
Bab 67
"Penyesalan Zaidan"
Lima tahun sudah berlalu, setelah kepergian Amanda dan Doni ke Kanada. Untuk mengusir semua kegundahan dan kesedihan hatinya, Zaidan memilih fokus mengembangkan perusahaan besar Radthya.
Perusahaan Radthya di bawah kepemimpinan Zaidan semakin berkembang pesat. Nama Zaidan sangat terkenal di kalangan pengusaha dan pembisnis di dalam maupun di luar negri.
Anak perusahaan dan hampir semua saham di miliki oleh perusahaan yang sekarang di beri nama Group Radthya Zaiman atau di singkat GRZ.
Zaidan mempunyai alasan sendiri untuk mengganti nama perusahaan besar keluarganya. Namun, kesuksesannya yang kini berada di level paling atas, membuat Zaidan menjadi sosok yang semakin dingin dan angkuh, terutama kepada kaum wanita.
Banyak wanita yang mendekati dan menginginkannya menjadi pendamping Zaidan, hampir semua rekan bisnisnya menawarkan wanita atau anak perempuan mereka untuknya, tetapi, tidak ada satupun yang mampu menarik dan menggetarkan hatinya.
Beberapa orang menganggap jika Zaidan bukanlah lelaki yang normal. Apalagi kedeketannya dengan kakak lelakinya yaitu dokter Arya.
Dokter Arya yang lebih memilih profesinya sebagai dokter pun, selama lima tahun masih betah membujang, tidak ada pernah terlihat sedikit pun dia dekat dengan wanita kecuali mamahnya Mira.
Dokter Arya juga menjadi salah satu dokter yang sangat terkenal di dalam dan di luar negeri.
Mira sebagai orang tua tunggal, sudah merasa gelisah, karena sampai usia mereka yang sangat matang dan kesuksesan yang di raih, tidak ada tanda-tanda mereka menginginkan wanita.
Mira sebenarnya mengetahui dan menyadari, jika kedua putranya mencintai wanita yang sama. Berkali-kali dia berusaha mengenalkan Zaidan dan dokter Arya dengan seorang wanita, namun, tetap hasilnya nihil.
Hari ini Mira berniat mengunjungi panti, sekalian ingin berbagi cerita dengan bunda. Semenjak keberangkatan Amanda ke Kanada, berkat bantuan Zaidan dan dokter Arya, bunda bisa memaafkan Mira, mereka pun kini menjadi dua sahabat karib. Kebahagiaan di masa senja mereka.
Tak lama mobil Mira yang di kendarai supir pribadinya masuk ke halaman panti. Suasana dan bangunan Panti Asuhan sudah sangat berubah, tampak lebih besar dan bagus, dengan halaman yang begitu sejuk dan asri. Tentu saja, karena Zaidan dan dokter Arya kini menjadi donatur tetap Panti tersebut.
Bagi mereka, dengan bisa menjadi donatur, mereka bisa terus mengingat Amanda. Berharap jika suatu saat Amanda akan kembali ke Panti.
Mira pun segera melangkah ke rumah panti.
"Assalamualaikum." Ucap Mira, yang langsung di jawab beramai-ramai.
"Waalaikumsalam, bunda Mira."Jawab mereka serempak, sambil menghampiri dan mencium punggung tangan Mira.
Mira tersenyum, dan mengusap sayang puncak kepala anak panti satu persatu. Dan tak lupa memberikan buah tangan kepada mereka, yang di sambut dengan senyum bahagia..
"Mira, apa kabar.??"Sambut bunda.
Mereka berdua pun saling berpelukan melepas kerinduan.
"Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri bagaimana Winda.??"Tanya Mira, menatap wajah Winda yang sedikit pucat.
"Sejauh ini aku sehat."Ucap bunda sambil tersenyum, dan mengajak Mira untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kamu tidak mau di operasi.??Arya pasti akan mencarikan donor jantung yang cocok untukmu."Ucap Mira menatap sendu bunda.
__ADS_1
Bunda tersenyum, menatap Mira.
"Aku sudah tua Mir, tidak perlu di obati, ajal dan maut seseorang sudah di gariskan."
"Tetapi kita bisa berusaha Win."Jawab Mira, menatap lekat bunda.
"Sudahlah Mira, jangan bahas tentang masalah ini."Ucap bunda, memberikan penekanan pada kalimatnya. Menandakan jika perkataannya tidak bisa di bantah.
Mira menghela napas.
"Amanda dan Doni..??"Tanya Mira dengan hati-hati.
"Sampai saat ini, hanya kamu yang mengetahui kesehatanku, jika mereka mengetahuinya sudah pasti kamu yang memberitahu."Jawab bunda.
