Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Doni dan Dion


__ADS_3

Bab 30


"Penyesalan Zaidan"


"Zay, aku bahagia sekali, akhir nya kita sudah resmi menjadi suami istri."Ucap Devina, yang kini sudah berada di dalam pelukan Zaidan.


"Iya Vina, aku juga sangat bahagia, karena mimpi ku kini sudah menjadi nyata.."Zaidan mencium lembut kening Devina.


"Aku tidak ingin tidur, aku ingin kita melewati malam ini, dengan kehangatan.."Ucap Devina manja.


Zaidan tersenyum, sambil membelai lembut wajah Devina, netra mereka salimg menatap penuh cinta. Malam pengantin pun mereka lewati, hampir menjelang pagi.


**************


Suasana pagi yang begitu cerah, tampak Amanda sedang menikmati suasana dan udara pagi, dengan berlari kecil di sekitar komplek perumahan Zaidan.


Karena hari libur, banyak orang-orang yang berolahraga, ada yang berlari, ada yang naik sepeda, dan ada juga berjalan santai, bersama pasangan bahkan dengan anak mereka.


Saat Amanda melewati taman, mata nya di manjakan oleh beberapa pasangan suami istri yang sedang mengajak anak nya bermain, ada juga pasangan muda yang sedang hamil.


Mereka semua bersenda gurau, tampak binar bahagia di wajah mereka.


Amanda hanya tersenyum kecut, melihat kebahagiaan semua orang di temui nya.


"Amanda, setiap orang sudah di berikan kebahagiaan nya masing-masing, bersyukur dan ikhlas lah dengan apa yang kita miliki, dan percayalah, maka kebahagiaan akan segera menghampiri kita."Kata-kata itu yang selalu di ucapkan bunda, dan menjadi penyemangat untuk Amanda.


"Terimakasih bunda, karena sudah mengajarkan aku menjadi wanita yang kuat.."Ucap Amanda dalam hati.


Kerinduan ingin bertemu bunda pun, tiba-tiba langsung hadir di hati nya.


Minggu ini, dia belum menyempatkan waktu untuk menengok bunda.


"Aku, akan menengok bunda setelah ini.."Amanda berkata, dengan tersenyum dan penuh semangat.


Karena terlalu semangat, tiba-tiba..


Dug...


"Aduh..!!"Teriak Amanda, sambil memegang kepala nya, yang terasa sakit, karena ada suatu benda bulat kencang yang hinggap di kepala nya, sehingga meninggalkan efek pusing untuk Amanda.


"Tante, maaf aku tidak sengaja.."Terdengar suara cempreng, dari seorang bocah laki-laki sambil memegang bola.


Amanda, yang sedang memegang kepala nya, berlahan menatap bocah laki-laki yang berada di hadapan nya.


Tampak bocah laki-laki berkulit putih bersih, dengan wajah dan mata bulat, serta pipi chubby. Terlihat sangat menggemaskan.


"Kepala Tante, pasti sakit.."Ucap bocah itu lagi, dengan wajah terlihat menyesal.


"Iya, kepala tante sangat pusing sekali, seperti nya tante mau pingsan.."Jawab Amanda, sambil memegangi kepala nya, dan tubuh yang mulai terhuyung.


"Tante.."Teriak bocah itu, sambil memeluk pinggang Amanda.


"Maaf kan aku tante.."Terdengar isak dari bocah itu.


Amanda pun tercekat.


Dia segera berjongkok, mensejajarkan tubuh nya dengan tinggi bocah itu.

__ADS_1


Amanda, tertegun tak percaya, melihat kesedihan dan ketakutan di wajah bocah itu.


"Hai, sayang, kenapa kamu menangis..??"Tanya Amanda, sambil menghapus air mata di wajah bocah itu.


"Kepala tante, pasti sakit sekali ya..??"Bocah itu tidak menjawab, justru balik bertanya, sambil menyentuh pelan kening Amanda.


"Kepala tante memang sakit, tapi bukan karena bola kamu kok, mungkin tante belum sarapan, jadi sedikit pusing.."Jawab Amanda, sambil tersenyum dan menoel pelan hidung bocah itu.


"Tante belum makan..??"Kasihan sekali..??"Apa tante tidak punya uang untuk membeli makanan..??"Tanya bocah itu, tanpa jeda.


Amanda tertawa kecil, bocah ini mengingatkan nya pada anak-anak di panti.


"Nama kamu, siapa sayang..??"Tanya Amanda lembut, sambil mengusap pelan wajah bocah itu.


"Dion Anggara kak.."Jawab bocah itu, sambil ikut tertawa.


"Wah, nama yang bagus, pasti Anggara nama papah kamu ya..??"Tanya Amanda, dengan gaya menggoda.


"Tante, kenal sama papah..??"Tanya Dion, dengan mata berbinar.


"Tante, teman nya papah .??"


"Nama tante siapa..??"


Pertanyaan-pertanyaan Dion, membuat Amanda tertegun, sambil mulut nya terbuka sedikit, dan menatap Dion bingung.


