
Bab 82
"Penyesalan Zaidan"
Amanda terkejut, saat melihat sesosok laki-laki yang kini berada di hadapannya.
"Dokter Arya!" ucap Amanda, langsung terduduk dan beringsut mundur.
"Kamu mimpi buruk Amanda?" tanya Dokter Arya lembut.
"Maaf Dok, kenapa Dokter bisa berada di kamar saya?" Amanda menatap tidak suka. Walaupun, dia sekarang sedang berada di rumah Mira, akan tetapi tidak seharusnya Dokter Arya masuk ke kamarnya, apalagi saat dia sedang tertidur pulas.
"Maafkan Amanda, aku berniat untuk melihat keadaanmu, aku mencoba mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya aku masuk, dan aku melihatmu tidur dalam keadaan gelisah" jelas Dokter Arya.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Bisakah sekarang Dokter keluar dari sini,!" pinta Amanda, entahlah dia merasa takut melihat sosok Dokter Arya sekarang, karena tingkahnya bukan seperti Dokter Arya yang di kenalnya.
Dokter Arya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, maaf jika aku sudah mengganggu tidurmu" Dokter Arya melangkah keluar dari kamar tamu yang di tempati Amanda.
Amanda segera mengunci pintu kamar, dengan perasaan takut.
"Apa Dokter Arya sedang menginap di rumah Mamah Mira? atau dia tinggal bersama Mamahnya?" tanya Amanda pada diri sendiri.
Amanda kembali teringat dengan sosok Doni, Bunda dan anak-anak Panti, dadanya kembali terasa sesak. Dia menelungkupkan kepalanya di bawah bantal, terdengar isakan yang tertahan.
"Zaidan" tanpa sadar, Amanda menyebut nama Zaidan yang membuat isakannya semakin kencang.
Sementara di belakang pintu kamar Amanda, seulas senyum smirk mengembang di bibir Dokter Arya. Dia pun segera melangkah pergi, tanpa di sadarinya ada sepasang mata yang memperhatikan Dokter Arya saat menyelinap ke kamar Amanda.
"Seperti ada yang tidak beres, aku harus menyelidikinya" ucap sepasang mata itu, dan segera berlalu dengan pikiran yang berkecamuk.
**************
"Mah, aku dan anak-anak akan berencana kembali menempati rumah kak Doni" ucap Amanda, saat mereka sedang sarapan.
"Kenapa sayang? apa kamu tidak nyaman di sini?" tanya Mira, dengan wajah sedih.
"Bukan seperti itu Mah, tidak baik juga jika aku berlama-lama di sini, dan kami juga ada rumah kak Doni" jawab Amanda.
"Amanda itu rumahnya Doni berarti rumahnya Dion, sedangkan Raza dan kamu tidak punya hak untuk tinggal di sana" sergah Mira, yang membuat mereka terkejut.
"Mah" panggil Dokter Arya, mencoba mengingatkan Mira.
__ADS_1
Amanda tersentak mendengar perkataan Mira. Dia tidak menduga jika Mira akan bicara seperti itu, ketakutannya kehilangan Raza tiba-tiba muncul kembali. Karena, dia hanya punya Raza dan Dion sekarang.
"Maaf mah, Raza anakku, jadi aku punya hak penuh untuk menentukan di mana Raza akan tinggal!" sergah Amanda, membuat Mira dan Dokter Arya tersentak.
"Amanda dulu ada Doni yang selalu melindungimu, tetapi kini kamu sudah tidak punya siapa-siapa!" sergah Mira.
Mira menghela napas.
"Maafkan Mamah Amanda, coba kamu pikirkan lagi. Kamu baru dua hari berada di negara ini, keadaanmu juga sedang tidak sehat, kasihan Raza dan Dion" Mira mencoba membujuk Amanda, dengan suara yang terdengar melunak.
"Maaf juga Mah, keputusanku sudah bulat. Aku akan membesarkan anak-anakku dengan tanganku sendiri,! ayo sayang kita harus pulang sekarang!" jawab Amanda, sambil bangkit dari duduknya mengajak Raza dan Dion untuk pergi.
"Amanda, tunggu dulu!" Dokter Arya menghampiri Amanda, dan memegang lengannya.
"Mamah tidak bermaksud memisahkanmu dengan Raza, dia hanya sangat mengkhawatirkan kalian" ucap Dokter Arya.
"Maaf, tetapi kami tidak bisa tinggal di sini!" sergah Amanda, menggandeng tangan Raza dan Dion.
"Amanda, menikahlah denganku" ucapan Dokter Arya membuat mereka teekejut. Amanda seketika menghentikan langkahnya. Sedangkan, Mira menatap nanar sang putra.