"Bagaimana dengan Zaidan dan dokter Arya.??"Bunda balik bertanya, menatap Mira penuh selidik.
Mira menggelengkan kepalanya.
"Tetapi Win, sepertinya Arya harus mengetahui keadaanmu, biar dia bisa membantumu."Mira terdiam sesaat, dia lupa jika baru saja membahas kembali penyakit bunda.
Bunda menarik napas pelan, dan membuangnya berlahan.
"Nanti, akan aku pikirkan."Jawab bunda, yang membuat hati Mira sedikit lega.
"Apa usahamu untuk mendapatkan menantu, sudah membuahkan hasil.??"Bunda balik bertanya.
"Seperti yang kamu ketahui Win, untuk siapa hati mereka."Ucap Mira dengan wajah sendu.
Bunda tersenyum dan mengusap lembut punggung Mira.
"Aku takut kedua putraku akan sakit hati, jika Amanda kembali ke Indonesia sudah berstatus istri Doni."Ucap Mira lirih, air matapun mengalir di pipinya.
"Tenang Mira, kedua putramu adalah lelaki yang hebat dan sangat baik, aku yakin kenyataan sepahit apa pun, akan mereka terima dengan ikhlas dan lapang hati."Irma berkata, sambil merangkul pundak Mira.
"Zaidan dengan ikhlas melepas kepergian Amanda ke Kanada dengan Doni. Sedangkan dokter Arya, dia mencintai Amanda, tetapi dengan kebesaran hatinya, justru dia menyuruh Zaidan berjuang mengejar cinta Amanda."Bunda terus mencoba menguatkan hati Mira.
Mira semakin menangis tersedu-sedu.
Tring...
Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di ponsel bunda.
Bunda tersenyum, melihat nama pengirim pesan itu.
"Lihat Mira, Amanda mrngirim pesan, jika lusa dia akan kembali ke Indonesia."Ucap bunda tersenyum bahagia. Kerinduannya selama lima tahun akan terbayar.
Amanda, Doni, Dion dan bunda selama lima tahun, selalu saling mengirim pesan atau video call. Walaupun mereka tidak pernah bercerita tentang urusan pribadi, begitu juga bunda yang tidak pernah bertanya tentang hubungan mereka yang lebih, selain kakak dan adik.
__ADS_1
Namun, bunda sangat mengetahui jika Doni sangat mencintai dan mengharapkan Amanda mrnjadi mamah sebenarnya untuk Dion.
Mira hanya tersenyum kecut, melihat kebahagiaan yang terpancar di raut wajah bunda saat membaca dan membalas pesan Amanda. Dia tidak tahu harus bahagia atau sedih dengan kepulangan Amanda.
"Zaidan dan Arya, jangan sampai tahu dengan kepulangan Amanda."Ucap Mira tiba-tiba, yang membuat bunda tersentak.
"Aku belum siap, jika mereka kembali bersedih".Mira berkata, dengan suara lirih dan menundukkan wajahnya.
"Aku akan merahasiakannya, tetapi, aku tidak menjamin jika suatu saat mereka akan mengetahui kehadiran Amanda."Ucap bunda.
Mira mengangguk lemah.
"Aku pulang dulu Win."Mira berkata sambil mengusap air matanya, dan mulai berdiri.
Bunda pun ikut berdiri.
"Apa, kamu tidak mau menunggu makan siang dulu.",Ucap bunda sambil melihat ke arah jam dinding, yang sebentar lagi jadwal makan siang.
"Justru itu, aku ada janji makan siang dengan Zaidan dan Arya."Jawab Mira dengan senyum sumringah.
"Oo ya, beruntung sekali kamu Mira, di jadwal dan aktifitas mereka yang padat, masih meluangkan waktu untuk makan siang bersamamu." Ucap bunda, yang ikut tersenyum bahagia.
"Kamu juga beruntung Win, walaupun Amanda dan Doni berada di luar negeri, tapi mereka setiap saat selalu menelpon dan mengirim pesan."Jawab Mira.
"Aku sangat bersyukur, walaupun mereka semua tidak terlahir dari rahimku, tetapi mereka sangat menyayangiku."Ucap bunda, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Allah itu adil, dan sangat menyayangi umatNya."Mira berkata, sambil menghapus air mata bunda dan langsung memeluknya.
Merekapun sama-sama tersenyum bahagia.
**********
Apakah saat pulang ke Indonesia, Amanda dan Doni sudah berstatus suami istri ??
Bagaimana sikap Zaidan dan dokter Arya, jika mereka mengetahui kepulangan Amanda??
Simak terus ya setiap babnya🤗.
Just info 👇
Sebentar lagi, author mau buat novel baru yang pastinya ga kalah seru dong🥰.
Sambil nunggu up, yuk melimpir ke karya author lainnya👇👇
__ADS_1