
Bab 12
"Penyesalan Zaidan"
Dengan air mata yang berlinang, saat keluar dari ruang perawatan Zaidan, Wina berjalan setengah berlari ke arah toilet, dan tanpa Wina sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap nya.
Tatapan yang penuh amarah, dan sepasang mata yang sudah memerah itu pun mengikuti kemana arah Wina berlari.
Terlihat dia berhenti dan berdiri di depan pintu toilet yang di masuki Wina, sambil menyandar kan tubuh nya di tembok, dengan ber sedekap dada, dan ekpresi wajah nya yang tidak bisa di artikan.
Hampir setengah jam menunggu, akhir nya pintu toilet pun terbuka, Wina melonjak kaget karena di depan nya sudah berdiri seseorang yang berstatus suami nya.
Tubuh Wina seketika bergetar ketakutan, melihat ekspresi wajah suami nya yang sedang di kuasai amarah.
"Pah..!!"Panggil Wina, dengan suara tertahan.
"Pulang sekarang.!!!"Perintah lelaki itu yang tak lain adalah Lion.
Dengan kasar Lion menarik tangan Wina, tanpa mempedulikan banyak pasang mata yang menatap mereka penuh tanda tanya
Supir mereka pun, ternyata sudah menunggu di depan lobby rumah sakit, dan saat supir membuka kan pintu untuk mereka, Lion pun langsung mendorong tubuh Wina ke dalam mobil,
"Tapi Dave bagaimana pah..??"Tanya Wina, saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Air mata yang di tahan Wina pun, kini sudah membasahi wajah nya.
"Jangan pikir kan Dave, pikir kan saja hukuman apa yang akan aku berikan kepada mu setelah ini..!!"Bentak Lion, dengan mata dan wajah memerah.
Wina menangis tanpa suara, saat mobil melaju pergi dari halaman rumah sakit.
Dia menatap keluar jendela mobil, ingin rasa nya dia lompat keluar, mengakhiri hidup nya dengan tergelinding di aspal, atau tertabrak kendaraan yang sedang melaju.
Tapi seketika bayang-bayang seorang anak perempuan jauh di sana sedang terbaring lemah dan berjuang melawan penyakit nya, langsung hadir di pelupuk mata nya.
Wina hanya mampu memejam kan mata nya, membayang kan dan menyiap kan diri, untuk hukuman yang akan segera di terima nya.
Sang supir bergidik ngeri melihat kemarahan Lion, dia sangat tahu bagaimana seorang Lion jika sudah marah.
Dia hanya menelan saliva nya, jika membayang kan apa yang akan di lakukan tuan nya kepada nyonya nya saat mereka sampai di rumah nanti.
Suasana di dalam mobil pun sunyi, karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Wina hanya mampu menggigit bibir bawah nya, agar tangis nya jangan sampai mengeluarkan suara.
__ADS_1
Tak lama mobil pun sampai di rumah kediaman keluarga Radthya.
Lion langsung menarik kasar tangan Wina untuk turun, dan langsung menyeret nya ke dalam rumah.
Saat sampai di dalam kamar, Lion langsung mendorong tubuh Wina, hingga jatuh ke lantai, dengan kasar Lion menjam**k rambut Wina, menyeret nya kembali ke kamar mandi.
menengge**m kan kepala Wina berkali-kali ke dalam bak mandi yang sudah di isi air penuh, sehingga membuat napas Wina terengah-engah dengan wajah yang sudah sangat memerah,
Lion menghentikan aksi nya, saat melihat Wina sudah tak berdaya.
"Beruntung, hari ini tangan aku malas untuk memukul.."Lion berkata, sambil kembali menjam**k rambut Wina kasar.
Wina tidak merespon, karena tubuh nya yang sudah terlalu lemah, dengan napas yang hampir habis, ucapan Lion, seperti angin yang berhembus, membuat nya msmejam kan mata.
"Si*l..!!"Umpat Lion, yang melihat Wina tidak bergerak, dia pun langsung menggendong Wina ke ranjang, kemudian segera mengganti pakaian Wina yang basah terkena air.
