Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Kemarahan Baskoro


__ADS_3

Bab 58


"Penyesalan Zaidan "


Devina menggigit kencang lengan Dave, membuat tembakan Dave mengenai tembok.


Dokter Arya segera menerjang Dave, membuat tubuh Dave terjungkal ke belakang, dan pistolnya pun terlepas dari tangannya.


Zaidan segera menghampiri Devina, dan langsung membawa Devina pergi.


"Zaidan sia*an, jangan bawa calon istriku..!!"Teriak Dave, yang ingin bangkit mengejar Zaidan. Tetapi, dokter Arya segera menghalanginya, dan memukul Dave dengan membabi buta.


Tak lama berselang, polisi segera datang ke klinik dan langsung memasang police line.


Jenazah dokter Anita langsung di bawa ke rumah sakit, di temani dokter Arya. Sedangkan Dave langsung di giring ke kantor polisi dengan keadaan babak belur.


********


Di rumah sakit, tampak Zaidan, Baskoro dan Irma begitu gelisah di depan ruang operasi.


Menurut dokter pendarahan hebat yang di alami Devina, mengakibatkan infeksi di rahimnya, apa lagi ini pendarahan untuk kedua kalinya. Dan kencangnya camb*kkan di perut Devina mengakibatkan pembengkakan, terlebih di kehamilan yang pertama perut Devina mengalami benturan yang teramat keras, sehingga mengakibatkan keguguran.


Baskoro dan Irma sangat terpukul sekali dengan semua yang terjadi dengan putrinya. Mereka berpikir menikah dengan Zaidan adalah kebahagiaan untuk putri mereka. Tapi, tidak di sangka Dave datang kembali menghancurkan kehidupan putri kesayangan mereka, bahkan putri mereka kembali berbaring tak berdaya karena ulah seorang Dave.


Baskoro merasakan sesak di dadanya, gemuruh amarah menguasai seluruh tubuhnya. Saat harus menyaksikan sang putri yang sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi, dan sang istri yang kini sedang menangis pilu di pelukannya.


"Mah tunggu di sini, papah mau keluar sebentar "ucap Baskoro, sambil melepaskan pelukannya.


"Papah mau kemana.??"Tanya Irma, dengan suara parau.


"Papah mau menenangkan hati dan pikiran dulu."Baskoro menyakinkan Irma.


Perasaan Irma tidak enak, sebagai istri dia merasakan kecurigaan jika ada sesuatu yang tidak beres pada diri suaminya.


"Zaidan, papah mau menenangkan diri sebentar, tolong jaga mamahmu."Pinta Baskoro, dengan tatapan nanar.


Zaidan mengerutkan keningnya, menatap lekat mata Baskoro, dia menangkap sesuatu yang aneh dari tatapan mertua laki-lakinya itu. Tetapi, dia berusaha bersikap biasa saja.


"Iya pah."Jawab Zaidan.


Baskoro tersenyum, dengan langkah lebar diapun segera berlalu dari hadapan Zaidan dan Irma.


"Nak Zaidan, perasaan mamah tidak enak. Mamah takut jika papah berbuat nekat."Ucap Irma, dengan wajah dan tatapan ketakutan.


"Mama tenang saja, Zaidan akan meminta seseorang untuk mengikuti papah."Jawab Zaidan yang langsung mengambil ponselnya. Dan mengirim pesan kepada seseorang.


Perkataan Zaidan membuat Irma merasakan ketenangan.


"Terimakasih nak."


"Sama-sama mah."Zaidan tersenyum, dan merangkul pundak mertua yang sudah di anggap mamahnya sendiri.


Sementara itu, dengan langkah cepat Baskoro langsung menuju mobilnya, dan segera melaju kencang membelah jalan raya. Tanpa di sadarinya sebuah motor RX King mengikutinya, ada dua orang di atas motor itu. Orang yang di bonceng langsung mengirimkan pesan kepada Zaidan.


Zaidan menarik napas kasar, saat membaca pesan yang di kirimkan anak buahnya.


"Sudah ku duga."Gumamnya.

__ADS_1


{ Ikuti dan pantau terus }.


Tak lama berselang, lampu ruang operasi pun mati, dan pintu segera terbuka.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya.??"Zaidan langsung menghampiri lelaki berjas putih, dengan wajah cemas.


"Tuan Zaidan, nyonya Devina sudah melalui masa kritisnya, tapi maaf keadaannya sangat lemah. Jadi kami menempatkannya di ruang ICU."Jawab dokter, sambil menghela napas.


Zaidan terdiam sesaat, sedangkan Irma, air matanya semakin deras membasahi wajahnya.


"Kami akan segera memindahkan nyonya Devina ke ruang ICU tuan."Ucap dokter.


Hospital Bed pun keluar dari ruang operasi, dengan membawa tubuh Devina yang tak sadarkan diri.


"Vinaaa..!!"Panggil Irma, dengan tangisannya yang semakin pecah. sambil mengikuti langkah para perawat menuju ruang ICU.


Zaidan menatap nanar ke arah mereka, amarah menguasai dirinya, Tampak wajahnya yang memerah, dengan urat leher yang terlihat menegang, dan telapak tangan yang mengepal kencang. Dengan langkah lebar dia pun meninggalkan rumah sakit.


