan diriku yang baru up πŸ™πŸ™


Jangan lupa melimpir ke karya ku yang sudah tamatπŸ‘‡πŸ‘‡



__ADS_1


__ADS_2