Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Sekelumit Ingatan Masa Kecil


__ADS_3

Bab 9


"Penyesalan Zaidan"


"A..a-pa..???!!


"Ini tidak mungkin, dok..!!"Zaidan terlihat syock dia menggeleng kan kepala nya tidak percaya dengan pendengaran nya


"Tidak mungkin dok, anak saya tidak mungkin koma, dokter pasti sedang berbohong...!!!"Teriak Irma tak percaya dengan keadaan anak nya Devina.


Dia menangis histeris, sambil menarik kencang jas sang dokter.


"Mah, tenang dulu mah.."Ucap Baskoro, yang berusaha menenang kan istri nya.


Zaidan sangat terpukul, pundak nya terlihat bergetar, menandakan jika dia sedang menahan sebuah isakan.


Zaidan tidak menyangka jika kepulangan nya ke Jakarta, benar-benar membuat nya frustasi.


Pertama dia harus kehilangan kakek tercinta nya, kedua dia harus di hadap kan dengan pilihan yang sulit, tentang wasiat yang di tulis oleh kakek nya.


Ketiga kenyataan pahit, yang membuat hancur seluruh hati dan harapan nya, wanita yang sangat di cintai ternyata hamil oleh saudara tiri nya.


Ke empat dia harus mengalami kecelakaan yang mengakibat kan kelumpuhan di kaki nya.


Dan sekarang wanita yang sangat di cintai nya, sekaligus yang sangat di benci nya, ternyata mencoba bunuh diri, kini terbaring dalam keadaan koma.


Zaidan merasakan sakit yang menusuk di kepala nya, dengan sigap Adam menghampiri Zaidan.


"Tuan Zaidan, anda jangan terlalu stress dan banyak berpikir, karena dapat mempengaruhi luka dalam kepala tuan..."Adam berkata, dengan raut wajah cemas.


"Lebih baik, sekarang kita ke ruang perawatan, biar saya berikan pengobatan, sekaligus tuan bisa istirahat sebentar.."Adam berkata lagi, dengan tatapan terlihat cemas.


"Benar tuan Zaidan, lebih baik tuan istirahat dulu, karena keadaan tubuh tuan belum stabil.."Pak Handoko, mencoba menyakin kan Zaidan.


"Diam kalian semua, aku akan tetap di sini sampai Devina sadar...!!!"Bentak Zaidan, menatap nyalang wajah pak Handoko dan Adam.


Wajah nya memerah antara menahan sakit dan amarah.


Sedang kan Irma, sudah tidak sadar kan diri, wanita setengah baya itu tak sanggup menerima kenyataan.


Kehamilan Devina, sudah membuat hati nya sebagai seorang ibu hancur, di tambah sekarang anak nya mencoba bunuh diri.


Dan sekarang Devina, putri semata wayang nya harus mengalami koma.


Dan Irma pun langsung di bawa ke ruang perawatan, Baskoro menatap nanar Zaidan, sebelum melangkah menuju ruang perawatan untuk istri nya.


Zaidan, mengusap kasar wajah nya, hati nya begitu gusar.


"Dok, boleh saya menemui calon istri saya...?"Tanya Zaidan, dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Mohon maaf tuan, bukan kami tidak mengijin kan, tapi kesehatan fisik dan psikis tuan tidak memungkin kan..."Dokter berkata dengan penuh hati-hati.


"Maksud dokter karena kaki ku lumpuh..??"Geram Zaidan, sambil menatap tajam ke arah dokter.


"M.. maaf tuan, bukan karena kelumpuhan tuan masalah nya, tapi seperti nya tuan butuh waktu beberapa saat untuk beristirahat dulu."Dokter berkata, dengan wajah yang merasa tak enak dan menelan Saliva nya, dan dia juga sangat tahu siapa itu Zaidan.


Apa lagi perusahaan Radthya Angkasa Jaya, pemilik saham terbesar di rumah sakit ini.


Zaidan menghela napas, dan menatap tajam ke arah dokter.


"Berikan perawatan yang terbaik untuk calon istri ku..!!"Perintah Zaidan, yang langsung meninggal kan sang dokter, yang wajah nya mendadak pias.


Zaidan pun langsung keluar, Adam bergegas memegang kursi roda Zaidan, yang di ikuti oleh pak Handoko.


Akhir nya Zaidan kembali ke ruang perawatan VIP, niat nya yang ingin pulang pun di urung kan.


Dia akan tinggal di rumah sakit sampai keadaan nya cukup membaik, sekaligus bisa memantau keadaan Devina langsung.


"Pak Handoko, aku ingin perawatan terbaik untuk Devina dan ibu nya.."Ucap Zaidan, penuh penekanan.


