
Bab 77
"Penyesalan Zaidan"
Akhirnya di sepakati, Raza boleh di ajak makan malam, tetapi bersama Amanda, Doni dan Dion. Mereka pun segera melaju ke sebuah restoran mewah yang sudah di booking oleh Zaidan.
Raza dan Dion ikut dalam mobil Zaidan, tampak Dokter Arya yang mengemudikan mobil dengan Dion di sampingnya, sedangkan Zaidan duduk di kursi belakang bersama Raza, senyuman bahagia tidak pernah lepas dari wajah Zaidan, dia terus menatap lekat Raza, memeluk dan selalu mendaratkannya ciuman ke pipi dan puncak kepala Raza.
Amanda memilih untuk bersama Doni, walaupun ada kekecewaan di wajah Zaidan dan dokter Arya. Sepanjang perjalanan tidak seperti biasanya Amanda hanya diam membisu, pikiran dan hatinya tak menentu.
"Manda, sekarang sudah waktunya kamu menerima kenyataan, jika kamu harus berbagi Raza dengan papah kandungnya" Ucap Doni lembut, melirik dan tersenyum.
"Tetapi, Manda merasa tidak adil kak, aku takut sekali jika Zaidan dengan kekuasaannya ingin merebut Raza dariku." Terlihat kegusaran di wajah Amanda.
Doni kembali menyunggingkan senyumnya.
"Kakak pikir Zaidan bukan lelaki seperti itu, kasih sayangnya ke Raza benar-benar tulus, begitu juga perasaannya kepadamu"
"Aku tidak yakin kak" jawab Amanda lirih sambil menundukkan wajahnya.
Berlahan Doni menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti kak,?" tanya Amanda menatap heran Doni.
Doni tersenyum sambil menggenggam jemari Amanda.
"Manda, kamu sangat mengetahui perasaanku, aku sangat tulus menyayangi dan mencintaimu, setiap detak jantungku, napasku selalu ada namamu," ucap Doni menatap lekat wajah Amanda.
"Tetapi, aku sangat mengetahui siapa yang kamu inginkan Manda" ucap Doni lagi, dengan terus menatap lekat Amanda.
Doni menghela napas, seperti ada sesuatu yang berat nenghimpit di dadanya.
"Manda, sebenarnya aku merasa lega karena sekarang sudah ada Zaidan di samping kalian" Doni menatap nanar Amanda.
Amanda tercekat, mendengar pernyataan Doni.
"Maksud Kakak apa.?? Tanya Amanda, sambil mengerutkan keningnya. Menatap tajam Doni.
"Tidak selamanya kakak bisa menjaga kalian, mungkin sudah saat Zaidan yang menjaga kalian," jawab Doni, sambil tersenyum.
"Kakak mau meninggalkan kami.?" Teriak Amanda, sambil melepas kasar jemarinya dari genggaman Doni.
"Bukan seperti itu sayang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok" Doni menangkup wajah Amanda.
"Amanda tidak mau kakak berkata seperti tadi, kita akan terus bersama-sama kak, membesarkan Dion dan Raza," Amanda berkata, dengan mata yang sudah beranak sungai.
Doni tersenyum dan membawa tubuh Amanda ke dalam pelukannya. Berat sekali rasanya untuk melepas bidadari kecilnya, namun, dia tidak boleh egois, harus berlapang hati jika Amanda bukanlah jodohnya.
"Sudah jangan menangis, nanti mereka mencurigaiku kalau melihat matamu bengkak seperti ini, bisa-bisa aku kena tinju ke empat lelaki di sana," goda Doni sambil menghapus air mata Amanda.
"Maksudnya Raza, Dion, mas Zaidan dan Dokter Arya?" tanya Amanda, mengerutkan keningnya kembali.
Doni mengangguk, sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ish, kak Doni ada-ada saja" ucap Amanda sambil mencubit pelan perut Doni.
"Eh, nakal banget sie adik kecilku ini" Goda Doni, sambil menoel pelan ujung hidung Amanda.
"Ish" Amanda bergelayut manja di lengan Doni.
"Kita jalan sekarang kak, kasihan nanti mereka lama menunggu" ucap Amanda.
"Siap bidadari kecilku" Doni berkata, sambil mengacak pelan puncak kepala Amanda, di balas dengan senyum termanis Amanda, senyum yang selalu menggetarkan hati Doni.
Mobil mereka kembali melaju membelah jalan raya, tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang membuntuti mereka.
*************
Tak lama mobil yang di tumpangi Zaidan sampai di halaman salah satu restoran terbesar di Ibukota.
Zaidan memilih makan malam dengan tema outdoor, dengan tujuan agar Raza bisa bermain bebas. Tampak Mira menunggu dengan harap-harap cemas, menanti kedatangan Raza, dia benar-benar tidak menyangka, salah satu keinginannya untuk Zaidan dan dokter Arya segera menikah adalah mendapatkan seorang cucu. Ternyata do'anya terjawab sudah, cucu laki-lakinya kini sudah berusia empat tahun.
