Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Aku Ingin Bertemu Dengan nya.


__ADS_3

Bab 16


"Penyesalan Zaidan"


"Sebelum aku melakukan pengobatan ke Singapura, bisa kah aku bertemu dengan wanita itu..??"Tanya Zaidan pada pak Handoko, yang duduk di sofa yang berada di kamar perawatan Zaidan.


Pak Handoko menghela napas, menatap Zaidan yang yang sedang duduk di kursi roda nya, tepat di hadapan nya.


"Tuan akan melakukan pengobatan itu, bersama nona Devina..??"Pak Handoko, menatap Zaidan dengan penuh tanya.


"Tugas mu di sini, hanya sebatas pengacara yang di tugas kan untuk mengurus surat warisan dan wasiat, jangan pernah ikut campur dengan urusan pribadi ku..!!"Hardik Zaidan, dengan sorot mata tajam menatap pak Handoko.


"Apa tuan akan meninggalkan nya, setelah menikahi nya..??"Tanya pak Handoko kembali.


"Sudah ku katakan, itu urusan pribadi ku..!!"Tegas Zaidan, dengan wajah yang mulai gusar.


"Maaf kan saya tuan, tapi saya yakin, bukan seperti ini yang di ingin kan oleh mendiang tuan Radithya Purnama.."Ucap pak Handoko lagi, mencoba mengingat kan Zaidan kembali.


Zaidan menarik napas, dan membuang nya kasar.


"Sekali lagi mohon maaf tuan, jika saya lancang, saya sangat mengenal nona Amanda Maheswari, dia wanita yang baik, apa lagi untuk di jadi kan seorang istri, apa lagi dia adalah wanita pilihan dari mendiang kakek anda.."Pak Handoko, kembali mengingat kan Zaidan.


"Seperti nya, kamu sangat mengenal wanita itu..??"Tanya Zaidan, sambil memicingkan mata nya.


"Saya mengenal nya, dari nona Amanda kecil saat dia berada di panti asuhan.."Jawab pak Handoko.


"Oh, jadi dia anak panti.."Tanya Zaidan, dengan nada suara malas dan meremehkan.


Perkataan Zaidan, membuat emosi pak Handoko tersulut, tapi dia mencoba untuk menahan nya.


"Nasib dan takdir yang membawa nya, menjadi anak panti asuhan tuan.."Suara pak Handoko terdengar bergetar, menandakan jika dia sedang menahan amarah.


Zaidan hanya tersenyum sinis, menyadari kemarahan pak Handoko.


"Apa, hubungan mu sebenar nya dengan wanita itu..??"Tanya Zaidan, menatap tajam ke mata pak Handoko.


Pak Handoko, terkejut dengan pertanyaan Zaidan.


"Kami tidak mempunyai hubungan apa-apa tuan, saya mengenal nona Amanda dari kecil, karena hampir setiap minggu saya mengunjungi panti asuhan, di mana nona Amanda di besar kan, bersama mendiang tuan Radthya Purnama.."Jawab pak Handoko.


"Bukan kah, semua orang ingin di ciptakan dengan keadaan keluarga yang utuh dan bahagia..??"Kalau saja takdir boleh memilih, pasti setiap orang ingin hidup bahagia dan serba kecukupan."Pak Handoko, kembali memberikan penjelasan, dengan tatapan sorit mata yang tak bisa di arti kan.


Zaidan terdiam., dia menatap sosok pak Handoko tak percaya, dia sangat dekat dengan mendiang kakek nya, bahkan sampai saat ini, dia tidak tahu jika seminggu sekali, kakek nya rutin mengunjungi sebuah panti asuhan.


"Sedekat itu kah, dia dengan almarhum kakek..?"Tanya Zaidan.


"Maksud tuan Amanda..??"Pak Handoko, balik bertanya.


"Kita sedang membicarakan dia.!!"Zaidan, menjawab dengan ketus.

__ADS_1


"Sangat dekat."Jawab pak Handoko singkat.


"Sudah berapa lama..??"Tanya Zaidan lagi, penuh selidik.


"Lima belas yang tahun yang lalu, saat nona Amanda masih berusia lima tahun.."Pak Handoko menjawab, dengan senyum di hati nya, karena Zaidan seperti nya sudah mulai penasaran dengan sosok Amanda.


Zaidan, mengerutkan kening nya.


"Lima belas tahun yang lalu, berarti saat itu aku berusia 10 tahun, kenapa aku sampai tidak tahu sosok Amanda.."Tanya Zaidan, pada diri sendiri.


"Kapan, aku bisa bertemu dengan wanita itu..??"Tanya Zaidan, yang mulai penasaran pada sosok Amanda, sesuai dengan dugaan pak Handoko.


"Hampir setiap hari, biasa nya nona Amanda akan ziarah ke makam tuan Radtya, tapi karena keadaan tuan Zaidan belum memungkin kan keluar dari rumah sakit, saya yang akan membawa nya ke sini.."Jelas pak Handoko.


