Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Dion dan Razama


__ADS_3

Bab 68


"Penyesalan Zaidan"


Di sebuah restoran mewah, di salah satu ruang VIP, tampak Zaidan bersama Mira dan dokter Arya sedang menikmati dan menyantap makan siang mereka.


Suasana hangat begitu terasa di antara mereka. Mira menatap bergantian kedua putranya. Sebuah kebahagiaan dan kesempurnaan di rasakannya sebagai seorang ibu, namun, semua akan terasa lebih lengkap jika melihat kedua putranya bersama pasangan mereka. Apa lagi, jika ada anak kecil di antara mereka.


"Ada apa mah, kenapa menatap kami seperti itu.??"Tanya dokter Arya, sambil memasukkan sepotong daging ke mulutnya.


"Mungkin mamah baru sadar, jika kita berdua anak lelakinya yang sangat gagah dan membanggakan."Timpal Zaidan, sambil meminum orange jus nya.


"Iya benar, kalian itu lelaki impian para wanita. Tetapi sayang.."Ucap Mira sambil mendengus, dan meneruskan makannya.


Zaidan dan dokter Arya yang duduk berhadapan hanya saling melempar pandang. Dokter Arya hanya mengangkat bahunya, dan melanjutkan ritual makannya. Sedangkan Zaidan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Mira menarik napas kasar dan mendengus kesal, menatap tajam bergantian Zaidan dan dokter Arya. Sedangkan mereka tertawa kecil melihat wajah kesal mamahnya.


Tak lama, makan siang pun selesai.


"Mah, pulang dengan bang Arya gak papa khan.?? "Tanya Zaidan, sambil melihat jam branded yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah biasa, mamah pulang sama abangmu.!!"Jawab Mira ketus, dengan wajah cemberut.


"Ish, mamaku ini cantik sekali kalau lagi ngambek."Goda Zaidan, sambil memeluk Mira.


Sedangkan dokter Arya, hanya tersenyum melihat kelakuan Zaidan.


"Seharusnya yang kamu rayu itu bukan mamah.."Ucap Mira dengan wajah malas.


"Jika sudah waktunya, mamah pasti akan cemburu."Ucap Zaidan menyela perkataan Mira.


Kembali Mira mendengus kesal, sedangkan dokter Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mah, kita pulang sekarang, Arya harus kembali ke rumah sakit."Ucap dokter Arya, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kalian itu, kalau mamah bahas tentang pasangan, pasti jawabannya selalu seperti ini.!!"Ucap Mira ketus, tampak jelas sekali kekesalan di wajahnya. Dia pun segera bangkit dari duduknya, dan langsung beranjak pergi, tanpa menghiraukan Zaidan dan dokter Arya.


Zaidan dan dokter Arya segera bangkit mengejar sang mamah. Walaupun, mereka sudah memiliki segalanya, tetapi bagi mereka Mira adalah keramat berjalan.


"Mamah sayang, jangan marah dong."Zaidan langsung memeluk tubuh Irma.


"Iya mah, kami pasti akan memberikan mamah double."Celetuk dokter Arya, membuat Irma menghentikan langkahnya.


"Double bagaimana maksudmu.??"Mira mengerutkan keningnya, menatap bergantian Zaidan dan dokter Arya.


"Kami akan memberi mamah istri sekaligus cucu."Bisik dokter Arya.


"Apa.??"Teriak Mira, yang membuat wajah Zaidan dan dokter Arya memerah.


"Mamah, kenapa teriak sie.?"Sungut Zaidan, sambil celingukan melihat keadaan sekitar. Untung mereka masih di area VIP, jadi tidak ada yang mendengar teriakan Mira.


"Kalian punya niat menghamili wanita dulu, baru menikahinya, hah.??!!"Tanya Mira, dengan wajah kesal.


"Kalau aku sie tidak, kalau Zaidan mungkin.."Ucap dokter Arya santai.


Mira kembali mengerutkan keningnya, dan menatap tajam Zaidan.


Zaidan gelagapan di tatap seperti itu.

__ADS_1


"Makaud loe, apa sie bang.??"Tanya Zaidan, wajahnya mulai gusar.


Dokter Arya hanya mengulum senyum, mendengar pertanyaan Zaidan.


"Arya, maksud kamu apa.??"Mira menatap tajam dokter Arya.


"Tidak apa-apa mah, Arya hanya becanda kok."Dokter Arya mencoba meyakinkan Mira.


"Kamu kalau becanda jangan keterlaluan Arya.!! Mamah lelah.!!"Mira berkata, sambil kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruang VIP.


Zaidan menahan lengan dokter Arya yang berniat mengikuti langkah Mira, dokter Arya pun menghentikan langkahnya.


"Lo berhutang penjelasan sama gw bang.!!"Bisik Zaidan, penuh penekanan.


Dokter Arya hanya tersenyum simpul, menepuk pelan pundak Zaidan, dan segera menyusul Mira.


Zaidan menatap punggung dokter Arya dengan perasaan dan pikiran yang tiba-tiba tidak menentu.


*************


Sementara itu, di negara lain, tampak dua orang anak laki-laki yang sedang sibuk bermain. Anak laki-laki dengan wajah bulat dan berkulit putih berusia 11 tahun, sedangkan yang satunya masih balita dengan usia 4 tahun.


