
Bab 15
"Penyesalan Zaidan"
"T..tapi perjanjian awal kita..??"Tanya Wina, dengan suara terbata.
"Itu dulu, tapi sekarang aku berubah pikiran, karena kamu masih mengharap kan anak sia**n itu.."Jawab Lion, dengan tatapan nyalang.
Wina menelan saliva nya, mencoba membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba terasa kering.
Lion segera mengambil gelas yang berada di genggaman tangan Wina.
Dengan tubuh bergetar ketakutan, Wina menatap gugup ke arah Lion.
Dengan senyum smirk, Lion segera meletakkan gelas di atas meja, Lion langsung mematikan lampu kamar, kemudian dia bergerak mendekati Wina, yang terlihat semakin ketakutan.
********
Dave terus menatap wajah pucat Devina, yang masih terbaring tak sadar kan diri, sambil menggenggam tangan Devina dan sesekali mencium punggung tangan Devina.
"Seperti apa pun keadaan mu, aku tetap mencintai mu, hanya aku laki-laki yang bisa menerima mu apa ada nya,."Ucap Dave, sambil terus menciumi punggung tangan Devina.
"Dave maaf, ada seseorang yang ingin menemui Devina.."Sebuah sentuhan lembut di pundak Dave.
Dave menoleh, dan terlihat Irma sudah berada di sebelah nya.
Dave menatap Irma penuh tanya, dia pun langsung menoleh ke belakang, betapa terkejut nya saat dia melihat Zaidan di sebuah kursi roda, bersama dengan Baskoro.
Seketika wajah Dave memerah, terlihat kilatan amarah dan kebencian terpampang di mata coklat nya. Zaidan hanya tersenyum sinis ke arah Dave.
Sekuat mungkin Zaidan menahan amarah nya, saat tangan Dave terus menggenggam tangan Devina.
"Tolong, biar kan Zaidan melihat Devina, karena ini atas ijin om dan tante Dave.."Bisik Irma di telinga Dave.
Dave tidak bisa membantah, karena Irma dan Baskoro lebih berhak atas Devina, kecuali mereka sudah menikah.
Dengan kekesalan, dan berat hati, dengan pelan dan hati-hati Dave melepaskan tangan Devina.
Dengan kesal, Dave pun memutar kursi roda nya, menjauhi ranjang Devina, memberikan ruang untuk Zaidan.
Zaidan tersenyum smirk, saat netra mereka bertemu, sedang kan Dave menahan amarah nya, selain wajah yang memerah, dan urat-urat leher yang terlihat menegang, dia mengepal kuat kedua telapak tangan nya.
Berlahan Zaidan mendekati ranjang Devina, sementara Baskoro berdiri di samping Irma, pandangan mereka fokus ke arah Zaidan dan Devina.
Zaidan menatap sayu tubuh lemah Devina, berlahan dia menggenggam erat jemari Devina.
"Vina, ini aku Zay, bangun lah sayang, penuhi janji mu untuk kita hidup bersama.."Ucap Zaidan lirih, sambil mengelus penuh sayang rambut Devina, dan mencium lembut kening nya.
Tentu saja, perlakuan Zaidan membuat wajah Dave semakin merah padam, saat dia ingin menggerak kan kursi roda nya, Baskoro memberikan isyarat untuk nya menahan diri.
Dave hanya mendengus kesal, terdengar geraman amarah dari mulut nya.
Tanpa di duga. tiba-tiba jemari kedua tangan Devina mulai bergerak pelan.
__ADS_1
"Om, tante, lihat jemari Devina bergerak.."Ucap Zaidan, dengan binar kebahagiaan.
"Devina.."Ucap Irma, langsung menghampiri putri nya.
Sedang kan Baskoro, langsung menekan tombol panggilan darurat.
Dave pun segera menghampiri ranjang Devina, tapi hanya sebatas melihat, karena tidak mungkin dia mendekati nya, karena Baskoro menahan kursi roda Dave, dan lagi-lagi memberikan isyarat, agar tidak mendekati Devina.
Dave menurut, walau pun hati nya sangat kesal, kalau seandai nya bukan ruang ICU, ingin sekali dia menghaj*r Zaidan.
Tak lama dokter datang dengan di temani perawat, dan segera memeriksa keadaan Devina.
Zaidan, Baskoro dan Irma pun segera memberi ruang untuk mereka.
Hampir satu jam dokter memeriksa keadaan Devina, dengan teliti.
"Syukur lah, seperti nya masa kritis nona Devina telah terlewati, motorik nya pun sudah mulai berfungsi.
"Alhamdulillah.."Ucap mereka bersamaan.
Irma pun, menangis karena bahagia, setelah berhari-hari tidak ada kemajuan dari putri nya, Baskoro segera membawa Irma ke dalam pelukan nya.
"Terimakasih Zaidan, seperti nya Devina sangat membutuh kan kehadiran mu untuk kesembuhan nya.."Ucap Baskoro, dengan sorot mata penuh kebahagiaan dan harapan.
