
Bab 72
"Penyesalan Zaidan"
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Zaidan, dia mengerutkan keningnya membaca pesan itu. Seketika rasa penasaran menyeruak di hatinya.
Malam itu Zaidan, sedang mengadakan meeting di salah satu restoran mewah di Ibukota, dan Zaidan menyewa sebuah ruang private dari Restoran tersebut.
"Mohon maaf Tuan Yuzi, saya tidak bisa ikut meeting sampai selesai."Zaidan berkata sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Tidak apa-apa Tuan Zaidan, kalau anda ada urusan yang lebih penting."Ucap Tuan Yuzi, lelaki berkebangsaan Jepang.
( Author tetap pakai bahasa Indonesia ya😁 ).
"Anton, tolong pimpin meeting ini, saya ada urusan."Ucap Zaidan kepada asistennya, sambil bangkit dari duduknya, membenarkan jas abu-abunya, dan melangkah meninggalkan ruang meeting
Anton dan para karyawan lain, hanya terdiam dan saling tatap. Mereka tidak pernah melihat seorang Zaidan meninggalkan begitu saja tugasnya, dan menyerahkan kepada asistennya.
Bagi mereka Zaidan adalah Bos besar yang mempunyai etos kerja luar biasa, menjadi contoh para karyawan.
Ini pertama kali Zaidan meninggalkan meeting, terutama dengan ke kliennya dari Jepang. Pasti ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak.
Tampak Zaidan berjalan tergesa-gesa, sambil meraih ponselnya dan melakukan panggilan.
"Temui aku sekarang juga di Cafe XX."Ucap Zaidan saat panggilan terhubung, dan langsung menutupnya tanpa perlu mendengar jawaban dari seseorang di seberang sana.
Dokter Arya tersenyum, setelah menerima telepon dari Zaidan.
"Sepertinya loe mempunyai feeling yang kuat."Dokter Arya berkata, sambil melajukan mobilnya membelah jalan raya, menuju Cafe XX yang di tentukan sepihak oleh Zaidan.
Tak lama mereka pun sampai hampir bersamaan.
"Hallo adik gw tersayang."Dokter Arya berkata, bermaksud ingin memeluk Zaidan.
"Ish, apaan sie loe bang, jijay banget gw."Zaidan menghindari pelukan Dokter Arya, sambil menggelengkan kepalanya, dan menghempaskan bokongnya di kursi.
Sambil tersenyum Dokter Arya duduk dihadapan Zaidan. Mereka pun memesan kopi dan beberapa cemilan.
"Adik gw yang paling ganteng, apakah dirimu sudah makan malam.?"Goda Dokter Arya lagi, yang membuat Zaidan menatap jijik.
"Ga usah berisik dech bang, sekarang bilang, loe habis makan malam dengan siapa.?"Tanya Zaidan, dengan wajah gusar.
"Sabar bro, kita ngopi dulu."Ucap Dokter Arya santai, sambil menyesap kopi yang baru saja di antar ke meja mereka.
Zaidan mendengus kesal, dia pun ikut menyesap kopi yang di pesannya.
"Zay, kalau seandainya gw lebih dulu menemui wanita yang cocok buat gw, loe ga masalah khan.?"Tanya Dokter Arya, sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.
__ADS_1
Zaidan meletakkan cangkir kopinya, menatap tajam Dokter Arya.
"Apa gw pernah bilang, kalau loe ga boleh punya pasangan sebelum gw duluan yang punya.??!"Tanya Zaidan, tampak kekesalan di wajahnya.
Dokter Arya tertawa kecil.
"Brother, kalau seandainya kita mencintai wanita yang sama, menurut loe gimana.?"Tanya Dokter Arya lagi, dengan senyum yang mengembang. Terlihat tatapan yang serius dari matanya.
"Maksud loe apa bang.? Siapa wanita itu.??"Zaidan membalas tatapan Dokter Arya, dengan wajah penuh selidik.
Dokter Arya menghela napas.
"Coba tanya pada hati loe, apakah ada satu nama di sana.?"Dokter Arya menunjuk dada Zaidan.
Zaidan terdiam sesaat.
"Apa dia sudah kembali dari Kanada.?"Zaidan bertanya, dengan dada yang tiba-tiba berdegup kencang.
Dokter Arya membuang napasnya kasar.
"Apa loe mencintainya.?"Tanya Dokter Arya, merasakan hatinya berdebar, menunggu jawaban dari Zaidan.
