
Bab 74
"Penyesalan Zaidan"
"Radthya Razama.?"Tanya Zaidan, dengan perasaan bercampur aduk, dia menatap lekat wajah Raza.
"Razama itu juga singkatan dari Radthya Zaidan Amanda, nama om Zaidan khan.?"Tanya Dion, menatap Doni.
Pernyataan dan pertanyaan Dion, membuat Zaidan semakin terkejut.
"Itu berarti Raza.?"Zaidan langsung memeluk Raza, air mata tidak terasa keluar deras membasahi wajahnya. Setelah puluhan tahun seorang Zaidan menangis sepilu ini. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Mereka juga tidak ada yang berani mendekat apa lagi bertanya.
"Razama.!"Sebuah teriakan mengagetkan Zaidan.
Zaidan yang sedang memeluk tubuh Raza tersentak, saat tubuh Raza di tarik paksa dari tangannya.
"Jangan sentuh anakku.!"Teriak Amanda, menarik kuat tubuh Raza, dan mendorong kasar tubuh Zaidan, beruntung Zaidan bisa mengendalikan tubuhnya sehingga tidak terjatuh.
Zaidan langsung bangkit, dia menghapus kasar air matanya, menatap nanar Amanda.
"Kenapa kamu sembunyikan keberadaannya dariku.??"Tanya Zaidan dengan suara parau.
"Dia tidak ada hubungannya denganmu, jangan pernah menyentuh dia.!!"Hardik Amanda, dengan tatapan nyalang.
Hati Zaidan bagaikan tertusuk belati, melihat tatapan Amanda yang menatapnya penuh kebencian.
"Amanda, Zaidan maaf, kalian bisa membicarakan ini dengan baik-baik dan kepala dingin."Doni berkata, menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Tidak ada yang harus di bicarakan, ayo Raza, Dion kita pulang.!"Jawab Amanda ketus, membawa tubuh Raza dan menarik tangan Dion.
"Amanda, aku mohon jangan seperti ini," Zaidan menatap Amanda dengan wajah memohon, dan suara lirih.
"Amanda, tolong berikan kesempatan Zaidan untuk membicarakan semua ini."Ucap Doni, sambil memegang lembut pundak Amanda.
Dada Zaidan terasa sesak, melihat Doni menyentuh Amanda. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka beraama terus selama lima tahun di Kanada.
"Amanda tidak menjawab, dia memeluk erat tubuh Raza."
"Mari Nyonya, Tuan,"ucap kepala Sekolah.
"Ayo Manda."Doni berkata, sambil merangkul pundak Amanda, dan menggandeng tangan Raza.
Dion menatap wajah Zaidan yang memerah.
"Ayo Om, Papah sangat menyayangi Mamah Amanda, namun, sepertinya Mamah Amanda hanya mencintai seseorang."Bisik Dion, sambil menarik tangan Zaidan.
Zaidan diam mematung menatap Dion, membuat langkah Dion terhenti. Mereka saling tatap, dan kemudian saling melempar senyum.
Zaidan langsung melangkah penuh semangat, dan yakin jika dia akan mendapatkan kesempatan dari Amanda.
Sesampainya di ruangan yang cukup luas dan privasi, mereka duduk di sofa yang saling berhadapan.
__ADS_1
"Di sini, aku hanya jadi penengah, silahkan kalian selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin."Ucap Zaidan yang duduk bersebelahan dengan Raza yang duduk di samping Amanda. Sedangkan, Zaidan duduk di hadapan mereka bersebelahan dengan Dion.
"Aku ingin, kamu mengatakan yang sejujurnya Amanda."Zaidan menatap lekat Amanda.
"Nama depan Raza adalalah Radthya, sedangkan, Raza itu adalah Razama, Radthya Zaidan Amanda."Ucap Zaidan lagi.
Tentu saja, perkataan Zaidan membuat Amanda tercekat, dan terdiam sesaat. Raza menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Tahu dari mana kamu.?"Tanya Amanda, mencoba mengelak.
Zaidan tersenyum miring.
"Maaf Mah, Dion yang mengatakan kepada Om Zaidan,"Ucap Dion, yang membuat Amanda dan Doni kembali saling tatap.
"Amanda, tolong beritahu kebenaran yang telah kamu sembunyikan selama lima tahun."Zaidan berkata dengan wajah memohon.
Pemandangan yang dari tadi sangat langka. Seorang Zaidan yang begitu tegas, dingin, tidak pernah memohon apa lagi sampai menangis. Tetapi saat berhadapan dengan Amanda terihat begitu lemah. dan rapuh.
Amanda menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya, kemudian membuangnya berlahan.
"Apa yang kamu rasakan saat melihat Raza mas.?"Tanya Amanda lirih, menatap nanar Zaidan.
