Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Keputusan Amanda


__ADS_3

Bab 17


"Penyesalan Zaidan"


Amanda tampak berpikir sejenak, setelah mendengar perkataan pak Handoko.


"Baiklah, aku akan menemui nya besok.."Ucap Amanda, sambil tersenyum.


"Kamu yakin Manda..??"Tanya pak Handoko, dengan tatapan penuh khawatir.


"Jangan cemas om, Insya Allah aku bisa menjalani ini semua.."Ucap Amanda mencoba untuk meyakinkan pak Handoko.


"Tapi Zaidan."Pak Handoko, tidak meneruskan perkataan nya, dia menatap nanar wajah Amanda.


Amanda tersenyum, sambil menatap hangat pak Hsndoko.


"Hampir 80 %, aku mengetahui sifat seorang Radthya Zaidan om.."Amanda berkata, yang selalu di iringi dengan sebuah senyuman.


"Om sebenar nya sangat mengkhawatirkan keadaan mu setelah menikah nanti.."Pak Handoko menghela napas.


Dia melepas kacamata nya, dan sedikit memijat batang hidung nya.


"Om, Amanda Maheswari sekarang sudah dewasa, bukan anak kecil lagi, aku tahu resiko apa saja, yang akan aku hadapi nanti, karena aku sendiri yang sudah mengambil keputusan, jadi om tidak perlu khawatir.."Amanda berkata, sambil menyentuh lembut lengan pak Handoko, yang terbungkus jas.


Pak Handoko menarik napas, dan membuang nya kasar.


"Amanda, kamu wanita hebat, jika kamu sudah tidak kuat, lepas kan lah, om janji akan selalu menjaga mu, seperti janji om kepada mendiang kedua orang tua mu dan mendiang tuan Radthya Purnama.."Pak Handoko berkata, sambil memegang punggung tangan Amanda yang berada di atas lengan nya.


"Terimakasih om, aku sudah menganggap om seperti ayah ku sendiri, aku juga tidak akan pernah melupakan semua kebaikan dari mendiang kakek Radithya.."Jawab Amanda, dengan senyum mengembang.


Pak Handoko tersenyum dan mengangguk, sambil menepuk pelan punggung tangan Amanda, yang masih berada di atas lengan nya.


"Kita pulang sekarang om, seperti nya om sangat lelah, dan butuh istirahat.."Ucap Amanda.


"Iya, om akan jemput kamu besok.."Jawab pak Handoko, sambil memakai kacamata nya kembali.


"Tidak usah om, biar aku berangkat sendiri ke rumah sakit.."Jawab Amanda.


"Tidak bisa, om yang akan mengantar mu ketemu tuan Zaidan.."Ucap pak Handoko, dengan penuh penekanan.


"Baiklah.."Jawab Amanda, sambil tersenyum.


Dia sudah tidak membantah lagi, karena dia tahu, jika nada suara pak Handoko berubah, menandakan jika dia tidak ingin di bantah.


Lalu mereka pun pergi meninggalkan resto, dan mobil mereka pun segera melaju membelah jalan raya.


************


Zaidan, tampak termenung sambil menatap tubuh Devina, yang masih tak sadar kan diri. Tangan nya memegang jemari Devina, sambil sesekali mencium punggung tangan nya.


"Zaidan.."Panggilan dan sentuhan lembut Baskoro, di pundak Zaidan.

__ADS_1


Zaidan pun menoleh, dengan tangan nya yang masih menggenggam erat jemari Devina.


"Di luar, ada papah mu, dia ingin bertemu dengan mu.."Ucap Baskoro, dengan menatap bergantian Zaidan dan tubuh Devina.


Zaidan menghela napas.


"Dia bukan papah ku om.."Jawab Zaidan.


"Ya om tahu, temui lah dulu.."Baskoro menepuk pelan pundak Zaidan.


Zaidan mengangguk, dengan malas dia pun memutar kursi roda nya, keluar dari kamar Devina.


Tampak Alan sudah menunggu nya, di kursi tunggu yang berada di depan ruang perawatan Devina.


Dia menatap tajam Zaidan, yang sedang mendorong kursi roda ke arah nya.


"Aku sedang tidak mau ribut.!!"Ucap Zaidan, saat jarak mereka sudah sangat dekat.


Alan tersenyum sinis, menatap Zaidan.


"Apa benar, kamu akan melakukan pengobatan ke Singapura, dan membawa serta Devina..??Tanya Alan.


"Itu bukan urusan mu.."Zaidan membalas tatapan tajam Alan.


