
Bab 53
"Penyesalan Zaidan"
"Mira..??" Panggil bunda, dengan tatapan tak percaya ke arah Mira.
Mira pun terperanjat, saat melihat kedatangan bunda.
"Winda.."Panggil Mira, dengan mata membulat sempurna.
Amanda, dokter Arya dan mba Narti, menatap penuh tanya ke arah mereka berdua.
"K..kamu masih hidup Winda.?"Tanya Mira, dengan suara bergetar.
"Seperti yang kamu lihat, aku berdiri di hadapan mu dalam keadaan baik-baik saja."Jawab bunda, dengan suara dingin dan tatapan datar.
"Bukankah, kecelakaan itu..??"
"Membuat aku hangus terbakar, karena kecelakaan mobil itu..!"
Bunda menyela perkataan Mira, dengan senyum sinis di bibirnya.
Semua terkejut dengan pernyataan bunda.
"Bukan aku yang menjadi penyebab kecelakaan itu..!!"Jawab Mira sambil menggelengkan kepalanya, tampak ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
"Mama, bunda ada apa sebenarnya.??"Tanya Amanda penasaran.
Bunda menarik napas, dan menghembuskannya kasar.
"Kenapa kamu memanggil wanita ini, dengan sebutan mamah, Amanda..??"Bunda menatap tajam Amanda, terlihat ketidaksukaan di sorot matanya.
Amanda tersentak, dia tidak pernah melihat bunda menatapnya dengan cara seperti itu.
"Aku yang memintanya untuk memanggil mamah."Mira menjawab pertanyaan bunda, dengan tatapan hangat ke arah Amanda.
Amanda menjadi bingung, saat Mira menatapnya penuh kehangatan. Sedangkan, bunda menatapnya tajam.
"Maaf bunda, saya tidak tahu masalah kalian di masa lalu."Ucap dokter Arya, mencoba menjadi penengah.
"Kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin, kasihan Amanda yang tidak tahu apa-apa dengan masa lalu kalian."Ucap dokter Arya lagi.
"Benar kak, kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik."Ucap mba Narti, sambil mengelus pundak bunda.
"Kamu bisa bicara seperti ini, karena kamu tidak ada di posisi aku Narti."Jawab bunda ketus.
"Dokter Arya, silahkan bawa mamahmu pergi dari sini..!!"Ucap bunda lagi, dengan suara dingin penuh penekanan.
"Kenapa kamu masih terus membenciku Win.? kamu juga mengetahui, betapa menderitanya aku karena ulah adikmu..!!"Teriak Mira, dengan mata berkaca-kaca.
"Seberapa besarpun kesalahan adikku, kamu tidak berhak untuk membunuhnya..!!"Bentak bunda, dengan dada yang tampak naik turun, karena amarahnya yang memuncak.
"Aku tidak pernah membunuh adikmu,!! aku tidak terlibat dengan kecelakaan itu..!!"Teriak Mira sambil terisak.
Dokter Arya segera memeluk tubuh Mira, mencoba menenangkannya. Begitu juga dengan Amanda, dia langsung memeluk dan mengusap punggung bunda. Seketika, bunda langsung menumpahkan air matanya di pelukan Amanda.
"Mamah, dokter Arya, maaf bukannya mengusir.."Ucap Amanda lirih, dengan perasaan bingung dan tidak enak.
"Tidak apa-apa Amanda, maafkan kami karena sudah membuat keributan di sini."Jawab dokter Arya, sambil menghela napas.
"Kalau begini caranya, aku harus segera merubah rsncanaku."Ucap dokter Arya dalam hati.
"Kami pamit dulu, Amanda, mba Narti.."Dokter Arya berkata, sambil mengangguk.
Amanda dan mba Narti membalas dengan senyuman, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.
__ADS_1
"Tapi, Arya.."Protes Mira.
"Mah.."Ucap dokter Arya pelan, dengan sorot mata yang mengisyaratkan sesuatu.
Dengan pasrah, Mira pun mengikuti langkah dokter Arya yang pergi meninggalkan panti, sebelum keluar dari ruang keluarga, Mira terus menatap dalam Amanda, yang di balas dengan tatapan nanar dari Amanda.
Tangis bunda pecah, ketika Mira dan dokter Arya sudah menjauh pergi. Sambil terisak dia pun bergegas melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan langsung menguncinya.
Amanda dan mba Narti saling tatap.
"Biarkan saja dulu, bunda butuh waktu sendiri."Ucap mba Narti sambil meraih pundak Amanda, mengajaknya duduk di sofa.
"Apa mba Narti tahu tentang masa lalu bunda.??"Tanya Amanda, dengan tatapan penuh selidik.
Mba Narti menghembuskan napasnya kasar.
"Mba juga tidak terlalu tahu banyak."Jawab mba Narti, dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Apa boleh aku mengetahuinya mba.?"Amanda menatap penuh harap.
Mba Narti menatap Amanda sambil tersenyum.
"Tanyakan langsung kepada bunda, mba tidak berhak memberitahunya."Ucap mba Narti, sambil mengelus rambut Amanda.
Amanda menghela napas.
"Baiklah mba, aku akan bertanya langsung kepada bunda."Amanda berkata, sambil bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana.?"Tanya mba Narti, sambil ikut berdiri dan memegang lengan Amanda.
