Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kenyataan


__ADS_3

Bab 60


"Penyesalan Zaidan"


Perkataan Irma menyadarkan Zaidan. Dia pun segera melangkah cepat, menyusul para perawat yang sedang mendorong hospital bed, membawa tubuh Devina menuju ambulance.


Amanda tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia pun hendak mengejar Zaidan, tapi lengannya di tahan kuat oleh Doni.


"Lepaskan kak, aku harus segera memastikan apa benar kak Devina sudah meninggal.!"Jawab Amanda, sambil meronta. Mencoba sekuat tenaga melepaskan tangan Doni dari lengannya.


"Dokter, sudah menunggu di dalam Manda."Ucap Doni lembut, mencoba bersabar.


"Keadaan mas Zaidan lebih penting, dari pada kesehatanku kak.!"Teriak Amanda, sambil terus berusaha melepaskan tangan Doni dari lengannya.


"Apa kamu ingin memastikan kematian Devina.? Biar kamu bisa rujuk lagi sama dia, hah.!!"Bentak Doni, yang tiba-tiba merasakan kekesalan dan kecemburuan di hatinya.


Amanda mematung sesaat, menatap Doni tak percaya, ini pertama kali dia mendengar Doni membentaknya.


Doni pun tersadar, saat mereka saling tatap.


"Amanda, maafkan aku." Doni mencoba meraih tangan Amanda. tapi Amanda menepisnya. Tampak buliran bening, sudah bermuara di ke bola matanya.


"Amanda."Panggil Doni lirih, dengan wajah menyesal.


"Kak, aku hanya menganggapmu sebagai seorang kakak."Jadi aku mohon jangan pernah terlalu dalam mencampuri urusan pribadiku, apalagi mengaturku."Amanda berkata dengan suara parau. Dia pun membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Doni.


Baru beberapa langkah, Amanda merasakan kepalanya sangat pusing, semua terasa berputar. Pandangannya kabur. Dengan susah payah dia berusaha mempertahankan kesadarannya. Sampai terdengar sebuah suara yang sangat panik memanggil namanya. Namun, pandangan Amanda menjadi gelap dan akhirnya dia tak sadarkan diri.


"Amanda..!!"Teriak Doni, yang langsung meraih tubuh Amanda, dan segera membawanya ke ruangan dokter yang sudah menunggu mereka.


Wajah panik sangat terlihat di wajah Doni. Tatapannya tidak pernah lepas dari Amanda.


Dokter yang bernama Rudi itu, segera menangani Amanda.


Dokter Rudi menghela napas, melihat kegelisahan Doni. Dia tidak pernah melihat sosok seorang Doni begitu mengkhawatirkan seorang wanita. Dengan mendiang istrinya saja, yang harus berjuang melawan kanker ganas yang menggerogoti otaknya, dokter Rudi tidak pernah melihat ketakutan yang teramat sangat di wajah Doni.


"Siapa wanita spesial ini.??"Tanya dokter Rudi sambil tersenyum, menghampiri Doni dan duduk di sampingnya.


"Apa itu penting untukmu.?"Tanya Doni malas, sambil bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Amanda, duduk disamping ranjangnya, sambil menatap lekat dan mengelus lembut wajahnya.


"Jadi benar, dia adalah wanita yang sudah mengambil hatimu selama puluhan tahun.??"Tanya dokter Rudi lagi, tanpa mau menyerah.


"Bagaimana keadaannya.??"Doni tidak menjawab pertanyaan dokter Rudi. Dia menggenggam jemari Amanda, kemudian menciumnya dengan lembut.


Dokter Rudi menggelengkan kepalanya. Dia pun bangkit dari duduknya, dan melangkah menghampiri Doni.


"Apa kalian sudah menikah.??Tega sekali kamu tidak memberitahuku."Ucap dokter Rudi, saat sudah berada di samping Doni.


Doni tersentak mendengar pertanyaan dokter Rudi, dokter pribadi sekaligus sahabatnya.


"Sepertinya kami akan segera menikah, dan Dion sebentar lagi akan mempunyai seorang mamah."Ucap Doni, yang langsung tersenyum menatap lekat wajah Amanda yang masih tak sadarkan diri.


Dokter Rudi tertawa, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ternyata prinsipmu untuk wanita sudah berubah."Dokter Rudi berkata sambil tertawa, dan menepuk pelan pundak Doni.

__ADS_1


Doni pun mengerutkan keningnya, menatap tajam sahabatnya, yang masih terus tertawa.


"Wanita ini benar-benar hebat, bisa meruntuhkan iman dan prinsip seorang Doni Anggara terhadap seorang wanita."Ucap dokter Rudi, terdengar tawanya yang lebih kencang.


"Sebaiknya cepat kamu nikahi wanita ini Don, sebelum perutnya membuncit."Dokter Rudi berkata lagi, sambil merangkul pundak Doni.


Mendengar perkataan dokter Rudi, membuat Doni benar-benar terperanjat, dia hanya diam membisu, tatapan hangatnya kepada Amanda, langsung berubah menjadi nanar.


Amarah kini menguasai seluruh relung hatinya.


"Baji**an Zaidan, walaupun Amanda sekarang sedang mengandung, dan Devina sudah meninggal. Aku tidak akan rela menyerahkan Amanda kepada laki-laki sepertimu.!!"Geram Doni dalam hati, wajahnya memerah penuh emosi.


"Berapa usia janinnya sekarang.??"Tanya Doni dengan suara dingin, tatapannya tetap berfokus pada Amanda.


