Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Penculikan Devina


__ADS_3

Bab 54


"Penyesalan Zaidan"


"Kalian, telah membohongiku, sebentar lagi kalian akan menerima akibatnya..!!"Geram sepasang mata itu, berkata dengan seringai yang menyeramkan.


"Berangkatlah Zay, nanti kamu telat."Ucap Devina manja, sambil mendorong lembut tubuh Zaidan untuk masuk ke dalam mobil.


"Tapi, aku mengkhawatirkanmu sayang."Zaidan berkata, sambil menahan lengan Devina.


"Sepuluh menit lagi sampai Zay."Devina menunjukkan aplikasi online kepada Zaidan.


Zaidan menghela napas.


"Tapi, kamu harus janji, jaga diri dan calon bayi kita."Ucap Zaidan lembut, dengan tatapan penuh sayang, sambil mengelus lembut perut Devina.


"Iya, aku janji akan selalu menjaga diri dan bayi kita."Devina mengusap lembut wajah Zaidan.


"Berangkatlah, hati-hati."Devina langsung mencium pipi Zaidan dengan penuh kasih sayang.


Zaidan langsung mencium kening dan perut Devina. Kemudian memeluk Devina erat, seperti takut kehilangan.


Akhirnya, dengan berat hati, Zaidan pun masuk ke dalam mobilnya, dan melaju berlahan meninggalkan Devina. Dari spion mobil, Zaidan terus menatap Devina yang terus menatap dan tersenyum ke arahnya, sambil melambaikan tangan dan mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Kenapa, perasaan aku jadi tidak enak ya.??"Gumam Zaidan.


Suara pesan tampak masuk ke dalam ponsel Zaidan, memberitahu jika meeting tinggal 15 menit lagi.


Zaidan pun mengesampingkan kekhawatiran hatinya, dia segera melajukan mobilnya membelah jalan raya.


Tak lama, setelah kepergian Zaidan, taxi yang di pesan Devina tiba.


Devina dengan santainya masuk ke dalam taxi, dia pun sibuk berbalas pesan dengan Ria, dan sibuk membuka aplikasi medsos. Karena keasyikannya, dia tidak menyadari jika sang supir taxi tidak membawanya ke tempat tujuan.


Devina baru sadar, jika sudah menghabiskan waktu hampir 30menit, seharusnya dalam waktu 20 menit, dia sudah sampai di mall tujuannya, apa lagi arus jalan raya yang tidak padat.


"Kenapa belum juga sampai ya, pak ?? dan ini, kenapa titik mapnya berbeda.??"Tanya Devina, dengan raut wajah heran.


"Iya bu, saya mencari jalan alternatif.."Jawab sang supir santai.


"Maksudnya, jalan alternatif bagaimana ya pak.?? Bukankah Mall X tidak begitu jauh dari klinik bersalin tadi.??"Tanya Devina lagi, firasatnya mulai tidak enak.


"Ibu tenang saja, sebentar lagi kita sampai kok.??"Jawab supir dengan suara santai. Tanpa menoleh sama sekali ke arah Devina.


Dari spion pengemudi, Devina menatap sang supir dengan penuh selidik, Tapi, supir itu menggunakan topi, kacamata dan masker. Sehingga dia tidak mengenalinya sama sekali. Suaranya juga terdengar asing di telinga Devina.


"Cepat, turunkan saya di sini atau saya akan loncat.!!"Ancam Devina, yang mulai merasakan ada yang tidak beres.


"Silahkan saja, jika ada apa-apa dengan janin ibu, saya tidak akan bertanggung jawab..!!"Jawab supir, masih dengan gaya santainya.


Deg..

__ADS_1


"Aku tidak boleh melakukan hal bodoh."Ucap devina dalam hati, sambil memegang perutnya.


"Tapi, jika aku mengikutinya, apakah janin aku juga akan selamat.?? Tidak, aku tidak mau kehilangan janin ku lagi, apalagi ini adalah buah cinta ku dengan Zaidan.!"Ucap Devina lagi dalam hati, sambil menggelengkan kepalanya, dan mengelus lembut perutnya.


Sang supirpun tersenyum licik, di balik maskernya.


Devina mencoba mengirim pesan kepada Zaidan, melalui rekaman pembicaraan mereka.


"Siapa yang menyuruhmu?? dan apa maumu.??"Keringat dingin mulai membasahi dahi Devina.


"Tidak perlu banyak tanya, jika kamu menginginkan janin itu tetap tumbuh di rahimmu."Jawab sang supir, sambil mengulum sebuah senyuman licik, penuh rencana jahat.


Devina membuang pandangannya, sambil mengirim pesan suara itu ke ponsel Zaidan. Kemudian ke ponsel Ria.


Tidak berapa lama, mobil pun masuk kedalam rumah dengan halaman yang luas, dengan keadaan yang sangat tertutup dan penjagaan yang sangat ketat. Terlihat beberapa orang berbadan tegap, berotot lengkap dengan tato dan berwajah sangar, terlihat mondar mandir sambil berjaga di sekitar rumah.


Perasaan Devina semakin tidak enak, apalagi saat sang supir menarik paksa, untuk dia turun dan keluar dari mobil.


