Penyesalan Zaidan

Penyesalan Zaidan
Misi Amanda


__ADS_3

Bab 84


Penyesalan Zaidan


Pagi sekali Mira dan Dokter Arya sampai di kediaman Doni. Saat itu Amanda baru selesai mandi, sedangkan Raza dan Dion masih terlelap.


"Pagi sayang, bagaimana malammu?" tanya Mira, langsung memeluk dan mencium kedua pipi Amanda.


"Pagi Mah, pastiya Malam yang sangat hangat" jawab Amanda, sambil melepaskan pelukan Mira.


Dokter Arya tersentak, menatap tajam Amanda. Begitu juga dengan Mira, dia mengerutkan kening menatap penuh tanya, sedangkan Amanda hanya tertawa kecil melihat ekspresi mereka.


"Tentu saja hangat, karena aku di temani oleh dua jagoanku" ucap Amanda santai, sambil memperhatikan wajah Dokter Arya.


Tampak kelegaan terpancar di wajah Dokter Arya.


"Dokter sakit?" tanya Amanda penuh selidik.


"Tidak, aku baik-baik saja, kenapa?" Dokter Arya balik bertanya.


"Wajah Dokter terlihat pucat" jawab Amanda, yang terus menatap wajah Dokter Arya.


"Hanya kecapean saja" jawab Dokter Arya, sambil memegang wajahnya. Ada rasa bahagia dengan perhatian kecil Amanda.


"Arya baru pulang dini hari, kurang istirahat dia" ucap Mira.


"Seorang Dokter pulang pagi sudah hal biasa, karena banyak orang membutuhkan pertolongannya" potong Arya.


"Karena Dokter itu pekerjaan yang mulia, apa lagi jika seorang Dokter tidak pernah mengharapkan imbalan apa pun, bekerja dengan penuh keikhlasan, benar khan Mas Arya?" Amanda berkata, sambil tersenyum manis, dan memegang lengan Arya.


Tentu saja, perlakuan dan perkataan Amanda membuat Dokter Arya dan Mira terkejut. Terutama Dokter Arya, dia sangat bahagia karena Amanda memanggilnya dengan sebutan Mas, sedangkan Mira, dia menatap nanar mereka, namun, segera tersenyum dan bersikap biasa saja.


"Mamah ingin membangunkan Raza dan Dion, biar mereka segera sarapan" pinta Mira, sengaja memberikan ruang untuk Amanda dan Dokter Arya.


"Langsung ke kamar aku saja Mah, biar aku saja yang menyiapkan sarapan" jawab Amanda.


"Kalau begitu, ayo aku bantu Amanda" Dokter Arya berkata sambil meraih tangan Amanda.


Amanda yang terkejut, langsung tersenyum dan tanpa penolakan dia pun mengikuti langkah Arya.


Mira ikut tersenyum melihat mereka, dan melangkah menuju kamar Amanda.


"Amanda, aku bahagia sekali, seperti mimpi kita menyediakan sarapan untuk Mamah dan anak-anak kita" ucap Dokter Arya, dengan binar kebahagiaan terpancar di matanya.

__ADS_1


"Mungkin ini awal yang bagus untuk kita Mas" jawab Amanda, sambil menata makanan yang sudah di bawa Mira.


Dokter Arya menatap lekat Amanda.


"Apa ini artinya?" tanya Dokter Arya, dengan dada berdegup kencang.


"Aku tidak ingin mengambil keputusan yang terlalu cepat, kamu tahu jika aku pernah gagal dalam pernikahan, dan aku mempunyai Raza dan Dion" Amanda menjeda ucapannya. Terdengar helaan dari napasnya.


"Amanda, aku akan menunggumu, aku benar-benar menyukaimu dari awal pertemuan kita. Kamu wanita yang paling istimewa, yang pernah aku temui" Dokter Arya menggenggam jemari Amanda.


"Dan kamu tahu Amanda? jika rasa ini bukan rasa suka biasa, tetapi rasa cinta"


"Saat itu aku tidak bisa mengatakannya, karena kamu masih berstatus istrinya adik aku sendiri"


Dokter Arya menatap lekat Amanda.


"Aku sudah bercerai dengan Mas Zaidan, kenapa kamu tidak mencegahku saat aku pergi ke Kanada? dan kenapa kamu tidak menyusulku ke sana?" Amanda menatap lekat kedua bola mata Dokter Arya, membuat Dokter Arya menjadi gugup.


"Karena, aku pikir Zaidan akan mempertahankan dan memperjuangkanmu" untuk menutupi kegugupannya Dokter Arus terpaksa menyebut nama Zaidan.


