
Bab 7
"Penyesalan Zaidan"
Di sebuah ruangan serba putih, dengan bau yang khas, tampak sesosok laki-laki kekar, penuh pesona, sedang terbaring tak berdaya, dengan infus di tangan nya, dan tampak perban membelit kepala dan kedua kaki nya.
Sosok laki-laki itu, berlahan mengerjapkan kedua mata nya, seketika dia memicingkan mata nya, berusaha menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya yang sedang di lihat nya.
Tampak ruangan yang masih serba putih di hadapan nya, sesaat dia mencoba mengumpul kan ingatan, sambil mengerut kan kening nya.
"Tuan Zaidan, syukur lah anda sudah sadar.."Sebuah suara di telinga sosok lelaki itu yang tak lain adalah Zaidan.
Zaidan pun menoleh ke sumber suara, tampak di samping nya sudah ber diri seorang laki-laki memakai jas putih dengan kumis yang menghiasi atas bibir nya, dan terlihat memakai stetoskop di leher nya, sedang kan lelaki yang satu lagi memakai setelan jas hitam dengan kaca mata yang menghiasi wajah nya juga, dan dua orang perawat wanita.
"Pak Handoko..??"Tanya Zaidan sambil memegang kepala nya yang di penuhi dengan perban.
Zaidan berusaha untuk duduk, dengan sigap dua orang perawat membantu nya.
"Jangan banyak bergerak dulu tuan Zaidan."Pinta lelaki ber jas putih yang tak lain adalah dokter yang menangani Zaidan.
Zaidan tidak menjawab, dia mencoba menggerakkan kedua kaki nya, tapi seperti keram, nyeri dan mati rasa, sehingga kedua kaki nya tidak bisa di gerakkan sama sekali.
Awal nya Zaidan merasa aneh, tapi lama-lama dia mulai merasa panik, karena tidak ada rasa sama sekali di kaki nya.
"Tuan Zaidan..."Panggil pak Handoko, dengan wajah setenang mungkin.
"Pak Handoko, apa yang terjadi dengan kaki saya...!!!"Teriak Zaidan panik, sambil menatap tajam ke arah pak Handoko.
"Tuan Zaidan saya harap anda tenang dulu, saya akan menjelaskan apa yang terjadi di kaki anda."Jelas dokter, dengan suara setenang mungkin.
"Jelas kan..!!"Apa yang terjadi dengan kaki saya dok..!!"Tanya Zaidan dengan suara ketus, dan tatapan tak suka nya pada sang dokter.
Sang dokter pun hanya tersenyum mendengar perkataan Zaidan.
"Mohon maaf tuan Zaidan, saat mobil anda menabrak pembatas jalan, terjadi benturan yang sangat keras pada saraf tulang belakang anda, sehingga menyebabkan ada nya cedera pada tulang belakang.."Jelas dokter.
Dokter menjeda perkataan nya, kemudian menghela napas.
"Dan cedera tulang belakang yang tuan Zaidan alami, menyebabkan kaki anda tidak bisa di gerakkan tuan..."Jelas dokter lagi, dengan gurat sedih di wajah nya.
"Maksud dokter saya lumpuh..??"Tanya Zaidan dengan senyum smirk, sambil menatap tajam ke arah dokter, dengan Id Card bernama Dr Hermawan.
"Iya tuan, tapi kelumpuhan yang tuan Zaidan alami mssih bisa di sembuh kan, dan tidak perlu melakukan pembedahan.."Jelas dokter Hermawan.
"Kami akan memberikan alat penyangga leher dan punggung ( Pemasangan Traksi )."Jelas dokter Hermawan lagi.
__ADS_1
"Selain itu tuan Zaidan juga harus melakukan secara rutin fisioterapi."Dr Hermawan hanya tersenyum, melihat Zaidan yang tadi berteriak histeris seperti tadi, kini terlihat serius mendengar kan penjelasan nya.
"Yang terpenting tuan Zaidan harus semangat, dan yakin untuk sembuh..."Dokter Hendrawan memberikan semangat untuk Zaidan.
"Terimakasih dok, atas penjelasan nya."Ucap Zaidan datar.
"Sama-sama tuan.."Ucap Dokter Hermawan, sambil tersenyum dan mengangguk.
"Oo iya pak Handoko, sebaik tuan Zaidan di belikan kursi roda elektrik dan tempat tidur khusus, agar kepala atau leher dan punggung nya agar tidak bergerak sama sekali, karena bisa membantu susunan tulang kembali normal.."Jelas dokter sambil menatap pak Handoko.
