Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Tembakan di Klinik


__ADS_3

Bab 57


"Penyesalan Zaidan "


Mobil Jeep yang di tumpangi Dave, Devina dan dokter Anita pun sampai di sebuah klinik yang tidak terlalu besar.


Petugas klinik langsung membantu Devina, saat mereka sudah turun dari mobil.


Devina segera di bawa ke ruang perawatan, dan langsung di sambut oleh seorang dokter laki-laki, yang merupakan sahabat dokter Anita.


"Nit, sepertinya keadaan pasien sangat mengkhawatirkan, seharusnya dia mendapatkan perawatan di rumah sakit besar."Ucap dokter itu, sambil menatap tak mengerti ke arah Anita.


Dokter Anita tidak menjawab, dia hanya memberikan tatapan nanar ke arah dokter itu. Dokter yang bernama Andri itu, mengerti jika ada yang tidak beres. Dengan ekor matanya dia melirik sedikit ke arah Dave, yang sedang memperhatikan mereka, dengan tatapan tajam dan membun*h.


"Cepat kalian lakukan pengobatan untuk calon istriku.!! Jangan macam-macam, apa lagi bertindak bod*h..!!"Ancam Dave.


Dokter Anita dan dokter Andri pun segera mengecek dan melakukan penanganan terhadap kondisi Devina, yang terlihat semakin lemah. Dengan Dave yang terus mengawasi mereka.


Ponsel Dave tiba-tiba berdering.


"Selesaikan tugas kalian.!! Ingat, jangan macam-macam.!!" Ancam Dave lagi sambil mengangkat ponselnya.


"Arya." Sebuah nama keluar dari mulut dokter Anita, tanpa menghentikan aktifitasnya.


Dokter Andri mengangguk pelan, sama seperti dokter Anita tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Bagaimana.??"Tanya Dave, setelah pembicaraannya selesai.


"Nyonya Devina, kehilangan banyak darah. Dia membutuhkan transfusi darah."Jawab dokter Andri


Dave mendengus kesal.


"Cepat, lakukan.!!"Perintah Dave.


"Tidak bisa semudah ini Dave, kami harus mencari dulu ke PMI, karena golongan darah Devina termasuk langka."Jawab Anita.


"Si*l..!!"Umpat Dave.


"Dokter Arya, sahabat Devina golongan darahnya sama dengan Devina."Ucap dokter Anita lirih.


Dave menatap tajam dokter Anita, dan melangkah mendekati Anita. Membuat Anita mundur beberapa langkah.


"Kamu pikir aku bod*h."Ucap Dave, saat tubuhnya sudah tidak berjarak dengan dokter Anita.


"M..maksud aku."Anita tidak meneruskan kata-katanya saat tangan Dave, mencengkeram keras rahang wajahnya.


"Seharusnya, kami sudah menghabisimu dari dulu. Ternyata kamu tidak berguna.!!"Teriak Dave, semakin kuat mencengkram rahang wajah dokter Anita.


"Maaf tuan, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah."Dokter Andri berkata, sambil mencoba melepaskan tangan Dave.


Dave langsung menatap tajam ke arah dokter Andri.


"Bawa dokter Arya kesini, bagaimanapun caranya."Tapi ingat, jangan pernah melibatkan siapapun, terutama kepolisian.!!"Perintah Dave.


"Baik, saya akan segera menghubungi dokter Arya."Dokter Andri berkata sambil mengangguk.


Dokter Anita meringis kesakitan, memegangi wajahnya.


"Arya.?Aku ingat, Arya pernah mengenalkan aku dengan wanita ini. Dia adalah sepupu Arya, kami pernah berjumpa saat tante Mira di rawat di rumah sakit, dokter Anita inilah yang menanganinya."Ucap Devina dalam hati, dengan mata yang semakin redup.

__ADS_1


Devina merasa pandangannya seperti buram, rasa sakit sudah sangat berkurang, tapi dia merasa seluruh tubuhnya lemah bagai tak bertulang. Sekuat mungkin dia menjaga kesadarannya, dan mencari celah agar bisa lari dari cengkeraman Dave.


"Bagaimana, kamu sudah menghubungi Arya.??"Tanya Dave, sambil merampas paksa ponsel dokter Andri.


"Ingat dok, jangan coba-coba bermain denganku. Karena identitas seluruh keluargamu kini sudah berada di tangan anak buahku..!!"Ancam Dave, sambil memeriksa ponsel dokter Andri.


Dokter Andri menelan salivanya, dadanya berdegup kencang, rasa takut dan khawatir menyelimuti hatinya. Dia tidak mau jika keluarganya di sentuh apa lagi sampai di sakiti.


Dave tersenyum miring, mengetahui ketakutan di wajah dokter Andri.


"Tidak perlu khawatir dokter, selama kamu bekerja dengan baik dan tidak menghianati, semua akan baik-baik saja." Dave berkata, sambil mengembalikan ponsel dokter Andri, menepuk pundaknya dan menyunggingkan sebuah senyuman licik.


Devina berusaha keras menjaga kesadarannya, setidaknya menunggu sampai kedatangan dokter Arya.


************


Sementara itu, dengan kecepatan tinggi Zaidan beserta anak buahnya menuju titik sebuah klinik yang di kirimkan salah satu anak buahnya.


Zaidan mempunyai firasat jika Devina tidak baik-baik saja, karena titik tujuan menuju ke arah sebuah klinik. Apa lagi baru saja dokter Arya mengirim pesan, jika dia di minta oleh sahabatnya untuk datang ke kliniknya, karena ada pasien yang baru saja pendarahan, sehingga membutuhkan transfusi darah. Dan golongan darahnya sama seperti dokter Arya, yaitu golongan darah yang langka.


