Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Penawaran Hukuman


__ADS_3

Bab 23


"Penyesalan Zaidan"


Amanda memejamkan mata nya, saat tangan Zaidan mengangkat cambuk ke arah nya.


Tawa Zaidan, seketika menggema memenuhi ruangan.


"Aku pikir, kamu wanita yang tidak takut apa pun Amanda Maheswari.."Zaidan berkata, sambil menurunkan cambuk nya.


Hati nya, begitu senang melihat ketakutan di wajah Amanda yang masih di hiasi make up.


Dia memindai tubuh Amanda yang masih terbungkus pakaian pengantin, dari atas sampai bawah.


"Tidak buruk, tapi aku tidak ingin menyentuh mu.."Zaidan terus menatap Amanda, dengan senyum penuh arti.


Amanda, sedikit bergidik ngeri, melihat tatapan Zaidan. Lahir batin dia mempersiapkan diri menjadi istri nya, tapi ternyata, dia belum siap untuk menyerahkan diri seutuh nya untuk Zaidan.


Zaidan hanya menyeringai, melihat ketakutan di wajah Amanda.


"Kamu bisa memilih nya Amanda, hukuman apa yang kamu mau, hukuman penuh kenikmat*n, atau hukuman yang sangat menyakitkan.."Bisik Zaidan, dengan seringai menyeramkan.


Sesaat Amanda memejamkan mata nya, mendengar penawaran Zaidan.


"Radthya Zaidan, aku percaya dengan apa yang di katakan oleh mendiang kakek mu Radthya Purnama, jika kamu adalah laki-laki yang sangat lembut dan baik, terutama perlakuan mu terhadap seorang wanita.."Amanda mencoba bersikap setenang mungkin.


Zaidan kembali mengeluarkan seringai nya.


Berlahan, dia menci*m dan sedikit menggi**t daun telinga Amanda, yang membuat Amanda terhenyak.


"Apa lagi aku ini, istri mu mas.."Ucap Amanda, dengan suara lirih, sambil memejamkan lagi mata nya.


"Karena, kamu adalah istri ku, jadi aku punya hak sepenuh nya, atas tub*h mu, tapi tenang, aku tidak akan meminta hak ku sekarang, karena ada wanita lain yang lebih berhak menerima kenikma**n dari ku.."Zaidan berkata, sambil menjauhi wajah nya dari telinga Amanda.


"Apa maksud mu mas, aku tidak mengerti..??"Tanya Amanda, dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu ini, bod*h atau pura-pura lupa dengan surat perjanjian kita, hah..!?"Dengan keras, Zaidan mencengkram rahang wajah Ana.


Ana meringis kesakitan, memcoba menahan buliran bening yang sudah bermuara di bola mata nya.


"Menangis lah Amanda, jika kamu ingin menangis, aku sudah katakan, aku tidak akan pernah memberikan kebahagiaan untuk pernikahan kita, tapi aku akan menciptakan penderitaan yang menyakitkan untuk mu..!!"Teriak Zaidan, dengan penekanan tepat di wajah Amanda.


"Sore ini, aku akan berangkat ke Singapura untuk melakukan pengobatan dan therapy, sekaligus menyusul wanita yang sangat aku cintai.."Zaidan berkata lagi, dengan cengkeraman yang semakin keras di wajah Amanda.


"Jangan pernah protes, apa lagi membantah, apa pun yang akan aku lakukan, dan semua keputusan yang aku ambil, jika kamu berani membantah, kamar ini akan menjadi saksi penyiksaan mu..!!"Suara yang penuh ancaman dan peringatan, krmbali terdengar di telinga Amanda.


"Bersikap seperti biasa, jangan sampai ada yang mengetahui semua ini, apa lagi jika pak Handoko mengetahui rahasia kamar ini, aku tidak segan-segan membuat mu menyesal..!!"Hardik Zaidan, sambil melepas kasar tangan dari rahang wajah Amanda.


Amanda hanya mengangguk, sambil menahan air mata nya, menahan rasa sakit di hati dan wajah nya.


"Kuat Amanda, ini baru awal, perjalanan mu masih panjang.."Amanda berkata dalam hati, mencoba memberikan kekuatan dan semangat untuk diri nya.


Zaidan pun, meletakkan cambuk di tempat semula.