"Baik dok, terima kasih banyak.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu tuan Zaidan, pak Handoko.."Ucap dokter sambil mengangguk, dan berlalu pergi meninggalkan ruang perawatan Zaidan.
Pak Handoko mengangguk dan tersenyum, sedang kan Zaidan hanya diam membisu, entahlah apa yang di pikir kan nya.
Selepas dokter pergi, Pak Handoko pun segera menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjang Zaidan.
"Tuan Zaidan, apa anda ingat apa yang sudah anda lakukan sebelum kecelakaan..???"Tanya pak Handoko, menatap Zaidan.
Zaidan mengerut kan alis nya, sambil menatap pak Handoko.
Kemudian Zaidan memaling kan wajah nya.
"Anda tahu, tuan Dave hampir sekarat karena perbuatan anda.."Ucap pak Handoko.
"Memang nya kenapa kalau dia sekarat, seharus nya aku langsung membunuh nya...!!"Teriak Zaidan, dengan geraman penuh amarah.
Pak Handokomenarik napas, dan membuang nya kasar.
"Tuan Zaidan, tuan Lion sudah melapor kan anda ke polisi.."Ucap pak Handoko, dengan suara pelan, untuk meredam emosi Zaidan.
"Laki-laki tua itu, melapor kan aku ke polisi.."Zaidan berkata dengan senyum smirk nya, dengan sorot mata penuh amarah.
"Tuan Lion, bisa saja mencabut laporan nya, tapi dengan syarat yang berat tuan..."Jelas pak Handoko.
"Apa yang di ingin kan lelaki tua itu..??"Tanya Zaidan, menatap tajam pak Handoko.
"Mereka mengingin kan semua saham perusahaan Radthya Angkasa Jaya beserta rumah dan harta benda semua nya di serah kan ke tangan tuan Lion dan Dave.."Jawab pak Handoko.
"Dasar manusia serakah..!!"Desis Zaidan.
"Jangan kan menyerah kan semua harta benda keluarga besar Radhtya ke tangan mereka, aku pasti kan sepeser pun, tidak ada yang bisa mereka dapat kan..!!"Ucap Zaidan penuh penekanan, sambil menyunggingkan senyuman yang penuh arti"Maksud nya tuan..??"Tanya pak Handoko.
"Aku sudah punya seseorang dan bukti-bukti yang menjadi kartu mati mereka..!!"Jelas Zaidan.
__ADS_1
"Jadi untuk pak Handoko, sebagai pengacara almarhum kakek saya, hanya bertugas untuk menjaga surat wasiat dan warisan itu..!!"Jelas Zaidan, dengan penuh penekanan.
"Baik tuan Zaidan..."Ucap pak Handoko sambil mengangguk.
"Pantas saja tuan Radthya memberi kan hak waris nya kepada tuan Zaidan, ternyata ini alasan nya, jika tuan Zaidan benar-benar seorang cerdas.."Ucap pak Handoko dalam hati.
Zaidan hanya tersenyum smirk.
"Pastikan sebentar lagi ke hancuran kaia akan tiba, sudah cukup kalian nikmati harta kakek ku, dsn aku akan melindungi nya dari tangan serakah kalian..."Ucap Zaidan penuh penekanan, dengan sorot mata yang sangat tajam.
**********
Sementara itu di sebuah kamar, tampak seorang wanita yang sedang menangis sambil mengelus lembut perut nya.
Ada sesak yang seperti menghimpit dada nya, karena lelaki yang sangat di cintai nya, kini sudah sangat membenci nya.
Apa lagi janin yang di kandung nya, pasti semakin membesar.
"Maaf kan aku, aku sangat mencintai mu..."Ucap wanita itu lirih, di sela isak tangis nya.
Wanita yang tak lain adalah Devina, berlahan mengambil silet yang berada di dekat nya.
"Maaf kan mamah, kita akan mati bersama nak.."Devina berkata, sambil mengelus perut nya yang masih rata.
Berlahan sambil menangis, Devina mengangkat silet yang terlihat sangat tajam mendekati nadi nya, dan...
Bless....
***********
Apakah Zaidan akan sembuh dari lumpuh nya..??
Bukti-bukti apa yang Zaidan punya, untuk melakukan serangan balik..??
Apa kah Devina dan bayi nya akan tewas karena bunuh diri..??
Ikuti terus cerita yang masih bsu kencur ini.
Maaf baru up, selain sibuk kerja, author juga buat cerita dua novel.
Jangan lupa mampir ke karya author yang sudah tamat dan masih up👇☺️
__ADS_1