Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Cerita Dokter Arya


__ADS_3

Bab 44


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Untuk bab ini, kita menceritakan tentang dokter Arya dan Amanda dulu ya🙏.


*************


Amanda membiarkan wanita setengah baya itu, terus memeluknya dalam sebuah tangisan.


Dokter Arya menghampiri mereka, dengan tatapan nanar. Saat netra mereka bertemu, dokter Arya memberi senyum dan anggukan kepada Amanda.


Walaupun, rasa penasarannya sangat memuncak, Amanda berusaha menahan diri dan perasaannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya wanita setengah baya itu melepaskan pelukannya.


"Anakku, aku yakin kamu pasti kembali."Wanita itu berkata, dengan binar kebahagiaan. Dia menatap lekat wajah Amanda, memperhatikan setiap garis wajahnya, kemudian membelai lembut wajah Amanda.


Amanda merasa aneh dengan perasaannya, kehangatan kembali menjalar di relung hatinya.


"Tangan ini, jauh lebih hangat dari tangan bunda."Batin Amanda.


"Anakku..putriku.."Wanita itu kembali berkata, dengan suara lirih.


"Namanya Amanda Maheswari mah."Ucap dokter Arya, yang kini sudah berada di dekat mereka.


"Amanda..??"


"Aku tidak pernah memberi nama putriku Amanda."


Wanita setengah baya itu, berkata dengan suara parau. Dia menggelengkan kepalanya, dengan tatapan fokus ke wajah Amanda, tanpa menoleh sedikitpun ke arah dokter Arya.


"Aku memberikan nama putriku Riana Mahadewi, karena aku yakin, kecantikan dan budi pekerti anakku bagaikan seorang Dewi."Wanita setengah baya itu, kembali memeluk Amanda.


"Aku biasa, memanggilmu Dewi nak.."Ucapnya lagi, dengan pelukan semakin erat.


"Dok, bisa tolong jelaskan semuanya.?!"Ucap Amanda, yang sudah tidak tahan dengan rasa penasaran dan kebingungan.


Dokter Arya membuang napasnya kasar.


"Mah, kasihan Dewi, dia susah untuk bernapas."Dokter Arya berkata, dengan suara yang sangat lembut.


Wanita setengah baya itupun melepaskan tubuh Amanda.


"Dewi, kamu duduk dulu ya sayang, mamah akan masak, makanan kesukaan mu.."Ucapnya sambil membelai rambut Amanda, kemudian mencium kening nya.


"Arya, kamu jaga adikmu, jangan sampai hilang lagi..!!"Perintah wanita itu, dengan tatapan nyalang ke arah dokter Arya.


"Iya mah.."Jawab dokter Arya, sambil menelan saliva nya.


Wanita itupun berlalu dari hadapan mereka.


"Jelaskan kepadaku, apa maksud semua ini dok..??"Amanda menarik kasar lengan dokter Arya.


"Aku pikir, dari pada kamu kembali ke panti, lebih baik kamu menemani mamahku disini."Jawab dokter Arya santai.


"Apa maksudmu..??!"Amanda menatap tajam dokter Arya, dia semakin tidak mengerti dengan semuanya.


"Zaidan baru saja menceraikanmu."


Terdengar helaan napas yang dalam.


"Mamahku sangat menyukaimu, tolong temani dan anggap beliau sebagai mamah kandungmu Amanda."

__ADS_1


Dokter Arya, menatap Amanda penuh harap.


"Maaf dok, saya masih tidak mengerti dengan semuanya."Sergah Amanda, emosinya mulai memuncak.


Dia merasa di jebak oleh dokter Arya.


Dokter Arya meraih foto yang bergambar mamahnya dengan seorang bayi perempuan.


"Kamu pasti sudah melihat foto ini Amanda ."


"Ini adalah adikku yang paling kecil, dia diculik saat berusia dua minggu.."Ucap dokter Arya, dengan sorot mata penuh dendam.


"Karena penculikan itu, membuat papahku meninggalkan mamahku yang sangat terpuruk karena penculikan itu, sehingga.."


Dokter Arya tidak meneruskan ucapannya. Matanya tampak memerah antara sedih dan marah.


"Lalu, apa hubungannya denganku..??"Amanda mengerutkan keningnya, dia masih tidak mengerti dengan maksud dokter Arya.


Dokter Arya menarik napasnya kasar.


"Mamahku depresi Amanda.."Dokter Arya berkata dengan suara parau, tampak kesedihan yang mendalam.


"Menurut psikolog, mamah hanya bisa di sembuhkan dengan kehadiran Riana Mahadewi adikku itu."


"Sampai akhirnya, keluarga kami mengadopsi bayi perempuan yang cantik, dan mamahku berangsur sembuh dari depresinya, tapi.."


Dokter Arya kembali menarik napas, dan memejamkan matanya sesaat. Amanda hanya tertegun, dia terus menatap dokter Arya dengan rasa penasaran.


