
Bab 92
"Penyesalan Zaidan"
Zaidan menghubungi anak buahnya untuk segera bergerak, bagaikan orang kesetanan dia melajukan mobilnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan keselamatannya, baginya yang terpenting adalah nyawa Raza.
Tak lama sampailah dia di sebuah gedung tua yang di jadikan Baron sebagai markas transaksi obat-obat terlarang dan tempat persembunyiannya bersama Dave dan Lion.
Zaidan yang sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar, langsung turun dari mobil dan segera menuju ke dalam markas.
Para anak buah Baron pun langsung sigap, mereka menodongkan senjatanya tepat di wajah dan tubuh Zaidan.
"Baron, Dave, Lion keluar kalian,! jangan jadi pengecut yang berlindung di ketiak anak kecil!" teriak Zaidan.
Saat Zaidan berniat melangkah maju memasuki gudang, para anak buah Baron langsung melepaskan tembakan, namun, Zaidan dengan cepat mengeluarkan tembakan bersamaan dengan tembakan yang di lepaskan oleh anak buahnya. Sehingga ada celah untuk nya. Dengan gerakan cepat, Zaidan langsung masuk ke dalam gudang.
Saat beberapa langkah memasuki gudang, sebuah besi berduri yang tajam sampai terlihat mengkilat tertembus cahaya karena ketajamannya dan besi itu melayang ke arah Zaidan. dengan cepat dan gerakan salto Zaidan menghindar. Namun naas, saat kakinya menginjak lantai gudang, tiba-tiba lantai itu ambruk ke bawah, membuat tubuhnya terperosok.
Untung saja dengan sigap kedua tangan Zaidan langsung berpegangan di atas lantai yang tidak ambruk, membuat tubuhnya berayun-ayun. Tampak di bawah sudah menunggu besi berduri yang bentuknya sama dengan besi yang baru saja menyerangnya.
"Si*l, mereka sudah menyiapkan semua jebakan ini!" ucap Zaidan dengan wajah memerah.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.
"Radthya Zaidan, cintamu kepada darah dagingmu mampu mengorbankan nyawamu!" ucap seseorang yang tak lain adalah Lion.
Lion tertawa penuh kemenangan dan berjongkok menatap Zaidan yang sedang bergelantungan dengan wajah memerah.
"Brengs*k! jangan pernah sentuh putraku! dia tidak ada urusan denganmu!" teriak Zaidan dengan kilatan penuh amarah.
Tawa Lion semakin terdengar kencang.
"Radthya Zaidan, dalam keadaan seperti ini pun, kamu masih tetap sombong!" kita lihat apa kesombonganmu akan tetap bertahan?" ucap Lion dengan senyum mengejek.
Lion segera bangkit, menatap nyalang Zaidan.
"Tua bangka sial*n itu pasti sekarang sedang bahagia di dalam tanah, karena menunggu cucu tercinta akan menyusulnya dan cicit tercintanya pun akan segera menyusulnya juga" Lion kembali tertawa puas.
"Kurang aj*r! aku akan segera membun*h Lion!" kecemasan dan kemarahan jadi satu di hati Zaidan, dia akan mengutuk dirinya sendiri, jika sampai terjadi apa-apa dengan Raza.
Tawa Lion seketika berhenti mendengar ucapan Zaidan.
"Dasar anak sial*n!" geram Lion dengan wajah memerah.
Lion mengangkat satu kakinya, dan hendak menginjak punggung tangan Zaidan.
"Rasakan ini, anak sial*n!"Teriak Lion, namun, saat kakinya ingin mendarat di punggung tangan Zaidan, tiba-tiba....
Dor...
Dor..
Dor...
Dor...
Beberapa tembakan beruntun terdengar memekakkan telinga. Tubuh Lion pun langsung ambruk bersimbah dar*h, dengan mengerahkan segala kekuatannya Zaidan berusaha keluar dari lobang mematikan itu.
__ADS_1
Saat tubuhnya keluar, dia langsung di sambut oleh tembakan, namun dengan sigap Zaidan menghindar. Dia tidak berkedip melihat tubuh Lion yang bersimbah dar*h dan sudah tidak bergerak. Sedangkan tak jauh dari tubuh Lion, terlihat tubuh wanita yang juga berlumuran dar*h dan sedang mengerang kesakitan.
"Wina" panggil Zaidan.
Dengan gerakan cepat Zaidan langsung menendang lengan Baron, sehingga pistol terlepas dari tangannya. Dan Zaidan langsung memberikan pukulan tanpa ampun sehingga membuat tubuh Baron terhuyung dan jatuh ke dalam lubang jebakan yang di buatnya sendiri.
"Akhhhhhhh...!"
Jeritan kesakitan dan memilukan Baron terdengar dari lubang itu, dan tak bisa di hindari Baron pun langsung menghembuskan napas terakhirnya, dengan badan yang tertancap besi berduri.
Zaidan segera menghampiri Wina yang sedang merintih kesakitan, dalam keadaan kritis.
"Wina" panggil Zaidan, memposisikan kepala Wina di pahanya.
"Z-Zaidan, m-maafkan a-aku" ucap Wina dengan suara terbata-bata dan napas tersengal.
"S-selamatkan R-Raza" setelah mengatakan kalimat itu, napas Winapun berhenti.
Zaidan mengusap kasar wajahnya, mencoba menahan kesedihannya.
"Hai, anak sial*n, kamu lihat siapa yang ada di tanganku, hah!" teriak seseorang yang sangat Zaidan hafal suaranya.
