
Bab 19
"Penyesalan Zaidan "
"Apa yang tuan lakukan pada nyonya Amanda..??"Tanya pak Handoko, menatap tajam Zaidan.
"Apa hubungan kalian sebenar nya..??"Zaidan balik bertanya, sambil menatap bergantian Amanda dan Pak Handoko.
"Pak Handoko, sudah seperti ayah ku sendiri.."Jawab Amanda.
Zaidan menatap Amanda.
Memperhatikan Amanda dari ujung rambut sampai ujung kaki, Amanda hanya membalas tatapan tajam Zaidan dengan sebuah senyuman.
"Wanita, yang tidak punya daya tarik sama sekali.."Gumam Zaidan, dalam hati.
"Apa pun hubungan kalian, itu tidak penting buat ku, aku hanya ingin membuat perjanjian sebelum kita menikah.."Ucap Zaidan, dengan suara dingin.
"Dan aku ingin, pak Handoko menjadi saksi perjanjian kami."Ucap Zaidan lagi, dengan santai, tidak memperdulikan bagaimana perasaan Amanda.
"Apa pun perjanjian nya, aku setuju.."Jawab Amanda.
"Bagus lah.."Ujar Zaidan.
Zaidan pun kembali membuka dan menghidupkan lap top nya.
"Baca lah, dan jika sudah setuju, silah kan kalian tanda tangan.."Zaidan memberikan lap top nya kepada Amanda dan pak Handoko.
Mereka sama-sama membaca nya, tampak pak Handoko mengernyit kan dahi nya, saat menbaca setiap kalimat perjanjian, sedang kan wajah Amanda terlihat datar saja, saat membaca kata demi kata di surat perjanjian itu.
"Maaf tuan Zaidan, seperti nya surat perjanjian ini merugikan pihak dari nona Amanda.."Pak Handoko berkata, mencoba mengingat kan Zaidan.
Zaidan menyunggingkan senyum nya, dia tidak menggubris pernyataan keberatan Handoko, tapi dia menatap tajam ke arah Amanda, yang masih fokus menatap lap top nya.
Terlihat Amanda beberapa kali membaca surat perjanjian dengan ekspresi wajah yang datar, berbeda sekali dengan wajah pak Handoko yang tampak sangat keberatan dengan surat yang di buat nya.
"Bagaimana menurut mu..?"Apa ada poin-poin yang membuat mu merasa keberatan..??"Tanya Zaidan penasaran, dengan sikap Amanda.
Amanda, yang sedang serius membaca surat perjanjian, mengangkat wajah nya dan menatap Zaidan sambil tersenyum.
"Aku tidak keberatan, dengan semua isi perjanjian yang mas sudah buat."Jawab Amanda santai.
Tentu saja membuat Zaidan dan pak Handoko terkejut, tapi Zaidan segera menguasai diri nya, berbeda dengan pak Handoko.
"Maaf nona Amanda, menurut saya, isi surat perjanjian ini sangat merugikan diri anda.."Pak Handoko berkata, sambil menatap nanar Amanda, tergambar kekhawatiran di wajah paruh baya nya.
__ADS_1
Amanda tersenyum manis, dengan menatap lembut pak Handoko. Kemudian dia menatap ke arah Zaidan.
"Kapan, aku bisa menanda tangani surat ini..??"Tanya Amanda, dengan sikap tenang.
"Sudah aku print, kamu tinggal tanda tangan saja.."Zaidan berkata, sambil meraih sebuah tas yang berada di samping nya, kemudian mengeluarkan map, dan menyerahkan nya kepada Amanda.
Amanda menerima nya, sambil menelan saliva nya, dia hanya berdo'a semoga di berikan kekuatan untuk menjalani kehidupan nya ke depan.
Berlahan, Amanda membuka map yang sudah berada di tangan nya.
Isi surat yang sama persis, yang di baca nya di lap top. Bahkan tempat di mana dia harus membubuh kan tanda tangan nya, sudah tertempel sebuah materai.
Zaidan terus menatap Amanda, dia berharap jika Amanda akan membatalkan perjodohan ini, dan dia akan mendapatkan warisan dari keluarga Bramantyo, tanpa perlu menjalankan wasiat dari mendiang kakek nya.
"Aku tahu Zaidan, kamu membuat surat perjanjian ini, agar aku membatalkan perjodohan kita, tapi semua tidak akan terjadi, aku akan membuat mu tersadar apa yang terbaik dalam hidup mu.."Amanda berkata dalam hati.
Sambil tersenyum dan penuh keyakinan, dia pun mengambil sebuah pulpen dari tas nya.
Dan tanpa ragu, Amanda pun membubuhkan tanda tangan nya di atas materai, yang sudah tertempel di atas kertas perjanjian.