"Si*l, aku menyebut namanya, pasti Amanda teringat kembali Zaidan sial*n itu" umpat Dokter Arya dalam hati.


Amanda tersenyum miring.


"Mas Zaidan tidak pernah mencintaiku, di hatinya hanya ada Kak Devina, kamu pasti sangat mengetahuinya. Dan lihat sekarang, di saat kami membutuhkannya, dia pergi menghilang tanpa meninggalkan pesan apa pun" Amanda berkata dengan suara parau, dan wajah yang sendu.


"Aku berjanji, akan selalu melindungi kalian. Apa lagi Raza itu keponakanku, dan Dion aku juga sangat menyayanginya" Dokter Arya kembali menggenggam jemari Amanda.


"Baiklah, aku akan berusaha membuka hati untukmu Mas, tetapi, berikanlah aku waktu untuk memikirkan pernikahan kita" jawab Amanda.


"Terimakasih sayang, aku akan sabar menunggu jawaban darimu" Dokter Arya mencium tangan Amanda yang berada di dalam genggamannya.


Ingin sekali Amanda menarik tangannya, akan tetapi demi misinya, senyum manis tetap terlihat di wajahnya.


"I miss you, Amanda" Dokter Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Amanda, tentu saja membuat Amanda tercekat.


"Mamah, Om Dokter" suara panggilan dari Dion mengagetkan Dokter Arya.


Amanda segera melepaskan tangan dan tubuhnya dari Dokter Arya, perasaan lega menyelimuti hatinya.


"Hai, jagoanku" sapa Dokter Arya, sambil merangkul pundak Dion yang berada di sampingnya, walaupun di dalam hati dia mengumpat kedatangan Dion yang mengganggunya.


"Pagi Om Dokter, pagi Mah" balas Dion.

__ADS_1


"Pagi sayang" Amanda memberikan pelukan hangat untuk Dion.


Dokter Arya terpaku, dia seperti merasakan kehangatan keluarga yang utuh dan bahagia.


"Tidak sia-sia rencanaku, akhirnya aku bisa mendapatkan kebahagian yang selama ini aku impikan, selangkah lagi mimpiku akan menjadi nyata" Dokter Arya berkata dalam hati.


"Adikmu di mana sayang?" tanya Dokter Arya mengajak Dion duduk di sampingnya.


"Masih sama Oma di..." Dion tidak meneruskan perkataannya, karena terlihat Raza dan Mira menghampirinya.


"Hmm, wanginya jagoan kecil Mamah" Amanda memeluk Raza dan menciumnya.


"Papah Dokter, mau juga dong cium Raza" Dokter Arya berkata, sambil memeluk Raza.


Mereka semua terdiam mendengar perkataan Dokter Arya.


"Om Arya, mau di panggil Papah Dokter?" tanya Raza, sambil menautkan alis tebalnya, menatap tajam Dokter Arya.


"Iya dong, kalian panggil Papah Doni, Papah Zaidan, Om juga mau di panggil Papah Dokter" jawab Dokter Arya.


"Gimana Kak?" tanya Raza, meminta persetujuan Dion.


"Oke" jawab Dion, membentuk jarinya dengan huruf o.


"Oke, kami mulai sekarang kami akan memanggilmu dengan sebutan Papah Dokter" ucap Raza, dengan gaya coolnya sambilnya menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Terimakasih Bos kecilku" Dokter Arya menoel gemas hidung mancung Raza. Walaupun dia melihat Raza seperti melihat Zaidan, tetapi, Raza sudah mencuri hatinya, apa lagi Raza adalah tiket dia untuk mendapatkan Amanda dan keluarga yang utuh, keluarga yang tidak di dapatkannya dari kecil.


Amanda mencoba tersenyum, walaupun hatinya berkata jika ada yang tidak beres dengan Dokter Arya. Begitu juga dengan Mira, tetap tersenyum walaupun, dia sedikit mencurigai putra sulungnya.


***********


Apakah misi Amanda akan berhasil, untuk mencari bukti-bukti atas keterlibatan Dokter Arya, dengan serentetan musibah yang terjadi?


Apakah Dokter Arya dan Amanda akan jadi menikah?


Apa karena ayahnya menikah lagi, sehingga membuat Dokter Arya menjadi orang yang berkepribadian ganda ?


Apa yang di ketahui Mira tentang Dokter Arya.


Untuk yang kangen dengan sosok Zaidan, InsyaAllah di bab selanjutnya Author akan menghadirkannya untuk kalian.


Simak terus perjalanan romansa cinta mereka yang berliku-liku.

__ADS_1


Mampir dan ramaikan ya, novel terbaru Author "Belenggu Dendam Alaska"



__ADS_2