
Bab 22
"Penyesalan Zaidan"
Pesta pernikahan pun usai, semua tamu yang hadir meninggal kan kediaman keluarga Radthya.
"Kalian sudah sah menjadi suami istri, saya harap tuan Zaidan bisa memperlakukan nona Amanda dengan baik.."Ucap pak Handoko, menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Aku sekarang bukan nona lagi pak, tapi sudah berstatus nyonya.."Jawab Amanda, sambil memegang kursi roda Zaidan, dengan senyum penuh bahagia, yang mengembang di bibir tipis nya.
"Selama, dia konsisten dengan surat perjanjian yang telah di sepakati, tentu saja semua akan baik-baik saja, itu juga jika dia mampu bertahan.."Ucap Zaidan dengan suara bariton dan senyum smirk nya.
"Mas, tenang saja, aku tidak akan pernah mengingkari perjanjian yang sudah kita sepakati, apa lagi sudah aku tanda tangani.."Jawab Amanda, dengan suara lembut, sambil mengusap pelan pundak Zaidan.
Zaidan tersentak kaget, tiba-tiba dada nya merasakan desiran yang aneh, rasa nyaman seketika sangat terasa menjalar di tubuh nya, saat Amanda mengusap pundak nya.
"Apa-apaan ini, aku tidak boleh tergoda, cinta ku hanya untuk Devina ."Zaidan berkata dalam hati, mencoba menepis perasaan nya.
"Jangan sok perhatian, dan jangan pernah menyentuh ku..!!"Gertak Zaidan, sambil menepis kasar tangan Amanda dari pundak nya.
"Maaf tuan, jangan terlalu kasar dengan nyonya Amanda.."Pak Handoko berkata, dengan suara sedikit bergetar menahan amarah.
"Aku tidak apa-apa pak, mungkin mas Zaidan terlalu lelah.."Ucap Amanda, sambil tersenyum.
"Pulang lah pak Handoko, tugas mu hari ini sudah selesai.."Ucap Zaidan malas.
Pak Handoko menarik napas, dan membuang nya berlahan.
"Baik lah, kalau begitu saya permisi tuan, nyonya Amanda jaga diri anda baik-baik.."Pak Handoko berkata, sambil mengangguk.
Zaidan tidak menjawab, dia memalingkan wajah nya, tidak ingin menatap wajah pak Handoko.
"Iya pak, terimakasih, hati-hati di jalan.."Jawab Amanda.
Pak Handoko pun mengangguk, sambil sedikit membungkukkan badan nya, kemudian berlalu dari hadapan Zaidan dan Amanda, kekhawatiran tampak jelas terlihat di wajah nya.
"Ayo mas, biar aku antar untuk istirahat.."Amanda berkata, sambil mendorong kursi roda Zaidan.
Tapi dengan kuat, Zaidan menahan kursi roda nya.
"Apa kamu lupa, dengan salah satu isi perjanjian itu, hah..!!"Bentak Zaidan, dengan suara setengah berteriak.
Amanda kaget dengan suara Zaidan, tapi dia buru-buru menguasai diri nya.
"Maaf mas, aku hanya ingin membantu.."Jawab Amanda lirih.
"Jangan pernah memasuki kamar pribadi ku, walaupun hanya selangkah saja..!!"Bentak Zaidan lagi.
__ADS_1
"Baik mas, maaf.."Jawab Amanda, berusaha sekuat mungkin menahan sesak di dada nya.
"Ini belum apa-apa Amanda, jangan menyerah, semangat, kamu pasti bisa.."Ucap Amanda dalam hati, mencoba menguatkan diri nya.
"Adammmm..!!"Teriak Zaidan, suara bariton nya mengsma di seluruh ruangan.
Dengan tergopoh-gopoh, tampak Adam datang menghampiri Zaidan.
"Dari mana saja kamu..??!"Tanya Zaidan dengan mata membulat sempurna, menatap Adam.
"Maaf tuan, tadi saya sedang membantu membereskan kursi.."Jawab Adam sambil menunduk, tidak berani menatap Zaidan.
"Kamu di sini bertugas sebagai perawat ku, bukan sebagai asisten rumah tangga..!!"Hardik Zaidan, dengan wajah kesal.
"Maaf kan saya tuan.."Adam berkata, dengan wajah yang masih menunduk.
Amanda menghela napas, melihat sikap Zaidan.
"Mas, kamu tidak boleh terlalu keras dan kasar kepada Adam.."Ucap Amanda, selembut mungkin.