Setelah merapikan pakaian Wina, Lion langsung menelpon Dokter Richard, dokter pribadi keluarga besar Radthya.
Tidak berapa lama, dokter Richard pun datang, dan langsung memeriksa keadaan Wina.
Dokter Richard menghela napas.
"Apa, kamu tidak takut dia akan mati Lion..??"Tanya dokter Richard, menatap tajam Richard.
.
"Kenapa kamu selalu cemburu dengan Zaidan..??"Tanya dokter Richard lagi.
"Anak sia**n itu persis seperti ayah nya, selalu mengambil apa yang aku suka.."Jawab Lion, dengan wajah gusar.
"Dan kamu juga tahu, jika putra ku sangat mencintai Devina, tapi apa, anak sia**n itu justru menjalin cinta dengan Devina..!!"Lion berkata, dengan penuh emosi.
"Sebenar nya, aku sangat menyayang kan hanya karena wanita, hubungan keluarga jadi penuh dendam.."Dokter Richard berkata, sambil menulis sebuah resep.
"Kamu sahabat ku Richard, seharus nya kamu membela ku.."Ucap Lion , dengan wajah masam.
"Hai amarhum Willy sahabat ku juga, kalian itu bersaudara gara-gara wanita hubungan kalian hancur.."Dokter Richard berkata, sambil menghela napas, dan menggeleng kan kepala nya.
"Dari muda sampai sekarang sudah berumur, sifat dan sikap mu tidak pernah berubah Lion.."Dokter Richard berkata dalam hati.
"Teruslah dengan pemikiran mu Lion, sebagai sahabat aku hanya bisa mengingat kan.."Ucap dokter Richard lagi.
"Segera tebus resep ini, kebetulan persediaan obat dan vitamin nya aku sedang habis.."Dokter Richard berkata lagi, sambil memberikan selembar resep kepada Lion.
__ADS_1
Lion menerima nya, dan langsung menghubungi pak Subur yang merupakan salah satu supir pribadi keluarga Radthya untuk menebus resep.
Saat pak Subur sampai di pintu kamar, Lion segera memberikan resep dan uang kepada nya
"Baik lah, aku pamit dulu, jangan lakukan hal bodoh lagi, jika kamu tidak mau berhubungan dengan psikiater dan kantor polisi."Dokter Richard berkata, sambil menepuk pelan pundak Lion.
"Pembayaran sudah aku transfer.."Ucap Lion dengan wajah masam.
Dokter Richard hanya tersenyum dan mengangguk .
Kemudian melangkah pergi, keluar dari kamar Lion.
Selepas dokter Richard pergi, Lion pun melangkah mendekati Wina yang masih tak sadar kan diri.
Berlahan dia mengusap lembut wajah dan rambut Wina.
"Maaf kan aku sayang."Ucap Lion, sambil mencium kening Wina.
Di tatap nya lekat wajah Wina yang terbaring lemah, dengan mata terpejam.
Lion pun teringat kejadian delapan tahun yang lalu, seorang wanita cantik di sebuah klub malam, yang rela menjual keperaw*n*n nya untuk operasi sang adik.
Lion yang pada dasar nya seorang petualang s**, dan salah satu member tetap di klub itu, cukup dengan secarik kertas dia bisa mendapat kan Wina.
Siapa sangka jika seorang Wina bisa membuat Lion jatuh cinta.
Sampai akhir nya Lion meminta Wina untuk menjadi istri nya, dan bersedia menanggung pengobatan adik perempuan nya.
Tapi sikap Lion yang posesif, membuat diri nya mudah terbakar api cemburu, apa lagi saat dia tahu jika istri nya itu mencintai Zaidan.
Amarah kembali terlihat dari sorot mata tajam Lion.
"Willy, dulu kamu sudah mengambil wanita yang sangat aku cintai, masa depan ku, sekarang putra si***n mu, mau merebut istri dan calon mantu ku
."Geram Lion, sambil mengepal kan telapak tangannya dengan kencang.
*************
Maaf ya "Penyesalan Zaidan" baru up, karena harus up di novel "Jodoh Tak Pernah Salah Memilih".
Jangan lupa melimpir ketiga karya author๐๐๐
__ADS_1
.