"Saat pertama kali melihat wajahya, aku merasakan dadaku berdetak kencang. Aku seperti melihat duplikat diriku sendiri."Kembali Zaidan berkata dengan suara bergetar, dia menatap lekat Raza, sehingga netra mereka bertemu.
Zaidan tersenyum bahagia menatap Raza, seperti mimpi jika di hadapannya adalah darah dagingnya, yang tidak pernah di ketahuinya selama lima tahun.
"Usaha dan bisnismu semakin besar dan sukses, kamu juga sangat berpengaruh dan berkuasa, sangat aneh jika kamu tidak mengetahui keberadaan putramu, atau memang aku tidak ada artinya untukmu, sehingga kamu tidak memperdulikan jika ada nyawa lain di rahimku."Terdengar suara Amanda yang parau, menahan sesak di dadanya.
Zaidan menghela napas, dan mengusap kasar wajahnya.
Amanda dan Doni terpaku, mendengar Zaidan memanggil Doni dengan sebutan kakak.
Doni menarik napas kasar.
"Aku menyayangi Amanda melebihi dari seorang adik, bahkan rasa sayang itu sudah berubah menjadi rasa cinta."Ucap Doni, kembali menarik napas kasar.
"Namun, seberapa besar rasa cintaku, dan seberapa kuat aku berjuang, sudah ada nama seseorang yang tertanam di hati bidadari kecilku ini."Doni berkata kembali sambil tersenyum. Terlihat kilatan kesedihan di matanya.
Amanda hanya tertunduk, mendengar perkataan Doni.
"Manda katakan sejujurnya, Zaidan berhak tahu kebenarannya."Doni menepuk pelan, punggung tangan Amanda yang sedang berada di paha Raza.
Amanda menelan salivanya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa sangat kering. Sambil menarik napas
"Tuan Radthya Zaidan, anak laki-laki yang berada di hadapanmu, yang bernama Radthya Razama dia adalah darah dagingmu, benihmu yang tertanam saat di kamar penyiksaan yang terjadi lima tahun yang lalu."Tegas Amanda, dengan suara bergetar, menahan air mata dan sesak di dadanya, mengingat kembali kejadian yang membuat hati dan fisiknya terluka.
Zaidan tiba-tiba bangkit, dan bersujud sambil menangis di kaki Amanda. Mereka semua terkejut dan terpaku.
"Dion, ayo kita keluar."Ajak Doni, sambil bangkit dari duduknya, Dion mengangguk dan segera berdiri mengikuti langkah sang Papah.
"Amanda, tolong maafkan aku."Ucap Zaidan sambil terisak, dan masih dalam keadaan bersujud. Tampak bahunya sampai terguncang.
__ADS_1
Amanda memejamkan matanya, buliran bening pun mengalir deras di pipinya.
"Tolong, jangan seperti ini mas."Ucap Amanda lirih.
"Papah bangun."Suara lembut, membuat Zaidan mendongakkan kepalanya.
Tampak Raza yang sudah berdiri di sampingnya.
"Razama, maafkan Papah nak."Zaidan memeluk erat Raza, air mata karena penyesalan terus mengalir di wajah tegasnya. Amanda semakin menangis sesunggukan.
Raza membalas pelukan Zaidan.
"Kenapa orang dewasa seperti anak kecil, cengeng sekali."Dengus Raza, sambil melepaskan pelukannya. Menatap bergantian Zaidan dan Amanda.
"Razaaaa.."Teriak Amanda, dengan wajah memerah dan segera menghapus air matanya.
Zaidan tersenyum dan langsung menghapus air matanya juga.
"Papah menangis bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Raza, dan Papah menyesal karena tidak menjaga Raza selama ini."Zaidan mengusap lembut wajah Raza.
"Papah Doni sangat sayang dan menjaga Raza selama ini, walaupun kami tidak tinggal bersama."Jawab Raza polos.
Zaidan melirik ke arah Amanda, nembuat wajah Amanda aemakin memerah.
"Benar jika kalian tidak pernah tinggal bersama Papah Doni.?"Tanya Zaidan penuh selidik.
Raza mengangguk dengan yakin.
Kembali Zaidan melirik Amanda, kali ini dengan menyunggingkan sebuah senyuman, membuat hati Amanda berdebar kencang.
"Raza atau Mamah, apa pernah tidur bersama dengan Papah Doni.?"Tanya Zaidan penuh selidik.
Mata Amanda melotot menatap Zaidan, dia tidak pernah menyangka jika Zaidan akan mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Raza. Begitu juga dengan Zaidan, dengan hati berdebar menunggu jawaban Raza.
Tampak Raza berpikir...
***************
Ada yang tahu ga, jawaban Raza apa ?
Bagaimana hubungan Zaidan, Amanda dan Doni selanjutnya.
Jangan pernah lewatkan setiap up nya.
Semoga Author punya banyak waktu san semangat untuk berhalu😁😁🤭🤭
Author dapat cover baru dari novel yang tamat dan baru👇
.
__ADS_1
.