Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Hari Pernikahan


__ADS_3

Bab 29


"Penyesalan Zaidan"


Siang ini, akad nikah di lakukan di masjid yang paling besar di Jakarta.


Amanda hadir di acara akad, sebagai istri sah, yang memberikan restu suami nya.


Banyak tatapan yang mengarah kepada Amanda, ada tatapan iba dan kasihan, karena menyaksikan pernikahan suami nya, ada juga yang mencibir dan mengejek, jika Amanda tidak pantas bersanding dengan seorang Zaidan.


Tapi semua tidak ada yang di hiraukan Amanda, dia tetap terlihat tenang, bahkan senyum nya tetap mengembang.


Seperti malam ini, Amanda yang hadir di pesta mewah pernikahan Zaidan dan Devina, terlihat sangat anggun, dengan gaun sederhana tapi terlihat begitu elegan. Sentuhan make up tipis, menambah aura nya, walaupun wajah Amanda kalah cantik dengan Devina.


Amanda, menatap Zaidan dan Devina yang sedang duduk di kursi pelaminan.


Mereka bagaikan raja dan ratu, terlihat sangat serasi sekali. senyum bahagia menghiasi wajah mereka.


"Manda, kenapa kamu menyiksa diri mu seperti ini.??"Sebuah suara, menyapa telinga Amanda.


Amanda pun menoleh, tampak pak Handoko sudah berada di samping nya, dengan wajah dan sorot mata sedih menatap Amanda.


"Om.."Panggil Amanda, yang langsung mencium punggung tangan pak Handoko.


"Ayo, kita duduk di sana Manda,."Pak Handoko, mengajak Amanda untuk duduk di sebuah kursi yang berada cukup jauh dari keramaian.


"Kamu sudah makan Manda..??"Tanya pak Handoko, saat mereka sudah duduk.


"Manda, belum lapar om.."Jawab Amanda, dengan senyum nya.


"Sampai kapan, kamu akan menyiksa diri mu seperti ini..??"Pak Handoko, menatap nanar Amanda.


"Manda, baik-baik saja om.."Jawab Amanda, dengan senyum tetap mengembang.


Pak Handoko menghela napas, dia tahu sekali apa yang di rasakan Amanda, apa lagi dia menangkap sesekali Amanda mencuri pandang ke arah Zaidan dan Devina


"Amanda, jika kamu sudah tidak kuat, ayo kita pulang nak.."Ajak pak Handoko, sambil menyentuh lembut lengan Amanda.


"Manda, baik-baik saja om, sebentar lagi pesta nya selesai, aku juga sudah berjanji kepada mendiang kakek Radthya, untuk selama nya menemani Zaidan, walaupun.."Amanda tidak meneruskan kata-kata nya.


"Walaupun mengorbankan kebahagiaan mu.."Sela pak Handoko.


Amanda tidak menjawab, dia hanya menghela napas.


"Om, tolong berikan Manda kepercayaan, terimakasih untuk semua perhatian dan kebaikan yang sudah om berikan kepada ku.."Ucap Amanda, sambil memegang tangan pak Handoko.


"Baik lah, tapi jangan larang om, untuk menemani mu Manda.."Baskoro berkata, dengan memegang tangan Amanda, yang berada di atas tangan nya.


Amanda tersenyum dan mengangguk.


"Manda lapar om, kita ambil makan yuk.."Ajak Amanda, yang langsung berdiri, di sambut anggukan dan senyuman dari pak Handoko.


Mereka pun, menuju salah satu stand makanan yang soto lamongan beserta nasi nya.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata sedang memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Aku, merasa ada yang berbeda dengan gadis itu.."Irma terlihat menatap nanar ke arah Amanda.


Mata nya tidak lepas sama sekali, dari tadi saat akad.


"Kenapa wajah nya, mirip sekali dengan seseorang, tapi siapa ya pah..??"Tanya Irma, yang terus menatap Amanda, yang sedang asyik menikmati soto bersama pak Handoko.


Baskoro, yang mendengar perkataan istri nya, kembali menatap lurus ke arah Amanda.


"Senyum itu, tawa itu.."


Deg..


"Nyonya Elin.."Gumam Baskoro, dengan memicingkan mata nya.


Irma menoleh ke arah Baskoro, dan mengerutkan kening nya.


"Nyonya Elin..??"Tanya Irma, sambil mengerutkan kening nya, menatap Baskoro.


Baskoro terperanjat kaget, mendengar pertanyaan istri nya.


"I..iya, m..maksud papah, Amanda seperti nyonya Elin.."Jawab Baskoro gugup.