Anak lelaki berusia empat tahun itu, mempunyai garis wajah yang sangat sempurna, wajah oval dengan rahang yang tegas, mata tajam dengan alis tebal, dan berkulit putih bersih, menambah kesempurnaannya.


Tampak seorang wanita, dengan tampilannya yang jauh lebih dewasa dan elegan, sedang sibuk menata makanan di meja makan.


"Mamah Amanda, apa kita akan kembali ke Indonesia.??"Tanya lelaki berusia 11 tahun itu, yang tak lain adalah Dion.


"Iya sayang, lusa kita akan kembali ke Indonesia."Jawab wanita itu yang tak lain adalah Amanda.


"Apa kita akan tinggal di Indonesia.??"Tanya Dion sambil duduk di kursi, sebelah Amanda.


"Justru aku senang sekali, bisa bertemu dengan eyang putri dan kawan-kawan di panti."Jawab Dion dengan senyum Sumringah.


"Pasti kawan-kawan di panti sudah besar semua, Aisyah pasti juga sudah besar ya mah.??"Tanya Dion sambil senyum-senyum, membayangkan bagaimana wajah Aisyah sekarang.


Amanda menatap Dion lekat, dia menyadari jika Dion sudah menginjak masa remaja awal atau ABG, tetapi, dia tidak menyangka jika diam-diam Dion menyukai salah satu anak panti yaitu Aisyah. Bahkan sudah lima tahun berlalu Dion masih mengingat anak itu.


Amanda menghela napas, dia teringat dengan Doni, mereka juga di pertemukan di panti. Terpisah jarak dan waktu, bahkan takdir mempertemukan mereka kembali dengan dua anak laki-laki yang cerdas, tampan dan menggemaskan.


"Apa kamu menyukai Aisyah.??"Tanya Amanda penuh selidik.


Mendengar pertanyaan Amanda, Dion tersipu malu. Seketika wajahnya merah merona.


"Aisyah itu menggemaskan mah, dia seperti seorang bidadari kecil."Jawab Dion sambil tersenyum, terlihat binar kebahagiaan di mata dan pipi chubbynya.


Jawaban Dion membuat Amanda terdiam. kata-kata itu sama persis yang di ucapkan Doni kepadanya.


"Kenapa, jalan pikiran ayah dan anak ini sama sie??"Tanya Amanda kepada diri sendiri.


"Papah Doni.."


Teriakan anak laki-laki empat tahun itu membuyarkan pikiran Amanda.


Amanda dan Dion menoleh, tampak seorang laki-laki dengan tubuh proporsional, kulit putih bersih, wajah yang begitu berwibawa dan sepasang mata yang teduh.


"Hallo jagoan papah."


"Cup."

__ADS_1


Dengan penuh sayang, lelaki itu menggendong dan mencium pipi anak laki-laki yang bernama Razama atau biasa di panggil Raza.


Raza tertawa bahagia mendapatkan ciuman dari lelaki yang di panggilnya papah, lebih tepatnya papah Doni.


"Hai pah Don."Ucap Amanda, sambil mencium punggung tangan Doni.


Doni tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Amanda.


"Papah."Ucap Dion, mencium punggung tangan Doni.


Doni pun duduk di tengah-tengah Amanda dan Dion, sambil memangku Raza.


"Sayang, ayo duduk di bangku sendiri, kasihan pah Don capek."Amanda berkata, sambil meraih tubuh Raza.


"No mah, aku mau sama papah Doni." Ucap Raza, yang sudah lancar berbicara.


Walaupun tinggal di Kanada, tetapi Amanda dan Doni tetap membiasakan Dion dan Raza untuk berbicara dengan memakai bahasa Indonesia.


"Tidak apa-apa Mah Manda."Doni berkata sambil membelai kepala Raza.


"Jangan terlalu memanjakannya."Protes Amanda.


"Aku tidak manja.!!"Raza berkata dengan wajah cemberut, dan mata berkaca-kaca.


"Tidak manja, tetapi cengeng."Ledek Dion, sambil tertawa.


"Huwaaaa..."


Perkataan Dion membuat Raza menangis.


"Ush, jagoan papah Doni tidak boleh cengeng."Doni mencoba menenangkan Raza, sambil mengelus dan menghapus lembut air mata Doni.


Dion mencibir ke arah Raza, sedangkan Raza menjulurkan lidahnya, sambil bergelayut manja di pelukan Doni.


Amanda dan Dion hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan anak-anak mereka yang usianya berbeda lima tahun, tetapi selalu bertengkar.


Sifat Dion yang jahil dan sering meledek Raza, yang sering menimbulkan Raza menangis.


"Ayo, kita makan sekarang."Ajak Amanda, sambil menuangkan nasi ke piring Doni, Dion, Raza dan ke piringnya.


Mereka pun makan dengan lahap, di iringi dengan obrolan dan candaan yang hangat. Benar-benar keluarga kecil yang penuh kebahagiaan.


***********


Ayo tebak, Amanda dan Doni sudah menikah belum.???


Ada yang tahu gak, siapa si kecil Razama itu😁??


Apakah dokter Arya mengetahui sesuatu tentang Amanda, atau hanya asal bicara saja??


Mau tahu jawabannya??


Ikuti terus kisah di setiap babnya.


Alhamdulillah, novel terbaru author baru netes kemarin, dengan jalan cerita sedikit berbeda.


Mampir, kepoin dan minta dukungannya👇👇


__ADS_1



__ADS_2