Zaidan dengan pelan meletakkan tubuh Wina yang sudah tidak bernyawa, segera berdiri dan menatap nyalang ke arah Dave yang sedang mengacungkan pistolnya ke arah Raza dan Dokter Arya.
Tampak Raza menatap lekat Zaidan seolah-olah meminta pertolongan, sedangkan keadaan Dokter Arya yang tidak bisa berjalan karena tembakan di kakinya terlihat begitu mengenaskan. Dia tampak duduk bersimpuh di lantai dengan pistol yang tepat di kepalanya.
"Apa mau loe Dave?" tanya Zaidan dengan tatapan nyalang.
Dave tidak menjawab, dia tertawa penuh kepuasan.
"Gw akan melakukan apa pun yang loe perintah, bebaskan putra dan abang gw!"
"Sekarang cepat loe berlutut,! dan memohon sama gw!" Bentak Dave sambil kembali tertawa.
Perlahan Zaidan menurunkan tubuhnya dan mulai berlutut, namun, sebelum berlutut Dokter Arya nekat merebut pistol dari tangan Dave, sehingga pistol itu terpenral.
"Zay, cepat bawa Raza keluar!" teriak Dokter Arya, yang terus menahan gerakan Dave.
Zaidan segera membawa tubuh Raza ke dalam pelukannya. Alangkah terkejutnya, saat dia memegang benda yang berada di punggung Raza.
"Cepat Zay, lepaskan benda itu! dan cepat kalian keluar dari sini!" teriak Dokter Arya menyadarkan Zaidan.
Zaidan segera melepaskan benda yang berupa bom waktu.
"Cepat, bawa Raza keluar!" teriak Dokter Arya.
"Tapi bang.." Zaidan menatap nanar Dokter Arya.
"Cepat waktunya sudah hampir habis Zay" Dokter Arya kembali berteriak.
Dengan hati berat, Zaidan bergegas membawa Raza keluar, tepat beberapa langkah mereka keluar dari gedung tua itu...
Duar.....
Suara ledakkan memekakkan telinga terdengar, dan gedung itu pun hancur berkeping-keping.
"Papah" panggil Raza.
__ADS_1
Zaidan memeluk Raza erat, dia menciumi wajah dan kepala Raza. dengan air mata membasahi wajahnya.
******************
Gundukan tanah merah yang masih basah, dan taburan bunga di atasnya, dengan nisan yang bertuliskan nama Arya Prasetya.
Mira menangis tersedu-sedu di pelukan Zaidan. Amanda hanya menatap nanar sambil memeluk Raza dan Dion.
"Hari sudah sore, kita pulang sekarang Mah" ajak Zaidan.
Mira hanya mengangguk lemah. Mereka pun meninggalkan pemakaman.
Sesampainya di rumah mereka berkumpul di ruang keluarga termasuk Pak Handoko.
"Apa semua sudah beres Pak?" tanya Zaidan.
"Saya sudah mengurus semuanya Tuan, keberangkatan Tuan sekeluarga ke Singapura juga sudah siap"
"Syukurlah, terimakasih atas bantuannya Pak"
"Sama-sama Tuan, ini semua sudah tugas saya. Semoga kalian hidup bahagia di sana"
"Aamiin" jawab mereka serempak.
*************
Keesokan paginya mereka sudah sampai di Bandara.
"Amanda, bapak selalu berdo'a untuk kesehatan, kesembuhan dan kebahagiaanmu Nak" Pak Handoko memeluk Amanda, air mata keluar dari sudut matanya.
"Terimakasih, bapak selalu ada di sampingku selama ini, Amanda selalu meminta do'a dari bapak" ucap Amanda sambil menangis.
"Itu pasti Nak, jangan pernah kamu lupakan bapak" Pak Handoko melepaskan pelukannya.
Amanda mengangguk.
"Eyang" panggil Raza.
"Raza, Dion, baik-baik di sana ya, jaga Mamah, Papah dan Eyang Putri" Pak Handoko memeluk Raza. Kemudian memeluk Dion.
"Pak Handoko, terimakasih atas kebaikan bapak selama ini" ucap Mira tersenyum.
"Sama-sama Nyonya Mira, sudah kewajiban saya" jawab Pak Handoko.
"Pak Handoko, saya minta maaf, jika awal pertemuan kita sikap saya tidak sopan" ucap Zaidan memeluk Pak Handoko.
"Tidak apa-apa Tuan saya mengerti. Hanya satu pesan saya, tolong jaga dan sayangi Nak Amanda, Raza dan Dion dengan sepenuh hati.
"Itu pasti, saya berjanji Pak, saya akan menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk mereka" ucap Zaidan, sambil tersenyum menatap bergantian empat orang yang sangat di sayanginya.
Setelah berpamitan, dengan langkah pasti dan penuh kebahagiaan mereka semua melangkahkan kaki masuk ke dalam Bandara, bersiap untuk menyongsong masa depan mereka yang lebih baik.
**************
Tidak terasa kita sudah berada di akhir cerita "Penyesalan Zaidan". Mohon maaf jika akhir dari cerita tidak sesuai dengan keinginan kalian.
Terimakasih buat kalian yang sudah setia mengikuti alur cerita novel ini, semoga bisa menghibur dan menjadi teman di waktu luang kalian, sekali lagi terimakasih 🤗🥰🙏🙏.
__ADS_1
Karya-karyaku yang mungkin bisa menjadi rekomendasi buat kalian 👇🥰