"Sebuah tragedi datang, papahku datang kembali bersama istri barunya, dan membawa adik laki-laki ku, begitu juga dengan adik adopsi kami, ikut menghilang."


Dokter Arya menundukkan wajahnya, dia menjambak frustasi rambutnya sendiri.


"Amanda, tolong bertahan disini, sampai mamahku tidak depresi lagi."


Amanda pun tersentak.


"Tapi, aku juga punya kehidupan dok, walaupun aku yatim piatu dan sudah di ceraikan oleh Zaidan, tapi aku masih punya bunda."Ucap Amanda.


Amanda yakin, jika foto anak laki-laki itu adalah Zaidan. Tapi, Amanda tidak mau bertanya, karena yang lebih penting dalam pikirannya, bagaimana keluar dari rumah ini, dan lepas dari permainan dokter Arya.


"Aku tahu, kamu bebas untuk ke panti dan menemui bunda kapan saja yang kamu mau, kamu juga bisa tetap bekerja. Tapi ku mohon pulanglah kesini, jadikan ini rumah mu, dan jadikan kami keluarga mu yang baru, terutama mamah.."


Dokter Arya berkata, sambil bersimpuh di kaki Amanda.


Amanda kembali tersentak kaget, dia langsung berdiri menghindari tubuh dokter Arya yang sedang bersimouh di kaki nya.


"Jangan seperti ini, dok.."


Amanda meminta dokter Arya untuk berdiri.


"Tolong mamahku Amanda.."Ucap dokter Arya memohon kembali.


Amanda menarik napas, dan membuangnya berlahan.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa berjanji untuk menjadi Dewi selama-lamanya."Tawar Amanda.


Dokter Arya mengangguk dan tersenyum lega.


"Terimakasih Amanda, aku tahu kamu adalah wanita yang baik."Ucap dokter Arya, dia kembali menggenggam tangan Amanda.


"Kenapa, kalian tidak melaporkan kejadian itu ke polisi .??"Tanya Amanda penuh selidik.


"Waktu itu aku masih kecil, dan keadaan ekonomi kami semakin terpuruk.."

__ADS_1


"Setelah kejadian itu, mamah di bawa ke rumah sakit jiwa, sedangkan aku di besarkan di sebuah yayasan.."


"Dendam dan kebencian, yang bisa mengantarkan aku menjadi seorang dokter."


"Dan bisa membawa mamahku keluar dari rumah sakit jiwa, bahkan bisa membangun rumah untuk beliau."Dokter Arya berkata, dengan tersenyum bangga.


Amanda termenung mendengar cerita dokter Arya. Dia merasa lebih beruntung, walaupun tidak tahu jati diri dan orang tua nya, dia sangat bersyukur menemukan sosok bunda dan teman-teman yang senasib dengannya.


Diapun teringat dengan sosok almarhum kakek Radthya dan pak Handoko yang begitu perhatian dan sangat menyayanginya.


"Aku berjanji, akan mengantarmu ke panti besok."Dokter Arya berkata kembali.


Dengan ragu, Amanda mengangguk. Dia bertekad untuk menyelidiki kebenaran tentang keluarga dokter Arya, dan hubungannya dengan Zaidan.


"Siapa nama mamahmu.?"Tanya Amanda.


"Apa, itu penting..?"Dokter Arya balik bertanya.


"Tentu saja, dokter pikir mudah untuk berpura-pura dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya, setidaknya aku tahu namanya.."Amanda memberikan alasan.


Dokter Arya, berpikir sejenak.


"Mira nama mamahku."


"Baiklah, aku akan memanggilnya dengan sebutan mamah Mira."Jawab Amanda.


Tiba-tiba ponsel dokter Arya berdering. Dia mengerutkan keningnya, saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dengan malas, dokter Arya menjawab panggilan itu.


"Hallo.."


"Harus sekarang.?"


"Baiklah.."


Dokter Arya menutup telponnya, sambil menatap lurus Amanda.


"Aku harus pergi, ada urusan sebentar, tolong jangan pergi, temani mamahku."Kembali dokter Arya, memohon kepada Amanda.


"Pergilah, aku akan menemani mamah Mira."Jawab Amanda.


Setelah kepergian dokter Arya, dia akan segera mencari tahu, tentang kehidupan dokter Arya dan mamah nya lebih dalam, terutama menyangkut Zaidan.


"Kenapa aku, masih memikirkan lelaki kejam itu..??"


*************


Apa, masa lalu kehidupan dokter Arya ada hubungannya dengan keluarga Radthya..?


Benarkah, apa yang sudah di ceritakan dokter Arya kepada Amanda..??


Mampukah, Amanda mencari kebenarannya.??


Ikuti kelanjutan di bab berikutnya.


Terimakasih untuk permintaan update nya🙏.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.


Dukungan, vote, komen dan like🥰


__ADS_1


__ADS_2