Zaidan segera masuk ke dalam mobilnya, sambil menghidupkan dan melajukan kencang mobilnya. Dia menelpon seseorang.


"Cari dimana keberadaan Lion, aku akan menemui Dave.!!"Ucap Zaidan, saat panggilan terhubung, dan dia langsung menutup ponselnya.


"Lion, Dave aku akan membuat perhitungan dengan kalian.!!"Geram Zaidan.


**********


Mobil Baskoro sudah sampai di kantor polisi, dengan cepat dia turun dari mobilnya, dan langsung masuk ke dalam tanpa mempedulikan panggilan polisi.


Saat dia melewati ruang tunggu, dia melihat Dave sedang bersama Lion dan seseorang lelaki berjas hitam, yang di perkirakan adalah seorang pengacara.


Melihat Dave, amarah Baskoro semakin memuncak, napasnya tampak naik turun, menahan emosi yang sudah hampir meledak.


Semua terkejut, mereka tidak ada yang bisa mencegah penyerangan Baskoro, karena waktu yang teramat cepat.


"Akhhh..!!"Teriak Dave kesakitan.


Sebuah belati tajam, menancap sangat dalam ke perut Dave. Lion, pengacara dan beberapa petugas polisi langsung meringkus Baskoro. Tetapi, karena sudah di kuasai amarah, Baskoro berhasil melepaskan pegangan mereka. Dan menghajar tubuh Dave, yang sudah ambruk bersimbah da*ah.


"Ini hukumanmu yang sudah menyiksa putriku, dan menghilangkan nyawa calon cucuku.!!"Teriak Baskoro, dengan penuh amarah.


Dor..


Salah satu petugas kepolisian melemparkan tembakan ke atas, membuat Baskoro tersadar apa yang sedang di lakukannya. Napasnya tersengal-sengal menatap tubuh Dave yang sudah bersimbah da*ah, babak belur dan tak sadarkan diri.


Polisi langsung meringkus tubuh Baskoro, tanpa perlawanan, polisi langsung membawanya ke sel.


Tubuh Dave pun langsung di evakuasi dan di larikan ke rumah sakit.


Mata Lion tampak memerah, kilatan amarah sangat tampak di matanya, saat menatap punggung Baskoro yang di bawa oleh petugas kepolisian.


Zaidan yang baru saja tiba di kantor polisi, terkejut saat melihat tubuh Dave yang mengenaskan, masuk ke dalam ambulans.


Zaidan menghela napas.


"Papah, benar-benar melakukannya."Gumam Zaidan.


Saat dia membalikkan tubuhnya, tatapannya bertemu dengan Lion.

__ADS_1


"Ternyata kamu ada di sini."Dave berkata dengan senyum sinisnya.


"Jika terjadi sesuatu dengan Dave, aku tidak akan melepaskan kalian, terutama mertua bo**hmu itu.!!"Ucap Lion, tepat di wajah Dave.


"Semua itu setimpal dengan perbuatannya kepada istriku, dan kamu tinggal menunggu giliran."Zaidan berkata, sambil mendorong kasar dada Lion.


Lion yang hendak marah dan mengejar Dave, di tahan oleh pengacaranya.


"Jangan tuan, situasi akan semakin rumit. Kita harus mengatur strategi dengan baik untuk membalas dendam."Bisik pengacara itu.


"Iya kamu benar, aku akan menghabisi semua orang yang berada di dekat anak si**an itu.!!"Ucap Dave geram.


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang."Ajak pengacara.


Lion mengangguk, dan mereka pun masuk ke mobil, menyusul ambulans.


Zaidan segera mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mengikuti dan mengawasi Lion. Dia pun segera menemui petugas kepolisian, dan meminta bertemu dengan Baskoro.


Sesampainya di depan sel, Zaidan melihat Baskoro yang sedang meringkuk sambil menangis. Hati Zaidsn terasa sangat pilu.


"Pah."Panggil Zaidan lirih.


Baskoro mendongakkan kepalanya, dan langsung berdiri menghampiri Zaidan.


"Zaidan, aku sudah berhasil membun*hnya, Dave sudah mati, dia tidak akan datang lagi untuk mengganggu kebahagiaan kalian berdua."Baskoro berkata sambil memegang lengan Zaidan, tampak kebahagiaan dan senyum di wajahnya.


Hati Zaidan begitu terenyuh, menatap lelaki setengah baya di hadapannya. Seorang ayah yang bisa melakukan apa saja untuk kebahagiaan putrinya.


Saat bibir Zaidan ingin menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat nama mama Irma di layar ponselnya. Dengan hati berdegup kencang, dia pun mengangkat telponnya.


"Hallo."


"Nak Zaidan, kamu dimana?? Devina kritis.."


Deg..


***********


Aku hadir dengan satu kali up sehari 😁


Apa yang akan terjadi selanjutnya??


Apakah Dave akan selamat??


Hukuman apa yang akan di dapatkan Baskoro??


Apakah Devina akan melewati masa kritisnya?? atau sebaliknya??


Tunggu kelanjutannya ya, semoga bisa up lagi besok🤗.


Sambil menunggu up, mampir ke karya Mama Reni, yang novelnya selalu keren abis 😍



Promosi terus novel sendiri, yang ga kalah seru👇🥰


__ADS_1



__ADS_2