Mira mencoba sekali lagi untuk menghubungi Zaidan, untuk mengetahui posisi mereka.
"Kami sudah ada di parkiran Mah" jawab Zaidan, sambil menghela napas.
"Cepat kalian masuk, mamah sudah tidak sabar untuk melihat cucu mamah, Raza.!" Tegas Mira, langsung menutup ponselnya.
Zaidan hanya menggelengkan kepalanya, sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya. Sedangkan Dokter Arya hanya mengembangkan senyumnya.
"Ayo sayang, oma sudah menunggu kita" Zaidan langsung menempatkan Raza di atas pundaknya, yang membuat Raza tertawa lepas, membuat Zaidan ikut tertawa, bahkan ketawa terdengar jelas.
Dokter Arya dan Dion ikut tertawa, dan saling melempar pandang. Dokter Arya segera merangkul pundak Dion, berjalan di belakang Zaidan dan Raza.
Saat mereka sampai, dengan wajah berbinar bahagia Mira menyambut kedatangan mereka.
"Razaaa, cucu oma" Teriak Mira bahagia.
Zaidan langsung menurunkan Raza dari pundaknya, dengan sigap Mira langsung memeluk erat tubuh Raza.
"Mah pelan, kasihan Raza tidak bisa bernapas" Protes Zaidan, seketika Mira langsung melepaskan pelukannya.
"Maafkan oma sayang" Mira membelai dan menatap lekat wajah Raza.
"Ya Tuhan, Raza benar-benar anak kamu Zay, melihat wajahnya mengingatkan mamah dengan wajahmu saat kecil" Mira kembali membawa Raza ke dalam pelukannya, tetapi, kali tidak terlalu lama dan erat.
"Apa ini Oma Mira?" Tanya Raza dengan gaya coolnya, sambil menatap lekat Mira.
"Ya ampun, gayamu sama persis dengan papahmu waktu kecil, seperti pinang di belah dua, tidak ada bedanya,!" teriak Mira bahagia, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Raza.
"Stop Oma," protes Raza, sambil menjauhkan wajahnya dari Mira.
"Kenapa sayang,?" tanya Mira dengan raut wajah sedih.
"Raza bukan anak kecil yang manja Oma" Tegas Raza, dengan gaya menggemaskan.
"Oh, kalau begitu maafkan oma ya" Mira berkata dengan wajah sedih. Membuat Zaidan dan dokter Arya saling pandang. Kalau sudah seperti ini, artinya sang mamah mulai merajuk.
__ADS_1
Namun, mereka tidak menyangka jika Mira melakukan hal yang sama terhadap Raza.
"Oma jangan sedih, jika Raza tidak mau di manja, bukan berarti Raza tidak sayang dengan oma" Raza mencoba menghibur Mira, dia memeluk tubuh sang oma dengan lembut
"Anak pintar, cucu oma" Mira membalas lembut pelukan Raza, dan mencium penuh sayang puncak kepala Raza.
"Cucu oma bukan hanya Raza, tetapi, ada kak Dion" ucap Raza, sambil melepaskan pelukannya.
Mira yang sudah mengetahui siapa Dion, dari cerita Zaidan dan dokter Arya, sudah tidak kaget lagi.
"Oh ya, pasti anak ganteng ini yang bernama Dion" Mira tersenyum ke arah Dion.
"Hallo Oma" Dion langsung mencium punggung tangan Mira.
"Anak pintar" Mira mengelus lembut puncak kepala Dion.
"Kalau begitu, ayo kita makan sekarang, pasti kalian sudah lapar" Ajak Mira.
"Kita tunggu mamah dan papah Doni dulu oma" jawab Raza.
Seketika Zaidan dan dokter Arya tercekat, mereka hampir melupakan keberadaan Amanda dan Doni.
"Kenapa mamah dan papah belum juga sampai ya om,?" Tanya Dion menatap Zaidan.
Zaidan dan dokter Arya saling melempar pandang.
"Cepat, kalian hubungi mereka.!!" Perintah Mira, tampak wajah mereka semua menegang.
Segera Zaidan menghubungi Amanda, sedangkan dokter Arya menghubungi Doni. Namun, telepon mereka tidak ada yang mengangkat.
Sampai akhirnya, terdengar dering telepon dari ponsel dokter Arya, dengan nama Doni yang terpampang di layar ponselnya. Dengan sigap dokter Arya langsung mengangkat ponselnya.
"Hallo.."
"Iya, benar.."
"Apa ??"
****************
Kabar apa yang di terima dokter Arya ???
Apa yang terjadi dengan Doni dan Amanda??
Kepo...
Tunggu up selanjutnya, di jamin seru, dan di luar ekspektasi 😁🤭
Banner Penyesalan Zaidan, full dengan vidualnya👇👇
__ADS_1