"Kamu hanya perlu menjawab, Zaidan..!!"Seketika wajah Alan memerah, menahan amarah nya.


Zaidan hanya tersenyum sinis, dengan tatapan mengejek.


"Apa pun yang aku lakukan, tidak ada urusan nya dengan mu tuan Alan Prasetya."Zaidan berkata, sambil memajukan wajah nya tepat di wajah Alan.


"Jangan pernah berani menyentuh ku.."Geram Zaidan, sambil menghempas kasar tangan Alan.


Zaidan pun, langsung memutar kursi roda nya.


"Sampai kapan pun, Devina itu milik Dave..!!"Teriak Alan, saat Zaidan mulai mendorong kursi roda nya.


Seketika Zaidan, memberhentikan kursi roda nya.


"Kita lihat saja, saat Devina sadar nanti, siapa yang akan di pilih nya.."Zaidan berkata, tanpa membalikkan kursi roda nya, dan mendorong nya kembali tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alan.


Alan mengepal kuat tangan nya, wajah nya merah padam, menatap tajam punggung Zaidan yang berlalu dari hadapan nya.


*******


Keesokan hari nya, tampak Amanda sudah menunggu kedatangan pak Handoko.


"Amanda.."Terdengar suara klakson, dan panggilan dari Avanza berwarna putih, yang tak lain mobil dari pak Handoko.


Amanda pun tersenyum, dan langsung menghampiri mobil pak Handoko.


"Pagi om."Ucap Amanda sambil tersenyum dan penuh semangat, saat sudah berada di dalam mobil, tepat duduk di sebelah pak Handoko.

__ADS_1


Dia pun, langsung mencium punggung tangan pak Handoko.


"Semangat dan ceria sekali, kamu pagi ini Manda.."Pak Handoko berkata, membelai lembut kepala Amanda.


"Bukan nya om yang mengajar kan, jika kita harus selalu menjalani hari, dengan penuh semangat dan hati yang bahagia, Insya Allah semua urusan akan lancar.."Amanda berkata, dengan senyum ceria nya.


"Berarti, kamu sudah siap..??"Tanya pak Handoko, ingin melihat bagaimana reaksi Amanda, terkait pertemuan nya dengan Zaidan.


"Aku sudah siap, saat mendiang kakek Radthya meminta nya kepada ku om, dan om juga tahu jika aku sudah berjanji, pasti aku akan menepati.."Jawab Amanda tegas, lagi-lagi dengan seulas senyum yang menghiasi wajah nya.


"Oke, om percaya pada mu."Ucap pak Handoko, sambil tersenyum menatap Amanda.


"Terimakasih om.."Jawab Amanda.


"Bisa, kita berangkat sekarang..?"Tanya Amanda.


"Tentu saja tuan putri, kita berangkat sekarang.."Pak Handoko berkata, dengan gaya seorang prajurit terhadap tuan putri nya.


Amanda pun tertawa, melihat gaya konyol pak Handoko.


"Kalau begitu, cepat lah kita berangkat, karena pangeran ku sudah menunggu.."Amanda pun berkata, dengan gaya nya seperti tuan putri.


"Siap, laksanakan.."Jawab pak Handoko.


Seketika tawa mereka pun pecah, sepanjang perjalanan mereka berbagi cerita, sering di selingi oleh candaan.


*******


Tidak terasa, mobil mereka pun sampai di halaman rumah sakit, setelah memarkir kan mobil nya mereka pun turun.


pak Handoko melirik Amanda, tidak terlihat perubahan di wajah Amanda, masih tetap terlihat ceria.


"Manda.."Panggil pak Handoko, saat mereka akan melangkah masuk rumah sakit.


"Iya om.."Amanda menghentikan langkah nya, dan menoleh ke arah pak Handoko.


Pak Handoko tidak menjawab, dia menatap Amanda, dengan tatapan nanar.


"Ayo lah om, percayalah dengan Amanda Maheswari.."Ucap Amanda, mencoba kembali menyakinkan pak Handoko.


Walaupun Amanda sadar, ini adalah sebuah keputusan tersulit dalam hidup nya, memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang belum pernah di kenal nya, apa lagi mencintai nya.


*******


Bagaimana pertemuan Amanda dan Zaidan..??


Apakah Zaidan dan Devina jadi pergi ke Singapura, untuk melakukan pengobatan..??


Bagaimana dengan Alan dan Dave.


Ayo, ikuti bab nya.

__ADS_1


Karya-karya author👇



__ADS_2