"Apa wanita yang loe maksud itu dia.?"Terdengar suara Zaidan yang penuh penekanan, seperti menahan gejolak yang mau meledak.
"Bisa lebih spesifik menyebut namanya.?"
Pertanyaan Dokter Arya, mampu membangkitkan emosi di hati Zaidan.
Dokter Arya tertawa menanggapi kemarahan Zaidan.
"Akhirnya, seorang Radthya Zaidan, mengakui perasaannya kepada Amanda Maheswari."Dokter Arya masih terus tertawa.
Zaidan mendengus kesal, karena terkena perangkap abangnya sendiri.
Zaidan mengusap kasar wajahnya.
"Jangan bilang loe habis makan malam bersama Amanda bang.?" Tanya Zaidan, dengan intonasi suara dan emosi yang sudah menurun.
Dokter Arya mengangguk.
Zaidan langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, dia menarik napas dalam sambil memejamkan mata.
"Sejak kapan dia kembali kesini.??"Tanya Zaidan, terlihat tatapan nanarnya.
"Hari ini, tadi siang."Jawab Dokter Arya, sambil menyesap kembali kopinya.
Zaidan menatap lekat Dokter Arya, mencondongkan tubuhnya ke arah Dokter Arya. Sehingga, jarak tubuh mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Apa dia tinggal bersama Doni.?"Tanya Zaidan, tepat di wajah Dokter Arya.
"Radthya Zaidan, seorang pengusaha dan pembisnis sukses. Mempunyai banyak pengaruh dan anak buah, carilah sendiri informasi itu."Dokter Arya berkata, sambil menepuk pelan pipi Zaidan.
"Gw harus pulang istirahat, besok pagi ada jadwal operasi. Satu pesan gw, kejar dan perjuangkanlah dia sebelum semua terlambat."Dokter Arya berkata, sambil meraih tasnya.
"Terlambat apa maksud loe bang.??"Zaidan menangkap lengan Dokter Arya saat ingin berlalu, terlihat sekali kegusaran di wajahnya.
"Amanda bukan wanita yang buruk Zay, apa lagi dengan sifatnya yang baik hati, pasti ada beberapa laki-laki yang menginginkannya."
Deg..
Pernyataan Dokter Arya, membuat hati Zaidan tambah tidak karuan.
"Termasuk loe bang.??"Tanya Zaidan, menatap tajam Dokter Arya.
"Tergantung Zay, seberapa besar dan kuat loe memperjuangkannya."Jawab Dokter Arya, menepuk pelan pundak Zaidan dan pergi berlalu meninggalkan Zaidan yang diam membeku.
Perasaan takut kehilangan untuk kedua kali, semakin menyeruak di hatinya. Dengan sigap, dia langsung menyuruh anak buahnya malam ini juga, untuk mencari tempat tinggal Doni.
Tidak begitu lama, sebuah pesan masuk dengan alamat lengkap Doni.
Tanpa membuang waktu, dan dengan langkah seribu, Zaidan langsung bergegas meninggalkan Cafe.
Suasana yang sudah hampir larut, membuat lengang arus lalu lintas di Ibukota.
Zaidan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk dia sampai di kediaman Doni.
Dadanya semakin berdegup kencang, kala membayangkan Doni dan Amanda tinggal bersama.
Zaidan mengusap wajahnya kasar, merutuki kebodohannya, karena terlalu tenggelam dengan kesibukannya, sehingga melupakan kehadiran Amanda di hatinya. Dia teringat kembali pagi panasnya bersama Amanda di kamar penyiksaan.
Zaidan mengambil ponselnya, dan meminta anak buahnya untuk menyelidiki kehidupan Amanda dan Doni.
Berlahan, Zaidan meninggalkan rumah dengan bangunan estetik itu, dia memutuskan untuk kembali besok pagi.
Sementara itu di dalam kamar, Amanda masih terjaga, matanya enggan sekali untuk di pejamkan. Di kesunyian malam, sayup-sayup Amanda seperti mendengar deru mesin mobil. Dengan cepat Amanda melangkah ke arah jendela, tampak sebuah mobil Mercedes Benz hitam baru saja berlalu di depan rumahnya.
****************
Akankah Zaidan jujur dengan perasaannya ?
Mampukah, Zaidan berjuang mendapatkan Amanda kembali ?
Bagaimana dengan Razama?. Apakah Amanda akan memberitahu siapa ayah biologis Razama??
Kisahnya masih panjang ya, ikuti terus ceritanya.
__ADS_1
Melimpir dan berikan dukungan ke novel terbaru author 👇👇