"Keluar lah, ini hanya baru peringatan awal..!!"zaidan berkata, sambil membuka pintu dengan menggunakan sidik jari nya.


Saat pintu kamar terbuka, tampak Adam sudah menunggu di depan pintu, dengan wajah cemas, penuh ketakutan.


"Nyonya Amanda, apa anda baik-baik saja..??"Tanya Adam langsung menghampiri Amanda, dengan wajah khawatir.


"Adam..!!"Teriak Zaidan, dengan sorot mata tajam, seperti mata pisau yang siap menghujam jantung siapa pun yang menatap nya.


"M..maaf tuan Zaidan.."Jawab Adan gugup.


"Aku baik-baik saja Adam, terimakasih.."Jawab Amanda, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Syukur lah nyonya.."Ucap Adam, dengan wajah lega.


"Adam..!!"Apa kamu tidak mendengar, hah..!?"Bentak Zaidan, dengan wajah memerah.


Dengan gugup, Adam pun langsung menghampiri Zaidan.


"Kenapa, kamu peduli sekali kepada nya..??"Apa kamu menyukai nya.-??"Zaidan berkata, dengan penuh selidik menatap Adam.


Amanda dan Adam terkejut, mendengar pertanyaan Zaidan. Mereka saling melempar pandang.


"Ternyata, kalian saling menyukai..??"Zaidan bertanya lagi, dengan senyum sinis nya, menatap bergantian Amanda dan Adam.


"Jangan lah ber spekulasi sendiri, tanpa melihat fakta dan bukti yang ada, seseorang yang mengkhawatirkan keadaan orang lain, itu karena orang itu mempunyai hati nurani dan rasa kemanusiaan yang tinggi.."Jawab Amanda, dengan suara bergetar.


Dia mencoba, untuk tidak terpengaruh dengan sikap dan ucapan Zaidan saat di dalam kamar hukuman tadi.


Wajah Zaidan kembali memerah.


"Maaf tuan, kita harus segera berangkat ke Bandara, apa tuan tidak ingin segera bertemu dengan nona Devina..-??"Adam sengaja mengingat kan untuk meredam kemarahan Zaidan.


Amanda terpaku mendengar nama Devina, yang terucap dari bibir Adam.


"Devina..?"Apa kah itu nama wanita yang di maksud Zaidan..?"Tanya Amanda dalam hati.


"Dengar itu..!!"Aku akan segera menemui wanita ku..!!"Ucap Zaidan, yang langsung mendorong kursi roda nya, meninggal kan Amanda yang terdiam, karena memikirkan nama Devina.


"Saya, permisi nyonya.."Ucapan Adam, membuyarkan pikiran Amanda.


"Oo iya Adam, silah kan.."Amanda mengangguk, sambil tersenyum.


Sambil membungkukkan sedikit badan nya, Adam sempat sekilas menatap Amanda dengan jarak yang cukup dekat.


Deg..


Wajah Amanda, membuat jantung Adam berdegup kencang, tapi buru-buru dia membuang pandangan nya, dan bergegas menyusul Zaidan.


Dengan langkah gontai, Amanda masuk ke dalam lift, saat sampai di lantai dasar, dia melihat Adam yang aedang sibuk membawa koper.


"Mungkin, aku cukup lama di Singapura, pakai lah ini, untuk memenuhi kebutuhan mu.."Zaidan berkata, dengan suara dingin, sambil menyerahkan black card ke tangan Amanda.


"Terimakasih mas.."Amanda mengambil black card dari tangan Zaidan.


Zaidan hanya mengangguk, dan berlalu tanpa menatap Amanda.


"Hati-hati mas.."Ucap Amanda lagi.


Zaidan, menghentikan kursi roda nya.


"Jaga sikap mu, sebagai wanita yang bersuami..!!"Tegas Zaidan, tanpa menoleh, dan kembali mendorong kursi roda nya meninggal kan Amanda yang sedang terpaku.


Amanda, tidak mengerti dengan sikap Zaidan, baru saja dia melihat sikap Zaidan yang mengerikan, tapi dalam waktu sekejap, sikap nya berubah menjadi begitu perhatian, walaupun sikap nya masih sangat dingin.


"Nyonya, biar saya bantu untuk melepas pakaian pengantin nya.."Tiba-tiba, sebuah suara membuyarkan lamunan Amanda.


Amanda menoleh, wanita setengah baya dengan tatapan teduh, tampak tersenyum menatap Amanda.