Devina di seret paksa masuk kedalam rumah, dengan di ikuti oleh dua bodyguard yang berbadan tegap dan berwajah sangar. Membuat nyali Devina ciut.


Devina di bawa ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan gelap. Tubuh Devina langsung di lempar ke atas kasur yang berada di ruangan itu. Dan Devina di kunci sendirian.


Devina segera bangkit, dia pun meraih gagang pintu, berusaha untuk membukanya sambil berteriak.


"Buka pintunya bang**t..!! Siapa kalian.?? Aku tidak ada urusan dengan kalian..!!"


Devina terus berteriak dan menangis histeris. Sampai akhirnya dia lelah sendiri dan terkulai lemas di atas tempat tidur, sampai akhirnya diapun tertidur pulas.


Devina mengerjapkan mata, mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.


"Si-siapa kamu..??"Tanya Devina yang langsung terduduk, dan beringsut mundur.


"Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa-apa karena janin si*la* itu ada di rahimmu..!!"Ucap lelaki bertopeng itu.


Deg..


"Suara itu..."


Devina langsung menelan salivanya, saat menyadari siapa lelaki yang kini berada di hadapannya.


"Dave.."Panggil Devina lirih.


Lelaki bertopeng itupun, tertawa kencang sampai menggema di ruangan itu.


"Devina sayang, ternyata kamu masih mengenaliku."Ucap Dave, sambil membuka topengnya.


"Apa mau mu, Dave..??"Tanya Devina ketus, semakin menjauhi tubuh Dave, yang merangkak mendekati nya.


"Kamu bertanya, aku mau apa.?? Tentu saja keinginanku dari dulu ingin memilikimu, Devina.!!"Teriak Dave, sambil meraih kasar kaki Devina, yang membuat Devina terpekik.


"Dave, apa yang kamu inginkan. ?? "Tanya Devina, dengan wajah panik. Dadanya semakin berdegup kencang. Firasatnya mengatakan jika hal buruk akan menimpanya.

__ADS_1


Dave tersenyum licik, mendengar pertanyaan Devina.


"Selain aku ingin memilikimu, aku ingin janin si*la* ini pergi dari rahimmu..!!"Dave berkata, dan melepaskan pegangannya dari kaki Devina.


Dave segera bangkit, dan menuju ke lemari. Mengambil sesuatu yang membuat mata Devina membulat dengan sempurna.


Devina terperanjat, dengan jantung yang berdebar tak karuan, ketakutan sangat terpancar di wajahnya.


"Dave, apa yang akan kamu lakukan.??"Tanya Devina dengan suara bergetar. Air mata sudah membanjiri wajahnya.


Dave hanya tersenyum smirk, dan melangkah mendekati Devina yang wajahnya sudah pucat pasi.


Tampak, tangan Devina terus berada di perutnya, yang sudah hampir terlihat membuncit. Melihat itu, membuat Dave terbakar kembali emosinya.


Devina segera bangkit dan berlari menuju pintu, tapi ternyata pintu terkunci. Dave berbalik arah dan menatapnya tajam, dengan seringai yang menyeramkan.


"Dave, tolong jangan lakukan ini, aku sedang hamil."Devina terus mengiba, di suaranya yang sangat parau. Tapi Dave tidak menghiraukannya, dengan kencang dia menarik rambut Devina, yang membuatnya berteriak kesakitan, dan Dave membuang kasar tubuhnya ke atas kasur.


"Kenapa sayang, kamu takut kehilangan bayi dari lelaki s*al*n itu, hah..?? Sedangkan, kamu dengan teganya menghilang kan nyawa dari bayiku. Dan kamu sudah membohongiku, jika rahimmu sudah di angkat..!!"Teriak Dave, sambil kembali menjam*ak kasar rambut Devina.


"Sekarang, kamu harus menerima hukumannya sayang.!!"Ucap Dave sambil menci*m pipi Devina, dan melepaskan jamb*kannya.


Dave bersiap, mengayunkan benda yang ternyata berupa sebuah cambuk ke punggung Devina.


Ceter..


Ahhh...


"Ini hukuman, karena kamu sudah berani membohongi ku."Ucap Dave penuh amarah, tanpa mempunyai belas kasihan saat mendengar rintihan kesakitan Devina.


Berkali-kali Dave mencamb*k tubuh Devina, sampai rintihan Devina menjadi gumaman yang terdengar tidak jelas.


Tampak, bagian belakang dress Devina yang berwarna hijau, bercampur dengan warna merah dari dar*h yang keluar dari bagian tubuh Devina yang terluka karena camb*kan.


Dave tersenyum puas, melihat Devina yang sudah tak berdaya, dia pun segera membalikkan tubuh Devina. Dengan seringai kejamnya, dia menyingkirkan tangan Devina dari perutnya.


Devina yang sudah setengah sadar, kembali berteriak histeris sambil berusaha memegangi perutnya.


"Jangannnnn.."


*************


Apakah Devina akan kehilangan janinnya..??


Bagaimana nasib Devina selanjutnya..??


Maaf ya baru up🙏


Sambil menunggu kelanjutan ceritanya, melimpir kedua karya ini ya👇👇🤗


__ADS_1



__ADS_2