Dokter Rudi menatap Doni dengan wajah keheranan.


"Sekitar tujuh minggu."


"Kamu baru mengetahui kehamilannya.? Sepertinya kamu tidak menyukai berita ini.??"Tanya Dokter Rudi penuh selidik.


Doni menarik napas kasar.


"Amanda hamil anak mantan suaminya.!!" Jawab Doni dengan suara parau, sambil mengusap kasar wajahnya.


Dokter Rudi terperanjat, dia menatap sahabatnya dengan ekspresi wajah yang penuh tanda tanya.


"Dia adalah bidadari kecilku, cinta pertamaku. Tapi aku terlambat menemuinya."Ucap Doni, sambil menghela napas.


"Sekarang, dia masih dalam masa Iddah."Ucap Doni lagi. Kesedihan dan penyesalan tampak jelas di wajahnya.


Dokter Rudi ikut menghela napas.


"Sekarang tinggal keputusan kalian, apakah kamu akan menerima Amanda dengan kehamilannya, atau sebaliknya apakah Amanda bersedia menjadi ibu untuk Dion."Ucap dokter Rudi lagi.


Doni tertegun, mrncerna perkataan sahabatnya itu. Tepat di saat itu, Amanda pun berlahan membuka mata.


"Mas Zaidan." Panggil Amanda, sambil memegang kepalanya dan mencoba mengumpulkan ingatannya.


Doni dan dokter Rudi hanya saling melempar pandang.


"Kamu sudah sadar Manda." Ucap Doni, berusaha menutupi perasaannya.


Amanda berusaha untuk duduk, dengan sigap Doni membantunya. Dokter Rudi hanya tersenyum, menatap sahabatnya.


"Kamu benar-benar mencintai dan menyayanginya."Ucap dokter Rudi dalam hati.


"Kak Doni, aku di mana.?"Amanda menatap Doni penuh tanya.


"Masih di rumah sakit, tadi kamu pingsan."Ucap Doni lembut, sambil tersenyum.


"Perkenalkan Manda, ini dokter Rudi, sahabatku sekaligus dokter yang memeriksamu."Ucap Doni lagi.


"Hai, perkenalkan aku Rudi."Dokter Rudi mengulurkan tangannya ke arah Amanda.


"Amanda." Ucap membalas uluran tangan dokter Rudi.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya dok."Ucap Amanda lagi, sambil tersenyum.


"Jangan berterimakasih kepadaku, berterimakasihlah kepada lelaki ini, yang selalu sigap menjagamu."Goda dokter Rudi, sambil menepuk pelan bahu Doni.


Wajah Amanda seketika memerah, dia pun menunduk malu.


"Jangan di ambil hati Manda, dokter Rudi dari muda sudah punya bakat menggoda wanita."Doni berkata sambil meninju pelan lengan dokter Doni.


"Hai, sekarang juga aku masih terlihat muda, tampangku juga masih keren, benar tidak Amanda.??"Dokter Rudi berkata, sambil membetulkan kerah jasnya, tersenyum dan mengangkat alisnya, dengan tatapannya yang menggoda.


Amanda kembali tersipu, wajahnya semakin memerah.


"Kamu boleh menggoda banyak wanita, tapi jangan kamu goda Amandaku ini."Ucap Doni, pura-pura kesal.


"Aku tidak akan menggodanya, tapi aku akan merebutnya jika kamu tidak cepat-cepat menghalalkannya."Jawab dokter Rudi santai, sambil tertawa.


Perkataan dokter Rudi, membuat Amanda dan Doni teepaku, mereka saling melempar pandang. Seketika, dokter Rudi pun menghentikan tawanya.


"Up's, Sorry.!!" Dokter Rudi berkata, dengan perasaan tidak enak.


"Kak Doni, aku mau menghadiri pemakaman Devina."Pinta Amanda dengan suara lirih, tanpa berani menatap Doni.


Dokter Rudi menatap Doni penuh tanya.


Doni menarik napas kasar.


"Manda, menghadiri pemakaman Devina itu hakmu, aku tidak akan melarang. Tapi.." Doni tidak meneruskan ucapannya, dia menatap lekat Amanda. Begitu juga Amanda, dia mendongakkan kepalanya menatap Doni.


"Tapi kenapa kak.??"Tanya Amanda.


Doni menatap dokter Rudi, seolah-olah meminta persetujuannya untuk mengatakan suatu kenyataan. Dokter Rudi membalas dengan sebuah anggukkan.


Kembali Doni menarik napas kasar.


"Manda, di dalam perutmu, sudah ada janin yang sekarang berusia tujuh minggu."?


"Apa.?"


***************


Hallo, author hadir lagi, dengan up yang terlambat😁🤭🙏.


Bagaimana nie, dengan kehamilan Amanda??


Apakah Amanda akan kembali kepada Zaidan, apa lagi Devina sudah meninggal??


Bagaimana dengan perasaan Doni.


Dari pada kepo, tetap ikuti terus kelanjutannya. Jangan pernah berpaling😁.


Bab kali inj spesial, author mau kasi visual pemainnya Sebenarnya visualnya sudah lama tapi lupa di up.


Maaf ya Devinanya sudah meninggal, tapi baru di kasi visualnya 🙏👇


__ADS_1


Bagaimana menurut kalian? Maaf kalau tidak cocok, ini versi author😁.


Jangan lupa melimpir di karya author lainnya.


__ADS_2