Menurut Arya golongan darah yang sama dengannya adalah Devina, jadi besar kemungkinan jika pasien yang banyak kehilangan darah adalah Devina, di tambah lagi dengan kasus penculikan Devina.


Zaidan mengusap kasar wajahnya, dia sangat yakin jika nyawa Devina dan calon bayinya berada dalam bahaya.


"Gw tahu, ini pasti ulah loe Dave, kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada Devina dan calon anak gw, sumpah demi apapun, gw akan menghabisi loe dengan tangan gw sendiri..!!"Geram Zaidan, dengan perasaan yang sudah bercampur aduk.


Di tengah kegundahannya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Arya. Dia pun segera mengangkatnya.


"Hallo Arya ."


"Hallo Zay, posisi loe sudah dimana.?"


"Loe jangan bertindak dulu, biar gw yang masuk ke klinik, untuk memastikan apa wanita yang sedang pendarahan itu Devina."


"Oke, tapi loe segera kabarin gw."


"Siap Zay."


"Kalau gw bilang bergerak, loe langsung masuk."


"Oke "


Zaidan menutup ponselnya. Dia nenarik napas kasar, berdo'a semoga Devina dan calon bayi mereka baik-baik saja.


Tak lama, mobil Zaidan dan mobil dokter Arya datang hampir bersamaan. Dengan bergegas dokter Arya masuk dalam klinik.


Dokter Arya langsung menuju ruang perawatan, yang sudah di beritahu dokter Andri. Saat dirinya membuka pintu ruangan, betapa terkejut dirinya, melihat Dave dan dokter Anita. Apalagi, saat dia melihat sosok tubuh yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Devina.!!"Panggil Dokter Arya setengah berteriak, dan langsung melangkah mendekati Devina. Tapi, langkahnya tertahan, karena sebuah benda sudah hampir menempel di punggungnya.


"Berani kamu mendekati, apa lagi menyentuh calon istriku, aku pastikan peluru akan bersarang di jantung mu.!!"Ucap Dave, tepat di belakang telinga dokter Arya.


Dokter Arya mengerutkan keningnya. Dia pun memutar tubuhnya, sehingga posisi pistol tepat berada di dadanya.


"Kalau kamu mencintai Devina, bukan seperti ini cara nya.!!"Dokter Arya berkata, dengan menatap tajam Dave, tanpa ada rasa takut.


"Aku tidak butuh nasehatmu, aku hanya membutuhkan darahmu untuk Devina..!!"Bentak Dave, dengan wajah merah padam.


"Arya."Panggil Devina lirih.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan pistol yang sedang di todongkan ke arah dadanya, dokter Arya dengan cepat menghampiri Devina.


Amarah Dave memuncak, saat dia ingin menarik pelatuk, tiba-tiba..


"Jangan.!!!"


Dor


Akhhh...


Anitaaa....


Dokter Arya langsung menghampiri Anita dan memeluk tubuhnya yang bersimbah dar*h. Tembakan Dave berhasil menembus dada Anita, yang saat itu melindunginya dari peluru yang akan di tembakan ke arahnya.


"Kenapa kamu melakukan hal bod*h seperti ini, Anita.??"Tanya Dave panik.


"A - Arya.. a - aku..men - cintaimu.."Ucap Anita terbata-bata, dan berlahan menutup matanya.


"Tidak Anita, bangun Anita.!!"Teriak dokter Arya sambil menampar pelan wajah Anita, agar membuka matanya.


Dave tertawa terbahak-bahak.


"Berhenti Dave..!!"Sebuah suara mengagetkan Dave.


Zaidan dan anak buahnya, sudah berada di dalam ruangan, mereka masuk saat mendengar sebuah tembakan.


Dave menatap nyalang Zaidan, dia tersenyum miring, dan secepat mungkin mendekati Devina.


"Diam kalian semua, kalau tidak ingin dia mati..!!"Teriak Dave mengacungkan pistolnya di kepala Devina, sambil memeluk tubuh Devina yang sudah lemah, Bahkan hampir kehilangan kesadaran.


Dokter Arya yang sedang menangisi tubuh dokter Anita, segera menghapus air matanya. Dengan kemarahan yang memuncak, dia meletakkan tubuh Anita yang bersimbah dar*h dengan hati-hati.


Dokter Arya pun segera berdiri, dan menatap Dave dengan penuh amarah. Berlahan dia melangkah mendekati Dave.


"Ternyata, kematian dokter ja**ng itu membuatmu tidak takut dengan kematian.!!"Dave berkata dengan tawa yang menggema.


"Bajing*n !! kamu sudah membunuhnya dan sekarang kamu menghinanya..??!"Teriak dokter Arya, masih terus melangkah mendekati Dave.


"Wanita itu memang ja**ng, sudah banyak lelaki yang tidur dengannya.!!"Jawab Dave, dengan senyum penuh ejekan.


"Kurang aja*.!!"Teriak Dokter Arya, yang segera berlari ke arah Dave, dan...


Dorrrr...


**********


Apa sebenarnya terjadi dengan dokter Anita??Sehingga dia terlibat dengan Baron CS.


Apakah dokter Arya juga terkena tembakan dari Dave??


Bagaimana dengan Devina?? Apakah bisa di selamatkan ??


Sebelumnya author ingin mengucapkan maaf, jika tidak bisa up setiap hari. Tapi, jika ada waktu luang InsyaAllah up setiap hari.


Terimakasih yang sudah menyempatkan waktunya, untuk hadir di novelku.


Jangan lupa melimpir ya😁👇


__ADS_1



__ADS_2