Zaidan yang sedang emosi, langsung membalikkan kursi roda nya menghadap Amanda, yang membuat Amanda dan Adam terkejut.
"Apa yang tadi kamu bilang, hah..??!"Zaidan berkata, sambil mencengkram keras dan kasar lengan Amanda.
Amanda meringis menahan sakit, tampak kekhawatiran di wajah Adam, tapi dia tidak ada kemampuan untuk menolong Amanda.
"Di surat perjanjian, sudah tertulis jelas, jika kamu tidak boleh ikut campur dengan urusan ku..!!"Bentak Zaidan dengan wajah memerah, terlihat sorot mata yang penuh amarah.
"Maaf kan aku, walaupun pernikahan kita hanya di atas kertas, tapi kewajiban suami istri untuk saling mengingatkan, jika salah satu di antara kita melakukan kesalahan.."Amanda berkata setenang mungkin, walaupun dia menahan sakit, dan ketakutan atas amarah Zaidan.
"Ternyata, kamu benar-benar wanita yang keras kepala.!!"Hardik Zaidan, wajah dan sorot mata nya semakin memerah menatap Amanda.
"Karena kamu sudah melanggar salah satu perjanjian kita, persiap kan diri mu untuk menerima hukuman Amanda Maheswari.."Zaidan berkata, dengan seringai yang menyeram kan.
"Adam, cepat bawa dia ke dalam kamar penghukuman.."Perintah Zaidan, yang tidak bisa di bantah.
Dengan ragu, Adam melangkah mendekati Amanda.
"Maaf kan saya nyonya.."Adam memegang tangan Amanda, dan menarik pelan, membawa Amanda ke dalam lift menuju lantai 2, di ikuti Zaidan.
Di dalam lift, suasana sunyi, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.
Sesampainya di lantai 2, Zaidan meminta Adam membawa Amanda ke dalam kamar, yang pintu hanya bisa di buka melalui sidik jari dari Zaidan.
Saat pintu terbuka, mereka segera masuk ke dalam.
"Keluar lah, tunggu di depan.."Perintah Zaidan kepada Adam.
__ADS_1
"Baik tuan.."Adam mengangguk, dan segera keluar dari kamar itu.
Zaidan segera menutup pintu, sedang kan Amanda mengamati isi ruangan di kamar itu.
Kamar yang tidak terlalu luas, dengan pencahayaan yang temaram, terlihat kasur kecil di sudut ruangan, terdapat juga kamar mandi di dalam nya dan sebuah lemari yang cukup besar.
Kamar nya juga terlihat bersih, seperti nya ada orang khusus yang membersihkan nya.
"Tapi untuk apa, kamar hukuman ini..??"Tanya Amanda dalam hati.
Antara rasa penasaran dan takut, kini campur aduk dalam pikiran Amanda.
"Ini adalah hukuman pertama untuk mu Amanda Maheswari.."Seringai seram terlihat di bibir Zaidan.
Zaidan, menuju lemari, dan mengambil sesuatu di sana.
Amanda terkejut, saat melihat sebuah cambuk di tangan Zaidan.
"Kamu, ingin mencambuk ku mas..??"Tanya Amanda, dengan suara bergetar.
"Kenapa, kamu takut..??"Ejek Zaidan.
"Seharusnya kamu berpikir ulang saat menandatangani surat perjanjian itu.."Ejek Zaidan lagi.
"Tapi, di surat perjanjian tidak ada hukuman cambuk.."Jawab Amanda, berusaha menahan ketakutan nya.
Zaidan tertawa, penuh kemenangan.
"Kamu dan pak Handoko, Sama-sama bod*h, kenapa tidak bertanya hukuman apa yang akan aku berikan.."Zaidan berkata, sambil mendorong kursi roda nya mendekati Amanda.
Amanda mundur, beberapa langkah, Zaidan terus mendekat dengan seringai yang menakut kan. Membuat bulu kuduk Amanda merinding.
Amanda terus mundur, sampai tubuh nya terbentur tembok. Sedang kan Zaidan semakin dekat.
Saat tubuh mereka, sangat dekat nyaris tanpa jarak, Zaidan mengacung kan cambuk nya.
*********
Apakah, Zaidan sampai hati, memberikan hukuman yang menyakit kan untuk Amanda..???
Bagaimana rumah tangga yang akan mereka jalani..??
Dukung terus cerita ini.
Lomba menulis di "You are writer Season 8"
Dukung dua karya author juga ya👇👇
__ADS_1