
Bab 61
"Penyesalan Zaidan"
"Apa.?"Teriak Amanda, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa hamil.? mas Zaidan hanya sekali menyentuhku di kamar penyiksaan itu."Ucap Amanda dalam hati.
"Perceraian kami sudah hampir dua bulan. Apa mas Zaidan akan percaya, jika bayi yang aku kandung ini anaknya.?"Ucap Amanda lagi dalam hati.
"Apa lagi, dia baru kehilangan Devina. Aku tidak mau dianggap memanfaatkan situasi. Kenapa aku bod*h sekali, sampai tidak menyadari jika aku sudah telat dua bulan."Amanda kembali menggelengkan kepalanya, menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merutuki semua kebodo*annya. Tanpa terasa, buliran hangat sudah membasahi wajahnya.
Doni dan dokter Rudi saling tatap.
"Amanda."Panggil Doni lirih, menyentuh pundak Amanda, yang tampak terguncang karena isakannya.
"Kak Doni, apa yang harus aku lakukan.?"Tanya Amanda dengan suara parau, sambil menatap Doni.
Doni menghela napas.
"Kamu harus segera memberitahu Zaidan tentang kehamilanmu, Manda."Jawab Doni lembut, sambil mengelus rambut Amanda.
"Tapi, mas Zaidan baru kehilangan wanita yang sangat di cintainya."Amanda berkata dengan suara yang sangat lirih, tiba-tiba ketakutan menyeruak di hatinya.
"Zaidan harus tahu Manda, bagaimanapun janin ini adalah anaknya."Doni berkata sambil tersenyum lembut, walaupun hatinya begitu sakit, menerima kenyataan jika wanita yang di cintainya kini sedang berbadan dua.
"Mas Zaidan tidak pernah mencintaiku kak.!! Aku tidak mau jika mas Zaidan kembali kepadaku hanya karena janin ini, seperti saat dia menikahiku karena surat wasiat.!!"Tangis Amanda semakin pecah.
Doni segera membawa Amanda ke dalam pelukannya. mencoba menenangkannya.
"Lalu, apa rencanamu Manda.??"Tanya Doni selembut mungkin.
Amanda melepaskan pelukan Doni.
"Aku tidak mau mas Zaidan tahu kehamilanku."Ucap Amanda, sambil menatap nanar wajah Doni.
"Kamu yakin.??"Tanya Doni, sambil mengerutkan keningnya.
Amanda mengangguk.
"Iya kak, aku tidak mau lagi larut dalam perasaanku sendiri. Jika Tuhan memberikan kesempatan kedua untukku berumah tangga, aku ingin mendapatkan seorang laki-laki yang mencintaiku dengan ketulusannya, yang benar-benar menghargai dan memperjuangkan aku kak."Amanda berkata, sambil menyeka air matanya yang masih terus mengalir.
Sebuah senyuman, tampak terukir di bibir tipis Doni.
"Jika itu yang kamu mau, aku akan membantumu untuk mendapatkan lelaki itu."Ucap Doni, dengan senyum dan binar kebahagiaan di wajahnya.
Dokter Rudi yang mendengarkan pembicaraan mereka, ikut tersenyum tipis melihat kebahagiaan dan senyuman yang terpancar dari wajah sahabatnya. Dia tidak pernah melihat Doni sebahagia ini.
"Tujuan utama aku sekarang, bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anakku. Aku ingin memberikan kehidupan yang terbaik untuknya, walaupun tanpa seorang ayah."Amanda berkata, sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku berjanji akan membantumu menjadikan wanita yang kuat, dan aku juga akan membantumu menjadi ibu yang hebat."Ucap Doni, sambil menangkup wajah Amanda, dengan tatapan yang penuh arti.
__ADS_1
"Terimakasih kak."Jawab Amanda sambil tersenyum.
Namun, tiba-tiba wajah Amanda berubah sendu.
"Aku ingin ke makam kak Devina."Amanda menatap Doni, dengan tatapan memohon.
Sesaat Doni diam membisu dan menatap lekat wajah Amanda
"Aku akan mengantarmu."Jawab Doni sambil tersenyum. Dia hanya bisa berharap semoga Amanda tidak merubah keputusannya saat bertemu Zaidan.
"Terimakasih kak."Jawab Amanda, memberikan senyum termanisnya.
Doni tersenyum dan dengan penuh perasaan sayang, dia mengacak pelan puncak kepala Amanda.
Merekapun segera berpamitan dengan dokter Rudi.
Meninggalnya Devina setelah penculikan, dan peristiwa tembakan di sebuah klinik, menjadi berita nomor satu di semua media elektronik dan medsos, Apa lagi keluarga Radthya, termasuk salah satu keluarga terkaya dan terpandang di Indonesia. Bahkan beritanya sampai ke luar negri. Sehingga, dengan mudah Doni dapat mengetahui dimana Devina di makamkan.
************
Tak lama waktu berselang, mobil merekapun sampai di area pemakaman. Dan mereka segera turun dari mobil.
Amanda mencoba menetralisirkan jantungnya yang kini berdegup dengan kencang. Apalagi, saat langkah mereka semakin dekat ke area pemakaman, tepat di mana Devina di kebumikan.
Doni yang menyadari itu, segera meraih jemari Amanda dan menggenggamnya erat. Amanda menoleh ke arah Doni, di balas dengan anggukkan dan senyuman oleh Donu, seolah-olah memberikan semangat untuknya. Dengan gugup Amanda berusaha tersenyum.