"Ke kamar bunda." Wajah Amanda terlihat gusar.
"Tapi, Manda." Mba Narti kembali menghela napasnya.
"Aku berjanji mba."Ucap Amanda, dengan seulas senyum.
"Kita ngobrol di taman saja ya.."Ajak mba Narti, sambil menarik tangan Amanda menuju taman.
Sesampainya di taman, mereka duduk di kursi tepat menghadap kolam ikan.
"Mba Narti, sebenarnya apa hubungan bunda dengan mamah Mira.??"Amanda langsung memberikan pertanyaannya.
"Waktu itu, usiaku masih 12 tahun, jadi tidak terlalu mengingat dengan semua yang terjadi."Mba Narti berkata, dengan tatapan lurus ke depan. Sesaat, dia memejamkan matanya, mencoba mengingatkan kembali memorinya.
"Waktu itu aku melihat bunda menangis histeris, dengan keadaan yang kacau. Saat adik perempuan beserta suaminya meninggal karena kecelakaan. Dan bunda menganggap, jika kecelakaan itu adalah rencana Mira, yang sakit hati karena suaminya telah di rebut adiknya.."Mba Narti berkata, sambil mengusap wajahnya.
"Apa bunda ada dalam kecelakaan itu.??"Tanya Amanda, menatap nanar mba Narti.
"Iya bunda selamat, tapi dia.." Mba Narti tidak meneruskan ucapannya.
"Kenapa mba..??"Tanya Amanda tak sabar.
"Bunda mengucilkan diri, sampai akhirnya dia memutuskan untuk membangun panti ini."Ucap mba Narti dengan suara bergetar.
"Apa bunda punya bukti, jika mamah Mira pelakunya..? Tanya Amanda penuh selidik.
"Sepertinya, tapi aku tidak mengetahuinya. Yang aku tahu..."
Mba Narti tidak melanjutkan ucapannya, dia merasa begitu berat untuk menceritakannya.
"Mba Narti."Panggil Ana lembut, sambil memegang lengan mba Narti.
Mba Narti tersentak, saat Amanda memanggilnya.
"Mira melakukan itu tidak sendiri."Ucap mba Narti penuh hati-hati.
__ADS_1
"Maksud mba, mamah Mira bekerja sama dengan orang lain, untuk menyingkirkan adiknya bunda dan suaminya.??"Tanya Amanda, dengan wajah semakin penasaran.
Mba Narti mengangguk.
Amanda menarik napas kasar.
"Apa bibi tahu, alasan kenapa adiknya bunda merebut suami bu Mira.??"Tanya Amanda lagi.
"Maaf Amanda, untuk soal itu mba juga tidak mengetahuinya. Nanti jika kondisi bunda sudah lebih baik, kamu bisa bertanya langsung kepada beliau."Jawab mba Narti.
Amanda menghela napas.
"Mba, mau urus anak-anak dulu ya."Mba Narti berkata, sambil bangkit dari duduknya.
Amanda tersenyum dan mengangguk. Dia menatap nanar punggung mba Narti yang melangkah masuk ke dalam.
Amanda merasakan kekhawatiran di hatinya, saat mengingat Zaidan.
"Zaidan semoga kamu baik-baik saja."Gumam Amanda, tiba-tiba kerinduan dengan sosok Zaidan menyeruak di hatinya. Apalagi, saat dia teringat kejadian di kamar penyiksaan beberapa hari yang lalu.
Amanda memejamkan mata, buliran hangatpun meluncur bebas di sudut matanya.
**********
Dua bulan kemudian.
Zaidan dan Devina, tampak baru keluar dari klinik bersalin. Sebuah senyum kebahagiaan terukir di wajah mereka.
"Aku bahagia banget sayang, bayi kita dalam keadaan sehat."Devina berkata, sambil bergelayut manja di lengan Zaidan.
Zaidan tersenyum, sambil membelai rambut Devina dan mencium keningnya.
"Kamu ikut ke kantor dulu, aku ada meeting sebentar, setelah itu kita ke mall bersama, sekaligus makan siang."Tawar Zaidan.
"Kebetulan aku ada janji sama Ria, biar aku naik taxi saja Zay."Jawab Devina, langsung mengecek ponselnya.
"Tuh khan, Ria sudah sampai Zay."Devina berkata sambil menunjukkan chat dari sahabat mereka Ria, yang baru saja kembali dari Bali.
"Baiklah, aku akan menunggu taxi mu datang."Jawab Zaidan.
"Ish, aku bukan anak kecil. Aku ini calon mamah."Ucap Devina sambil tertawa.
Zaidan pun ikut tertawa, sambil mengacak pelan rambut Devina.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sudah sangat lama memperhatikan mereka. mata yang menatap nyalang ke arah mereka.
"Aku tidak akan pernah rela melihat kalian bahagia..!!"Apalagi dengan kebohongan yang sudah kalian lakukan kepadak.!!"
**********************
Benarkah, Mira terlibat dalam pembunu*an suaminya sendiri..??
Apa yang akan di lakukan Amanda untuk Zaidan?
Siapakah, sepasang mata yang sedang mengintai Zaidan dan Devina..??
Ikuti bab selanjutnya.
Terimakasih, buat yang selalu meminta update, memberi like dan dukungan ππ.
Jangan lupa untuk mampir kedua karyakuππ
__ADS_1