"Dion, kamu di sini nak..??"Papah mencari mu.."Sebuah suara bariton, tepat berada di belakang Amanda.


"Papah, Dion ketemu sama teman papah.."Suara cempreng Dion, membuat detak jantuk Amanda naik cepat.


Lelaki yang di panggil papah itu, mengerutkan kening nya, menatap punggung Amanda.


Dengan hati yang tak menentu, Amanda tersenyum kikuk, saat lelaki itu sudah berada di hadapan nya. Dia menatap bergantian Dion dan papah nya.


Begitu juga dengan lelaki itu, dia menatap wajah Amanda yang sedang berjongkok.


"Kenapa kalian diam saja, bukan kah kalian teman..??"Pertanyaan polos Dion, membuat mereka terhenyak.


"Kenal kan saya, Doni Anggara papah nya Dion.."Lelaki, yang bernama Doni itu, mengulur kan tangan nya sambil tersenyum.


"Amanda Maheswari.." Jawab Amanda, menerima uluran tangan Doni.


Amanda terperanjat kaget, saat Doni agak kuat, menarik tangan nya untuk berdiri. Membuat Amanda sadar, dengan posisi nya yang sedang berjongkok.


Amanda pun tersenyum malu.


"Bukan kah kalian berteman, kenapa baru menyebut nama..??"Tanya Dion, menatap Amanda dan Dion penuh tanya.


"Sayang, kami memang baru bertemu.."Jawab Doni lembut, sambil mengelus kepala Dion


"Tapi, kenapa tante Amanda tahu, kakau nama belakang papah itu Anggara .??"Tanya Dion, dengan wajah heran, menatap Doni.


Doni menatap Amanda, dengan ekspresi penuh tanya.


Tenggorokan Amanda terasa kering, dia bingung dengan diri nya, biasa nya dia akan selalu terlihat tenang, tapi kenapa di hadapan lelaki yang bernama Doni ini, dia merasa sangat gugup.


"Tante, hanya menebak, biasa nama belakang itu, di ambil dari nama ayah.."Jawab Amanda, berusaha mengendalikan perasaan nya.

__ADS_1


"Berarti ini takdir pah.."Dion berkata sambil mengangkat wajah nya, menatap Doni.


Amanda mengerutkan kening nya, tidak mengerti maksud perkataan Dion.


Doni, hanya tersenyum, menatap bergantian Dion dan Amanda bergantian.


Deg ..


"Senyum itu, kenapa tidak asing untuk ku.??"Batin Amanda.


"Amanda, kamu tinggal di komplek sini..??"Tanya Doni, dengan menatap hangat Amanda.


Kembali Amanda, merasakan jantung nya berdetak kencang.


Amanda yang terlihat gugup, hanya mengangguk.


"Dan, mata itu, tatapan itu..??"Amanda, menggelengkan kepala nya.


"Kepala tante, sakit lagi..??"Tanya Dion, khawatir langsung memegang lengan Amanda


"Tante, tidak apa-apa Dion.."Jawab Amanda lembut, sambil menyentuh pipi chubby Dion.


Doni menatap nanar, ke arah mereka berdua, kehangatan menjalar di hati nya. Doni tidak pernah melihat putra nya bisa langsung sedekat ini dengan seorang wanita.


"Ayo, kita makan tante.."Ajak Dion, memegang tangan Amanda


"Kasihan tante Amanda pah, kepala nya pusing karena lapar, dan tidak sengaja bola yang aku tendang mengenai kepala tante Amanda.."Dion berkata, dengan wajah menunduk sedih.


Doni mengernyitkan dahi nya, menatap Amanda dengan tatapan bersalah.


"Hai, tante tidak apa-apa dengan bola mu, hanya sakit sedikit, tante hanya belum sarapan saja.."Amanda berkata, sambil memeluk tubuh gemuk Dion.


"Jangan sedih, temani tante sarapan ya.."Ucap Amanda lembut, sambil mengelus rambut Dion.


Tampak senyum bahagia, terpancar di wajah Dion.


"Hore, kita bisa sarapan bertiga lagi.."Sorak Dion, dengan senyum bahagia.


Cup...


Sebuah ciuman hangat mendarat di pipi Amanda, yang membuat Amanda dan Doni diam terpaku.


Mereka saling tatap, Amanda refleks memegang pipi nya yang mendapat ciuman hangat dari Dion.


"Ayo pah, tante, Dion ingin sarapan bubur ayam."Dion berkata, sambil menggandeng tangan Doni dan Amanda.


******************


Cerita nya author gantung ya😁


Siapakah sosok Doni dan Dion..??


Apakah kehadiran mereka, mampu memberikan kebahagiaan untuk Amanda..??


Temui jawaban nya di bab-bsb berikut nya.


Sambil menunggu author up lagi, bisa mampir ke karya sahabat author yang cerita nya benar-benar seru dan penasaran 👇👇

__ADS_1



__ADS_2