Prosesi pemakaman Devina sudah hampir selesai, tampak Zaidan yang tertunduk sedih menatap jenazah Devina, yang sedang di timbun oleh tanah merah. Dan di sampingnya Irma yang terus meratapi kepergian putrinya.
Prosesi pemakamanpun selesai, semua pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman. Sehingga hanya tersisa Zaidan, Irma dan pak Handoko.
"Aku turut berdukacita mas Zaidan."
Sebuah suara menyadarkan Zaidan dari kesedihannya, saat dia melihat ke asal suara, tiba-tiba sebuah kehangatan dan kebahagiaan menjalar di relung hatinya.
"Amanda."Ucap Zaidan sambil berdiri, menatap tidak percaya dengan kehadiran Amanda, sebuah senyuman terukir di bibirnya.
Namun, senyumnya seketika menghilang, saat melihat tangan Amanda sedang di genggam erat, oleh laki-laki yang pernah membuatnya kesal dan cemburu. Seketika, wajah Zaidanpun berubah.
"Mau apa kamu kesini.? Mau melihat kesedihanku.? Dan memamerkan kebahagiaan kalian..!!"Tanya Zaidan ketus, dengan tatapan sinisnya ke arah Amanda dan Doni.
Amanda terperanjat, dengan pertanyaan dan sikap Zaidan. Dia pun segera melepaskan genggaman tangan Doni, saat menyadari kemana arah pandang Zaidan.
Doni menghela napas, sedangkan Zaidan tersenyum kecut, dan terus menatap tajam ke arah mereka. Terutama ke arah Amanda.
Amanda hanya menunduk sedih, tanpa di sadarinya, tangannya langsung mengusap pelan perutnya. Pergerakan kecil itu langsung di tangkap pak Handoko, yang membuatnya hanya menghela napas. Sedangkan Zaidan yang sedang di kuasai kesedihan dan amarah tidak menyadarinya.
"Terimakasih Amanda dan Doni sudah datang ke pemakaman Devina."Ucap pak Handoko sambil tersenyum ramah.
"Iya om, sama-sama."Jawab Doni. Sedangkan Amanda hanya menggangguk dan tersenyum.
Zaidan mendengus kesal.
__ADS_1
"Mah, ayo kita pulang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."Zaidan berkata, sambil membantu Irma berdiri. Isakan memilukan masih terdengar jelas.
"Mamah, ingin tetap di sini menemani Devina."Jawab Irma lirih.
"Besok kita akan kembali lagi, Zaidan janji akan menemani mamah." Zaidan berusaha meyakinkan Irma.
Amanda menatap nanar Irma, hatinya sangat terenyuh melihat wajah yang penuh kehilangan dan kesedihan, di tinggalkan putri tercintanya.
Irma langsung menghentikan tangisannya, saat mengingat sesuatu.
"Zaidan, dimana papah.? Apa yang terjadi kepadanya.??"Tanya Irma, menatap Zaidan dengan mata berkaca-kaca.
Zaidan tersentak, kesedihannya sudah melupakan Baskoro yang sedang mendekam di jeriji besi. Tetapi, cepat atau lambat Irma harus mengetahuinya.
"Zaidan, katakan di mana suamiku Baskoro.?"Tiba-tiba Irma berteriak histeris, sambil menarik kasar kemeja Zaidan.
Membuat Amanda, Doni dan pak Handoko terkejut.
Irma sangat tahu, jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi dengan suaminya. Dan sangat mustahil, jika dalam keadaan seperti ini, Baskoro meninggalkannya, apalagi tidak hadir di pemakaman Devina, putri kesayangannya.
Zaidan memberikan isyarat kepada pak Handoko, untuk tidak perlu memberikan tindakan kepada Irma, saat pak Handoko ingin mencegah perbuatan Irma kepadanya.
"Lebih baik kita pulang dulu, biar mamah istirahat. Setelah itu Zaidan janji akan memberitahu di mana keberadaan papah."Jawab Zaidan dengan hati-hati.
"Beritahu aku sekarang Zaidan, di mana suamiku.!!"Teriak Irma lagi, sambil semakin kuat menarik kasar kemeja Zaidan, dan memukuli dada Zaidan.
"Suamimu akan membusuk di penjara.!!!"
************
Siapakah pemilik suara itu.??
Apakah Amanda tetap mempertahankan prinsipnya, untuk tidak memberitahu Zaidan tentang kehamilannya.?
Rencana apa yang akan di lakukan Doni untuk Amanda dan janinnya.??
Ikuti terus kelanjutannya, semoga author bisa up cepat di tengah kesibukan.
Note \= Saat Zaidan menjatuhkan talak kepada Amanda dan sampai mereka resmi bercerai, Amanda belum tahu jika dia akan hamil.
Perempuan yang dicerai hidup atau mati ada masa Iddah yang artinya masa di mana perempuan yang telah menikah, di talak atau di cerai harus menjalani penantian atau menunggu.
Biasanya masa Iddah bagi perempuan yang di talak 4 bulan 10 hari, tujuannya untuk memberikan ruang bagi pasangan yang mau rujuk kembali, atau mengetahui jika dalam masa iddah itu perempuan dalam keadaan hamil atau tidak.
Dan di novel ini, Amanda sendiri yang tidak menginginkan Zaidan mengetahui tentang kehamilannya, dengan alasan tertentu.
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesalahan dan perbedaan pandangan ππ.
Jangan lupa mampir ke novel lainnyaππ
__ADS_1