Amanda pun baru menyadari, jika dia masih menggunakan pakaian akad nikah.


"Oh, tidak perlu bu, saya bisa sendiri kok.."Jawab Amanda ramah, sambil tersenyum.


"Nama saya Darmi, panggil saya bi Darmi, nyonya.."Jawab wanita, yang bernama bi Darmi.


"Saya panggil bu Darmi saja."Amanda tersenyum manis.


"Terserah nyonya saja, mari saya antar ke kamar nyonya.."Ucap bi Darmi, sambil melangkah menuju. tangga

__ADS_1


Tapi bi Darmi, tiba-tiba menghentikan langkah nya, saat kaki nya ingin menaiki anak tangga.


"Maaf nyonya, mau naik lift atau tangga saja.."Tanya bi Darmi, sambil memutar tubuh nya menghadap Amanda.


"Kita mau ke lantai mana bu..??"Amanda, balik bertanya.


"Kebetulan kamar nyonya, ada di lantai 1, bersebelahan dengan kamar tuan Zaidan.."Jawab bi Darmi.


"Apa di lantai 1, hanya ada kamar saya dan mas Zaidan..??"Amanda, kembali bertanya.


Dia ingin mengorek beberapa informasi tentang keluarga besar Radthya.


"Ada dua kamar lagi nyonya.."Jawab bi Darmi.


"Oh ya, kalau boleh tahu yang dua lagi kamar siapa ya bu..??"Tanya Amanda, penuh selidik.


"Kamar almarhum tuan Radthya Purnama, dan ruang kerja almarhum, yang sekarang menjadi ruang kerja tusn Zaidan.."Jawab bi Darmi kembali.


Amanda manggut-manggut, mendengar penjelasan bi Darmi.


"Maaf nyonya, kita mau pakai lift, atau lewat tangga saja.??"Kembali bi Darmi bertanya.


"Hanya lantai 1, kita lewat tangga saja bi.."Jawab Amanda.


"Baik lah, ayo nyonya.."Ajak bi Darmi yang langsung melangkah menaiki rangga, di ikuti oleh Amanda.


Sambil melangkah, Amanda memperhatikan setiap sudut ruangan, terlihat ruangan yang luas dan bersih, dengan arsitektur yang begitu elegan dan mewah, pasti nya dengan semua barang-barang lux di dalam nya.


"Silahkan nyonya,.."Ucap bi Minah, sambil membuka ksn pintu kamar.


Amanda tercengang, dengan kamar yang begitu luas dan mewah, terdapat walk in closet dan kamar mandi di dalam nya.


Tempat tidur berukuran king size yang terlihat sangat nyaman, dengan sofa bed di depan TV.


"Apa kamar sebesar dan sebagus ini, aku akan tidur sendiri bi..??"Tanya Amanda, sambil mengerutkan kening nya.


Bi Darmi tidak menjawab, menatap Amanda sambil tersenyum, penuh arti.


Amanda menunduk, dengan wajah memerah.


"Oh ya bi, boleh saya bertanya lagi..??"Tanya Amanda.


"Mau tanya apa nyonya..??"Bi Darmi balik bertanya, dengan tatapan hangat nya.


"Di lantai dua ada kamar siapa saja ya bi..??"Tanya Amanda, penuh penasaran.


"Kalau lantai dua, itu kamar orang tua tuan Zaidan dan saudara laki-laki nya tuan Zaidan, kalau nyonya bettanya lantai tiga itu hanya


rooftop dan bar kecil saja."Jawab bi Darmi.


"Oo gtu bi, tapi kok dari tadi saya tidak melihat orang tua, dan saudara laki-laki nya..-??"Tanya Amanda, sambil mengerutkan kening nya.


"Kalau itu, saya kurang tahu nyonya, mereka meninggal kan rumah, dua hari sebelum pernikahan tuan dan nyonya.."Bi Darmi mencoba menjawab kembali, pertanyaan Amanda, walaupun dia sudah merasa jika Amanda sedang menyelidiki sesuatu.


"Oh iya bu, apa bu Darmi mengetahui tentang kamar huluman..???":


************


Maaf ya baru up.


Lagi pengen nyelesain novel yang satu nya.


Jangan lupa mampir ya, berikan dukungan kalian 👇👇


__ADS_1



__ADS_2