Zaidan hanya mengepal kan tangan nya, tampak rahang wajah nya mengeras, menahan amarah, melihat sikap Amanda yang di luar ekspektasi nya.
Sedang kan pak Handoko, hanya menarik napas, saat Amanda menyerah kan kertas perjanjian itu untuk di tanda tangani nya sebagai saksi.
Setelah menandatangani, pak Handoko menatap Amanda, tampak senyum terus mengembang di wajah nya.
Dengan kasar, Zaidan mengambil map itu dari tangan Amanda, dengan kesal dia pun ikut membubuh kan tanda tangan nya.
"Semua sudah selesai, silahkan kalian pergi dari sini..!!"Zaidan berkata, dengan suara berat menahan amarah, dia menatap Amanda, dengan sorot mata membun*h.
"Maaf tuan Zaidan, bisa kah anda berbicara lebih sopan lagi, terutama kepada calon istri anda.."Tampak pak Handoko, tidak bisa lagi mengendalikan lagi emosi nya dengan sikap dan perkataan Zaidan.
Jika, Zaidan berkata dan memperlakukan nya dengan kasar, mungkin dia masih menerima, tapi kali ini dia tidak terima dengan perlakuan Zaidan terhadap Amanda.
"Tenang pak Handoko, setelah menikah, aku akan memberikan pengalaman rumah tangga yang tidak bisa di lupakan nya, bahkan dia sendiri yang akan meminta di cerai kan.."Ucap Zaidan, dengan seringai licik nya.
Wajah pak Handoko memerah, mendengar pernyataan Zaidan.
"Pak Handoko, aku sudah bilang, jika aku baik-baik saja, jadi tidak perlu khawatir.."Ucap Ana, dengan sorot mata yang selalu mencoba meyakinkan pak Handoko.
"Baik lah, nona.."Pak Handoko mengalah, berkata sambil mengangguk.
"Kami, pamit pulang dulu mas.."Amanda berkata dengan lembut, sambil kembali tersenyum menatap Zaidan.
Tapi, Zaidan tidak menjawab. Dia justru memaling kan wajah nya, seakan tidak ingin melihat wajah Amanda, dan seolah-olah sebagai isyarat, jika dia ingin Amanda segera meninggalkan kamar perawatan nya.
__ADS_1
Lagi-lagi Amanda, hanya tersenyum melihat sikap Zaidan. Dengan tenang, dia pun melangkah keluar kamar, pak Handoko yang geram, dengan sikap Zaidan, dia pun segera mengikuti Amanda yang melangkah keluar dari kamar itu, tanpa ada kata permisi.
Zaidan hanya tersenyum smirk, saat Amanda dan pak Handoko, sudah keluar dari kamar perawatan nya.
"Ada hubungan apa sebenarnya, antara mereka.."Gumam Fidy, dengan rasa penasaran.
Dia pun meraih ponsel nya.
"Hallo.."Ucap Fidy, saat telpon tersambung.
"Cari tahu, ada hubungan apa antara Amanda Maheswari dan pengacara kakek ku yang bernama Handoko Ramli.."Ucap Fidy, kepada orang di seberang sana.
"Dan cari juga informasi lengkap tentang wanita itu..!!"Perintah Fidy, sambil menutup ponsel nya.
Terlihat, sebuah senyuman sinis, tersungging di bibir sempurna nya.
"Amanda Maheswari, siapa kamu sebenar nya..??"Tanya Fidy, pada diri nya sendiri.
"Kenapa, almarhum kakek ku sangat menyayangi mu..??"Sampai dia ingin kita menikah..!!"
Apa jangan-jangan, kamu adalah simpanan kakek ku..??"
"Pasti, kamu mengincar harta kakek ku..??"
"Jangan harap, kamu akan mendapatkan semua nya, karena sebelum mendapatkan nya, aku pastikan kamu akan menyerah, dan akan menjadi penyesalan seumur hidup mu, karena sudah berani masuk dalam kehidupan ku..!!"
Zaidan terus berspekulasi tentang Amanda.
"Akhhh..!!"Teriak Zaidan, sambil menggebrak meja sekuat tenaga.
Dia pun mengusap wajah nya kasar, terlihat frustasi, kemarahan di wajah sempurna nya.
**********
Maaf ya, up nya lambat banget, karena novel "Jodoh Tak Pernah Memilih" akan segera tamat.
Karena kesibukan juga, di dua novel ini juga up nya lama.
Kalau ada yang kepo, dengan kisah Zaidan dan Amanda saat sudah menikah nanti, jangan pernah lewat kan kelanjutan nya.
Semoga author konsisten untuk up😁🤭.
Jangan lupa dukung novel tamat dan up nya aku😍👇👇
__ADS_1