"Iya om, saya sudah berjanji, akan selalu berada di samping Devina apa pun yang terjadi.."Ucap Zaidan, tanpa menghiraukan Dave, yang benar-benar tersulut emosi.
"Terus lah, ajak nona Devina untuk selalu berkomunikasi, walaupun fisik nya dalam keadaan tidak sadar, tapi psikis dan saraf motorik nya tetap berfungsi, seperti mendengar suara dari seseorang yang sangat di ingin kan atau di rindukan nya, itu adalah salah satu cara menyembuh kan pasien."Jelas dokter, menatap bergantian ke arah Zaidan, Baskoro, Irma dan Dave.
"Saya, akan berusaha untuk selalu bersama Devina dok.."Ucap Zaidan yakin.
"Rencana nya, saya akan membawa Devina melakukan pengobatan di salah satu rumah sakit yang berada di Singapura.."Ucap Zaidan, tetap tidak mempedulikan Dave.
"Baik lah tuan, saya akan merekomendasikan dokter yang terbaik di sana.."Balas dokter.
"Terimakasih dok.."Jawab Zaidan.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya pamit dulu.."Dokter berkata sambil mengangguk, ke arah Zaidan, Baskoro, Irma dan Dave.
Mereka semua, membalas anggukan dokter.
"Apa maksud mu Zaidan..??"Tanya Dave, dengan suara bergetar, menahan amarah.
Zaidan hanya tersenyum smirk, menatap Dave.
"Saya pamit keluar dulu om, tante.."Zaidan berkata, tanpa menghirau kan pertanyaan Dave.
Setelah berkata, Zaidan memutar kursi roda nya keluar ruang perawatan.
"Saya juga, pamit dulu om, tante.."Dave berkata, sambil bergegas memutar kursi roda nya, dan segera menyusul Zaidan.
"Mah, jaga Devina, papah mau keluar melihat mereka, takut terjadi keributan.."Baskoro berkata, sambil melepas rangkulan nya dari pundak Irma.
"Iya pah.."Jawab Irma lirih.
__ADS_1
Dengan wajah tegang, Baskoro bergegas ke luar ruangan.
*********
Di luar ruangan.
"Zaidan, tunggu .!!"Teriak Dave, dengan cepat dia menjalan kan kursi roda nya mendekati kursi roda Zaidan, yang sedang di dorong oleh Adam.
Zaidan menyuruh Adam menghentikan kursi roda, dan segera memutar nya menghadap Dave yang sudah berada di hadapan nya.
"Apa maksud mu untuk membawa Devina ke Singapura..??"Tanya Dave, dengan setengah berteriak, menatap nyalang Zaidan.
"Kamu pikir, aku tidak mampu membiayai pengobatan Devina ke luar negri...??"Tanya Dave lagi, dengan wajah merah padam.
Zaidan menanggapi ucapan Dave dengan tertawa.
"Anak manja yang sombong, kamu pikir pengobatan Devina itu dengan biaya yang murah, hah..??"Tanya Zaidan, dengan tatapan mrngejek.
Dave mengepal kuat telapak tangan nya, mata dan wajah nya semakin memerah.
"Dari pada kamu memikirkan biaya pengobatan Devina, lebih baik kamu memikirkan bagaimana masa depan kalian untuk bertahan hidup.."Ucap Zaidan, dengan senyum yang meremeh kan.
"Jangan merasa menang Zaidan, aku juga masih punya hak atas harta keluarga Radthya.."Jawab Dave, dengan suara penuh penekanan.
Dave tertawa terbahak-bahak, sambil menggeleng kan kepala nya.
"Dave..Dave.."Ucap Zaidan, masih sambil tertawa.
"Dengar Dave, semua harta dan perusahaan Radthya semua jatuh ke tangan ku..!!"Zaidan menghentikan tawa nya, menatap tajam Dave.
Kemudian, dia menjalan kan kursi roda nya mendekati Dave.
"Dan kamu tahu Dave, aku bisa membuat mu dan papah mu berada di titik terendah, bahkan membuat kalian membusuk di penjara.."Zaidan berkata, dengan seringai menakut kan, tepat di wajah Dave.
"Aku punya banyak bukti, untuk menjeblos kan kalian ke penjara.."Ucap Zaidan lagi, dengan mendorong pelan tapi penuh penekanan ke dada Dave.
Sambil tersenyum sinis, Zaidan pun memutar kursi roda nya, dan meminta Adam untuk membawa nya pergi dari hadapan nya.
Dave hanya diam, dengan menahan gejolak amarah di dada nya, karena dia sadar posisi dia dan papah nya yang terjepit.
***********
Maaf ya, di sela-sela kesibukan, Author coba bagi waktu untuk dua novel yang masih up.
Harap maklum, jika up nya selalu lama.
Bukti apa yang Zaidan punya, yang mampu membuat Dave tidak berkutik..??
Ikuti terus kelanjutan nya.
Jangan lupa melimpir ke novel yang lebih dulu update👇
__ADS_1