"Menikahlah denganku Amanda, kita akan membesarkan Raza dan Dion bersama" pinta Dokter Arya sekali lagi kepada Amanda.
"Aku tahu kamu wanita yang kuat, tetapi, bagaimana pun Raza dan Dion butuh sosok seorang ayah"
"Doni sudah tiada, Zaidan pun pergi menghilang karena rasa penyesalan kepadamu, dan sekarang hanya ada aku, dan kamu pasti mengetahui bagaimana perasaanku"
Amanda teringat Zaidan, hatinya terasa sakit. Lagi-lagi Zaidan meninggalkannya dalam keadaan terpuruk dalam kesedihan. Dia tidak habis pikir, kenapa Zaidan setega ini, padahal sudah ada Raza di samping mereka.
Mira pun menghampiri mereka, menatap bergantian Amanda dan Dokter Arya.
"Mamah rasa ajakan Arya adalah solusi untuk kita semua, menikahlah dengan Arya, kita akan menjadi keluarga yang utuh, kami juga sangat menyayangi Dion sama seperti kami menyayangi Raza." ucap Mira dengan wajah memohon, menggenggam jemari Amanda.
Amanda memejamkan matanya sesaat.
"Berikan aku waktu untuk menjawabnya" jawab Amanda lirih.
"Aku akan selalu menunggu jawabanmu Amanda Maheswari" Dokter Arya berkata dengan wajah sumringah.
"Aku akan tetap membawa Raza dan Dion untuk kembali ke rumah kak Doni"
"Oke Amanda, aku akan mengantar kalian"
"Tetapi Ar..." potong Mira, yang tidak rela jika dia berpisah dengan Raza.
__ADS_1
"Mamah bisa mengunjungi Raza kapan saja, aku tidak akan membatasinya, tetapi aku mohon, jangan sampai aku mengambil keputusan karena keterpaksaan" jawab Amanda, membalas genggaman tangan Mira.
"Amanda maafkan Mamah" Mira memeluk tubuh Amanda.
"Amanda juga minta maaf, sudah berkata kasar kepada Mamah" Amanda membalas pelukan Mira. Buliran bening pun membasahi wajah mereka.
"Kita teruskan sarapan dulu ya, setelah ini kalian aku antar, sekalian aku mau berangkat ke rumah sakit" ajak Dokter Arya dengan senyum bahagia.
Raza dan Dion tidak ada yang bersuara sedikit pun. Dion sadar dia tidak punya hak sama sekali untuk mengeluarkan pendapatnya.
Akhirnya setelah sarapan, mereka pun pamit kepada Mira, walaupun terasa sangat berat Mira mengijinkan mereka. Berkali-kali dia memeluk dan menciumi Raza, ada rasa kehilangan yang mendalam saat mobil Dokter Arya melaju meninggalkan rumahnya.
"Amanda, Mamah sangat mengetahui perasaanmu terhadap Zaidan, tetapi, Mamah lebih mengetahui bagaimana karakter Arya" ucap Mira lirih pada diri sendiri, tanpa terasa air mata sudah mengalir di wajahnya.
****************
Amanda menatap lekat foto di mana dirinya, Raza, Doni, Dion, Bunda dan anak-anak panti berpose dengan senyum bahagia. Buliran bening pun menyapu wajahnya.
"Mah" sebuah panggilan dan sentuhan lembut di pundaknya, membuyarkan lamunan Amanda.
"Dion" panggil Amanda lirih sambil menoleh.
"Mah" Dion kembali memanggil Amanda, dan langsung menghambur ke pelukan Amanda. Tangisnya pecah seketika, begitu juga dengan Amanda.
Amanda sangat mengetahui, sosok Dion yang terlihat kuat dengan kematian Doni, namun, menyimpan duka yang mendalam di hatinya.
"Carilah kebahagiaan Mamah, menikahlah dengan Dokter Arya, kasihan Raza"
Deg...
**************
Apakah Amanda akan menerima lamaran Dokter Arya?
Apakah Mira mengetahui semua rencana Dokter Arya?
Kemanakah Zaidan sebenarnya ?
Apakah Zaidan benar-benar pergi? atau ada sesuatu yang sedang di rencanakannya?
Kalau ada yang bertanya, ceritanya kok jadi rumit?, jawabannya karena Author ingin di setiap cerita yang di sajikan, bisa memberikan sesuatu yang berbeda, bukan hanya benci jadi bucin, atau novel yang jalan ceritanya bisa ketebak oleh pembaca.
Author juga ingin mengajak para pembaca karya Author, untuk berspekulasi dengan pikiran sendiri, walaupun hanya sekedar cerita percintaan 🤗.
__ADS_1
Mampir juga ke Novel Aurhor yang baru banget up, sudah revisi dan ada perubahan alur cerita, di jamin lebih seru 😍👇