Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Duka Zaidan


__ADS_3

Bab 59


"Penyesalan Zaidan"


Zaidan menutup ponselnya, menatap nanar Baskoro.


"Ada apa Zaidan, apa yang terjadi dengan Devina.??"Tanya Baskoro dengan wajah panik, sambil menggoyangkan lengan Zaidan.


"Zaidan akan menyewa pengacara terbaik untuk papah." Sekarang Zay harus kembali ke rumah sakit, Devina mencari Zay." Jawab Zaidan, dengan hati yang sangat gelisah dengan keadaan Devina.


"Tolong selamatkan Devina, berikan pengobatan yang terbaik untuknya, nak."Baskoro tidak bisa menahan air matanya, dia menangis sambil menggenggam tangan Zaidan.


" Tanpa papah minta, apa pun akan aku lakukan, karena Devina tanggung jawabku."Zaidan berkata, sambil membalas genggaman tangan Baskoro.


"Terimakasih nak."Baskoro kembali menangis.


Zaidan tersenyum.


"Aku berangkat sekarang pah."


"Tolong jangan bilang mamahmu, jika papah berada di penjara."Pinta Baskoro, sambil nengusap air mata yang terus mengalir.


Zaidan mengangguk dan tersenyum, mengusap punggung Baskoro.


"Zaidan pamit pah."Zaidan mencium punggung tangan Baskoro.


Baskoro mengangguk, dan menatap nanar punggung Zaidan yang sudah berlalu dari hadapannya.


Rasa pedih, begitu terasa di relung hatinya. Dia berdo'a semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap putrinya. Dia kembali meringkuk di lantai tahanan yang begitu dingin, punggungnya kembali terguncang karena air mata yang sudah tidak bisa di tahannya.


**********


Zaidan mengendarai mobilnya, dengan perasaan tak menentu. sesekali dia mengusap kasar wajahnya. Tiba-tiba, bayangan Amanda berkelebat di pikirannya.


"Amanda, apa kabarmu..??"Gumam Zaidan.


"Ada apa denganku.?? Kenapa, aku memikirkan Amanda yang kini sudah tidak berstatus istriku..!!"Ucap Zaidan kesal pada dirinya sendiri, karena memikirkan wanita lain, saat istrinya dalam keadaan kritis.


Tidak terasa, mobil Zaidan pun sampai di halaman parkir rumah sakit. Dia segera turun dari mobil, dan dengan langkah cepat menuju ruang ICU.


Sesampainya di depan ruang ICU, tampak Irma yang sedang menangis sendirian di kursi tunggu.


"Mah."Panggil Zaidan, sambil merangkul pundak Irma.


"Zaidan.."Panggil Irma, yang langsung memeluk Zaidan, tangisannya semakin pecah dan terdengar sangat pilu.


"Tenang mah, kita berdo'a untuk Vina, semoga masa kritisnya segera berlalu."Zaidan mencoba menenangkan Irma, mengelus lembut pundak wanita setengah baya itu.


"Papahmu di mana nak?? telponnya tak bisa di hubungi." Tanya Irma, di sela isakannya.


Zaidan menarik napas dan memejamkan matanya sesaat.


"Nanti Zaidan akan mencari papah, sekarang kita berfokus dengan Devina dulu ya."Ucap Zaidan, yang mencoba terus menenangkan Irma.


Pintu ruang ICU pun terbuka, Zaidan segera berdiri, dan mengajak Irma juga untuk berdiri.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok.??"Tanya Zaidan.

__ADS_1


Dokter menghela napas.


"Mohon maaf tuan Zaidan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain."


Pernyataan dokter, bagaikan petir di siang hari. Seketika membuat Zaidan diam membeku.


"Apa..??"Ucap Zaidan, dengan wajah tak percaya.


"Devinaaa...!!"Teriak Irma histeris, sambil menerobos masuk ke dalam ruang ICU.


Teriakan Irma menyadarkan Zaidan. Dia pun langsung melangkah masuk ke ruang ICU.


Irma langsung memeluk tubuh putrinya, yang kini sudah berbaring tak bernyawa.


"Devina, bangun sayang, ini ibu nak"buka matamu nak, lihat ibu.!!"Ucap Irma, sambil mengguncang kencang tubuh Devina, dengan air matanya semakin deras.


Tungkai kaki Zaidan terasa sangat lemas, tubuhnya bagai tak bertulang, dia hanya diam mematung menatap tubuh Devina dalam dekapan erat Irma.


Zaidan mengumpulkan kekuatannya, untuk melangkah mendekati Devina. Tidak terasa buliran hangat menerobos dari sudut matanya. Seperti mimpi, kali ini Devina benar-benar pergi meninggalkannya.


Berlahan Zaidan memegang pundak Irma.


"Zaidan, tolong bangunkan istrimu."Ucap Irma dengan suara yang mengibah, dan tatapan penuh permohonan. Mengiris hati orang yang mendengarnya.


Zaidan meraih tubuh Devina, menatap lekat wajahnya dengan mata terpejam sempurna. Zaidan langsung memeluk Devina, punggungnya berguncang hebat, menumpahkan sesak dan air matanya.


Tangis Irma pun semakin pecah, dia memeluk tubuh Zaidan yang sedang mendekap erat tubuh Devina.