"Tapi mamah tidak yakin pah, jika Amanda ada hubungan nya dengan nyonya Elin.."Ucap Irma ragu.


"Bukan kah nyonya Elin itu, anak yatim piatu, tidak punya sanak keluarga, bahkan kita tahu semua jika dia mandul, yang membuat dia cerai kan oleh suami nya.."Ucap Irma lagi, sambil mengingat memory masa lalu nya.


Baskoro tidak menjawab, dia hanya menatap nanar ke arah Amanda.


Tatapan yang penuh penyesalan dan ketakutan, sangat tergambar di wajah lelaki setengah baya itu.


Baskoro terhenyak.


"Zaidan dan Devina, mengajak foto bersama.."Bisik Irma.


Baskoro pun mengangguk.


"Aku, akan mencari informasi tentang Amanda.."Ucap Baskoro dalam hati, sambil melangkah mengikuti Irma.


Tidak terasa, pesta mewah pun selesai, semua tamu pun sudah pamit pulang, hanya tersisa keluarga inti.


"Selamat menikmati malam indah kalian.."Irma berkata, sambil memeluk dan mencium pipi Zaidan dan Devina bergantian.


"Pasti mamah, sudah tidak sabar untuk menggendong cucu ya..??"Goda Devina, sambil melirik ke arah Amanda.


Amanda hanya tersenyum, sedangkan wajah pak Handoko terlihat gusar.


"Amanda, ayo kita pulang nak.."Ajak pak Handoko, sambil berbisik.


"Sebentar om, Manda mau pamit sama Zaidan dan Devina dulu.."Jawab Devina, sambil berbisik juga.


Pak Handoko, hanya membuang napas kasar, sambil menggeleng kan kepala nya. Dia tidak mengerti dengan pemikiran Amanda.


Amanda melangkah mendekati sang pengantin, di ikuti oleh pak Handoko.


"Mas Zaidan, Devina.."Sapa Amanda ramah.

__ADS_1


"Amanda, kamu masih di sini..?"Tanya Zaidan, menatap Amanda, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak di hati nya.


"Kamu, tidak perlu menunggu kami, karena kami akan menikmati malam pengantin kami di sini, karena mas Zaidan sudah menyiapkan kamar spesial untuk kami.."Ucap Devina, sambil bergelayut manja di lengan Zaidan.


Amanda kembali tersenyum.


"Dimana pun malam pengantin kalian, tidak masalah buat ku, aku hanya ingin memastikan, jika acara nya berjalan lancar.."Jawab Amanda, dengan wajah tenang.


"Oh, kalau soal itu, aku rasa bukan urusan mu Amanda, karena suami ku Zaidan sudah mengurus semua nya..!!"Ucap Devina ketus, dengan tatapan sinis ke arah Amanda.


"Sayang.."Zaidan, memegang lembut tangan Devina, memberikan isyarat dengan sikap Devina.


Devina mengerucut kan bibir nya, menatap tidak suka kepada Amanda.


"Amanda, pulang lah, seperti nya kamu perlu istirahat.."Ucap Zaidan lembut, menatap Amanda.


Ada sekelumit rasa bersalah di hati nya.


"Mas."Protes Devina dengan sikap Zaidan.


Zaidan memberikan jawaban, dengan mengelus lembut lengan Devina.


"Aku pamit mas."Amanda mencium punggung tangan Zaidan.


"Kak Devina, selamat ya.."Amanda mengulur kan tangan nya.


Dengan malas, Devina menerima uluran tangan Amanda.


"Om, tante, saya pamit.."Amanda mencium punggung tangan Baskoro dan Irma.


Yang di jawab anggukan oleh mereka.


Devina semakin menatap sinis Amanda.


"Selamat ya Zaidan, Devina.."Pak Handoko, menyalami mereka.


"Terimakasih om.."Zaidan berkata, dengan isyarat, seolah meminta pak Handoko untuk menjaga Amanda.


Pak Handoko mengangguk dan tersenyum.


Mereka pun, melangkah meninggal kan hotel.


Baskoro, menatap nanar kepergian Amanda. Sedang kan Irma, di satu sisi dia ingin mengenal Amanda lebih jauh, tapi di sisi lain, dia tidak mau kebahagiaan putri nya terganggu karena kehadiran seorang Amanda.


************


Apakah, ada sedikit perasaan Zaidan untuk Amanda..??


Siapakah, nyonya Elin..??


Apa hubungan dengan Amanda.


Ikuti terus kelanjutan nya yang senakin seru.


Sambil nunggu Author up, mampir tuk ke karya teman ku, yang tidak kalaah seru cerita nya👇

__ADS_1



__ADS_2