Zaidan, tampak termenung dengan pernyataan pak Handoko, jika Amanda hampir setiap hari selalu ziarah ke makam kakek nya, sedang kan dia, dari kakek nya di kebumikan sampai sekarang, belum pernah kembali melihat makam kakek nya.


Ada sesak terasa menghimpit dada nya, dia begitu sibuk dengan urusan pribadi nya. Dia menghela napas, sambil mengusap kasar wajah nya.


"Lusa, aku dan Devina akan terbang ke Singapura, sebelum berangkat aku ingin bertemu dulu dengan nya, dan ada banyak hal yang harus kami bahas."Zaidan berkata, sambil membuka ponsel nya, menatap gambar layar diri nya bersama sang kakek.


"Baik lah, besok saya akan meminta nona Amanda untuk datang kesini menemui tuan.."Balas pak Handoko.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan."Pak Handoko berkata, sambil bangkit dari duduk nya.


Zaidan hanya mengangguk, pandangan nya tetap fokus pada layar ponsel nya.


Pak Handoko melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan Zaidan.


********


Pak Handoko, tampak memarkirkan mobil nya, di sebuah sekolah taman kanak-kanak.


Setelah mobil terparkir, dia pun segera melangkah kan kaki nya masuk ke dalam area sekolah.


Dan dia langsung di sambut hangat dan senyuman, dari beberapa guru yang berada di sekolah, sedang kan murid-murid sudah pulang semua, karena jam pelajaran telah usai.


"Selamat siang pak Handoko, mau bertemu dengan ibu Amanda ya..??"Tanya salah satu guru, dengan senyum ramah nya.


"Betul bu Sri."Jawab pak Handoko, dengan tersenyum.


"Bu Amanda masih di dalam kantor, tunggu sebentar biar saya panggil kan.."Ucap guru yang bernama Sri.


"Terimakasih bu.."Ucap pak Handoko sopan.


Bu Sri hanya mengangguk dan tersenyum, dia pun melangkah pergi menuju ruang kantor.


Sambil menunggu Amanda, dia menatap sekeliling area TK, senyum nya mengembang melihat taman yang begitu indah, penuh warna warni lengkap dengan permainan anak-anak. Sambil membayangkan anak-anak tertawa riang, bermain saat istirahat.


Tapi wajah bahagia itu, seketika berubah menjadi sendu, tatkala mengingat sebuah masa lalu yang menoreh kesedihan yang begitu dalam.

__ADS_1


Di saat, pak Handoko bergelut dengan pikiran nya di masa lalu, tiba-tiba suara seseorang mengagetkan nya.


"Om."Panggilan lembut seseorang di samping nya, membuyarkan lamunan nya.


"Manda."Pak Handoko menoleh, tampak sesosok wanita dengan penampilan sederhana yang berada di samping nya, sedang tersenyum menatap nya.


Wanita yang tak lain adalah Amanda, langsung mencium punggung tangan pak Handoko.


"Apa kabar mu Manda..?"Tanya pak Handoko, sambil mengelus lembut kepala Amanda.


"Alhamdulillah, Manda sehat om, om sendiri apa kabar..??"Tanya Amanda, dengan tatapan rindu.


"Syukur lah, seperti yang kamu lihat, om sehat dan baik-baik saja, hanya sedang sibuk mengurus sesuatu.."Jawab pak Handoko, sambil tersenyum.


"Kamu belum makan khan .??"Ayo kita makan dulu, ada hal penting yang ingin om sampai kan.."Ajak pak Handoko., sambil menarik lembut tangan Amanda.


Amanda mengangguk dan tersenyum, mengikuti langkah pak Handoko menuju mobil.


Sampai akhir nya, sampai lah mereka di sebuah rumah makan sederhana yang menjadi langganan mereka.


Setelah memilih tempat dan pesanan, mereka berbincang santai seputar pekerjaan, sampai akhir nya pesanan mereka datang.


Setelah selesai makan, baru lah mereka memulai pembahasan serius.


"Manda, kamu ingat janji mu dengan almarhum tuan Radthya Purnama.??"Tanya pak Handoko, memulai topik pembicaraan.


Amanda terdiam sesaat.


"Tentu aku mengingat nya om.."Jawab Amanda lirih.


"Apa kamu sudah siap dan yakin nak..??"Tanya pak Handoko lembut.


"Insya Allah, Manda siap dan yakin om.."Ucap Amanda tersenyum.


Pak Handoko pun mengangguk.


"Tuan Zaidan, ingin bertemu dengan mu besok."


**********


Di gantung lagi ya, buat bab berikut nya😁.


Bagaimana pertemuan antara Zaidan dan Amanda..??


Bagaimana juga perasaan Amanda, saat mengetahui jika calon suami nya akan pergi ke luar negeri dengan wanita yang di cintai nya.


Simak dan ikuti setiap bab nya.


Dua novel kontrak author👇

__ADS_1




__ADS_2