************


Di ruang makan, sebuah gelas tiba-tiba terlepas dari genggaman tangan Amanda. Membuat semua orang yang berada di meja makan terkejut.


"M - maaf bunda, Manda tidak sengaja."


"Biar aku bantu membersihkan Manda."Ucap Doni, segera bangkit dari duduknya, dan segera mengambil sapu dan pengki.


"Biar Manda saja, kak Doni."Cegah Amanda, hendak mengambil sapu dan pengki dari tangan Doni.


"Duduklah Amanda, sepertinya kamu tidak baik-baik saja."Perintah Doni, dengan tatapan lekatnya. Jika sudah begini, tidak ada lagi kata bantahan dari Amanda.


Amanda pun terpaksa duduk kembali. Akhir-akhir ini dia merasa tubuhnya gampang lelah, kurang semangat dan lebih sensitif. Nafsu makannya juga berkurang, karena perutnya sering terasa tidak enak.


"Apa kamu sakit Manda.? Wajahmu terlihat pucat."Pak Handoko berkata, sambil menatap wajah Amanda.


"Manda tidak apa-apa om, hanya sedikit lelah saja."Jawab Amanda, sambil tersenyum.


"Bunda perhatikan, kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Setelah makan, bunda akan antar kamu ke dokter."Bunda mengelus lembut rambut Amanda.


"Tapi bun.."


Amanda tidak jadi meneruskan ucapannya, karena melihat wajah dan tatapan bunda yang tidak boleh di bantah.


"Baiklah."Jawab Amanda mengalah.


"Aku akan mengantarmu ke dokter."Ucap Doni, sambil memasukkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya.


"Tidak perlu kak, Manda bisa pergi sendiri."Ucap Amanda pelan.

__ADS_1


"Kenapa.?? Karena, kamu masih dalam masa iddah.?"Tanya Doni, dengan senyum smirknya.


Amanda tidak menjawab, dia hanya menunduk. Bunda hanya menghela napas.


"Sayang, Zaidan sedang berbahagia dengan Devina, apalagi kebahagiaan mereka semakin lengkap, dengan kehamilan istrinya. Sampai kapan kamu akan menyiksa dirimu seperti ini.??"Tanya bunda dengan suara bergetar.


"Bunda." Panggil Devina lirih.


"Bunda sudah kenyang."Bunda langsung meletakkan sendok dan garpunya, dan langsung bangkit dari duduknya. Segera melangkah meninggalkan meja makan.


"Bundaa.."Panggil Amanda lagi, dengan suara bergetar.


"Biarkan, bunda menenangkan diri nak."Cegah pak Handoko, sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa salah, jika aku masih memikirkannya.??"Tanya Amanda, sambil terisak.


"Cepat, kalian habiskan makanannya, setelah ini waktu nya tidur siang."Ucap mba Narti kepada anak-anak panti.


"Baik mba Narti."Jawab mereka, langsung meneruskan makan mereka.


"Amanda, jangan menangis di depan anak-anak."Bisik mba Narti, di telinga Amanda.


"Maafkan aku mba."Ucap Amanda, sambil menghapus air matanya.


"Habiskan makanmu, setelah ini kita akan ke dokter."Ucap Doni lembut, dengan tatapan dan senyum yang mampu menghangatkan hati Amanda.


Amanda tersenyum tipis dan mengangguk, dia segera melahap makanannya. Pak Handoko, Doni dan mba Narti saling melempar pandang.


Setelah selesai makan, Amanda dan Doni pun pergi ke rumah sakit. sebelumnya Doni sudah membuat janji dengan dokter pribadinya.


Tak lama waktu berselang, merekapun sampai di tumah sakit. Setelah berbicara dengan bagian pendaftaran, mereka pun melangkah menuju ruangan dokter yang sudah menunggu mereka. Tetapi langkah mereka terhenti saat melihat seorang wanita setengah baya sedang menangis histeris di dalam pelukan seorang lelaki yang sangat di kenal mereka.


Amanda menatap bed hospital yang berisi sesosok seseorang yang sudah di tutupi seluruh tubuh sampai wajahnya.


"Mas Zaidan."Panggil Amanda lirih, saat Zaidan melewatinya.


Zaidan menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah asal suara. Dia tersentak dengan sosok wanita di hadapannya.


"Amanda.!!"Panggil Zaidan, dia tidak percaya dalam keadaannya yang kacau, justru dia di pertemukan dengan Amanda.


Netra mereka pun bertemu, mereka saling tatap dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Zaidan cepat, jenazah Devina akan segera di bawa ke ambulance.!!"Teriak Irma, sambil menangis.


Deg....


*************


Up nya sampai di sini dulu ya😁


Tunggu bab berikutnya, pastinya semakin seru dan banyak fakta yang tak terduga.


Info \= Masa Iddah yaitu masa dimana seorang perempuan yang sudah menikah, kemudian di talak/di cerai suaminya dan harus menanti. Dia tidak boleh untuk menikah lagi atau di minta menikah. Dan masa Iddah ini wajib untuk perempuan yang bercerai dengan suaminya, baik karena di talak atau di tinggal wafat.


Terimakasih, yang selalu setia menanti kelanjutannya.


Jangan lupa melimpir kesini 👇👇

__ADS_1




__ADS_2