"Baik tuan, saya akan memberitahu pihak rumah sakit.."Jawab pak Handoko.


Zaidan menghela napas.


"Pergi lah, dan urus semua nya.."Perintah Zaidan, sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit.


"T..tuan.."Panggil pak Handoko ragu.


"Baik lah tuan, saya akan menyiap kan semua nya.."Pak Handoko berkata, sambil mengangguk kan kepala nya.


"Pasti kan mereka juga sudah menandatangani surat-surat itu.."Ucap Zaidan, sambil menoleh ke arah pak Handoko.


"Untuk masalah lelaki baji**an itu, akan segera di urus oleh pengacara ku.."Zaidan berkata, seolah-olah tahu, apa yang di pikir kan pak Handoko.


"Baik lah tuan, kalau begitu saya permisi dulu.."Pak Handoko berkata, sambil membungkuk kan tubuh nya, kemudian mengangguk kepada Adam, dan berlalu meninggal kan ruang VIP Zaidan.


"Adam keluar lah, aku ingin istirahat.."Perintah Zaidan.


"Baik tuan, tapi satu jam lagi, dokter akan datang untuk mengontrol keadaan tuan.."Jawab Adam.


Zaidan hanya mengangguk, kemudian membaring kan tubuh nya di bantu oleh Adam.


Adam pun segera keluar, saat Zaidan mulai memejam kan mata nya.


"Kenapa rumit sekali.."Gumam Zaidan, dengan mata terpejam, sambil merasakan nyeri di seluruh tubuh nya, terutama di bagian kepala nya.


Berlahan dia membuka kembali mata nya, dan meraih ponsel nya.


"Hallo, aku ingin semua bukti tentang kejahatan mereka.." Zaidan berkata saat panggilan tersambung.

__ADS_1


"Baik, aku tunggu ."Zaidan pun menutup panggilan telepon nya.


Zaidan pun menaruh ponsel nya, dan kembali mrnejam kan mata.


*********


Zaidan kecil tak mengerti, kenapa banyak sekali orang-orang di rumah besar kakek nya, dan kenapa kedua orang tua nya tidur di ruang tamu, dengan seluruh tubuh di tutupi kain.


Dia hanya melihat orang-orang yang hadir dengan wajah yang muram, bahkan ada yang sampai menangis.


Dia juga mendengar beberapa orang melantun kan ayat-ayat suci Al Qur'an.


Saat itu, tubuh kecil Zaidan hanya merasa kan pelukan hangat dari bi Surti, seseorang wanita setengah baya yang bekerja di rumah mereka.


Zaidan kecil melihat kakek nya Radthya Purnama, menuruni anak tangga, saat tubuh kedua orang tua nya di angkat, dan di bawa ke ruangan yang tertutup.


Zaidan tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia melihat sang kakek dengan wajah sedh nya, dan dua orang masuk juga ke ruangan itu.


Cukup lama Zaidan kecil menunggu, sampai beberapa orang masuk, dan membawa kembali tubuh kedua orang tua nya yang terlihat basah seperti habis msndi.


Zaidan kecil bingung, kenapa kedua orang tua nya, hanya diam saja di perlakukan oleh orang-orang sekitar nya.


Saat dia bertanya pada bi Surti, hanya pelukan hangat, dan belaian lembut di rambut nya.


Saat tubuh kedua orang tua nya akan di bungkus dengan kain berwarna putih, bi Surti pun langsung membawa Zaidan dari tempat itu.


Zaidan kecil sempat protes, tapi bi Surti bilang jika ini sudah waktu nya makan dan tidur siang.


Bi Surti membawa Zaidan ke taman, dan meminta nya menuggu, karena ingin mengambil sesuatu di dapur.


Saat bi Surti pergi, Zaidan seperti mendengar seseorang tertawa, dan suara itu tidak asing.


"Kerja bagus, aku akan segera men transfer sisa pembayaran nya.."


"Segera pergi lah menjauh dari kota ini.."


Setelah berkata, lelaki itu menutup ponsel nya dengan wajah terlihat sangat bahagia.


"Sekarang aku lah pewaris tunggal keluarga Radthya Angkasa Jaya.."Ucap nya sambil tertawa dan mengelus kepala bocah seumuran Zaidan yang berada di samping nya, tanpa menyadari kehadiran Zaidan.


************


Apa yang terjadi pada kedua orang tua Zaidan..??


Ada kah trauma saat Zaidan kecil..??


Siapa laki-laki dan anak laki-laki yang di lihat Zaidan kecil..???


Temui kisah seru di bab selanjut nya.

__ADS_1


Karya lain author 👇👇



__ADS_2